
Episode #90
Beberapa Minggu berlalu.
Camilla Sudah memutuskan untuk pergi ke Thailand, untuk menghilangkan bekas lukanya dengan melakukan operasi, dia menguras sebagian besar tabungannya untuk itu, Sedangkan untuk kasus pembakaran mobilnya, Ardi sudah berusaha mencari tahu, tetapi hasilnya nihil, tidak ada petunjuk samasekali yang tertinggal, dia juga sudah mendesak Camilla, untuk mengatakan pihak yang telah dia singgung akhir akhir ini, tetapi perempuan itu tetap bungkam, karena dia berpikir, tidak ada tokoh penting yang telah dia singgung, paling dia hanya bersitegang dengan Michael, yang hanya seorang fotografer yang hidupnya juga pas Pasan, Bagaimana mungkin dia memiliki sumber daya untuk menerornya?
Sesuai dengan rencana Amar dan Asyifa Sebelumnya, bahwa Asyifa yang sekarang berperan sebagai Humaira Pramesti, bersedia di dekati Angga, dan bersandiwara, seakan telah terpikat dengan pesona yang di tawarkan oleh pewaris Kusuma group tersebut.
Sudah beberapa kali Asyifa terlihat bersama Angga, bahwa satu atau dua media menangkap kebersamaan mereka, dan membuat berita heboh, Hanya saja, baik pihak Asyifa maupun Angga, belum memberikan konfirmasi tentang kejelasan kedekatan mereka.
" Ingat, jangan sampai terbawa perasaan!" Amar memperingatkan Asyifa, yang sedang sibuk menata makanan yang baru saja selesai dia masak.,di meja makan.
" Ha, ha, ha, ha! kamu sudah memperingatkan ku ribuan kali," Asyifa terkekeh, sambil menggelengkan kepalanya.
" Sudahlah, cuci saja piringnya yang bersih, jangan sampai seperti kemarin, masih tercium bau sabun" tegas Asyifa.
" Hiks,.. Hiks, ..Hiks! hidupku begitu tertindas! Bagaimana mungkin seorang tuan muda di suruh cuci piring!"protes Amar sambil meratapi nasibnya.
" Ya, sudah, kalau tidak mau cuci piring, ya, tidak usah makan! gitu aja kok repot!" ketus Asyifa, dia sudah selesai menata makanan, dan sekarang menunggu Amar menyelesaikan tugasnya.
" Sebentar lagi selesai kok! Cuci piring itu tugas yang menyenangkan, bisa mengurangi stress" ucap Amar berdalih, demi menikmati olahan tangan Asyifa, dia akan melakukan bahkan jika itu termasuk, membersihkan kamar mandi beserta toiletnya dia bersedia.
Mereka berdua seperti pasangan yang baru saja menikah, di penuhi oleh rasa cinta, pihak yang tidak mengenal, Bagaimana kedekatan mereka pasti akan mengira seperti itu.
Amar pun duduk di seberang Asyifa, dia mulai mengambil piring dan makanannya.
Jadi, bagaimana dengan pernikahan Song Chai Mi dan Arif! aku tidak pernah menyangka jika akhirnya mereka berjodoh! Kamu mau pergi dengan cecunguk itu ke acara itu?"Amar bertanya sambil mendengus dingin, jika bukan karena rencana mereka, ogah banget rasanya dia membiarkan Asyifa pergi bersama lelaki itu, cecunguk yang di maksud tidak lain adalah Angga Kusuma.
__ADS_1
" Yah, mau bagaimana lagi, aku tak berdaya," Asyifa menghembuskan nafasnya pelan, " Yang penting aku mengajaknya, meski hanya sekedar basa-basi, terserah dia, mau ikut atau tidak, setidaknya aku sudah menunjukkan niat baik untuk mengundangnya, dan kesempatan ini bisa membuat dia berfikir, jika aku sangat berharap padanya", ucap Asyifa santai, sambil mengunyah makanan, tekstur daging sapi yang lembut bisa memanjangkan lidahnya, cacing cacing di perutnya yang sedari tadi konser, minta jatah makan langsung bergembira.
Amar mendengus kesal," Seharusnya kamu gak jadikan momen kebahagiaan Song Chai Mi dan Arif, menjadi ajang pembuktian pada Angga juga! kenapa sih, gak buat perayaannya di Seoul korea sana? kenapa juga harus di sini!"
" Plaaak!" Suara serbet yang di lempar Asyifa, mendarat mulus di wajah Amar.
" Aaauch!" Amar meringis.
