
Episode #61
" Sudah yuk, berangkat, aku sudah kelaparan sekali," ucap Asyifa sambil memegang perutnya, kemudian pandangannya beralih ke Arsyad, " Syad, Melinda sudah di hubungin? sudah di kasih tau lokasinya?" tanyanya memastikan.
Arsyad mengangguk dan berkata, " Sudah Nona, semuanya sudah siap, Nona Melinda berkata dia akan segera kesana," entah kenapa setiap kali membicarakan Melinda, jantung Arsyad serasa berdegup kencang.
" Ya Udah, yuk buruan! kalau Melinda menunggu kasian!" perintah Asyifa dan langsung menarik lengan Amar
Arsyad mengikuti dari belakang mereka, ujung bibirnya berkedut, melihat tuan muda AMAR yang berwibawa dan elegan, di tarik oleh Asyifa, melihat adegan ini mengingatkan dia seperti adegan seorang suami yang di tarik sang istri dari atas panggung, " untung Nona May hanya menarik lengannya, bukan telinganya tuan muda!" pikirnya.
sesampainya di parkiran, mereka langsung masuk kedalam mobil, dan langsung melaju menuju restoran yang sudah di reservasi Sebelumnya oleh Arsyad Sebelumnya.
Tidak ada perbincangan diantara mereka.
Yang terdengar cuma suara ngorok dari Asyifa, wanita itu sedang tertidur dengan pulas nya.
Amar hanya menggelengkan kepalanya dan mendengus, " Dasar putri tidur ngorok!"
setelah mengucapkan itu, sebuah tamparan mendarat di pipinya, dari tangan Asyifa.
Asyifa masih tidak sadarkan diri, dia masih tidur.
Sudut bibir Arsyad melengkung, untung dia di balik kemudi, jadi tuan muda AMAR tidak sempat memperhatikan reaksinya.
Arsyad berpura pura fokus menyetir.
Amar tidak bisa berbuat apa-apa, kelakuan Asyifa memang seperti itu.
Tak terasa sudah satu jam perjalanan, mereka pun tiba di restoran, Arsyad sudah memarkirkan mobilnya, Amar menepuk nepuk pipi Asyifa dengan lembut, " Bangun syif, Sudah sampai, bangun,"
Asyifa membuka matanya, dia sedikit kaget melihat keberadaan Amar, lalu dia tersadar, kalau dia ketiduran, pada saat berangkat menuju ke restoran.
Ketika mereka sudah sampai di pintu masuk, tiba tiba seorang wanita menghampiri.
" Hay, tunggu!" teriak wanita itu.
Mereka bertiga menoleh, dan melihat, Melinda berlari lari kecil kearah mereka.
Mendadak degub jantung Arsyad dua kali lebih cepat.
" Wah, kebetulan sekali bertemu di sini, kalau tidak, Arsyad akan bulak balik menjemput kamu kesini,he he he," Asyifa berusaha menggoda Arsyad, wajah laki laki itu sudah bersemu merah, " Akh,.. manusia kayak gini bisa juga tersipu,ha ha ha!" kekeh Asyifa dalam hati.
Pelayan pun datang menghampiri mereka, dan membawa ke private room yang sudah di pesan Sebelumnya.
__ADS_1
Ketika melewati meja pengunjung yang lain, mendadak aktivitas berhenti sesaat, tak pernah mereka melihat pasangan double date sebening ini.beberapa orang ingin mengabadikannya, namun sayang, mereka sudah memasuki memasuki ruangan private room, bersama para pelayan.
Setelah memesan beberapa makanan dan minuman, pelayanpun segera berlalu.
" Ada apa sih May, tumben ada acara penculikan seorang Amar kesini? Apa ada peristiwa penting yang kami belum tahu?" tanya Amar, yang masih tidak rela di paksa kesini bersama dengan Arsyad dan Melinda. " Coba jika berdua saja dengan tuan putri ngorok ini, pasti sudah beda ceritanya!, eeh, apa yang sedang aku pikirkan?" batin Amar.
" Ada sih,.. tapi tunggu pesanan datang dulu yah! aku takut ceritanya lompat lompat, karena kekurangan asupan nutrisi makan siang, he he he," jawab Asyifa dengan santainya.
Amar ingin menjitak kepala Asyifa lagi, tetapi Asyifa sudah waspada, jadi dia hanya menjetikan jarinya ke hidung sahabatnya itu.
Melinda dan Arsyad hanya menoleh, melihat pasangan yang seperti film kartun Tom and Jerry ini.
