
Episode #56
" Nama-nama,..Nananana!" Raya bersenandung, dia membersihkan seluruh rumah dengan perasaan bahagia, hal ini memantik kecurigaan Moana dan Selena secara bersamaan.
" Kau Sepertinya begitu bahagia Raya, Apakah kau habis menang lotre?"Selena bertanya.
" Apa mama bilang, Aku menang lotre? " Apakah harus menang lotre dulu baru bisa bahagia? Bahagia tidak membutuhkan alasan mah?" ucap Raya seraya melanjutkan mengepel lantai rumah.
" Nananana!" Kali ini Raya bersenandung dengan nada yang lebih tinggi.
Moana dan Selena saling menatap, " Raya sedang jatuh cinta!" keduanya berseru kompak.
" Ha ha ha!" keduanya tertawa.
" Benar mah, hanya orang-orang yang sedang jatuh cinta melakukan hal seperti ini dengan sangat tulus tanpa mengharapkan imbalan apapun!" Moana melirik Raya dengan melengkungkan setengah bibirnya, biasanya kan dia orang yang paling anti untuk beberes rumah, jangankan untuk membersihkan lantai atau membersihkan seluruh sudut rumah, membersihkan wajah sendiri aja dia malas," Moana memutar bola matanya jengah.
" Biarin! Aku lebih memilih jatuh cinta daripada Aku harus patah hati, di tikung karena terlalu lama menyimpan rasa!" Raya menjulurkan lidahnya, dia meledek keadaan Moana.
Moana hanya bisa mendesah, dia tak ada senjata untuk melawan Raya lagi, raut wajahnya mendadak sedih, ketika mengingat sosok baru yang di kenal sebagai Asyifa itu oleh prof Wilson dan Jasmine, hingga saat ini, dia ragu, apakah prof Wilson memang memiliki perasaan terhadapnya atau tidak, sudah beberapa tahun ini, semenjak kepergian Rose, ibunya Jasmine, dia selalu berusaha terlihat ada, terutama ketika Jasmine membutuhkan sosok ibu.
Moana langsung kembali ke kamarnya, suara hembusan nafas pelan sangat jelas terdengar.
" Hai kakak, kau harus lebih berjuang lagi untuk cintamu! Bukankah kau menyukai duda anak satu itu sejak di bangku kuliah? Apa kau yakin, akan melepaskannya pergi kali ini?" Raya bersidakep dan satu alisnya terangkat
Moana yang hendak membuka pintu kamarnya berhenti, dan berbalik menatap adiknya dalam.
"Selama ini Aku Sudah cukup berjuang,. setidaknya duda satu anak itu mau melirikku, setidaknya menyadari keberadaanku, namun, kau bisa lihat sendiri hasilnya seperti apa!" Moana kembali membalikkan badannya, " Dek, Aku beritahu sesuatu padamu, Kau harus tahu waktu, kapan kau harus berjuang, kapan kau harus berhenti, terutama dalam hal sebuah perasaan yang tak akan pernah bisa untuk di paksa!" Moana langsung menekan gagang pintu dan masuk kedalam kamarnya.
Moana memeluk boneka Teddy bear, yang di beri nama Wilmoa, gabungan dari Wilson dan Moana. air matanya tertumpah Begitu saja.
Selena hanya menghela nafasnya panjang," Urusan perasaan adalah rumusan masalah rumit yang sulit untuk di pecahkan!"
Sementara itu, di mansion kediaman Stewart.
" Jasmine mana ma? Apa dia sudah pulang?"tanya Amar melihat kekiri dan kekanan mencari keberadaan keponakannya yang sangat lucu itu.
__ADS_1
" Dia sudah pulang! Wilson menjemputnya setelah mengantarkan Rose, eh maksudku Asyifa, menurutmu apakah Asyifa dan Wilson adalah pasangan yang serasi?" Elysa bertanya sambil menatap putra sulungnya tersebut.
" Sampai kapanpun keduanya tidak akan pernah jadi pasangan yang serasi!" Amar berkata ketus.
Elysa yang baru saja menyesap tehnya tersedak," Hey! Apa yang kau bicarakan! Bukankah sebelumnya kau yang mendukung hubungan mereka, jangan bilang kalau kau menyukai Asyifa? Bukankah tadi kau katakan kalau kalian sudah saling mengenal? Tunggu, aku melewatkan sesuatu, bukankah perempuan yang selama ini kau cintai bernama Asyifa? jangan bilang jika Asyifa yang ini yang selama ini kau kejar!"
" Tidak salah memang mama keturunan Stewart, analisis mama begitu tajam dan akurat, Aku beruntung mendapatkan gen seperti itu dari mama, sehingga bisa menghemat waktuku dalam menjelaskan apapun pada mama," Amar kemudian mencium pipi kiri Elysa.
" Ada sesuatu yang ingin aku tunjukan pada mama!" Amar langsung menarik Elysa ke lantai dua, dimana kamarnya berada.
" Hey, pelan pelan, jalannya, tidak usah berlari atau terburu-buru seperti itu, tidak ada yang mengejar juga!" Elysa protes.
Amar langsung berhenti dan menggendong mamanya di belakang punggungnya, laki laki itupun berjalan menuju kamarnya.
Elysa Hanya bisa menggelengkan wajahnya, dia membuang muka ketika berpapasan dengan pelayan yang menatap bengong pada tingkah keduanya.
Sesampainya di kamar, Amar menurunkan Elysa di ranjangnya, kemudian dia bergegas ke atas meja kerja yang berada di sudut kamar, kemudian dia membawa laptop menuju ranjang.
" Aku akan menunjukkan sesuatu pada mama," kemudian Amar membuka folder "my love" di laptopnya.