" Kalau ngomong itu , ya di pikir dulu, omongan kamu itu, persis ibu ibu yang menggosip, yang mengurus hidup orang lain, tanpa melihat hidupnya sendiri gimana, Kamu kan tau sendiri, bagaimana kehidupan Song Chai Mi di Seoul, dia di besarkan di panti asuhan, tanpa tau siapa orang tuanya, jadi wajar saja, dia merayakan resepsi di sini, secara, di Seoul juga tidak ada yang merayakan," Asyifa nampak bersemangat, membela sahabat koreanya itu.
" Baiklah, maaf untuk itu! Tapi Song Chai Mi, juga akan senang, kalau melihat kamu datangnya sama aku, daripada sama si cecunguk itu," Amar sengaja mengalah, daripada dia tidak bisa menikmati masakan Asyifa lagi.
****
Arif, mantan suami Ami Andreas, Sedang mengemudikan mobilnya ke arah rumah sakit jiwa milik pemerintah, Dia ingin bertemu mantan istrinya, sekaligus ingin memberikan undangan pernikahan nya dengan Song Chai Mi.
Mengingat pernikahannya yang akan di lakukan tiga Minggu lagi, Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, oleh Song Chai Mi, Arif masih deg degan, dia tidak pernah menyangka, kalau dia akan mempersuting gadis Korea, beberapa rekan kerjanya sangat iri padanya, dan keluarga besar sangat menyambut hangat calon istrinya tersebut, karena memang sifatnya yang ceria dan imut, Arif tersenyum senyum, seolah olah dia lupa, jika dia sedang menuju untuk bertemu dengan mantan sang istri.
Sesampainya di pelataran rumah sakit jiwa, Arif menyampaikan, maksud kedatangannya, untuk membesuk salah satu pasien di sana, Dengan diantar oleh salah satu petugas, Arif melangkah berjalan menuju kamar dimana Ami dirawat.
Sepanjang perjalanan Arif memandangi sekitar, banyak petugas berlalu lalang, mengurus keperluan para pasien, yang acap kali du sebut dengan ODGJ atau orang dengan gangguan jiwa, Dia melihat ada pasien yang, bertepuk tangan sendiri, Cekikikan sendiri, menari nari dengan boneka di pangkuannya, dan ada juga yang duduk terbengong dengan sorot tatapan mata yang kosong, Di dalam hati, Arif bersyukur, masih di berikan nikmat berakal sehat, yang kerap di lupakan orang orang.
" Ini pak, ruangannya, ibu Ami ada di dalam," ucapan si petugas membuyarkan lamunan Arif seketika.
__ADS_1
" Terima kasih mbak!" ucap Arif, sambil melangkahkan kakinya ke bangsal, dimana Ami sedang duduk menghadap jendela, tampak jelas, tatapan mata Ami kosong.
Arif melangkah mendekat, dia duduk di samping wanita, yang sudah dua tahun menemaninya belakangan ini. tubuh perempuan itu mengurus, dan wajahnya terlihat pucat, tidak ada lagi riasan yang selalu menempel di wajahnya.
" Hay, Ami, bagaimana kabarmu? Semoga kamu cepat pulih ya!" Arif berkata tulus, bagaimanapun dia pernah mencintai perempuan ini setulus hati.
Hening
Tidak ada jawaban samasekali, Ami tidak menoleh barang sedikitpun, tatapannya masih fokus pada pemandangan di luar jendela.
Arif hanya tersenyum pahit, melihat sendiri, bagaimana keadaan Ami.
" Aku kesini hanya untuk mengantarkan undangan, tiga Minggu lagi aku akan menikah," Setelah mengatakan itu, Arif memperhatikan ekspresi wajah Ami, akan tetapi, tatapannya masih kosong, tidak ada perubahan samasekali.
Arif hanya bisa tersenyum pahit sekali lagi, kali ini dia benar-benar yakin, kalau Ami terkena gangguan jiwa.
Arif pun banyak bercakap-cakap dengan Ami, atau lebih tepatnya berbicara sendiri, karena Ami, bahkan tidak menolak sedikitpun padanya, akhirnya Arif pergi, Setelah berbincang sendiri selama tiga puluh menit.
Setelah Arif pergi, Ami meneteskan air mata, Dia meremas undangan yang di tinggalkan oleh Arif.
Ami sebenarnya sudah sadar, dari hipnotis yang Asyifa berikan, hipnotis tersebut hanya berlangsung satu bulan.
Awalnya, ketika Ami sadar, dia sangat heran, karena dia di rawat di rumah sakit jiwa, Awalnya dia ingin memberontak, tetapi dia memikirkan ulang, Lebih baik hidup di rumah sakit jiwa, daripada hidup tertindas di balik jeruji besi.
*****
__ADS_1