" Udah, udah, ah, malu sama Melinda, ha ha ha," pinta Asyifa menyerah, dia tak ingin mengaku kalah jadi membawa Melinda sebagai kambing hitam.
Amar pun berhenti menjaili Asyifa.
Melinda melihat mereka dengan tatapan iri, dia juga ingin punya persahabatan seperti itu.
" Oh ya, Nona Melinda, bagaimana butik? Aman?" tanya Amar memulai perbincangan.
" Bagus kalau begitu! jadi sekarang Michael tak bisa lagi mencampuri keuangan butik," Amar berkomentar lugas.
Arsyad yang mendengarnya langsung suasana hatinya berubah, entah kenapa hatinya panas, ketika melihat kemesraan Nona Melinda dengan pria satu itu, di pelelangan tempo hari.
" Oh ya, bagaimana dengan Camilla, apa kegiatan dia sekarang?" Asyifa bertanya kepada Melinda.
" Dia sibuk seperti biasanya, belum ada kontrak baru, saat ini dia sedang menyelesaikan kontrak yang di tangani menejer sebelumnya, Bastian," terang Melinda.
" Okelah kalau begitu,. setelah dia ada job baru, kamu segera beritahukan Bastian, kamu ada nomor kontrak Bastian kan?" Asyifa sebenarnya tahu kalau Melinda punya kontak Bastian, tetapi dia harus berpura pura tidak tahu.
" Bastian?" Melinda melengkungkan alisnya, dia tidak tahu kabar terbaru laki laki itu pasca kontraknya di putus, jadi dia bertanya untuk memastikan.
__ADS_1
"Iya, Bastian! Dia sekarang jadi menejer aku," ungkap Asyifa menjelaskan, usai melihat reaksi Melinda yang nampak kaget, " Aku ingin di setiap Camilla ada job, aku hadir di sana, jadi kedepannya hari harinya makin suram, dan mood nya tidak bagus, Akh,.. membayangkannya saja aku sudah bersemangat," sambung Asyifa.
" Baiklah Nona May, semuanya akan saya kirimkan kepada Bastian, kebetulan saya sudah menyimpan Kontaknya," jawab Melinda, seraya tersenyum, dia juga begitu bersemangat membayangkan Camilla yang kesal sepanjang waktu.
Tak lama pesanan pun datang, Asyifa duduk di samping Amar dan Arsyad duduk di samping Melinda, sang pelayan yang menyajikan pesanan mereka, sesekali melirik mereka berempat, " Baru kali ini, dapat customer double date yang bening bening," pikirnya.
Pelayan pun segera beranjak pergi, setelah itu mereka mengobrol ringan, Asyifa dan Amar yang mendominasi pembicaraan, sedangkan Arsyad dan Melinda hanya sebagai pendengar setia, sesekali Asyifa melontarkan guyonan.
Tak berselang lama, makan siang pun selesai.
" Mau ada pemberitahuan apa May? sebegitu pentingkah?" tanya Amar, dia sengaja memanggil dengan panggilan MAY, bukan Syif, karena keberadaan Melinda.
" Kalau sudah kenyang begini kan enak ceritanya! Oh ya,.. tadi aku baru dari lapas, aku menemui Ami," jelas Asyifa.
Semua yang ada di ruangan itu, menatap Humaira dengan tatapan aneh, banyak pertanyaan hadir di benak mereka.
" Hey,.. aku hanya menjenguknya, Aku hanya berbasa-basi dengan dia!" seru Asyifa, melihat ekspresi ketiganya.
" Jangan bilang, kau sudah jujur dengan dia!" Sergah Amar dengan rasa panik.
" Benar! Aku sudah memberitahunya semuanya, semuanya, tapi itu sudah tidak berguna," ucapnya.
" Apa maksud Nona?" tanya Arsyad tidak sabar.
" Sebentar lagi akan ada berita tentang Ami, Bilik penjaranya akan segera di ganti dengan kamar rawat inap di rumah sakit jiwa, menurutku, bilik penjara terlalu mewah untuk dirinya, Rumah sakit jiwa akan lebih berkesan untuknya, ketika dia normal, tetapi di kelilingi dengan orang orang gangguan jiwa, ha ha ha" Asyifa tertawa dengan suara yang sangat mencekam. " Salahkan dirimu sendiri Ami, yang membuat aku kehilangan identitasku sebagai Asyifa Prameswari," pikirnya.
Seketika ruangan tersebut lebih dingin dari sebelumnya, ketiganya saling melirik dan merasakan hawa yang aneh.
Amar sendiri tidak pernah membayangkan, sisi kekejaman dari seorang Asyifa Prameswari.
\*\*\*\*
__ADS_1