Folder pun terbuka, isinya adalah foto kebersamaan Amar dan Asyifa di berbagai momen, salah satunya adalah ketika dia menghabiskan waktunya di labuan Bajo, dan peragaan busana di pulau Dewata Bali.
" Sekarang mama yakin, kalau kalian saling mencintai, mata kalian tidak bisa berbohong satu sama lain, namun mama masih heran, kenapa wajahnya bisa begitu mirip dengan Rose," Elysa masih mengamati setiap foto.
" Itu adalah hasil operasi plastik ma, lihat ini, ketika dia bangun dari koma, setelah kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya, atau lebih tepatnya, upaya pembunuhan dari suaminya waktu itu," Amar menunjukkan foto ketika Asyifa baru sadar dari komanya.
Mata Elysa terbelalak ngeri, " Bagaimana bisa seperti ini? mantan suaminya benar benar bukan seperti manusia!" Elysa mengutuk dia begitu terkejut, melihat betapa mengerikannya wajah Asyifa saat itu.
" Mama mau lihat foto mudanya sewaktu belum melakukan operasi plastik?" tanya Amar.
Tanpa menunggu jawaban mamanya Amar kemudian membuka folder masa muda mereka sewaktu masih berseragam.
" Ini mah, lihatlah!"
" Astaga!" Elysa tertegun wajah Asyifa mirip sekali dengan Molly Jones, cucu yang baru saja di perkenalkan dengan tuan Edmund Jhonson.
__ADS_1
Belum hilang keterkejutan Elysa, Amar menampilkan sebuah foto lama, foto ketika Asyifa masih remaja, di foto itu Asyifa berfoto dengan Amar muda beserta Umar dan flora, istrinya yang memiliki nama asli Lady.
" Ini!" Elsya megap megap, seperti ikan yang kekurangan oksigen," ini,. ini adalah lady, walaupun dia nampak dewasa, tetapi aku masih mengenalinya. ini adalah lady, ya tuhan, jadi selama ini Lady ada di Indonesia, pasti dia kesana bersama Helena!"
Amar terkejut," Mama kenal dengan Tante Helena?"
" Kenal dong, Dia masih saudara jauh ayahmu! mereka mempunyai moyang yang sama, kira kira enam generasi di atasmu!" Elysa memperhatikan foto itu lebih detail lagi.
Amar tercengang, dia tidak menyangka dia dan Angga masih saudara jauh, ah, Dunia ini makin sempit, pantas saja Tante Helena selalu menatapku dengan tatapan yang berbeda, tapi kenapa dia tidak bersikap kalau kami masih saudara? Hmm, pasti karena si Wijaya Kusuma itu," pikir Amar.
" Sudah, mama yang melarang Helena memberitahukan padamu, agar dia tidak memberitahukan mama perihal tingkahmu di Jakarta!" Elysa berkata enteng.
Amar hanya menghela nafasnya kasar, tingkah mamanya memang susah di tebak.
" Jadi mama mengerti sekarang Amar, kalau Asyifa adalah cucu kandung Edmund Jhonson, jadi tidak ada pembatalan perjodohan,. karena kalian memang sudah berjodoh!" Elysa menarik nafasnya," Namun permasalahannya sekarang, ada pihak yang memanfaatkan situasi ini, dan menyamar menjadi putrinya Lady, demi mendapatkan, atau lebih tepatnya mendapatkan perjodohan itu!"Elysa mulai berspekulasi sendiri.
" Aku juga berpikir seperti itu mah!" Amar menghembuskan nafasnya lebih kasar lagi.
" Ini bukan masalah sederhana Amar, bisa di katakan posisi Asyifa sedang di pertaruhkan, tak hanya posisi, tapi nyawanya juga terancam, jika ada pihak lain yang mengetahui identitas asli Asyifa, Mereka akan berusaha menjebak Asyifa dan memasukannya ke penjara seumur hidup, atau mendapatkan hukuman mati, mereka tidak langsung membunuhnya, itu bukan cara kerja bangsawan! mereka akan menggunakan kekuasaan mereka untuk menjebak orang yang tidak mereka sukai," Elysa menggelengkan kepalanya.
" Aku juga mempunyai pikiran yang sama ma, untungnya Molly melihat Asyifa datang bersama Wilson, jadi secara tidak langsung dia tidak menganggap Asyifa sebagai ancaman!"Amar menambahkan.
" Benar, kau juga harus ingat, menjaga jarak dengan Asyifa, jangan terlalu sering ketemu atau kontak apapun dulu dengannya saat ini, kalaupun ingin bertemu, buatlah pertemuan yang terkesan tidak sengaja, karena kita tidak tahu, pihak seperti apa yang ada di belakang layar," Elysa menyerahkan kembali laptopnya kepada Amar.
" Ingat, jika kau terlihat sangat akrab dengan Asyifa, mereka akan menganggap pertemuan itu sebagai ancaman, dan pastinya mereka akan menyelidiki latar belakang Asyifa sampai ke akar-akarnya, jika itu terjadi, mama tidak tahu, harus ngapain lagi!"Elysa mengingatkan.
" Aku mengerti mm a! Aku ingin meminta bantuan mama, untuk membongkar kedok Molly, maksudku, di pesta Jasmine dia terlihat sangat ingin dekat dan akrab dengan mama," Amar menatap Elysa dengan wajah berbinar.
Elysa mengangguk," Tenang saja, mama tahu apa yang akan mama lakukan!"
Amar langsung memeluk Elysa," Aku bangga banget, terlahir dari mama, udah cantik, pinter, pengertian lagi!"
Elysa terkekeh," Dasar, ayah dan anak sifatnya sama, sama sama hobi gombal!"
****
__ADS_1