Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Lukisan terbengkalai


__ADS_3

Episode #94


      Asyifa keluar dari toilet, sang pelayanpun masih setia menunggunya, kemudian mereka berdua kembali ke meja makan.


    Sepeninggal tuan Wijaya dan nyonya Arum, suasana di meja makan menjadi semakin nyaman dan tidak menenangkan seperti tadi, beberapa dari yang hadir, masih sibuk berbincang dan bersenda gurau.


    Keluarga Wijaya Kusuma, memang tampak akur dari luar, banyak canda dan tawa, seperti keluarga besar yang harmonis, hanya para pelayan yang tau, bagaimana panasnya keluarga itu, saling curiga dan menjatuhkan adalah ciri khas mereka, walaupun sudah di tutupi sedemikian rupa, Asyifa masih bisa mengendus, bagaimana topeng keluarga besar ini.


    Asyifa pun tiba di meja makan.


    Sebelum dia duduk, Angga sudah berdiri, dan mengajaknya keliling mansion.


  Asyifa hanya bisa menganggukkan kepalanya, tanda dia setuju, dia berfikir, ini adalah cara yang bagus agar dia dapat menempelkan beberapa Mikro Recorder yang masih tersisa, syukur syukur dia dapat menempelkannya di ruang kerja sang empunya rumah.


     Asyifa berjalan bergandengan tangan dengan Angga, mereka nampak serasi, seperti pasangan yang sudah di takdir kan oleh Langit, banyak pelayan yang berdiri dan saling berbisik di belakang keduanya, mengatakan, bahwa keduanya nampak seperti Raja dan Ratu.


     Kali ini Angga mengajak berkeliling di area pertama, yaitu taman, taman yang mereka miliki adalah, taman yang memiliki konsep gabungan antara taman ala Mediterania dan taman klasik, walaupun Asyifa pernah datang sewaktu kecil kesini, tetap saja dia sangat terpukau.


  Konsep taman Mediterania, menonjolkan dominasi warna tanah, yang cerah, seperti, Terakota, koral atau krem, yang hadir pada permukaan tanah ataupun dinding di sekitar taman, selain itu juga, di lengkapi dengan susunan batu warna putih, dan beraneka ragam bunga cantik, yang memiliki warna, seperti warna, Ungu, merah, putih atau pink, seperti Adenium atau Kamboja,


    Sementara itu, taman klasik adalah taman yang menerapkan ornamen kuno, dalam penataannya seperti, patung, air mancur, lampu dinding, bahkan mini labirin, penggunaan tanamannya lebih banyak dan beragam.


   Asyifa menatap mini labirin di depannya, dia hanya bisa tersenyum manis, ketika dia mengingat bagaimana dia tersesat di sana dan menangis sesenggukan, mendiang mamanya dan tante Helena, bahkan mengerahkan beberapa pelayan untuk mencarinya, saat itu usia Asyifa enam tahun, dan itu pertama dan terakhir kalinya dia bermain di labirin.


    Angga sedikit mengeryit heran melihat ekspresi Asyifa, diapun berusaha memanggil perempuan itu, tetapi tidak ada respon, yang di panggil seperti tidak berada di sana.


   " May,..! Nona May!" Angga akhirnya menepuk pundak Asyifa pelan.


   Tepukan itu berhasil, membawa Asyifa kembali pada kesadarannya, dia sedikit gelagapan, " Ya,.. Ada apa?"


     " Tidak ada apa apa, kamu dari tadi aku panggil, tidak menyahut, aku takut kamu Kesamben makhluk halus yang bersemayam di sini,he, he, he!" Angga terkekeh, " Lagi mikirin apa sih sampai segitunya?"


   Asyifa menampilkan raut wajah yang tersipu, sudah tidak ada kesan dingin yang melekat padanya, "Tidak apa apa, aku hanya teringat dulu tersesat di sebuah labirin dan itu cukup merepotkan orang sekitar untuk mencariku, ketika melihat labirin seperti ini aku jadi teringat lagi, terlebih saat itu mamaku masih ada," Ada nada sedih yang Angga tangkap ketika Asyifa membahas tentang ibu, seketika diapun merasakan hal yang sama.


" Dulu ketika masih kecil, anak teman mamaku juga pernah tersesat di sini, dia nangis, suaranya kencang sekali, hingga membuat gaduh, mamanya dan mamaku sampai menyuruh pelayan untuk mencarinya, jadi gak cuma kamu saja yang memiliki pengalaman tersesat di labirin," Angga mencoba menghibur.



" Itu Aku!" teriak Asyifa, dalam hati.


"Sudah, kita ketempat lain yuk?" Angga mengamit tangan Asyifa menuju tempat lain.

__ADS_1


Asyifa pun menurut, mengikuti kemana Angga pergi.



Kali ini mereka mengunjungi ruang hiburan, Ada mini bioskop, Billiard, ruang karaoke dan juga kolam renang.


Mereka juga melangkahkan kakinya ke perpustakaan, gym, studio musik, dan sekarang mereka menuju ke arah galeri seni, milik ayahnya Angga, Rio.


Asyifa sedikit kecewa, karena dia tidak memiliki kesempatan untuk mencari tahu, dimana letak ruang kerja tuan WIJAYA Kusuma.



Angga terus menjelaskan segala seluk beluk dan tata letak mansion nya, dia sudah seperti pemandu wisata saja.


