Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
perasaan Helena


__ADS_3

Episode #119


   Sementara itu di kamar Asyifa.


  Amar memandang lautan di depan kamar Asyifa, lamunannya seketika berhenti, ketika dia mendengar isak tangis yang begitu pilu.


   " Hiks,..Hiks,...Hiks,..Mah,...Pah,..." Asyifa meracau, keringat membanjiri tubuhnya.


     Tangan dan kaki Asyifa mulai bergerak tidak beraturan, " Ma,... pah, ,..Ikut,...Ikut,.." Asyifa merengek lirih.


  Amar segera menepuk nepuk pipi Asyifa, dia terlihat sangat khawatir, " Syif,.. Syifa,.. Bangun Syif,..!" Hatinya sakit sekali, melihat kondisi Asyifa, air matanya menetes.


     Tiba tiba Asyifa tertidur kembali, Amar menghembuskan nafas lega.


  ****


  Pesta ulang tahun nyonya Arum Kusuma berakhir dengan sukses, tidak ada insiden apapun di sana, lagi pula tidak akan ada yang berani berbuat onar di pesta itu, demi keamanan nyawa mereka.


    Sekitar jam sepuluh malam, nyonya Arum dan tuan Wijaya Kusuma meninggalkan lokasi pesta, pesta masih belum berakhir, Mereka ingin menjenguk Asyifa, sementara, Angga masih berada di pesta tersebut, menggantikan kakek dan neneknya menemani para tamu, apalagi dia di temani oleh Carrey, dia merasa begitu bahagia.


  Di belakang tuan besar Wijaya Kusuma dan nyonya Arum Kusuma menemui Asyifa, di ikuti oleh Rio dan Helena.


  Seorang asisten maju dan membukakan pintu, asisten tersebut mempersilahkan para majikannya masuk.


  Amar berdiri dan mencium tangan para seniornya itu, dia juga mengucapkan selamat ulang tahun kepada nyonya Arum Kusuma.


      " Bagaimana keadaannya? Sepertinya saya merepotkan tuan muda AMAR untuk menjaga Nona May, seharusnya Angga yang bertanggungjawab di sini," Nada tuan Wijaya keberatan, karena Amar yang menjaga Humaira.


  " Tuan jangan sungkan, saya dan Nona May sudah sangat lama bersahabat, terlebih lagi Angga tidak bisa menjaga nona May saat ini, tetapi dia sudah membantu saya untuk menemani sahabat saya yang lainnya seperti Nona Carrey!" Amar sengaja menyebut Carrey sahabatnya, dan meminta Angga membawanya ke pesta, untuk menghilangkan kecurigaan tuan Wijaya, akan hubungan keduanya.


"Keadaannya sudah cukup membaik, kata dokter besok juga dia akan siuman, dia hanya sedikit shock" Amar menjelaskan yang sebenarnya, dia tidak ingin menyembunyikan keadaan Asyifa saat ini, bagaimanapun tuan Wijaya Kusuma bisa dengan mudah mencari informasi tentang ini.


Setelah berbasa-basi sejenak, akhirnya para tetua Kusuma pamit undur diri, tak terkecuali Helena dan Rio, sebelum pergi, Helena mengecup kening Asyifa sejenak.


Setelah Amar mengantarkan para tamu itu pergi, dia duduk kembali di samping Asyifa, sambil terus memegangi tangan Asyifa, dan memandangi wajah yang pucat itu yang sedang terbaring di atas ranjang king size.


Sesampainya di kamar hotel, Rio dan Helena segera mengganti pakaiannya, Helena duduk di depan meja rias sambil menghapus Riasannya, sedangkan Rio suaminya sedang menonton video di ponselnya.



" Sepertinya Angga menyukai Nona Ramos itu, Sangat jelas terlihat di matanya," Helena membuka percakapan.


" Hanya orang buta yang tak bisa melihatnya dengan jelas!" Sahut Rio, tanpa mengalihkan tatapannya dari ponselnya.

__ADS_1


" Aku merasa dia sangat cocok menjadi nyonya muda Kusuma, dia sangat pandai membawa diri dalam situasi apapun," Helena memuji, bagaimana Carrey mencuri perhatiannya.



" Walaupun kita berkata anak itu sangat cocok dengan Nona Ramos, masalahnya terletak pada Angga, apakah dia mau berjuang atau tidak?" Rio menjawab, masih dalam mode cuek.



" Maksudmu apa? Apa Nona May yang di setujui ayah untuk menjadi cucu menantunya? Aku akui aku memang menyukai Nona May, tapi entah mengapa, rasa itu bukan seperti rasa suka sebagai menantu, lebih kepada seorang ibu terhadap anaknya," Helena terdiam beberapa saat, sebelum dia melanjutkan, " Aku,..Aku merasa dia itu sangat familiar, aku merasa sudah mengenalnya sedari kecil," ucap Helena, seraya mengoleskan krim malam ke wajahnya.



Mendengar pernyataan seperti itu dari bibir istrinya, Rio segera mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, dan memandang istrinya.



Helena yang di pandang merasa canggung, walaupun sudah puluhan tahun berumah tangga, dia masih sering tersipu, apalagi saat sang suami memujinya, " Kenapa?" tanyanya dengan wajah memerah.