Di depan galeri seni Angga mengajaknya masuk, " Nah, ini adalah galeri seninya nya papa, beliau banyak menghabiskan waktunya melukis, semenjak, memutuskan pensiun dini.


Asyifa dan Angga mengelilingi galeri tersebut, walaupun Asyifa tidak terlalu mengerti seni, terutama seni lukis, dia paham, bahwa Rio adalah orang yang berbakat, lukisannya seolah hidup, dan memiliki jiwanya sendiri.



"Kenapa, Om memutuskan untuk pensiun dini? bukankah Kusuma group Sedang dalam posisi jayanya?"Asyifa mencoba berbasa-basi, sebenarnya dia penasaran, dengan alasan Rio, yang meninggalkan puncak karir, dan memilih jadi pelukis.




Asyifa mencoba mengabaikan nada tersebut dan bersikap seperti biasa.


Merekapun melangkah lagi, untuk melihat lukisan yang lain.


Ketika Asyifa ingin bertanya lebih lanjut, perihal keberanian Rio, memiliki passion dibandingkan karir, seorang pelayan datang dan berkata kepada Angga," Tuan, maaf mengganggu, tuan besar memanggil tuan" ucap si pelayan.


" Angga menganggukkan kepalanya, pelayanpun segera berbalik dan pergi.



" Aku temuin kakek dulu ya? Kamu di sini aja, liat liat, Aku juga gak lama kok!" setelah berkata begitu, Angga langsung berbalik dan pergi.



Asyifa belum menganggukkan kepalanya, tetapi Angga telah berlalu, Diapun terus memperhatikan lukisan yang terpampang di sana, dalam hatinya dia semakin memuji Rio, " Pantes saja, setiap ada pagelaran seni, karya Rio selalu di pajang"

__ADS_1


Asyifa terus menyisiri ruangan itu, sambil berpikir, dimana dia akan menaruh Mikro Recorder selanjutnya, selain itu, dia juga ingin mendengarkan obrolan Angga dengan kakeknya, tetapi niat tersebut dia urungkan, ada CCTV dalam ruangan ini, jika itu dia lakukan, dia takut akan mendatangkan kecurigaan, jadi dia menekan kuat, keingintahuannya tersebut, dan akan mendengarkannya ketika tiba di apartemen saja.


Asyifa terus saja berjalan, melihat keindahan setiap lukisan, ketika tiba di ujung ruangan, di sudut sana, terlihat sebuah lukisan yang di biarkan terbengkalai, sebuah lukisan yang menarik perhatiannya.



Asyifa terus berjalan kearah sana, Alangkah terkejutnya dia melihat sosok yang di lukis itu, keringat dingin membanjiri tubuhnya, jantungnya berdegup, matanya berembun.



Lama ia menatap lukisan tersebut, hingga tak sadar Angga telah kembali.


" Serius banget ngeliatin nya?" Tanya Angga mengejutkan Asyifa.


Asyifa menoleh pada Angga.


Anggapun segera paham apa yang di pikirkan Asyifa, " Iya, ini benar potret pak Umar Prameswari dan istrinya, aku tau kamu pasti ingin menanyakan itu, he he!" kekeh Angga, menebak pikiran Asyifa.


Asyifa hanya tersenyum, menyimpan kegetiran dalam hatinya, " Iya, aku hanya memastikan saja, aku hanya sedikit kaget tadi, Aku sedikit lupa dengan wajahnya, Aku hanya bertemu sekitar tiga atau empat kali, ketika beliau berkunjung ke panti dulu, beliau orang yang sangat baik, tidak tahu apa yang akan terjadi sama aku, jika tidak bertemu beliau , tapi, kenapa lukisan mereka ada sama Om Rio?"


" Itu papa sendiri yang melukis, kamu pasti tidak tahu kalau mereka sahabatan dari kecil, terus mereka pisah, karena om Umar sekeluarga pindah, dan ketemu lagi pas kuliah, mereka satu kampus yang sama, Coba tebak, apa yang lebih aneh? Ternyata mama sama istrinya Om Umar itu juga sahabatan, jadi mereka sering double date deh," Angga menjelaskan lebih jauh, tanpa di minta.


" Waah, bisa gitu yah,.. trus kok ini ada bagian kosong di kanvas ini?" Asyifa menunjukkan bagian kosongnya.


" Aku pernah tanyakan hal itu sama papa, katanya itu untuk anak perempuannya om Umar, siapa ya, namanya," Angga mencoba mengingat ingat, " Asyifa,..ya, Asyifa, sering di panggil dengan sebutan Syifa,.. itu loh, anak perempuan yang aku bilang kesasar di labirin,"


" Trus, kenapa dibiarkan kosong?" Asyifa penasaran.


" Papa lupa wajahnya, anak Om Umar, papa tidak ingin melukai hanya mengandalkan foto, katanya lukisannya kurang menjiwai, dan tidak ada emosi di dalamnya, jadi sampai sekarang, lukisannya terbengkalai" Angga menjelaskan.



" Oh ya,.. ini ada sedikit, hadiah perkenalan dari kakek" Angga memberikan sebuah bingkisan kepada Asyifa.


" Ini apa?" Asyifa menerima ragu ragu.


" Itu, bingkisan!" Angga bercanda.


Asyifa hanya tertawa, seraya menepuk pundak Angga, seolah menyiratkan, " Semua juga tau kalau ini bingkisan!"


Setelah dari galeri seni, Angga pun mengantarkan Asyifa pulang ke apartemennya.

__ADS_1


****


__ADS_2