" Tidak ada, Aku hanya merasa, waktu tak memudarkan kecantikanmu, kamu masih terlihat muda, Aku beruntung bisa memiliki wanita yang Aku cintai, aku berharap, Angga juga bisa merasakan hal yang sama denganku." ucap Rio, seraya menyisir rambut istrinya lembut.



Perlakukan Rio, semakin membuat wanita paruh baya itu semakin jatuh cinta setiap harinya.


"Apa kamu berpikir, jika ayah menyetujui Humaira sebagai cucu menantunya? apa kualifikasi Nona May, untuk jadi nyonya muda Kusuma? Dia tidak punya kekuasaan, dan keluarga yang bisa di andalkan oleh ayah! Apa kamu berpikir ayah orang tua yang baik hati?" Rio melemparkan pertanyaan yang tak perlu di jawab.


Helena mengeryitkan dahinya.



" Ayah telah memilih, untuk menjodohkan Angga dengan Gu Yue anaknya Gu Yan, salah satu mafia dengan bisnis casino di kota Macau," Rio langsung menyampaikan informasi yang dia peroleh, "'Ayah membutuhkan, keamanan dan kenyamanan dalam berbisnis, dan Gu Yan, membutuhkan ayah untuk mengembangkan bisnis legalnya di negara kita, semua bisnis legalnya di kawasan Asia telah di pegang oleh Gu Yue, Bukankah menurutmu ini menguntungkan kedua belah pihak," Lagi lagi Rio menanyakan pertanyaan retoris.



" Orang tua itu, sudah di butakan oleh dunia! Sudah sinting dia itu!" Helena mencaci mertuanya tanpa di saring terlebih dahulu.


Rio hanya terkikik lucu melihat tingkah istrinya, semakin tua istrinya, semakin imut saja, dia mencubit lembut pipi istrinya dengan gemas.


" Tenanglah, Aku akan bicara pada anak itu, semoga saja dia bisa membuka matanya dan melihat lebih jelas, Istirahatlah, hari ini sangat melelahkan, besok kita akan kembali ke ibukota, ada hal penting yang harus aku kerjakan,"


Helena menurut, dan mengecup pipi suaminya mesra.

__ADS_1


Malam pun semakin larut, deru ombak seakan menjadi hiburan tersendiri bagi Amar.


Asyifa menggerakkan lagi tubuhnya, dia seperti bermimpi buruk.


Dalam mimpinya, Asyifa seperti menggapai sesuatu yang begitu jauh, dia berada di ujung jembatan, dan di seberang ada kedua orang tuanya, mama dan papanya hanya menatapnya pilu, tetapi tidak mengatakan sepatah katapun, mereka hanya menatap Asyifa, dan kemudian menghilang, Asyifa tergugu dan terjatuh, Dia membalikkan badannya, setelah kedua orang tuanya menghilang.


" Papa,....Mama,..." pekik Asyifa kencang, tiba tiba dia terduduk dari tidurnya, tangannya berdarah, kena jarum infus.


Amar kemudian menenangkan Asyifa pelan, Dia membuka jarum infus, dia memang bisa membuka dan memasang jarum infusan.


Setelah itu, kemudian Amar memeluk Asyifa, Asyifa tergugu dia menangis dalam diam, tidak ada suara apapun di antara keduanya, hanya isak tangis yang bicara, kerinduan yang begitu dalam, dan fakta pembunuhan kedua orang tuanya, membuatnya hampir kehilangan kesadarannya kembali.


Amar dengan sigap, menenangkan dan memeluknya sepanjang malam, tidak ada suara, Asyifa pun tertidur dalam pelukan Amar.



Sementara itu, di tepi pantai, Angga dan Carrey tampak berbincang, mereka membahas banyak hal, tentang pekerjaan, tentang filosofi hidup, bahkan tentang bulan dan bintang, masih sama seperti sebelumnya, tak pernah ada obrolan yang kehabisan topik, tapi ada satu hal yang tak pernah mereka perbincangkan, yaitu tentang hubungan mereka.



Angga mengantarkan Carrey sampai depan pintu kamarnya, binar bahagia tak bisa dia sembunyikan, hanya dengan bersama Carrey dia bebas menjadi dirinya sendiri, tanpa kekangan dan diktean dari orang lain, siapa lagi kalau bukan, sang kakek.



" Kamu istirahat ya? mimpikan aku!" Angga sedikit malu mengucapkan kata yang terakhir.


" Kalau aku tak memimpikan kamu, bagaimana?" tanya Carrey dengan senyumnya.


Angga terlihat serius dan berkata," Aku akan datang, dan membajak mimpimu, aku akan mengingatkan kamu, bahwa kamu seharusnya memimpikan aku,"



carrey tertawa, hanya Angga yang bisa membuatnya tertawa lepas, dengan guyonan konyol.


" Baiklah, kalau begitu aku tunggu kamu untuk meng- hack mimpiku.


Angga hanya tersenyum, " yasudah kamu masuk gih, istirahat


!" ucapnya kemudian


" Iya, kamu juga sampai jumpa besok!"Carrey membuka pintu kamarnya dan kemudian masuk.


Angga tetap di posisinya, berdiri dan menyaksikan bahwa Carrey sudah masuk.

__ADS_1


Angga terus berjalan, tetapi tidak menuju kamarnya untuk beristirahat, dia berjalan ke arah kamar lain, dia ingin menyelesaikan apa yang harus dia selesaikan.


*****


__ADS_2