Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Permintaan maaf tuan Wijaya Kusuma


__ADS_3

Episode #29


     Keduanya kemudian melihat keatas panggung, kali ini Rebecca tampil mendampingi penyanyi terkenal, keduanya tampil sangat memukau.


    " Tidak di pungkiri, Nona Rebecca sangat memukau, pasti banyak penggemarnya yang berusaha mencari perhatiannya dan mengirimkan pesan kepadanya, menurutmu kenapa dia menerima ajakan ku?" Amar bertanya.


   Glenn Yaw menyesap minuman di depannya, dia mengendikan bahunya, " Aku tidak tahu alasan pastinya, mungkin karena nama belakangmu yang aneh di kalangan orang Britania, dia penasaran, sebenarnya kamu itu siapa, dan dari negara mana, menurutku, itu hanya karena rasa penasarannya saja!"


    " Aku berharap, dia tahu tentang perjodohan itu, sehingga tidak memakan waktu banyak," Amar menatap perempuan yang sedang bermain piano di atas panggung.


     " Jangan terlalu berharap!" tandas Glenn Yaw.


   Penampilan berakhir, para penonton berdiri memberikan tepuk tangan, Amar dan Glenn Yaw juga melakukan hal yang sama.


    Setelah semuanya selesai, Amar berjalan menuju belakang panggung, " Aku menunggu di parkiran!" seru Glenn Yaw.


    Amar menoleh, dan memberikan kode"OK" dengan tangannya.


      Di belakang panggung, Rebecca penasaran dengan sosok Amar syaputra, di ruang ganti miliknya sendiri dia menunggu Amar.


    Amar berjalan di belakang panggung, dia membaca nama nama yang tertera di sana, ketika menemukan nama Rebecca dia berjalan masuk kedalam.


  " Permisi, Nona Jhonson!" Amar menyapanya.


   Rebecca terkejut, dia langsung berdiri dan segera menutup pintu ruang gantinya, bahkan dia juga menguncinya dari dalam.


  Amar mengeryit," Apa ada yang salah, Nona Jhonson?"


   " Ssstt!" Rebecca mengacungkan jari telunjuknya di depan bibirnya." Tolong panggil saya dengan nama Rebecca saja, tidak banyak yang tahu tentang nama belakang saya!"


    " Maaf, Nona Rebecca!" Amar mengaku salah.


    " Awalnya saya penasaran pada sosok kamu, saya pikir kamu adalah penggemar entah dari dunia mana, karena nama belakangmu begitu asing buat saya!"Rebecca mempersilahkan Amar Duduk dengan tangannya.


  " Sepertinya, ini tak sesederhana seperti yang saya pikirkan sebelumnya!"Rebecca kemudian membuka botol air dan meneguknya.


  Setelah minum beberapa teguk, dia menutup botol itu dan berkata," Siapa anda sebenarnya? Mengetahui nama belakang yang selama ini saya sembunyikan, berarti secara tidak langsung anda mengetahui atau setidaknya mengenal keluarga saya?"


  " Benar sekali Nona Rebecca, saya tidak akan menyembunyikan apapun dari anda, saya memang mengenal keluarga anda, lebih tepatnya, orang tua dan kakek saya, ibu saya adalah Elysa Stewart, " Amar menjawab Sebenarnya.


  " Stewart?" Rebecca mencoba mengingat," Anda adalah cucu kakek Stewart, sahabatnya kakekku?" tanya Rebecca tercengang.

__ADS_1


   " Benar sekali, sepertinya Nona mengenal kakek saya dengan baik!" Amar tersenyum.


  " Saya mengenalnya, setiap ada acara keluarga, kakek selalu mengundangnya, bibi Elysa bahkan pernah hampir di jodohkan dengan ayahku, sayangnya ayahku sudah berkeluarga waktu itu!" Rebecca menceritakan yang dia ketahui.


   " Jadi, apakah anda tahu tentang perjodohan itu?" Amar bertanya balik.


  " Saya tidak bisa menjawabnya di sini, ini sangat sensitif, lebih baik kita membahasnya lain waktu," Rebecca menolak pembahasan itu.


   " Baiklah, Nona Rebecca, ini kartu nama saya, Hubungi saya jika Nona mempunyai waktu luang!" Amar mengeluarkan kartu nama dari saku jasnya.


  Rebecca menerimanya.


    " Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu! Senang berjumpa dengan anda Nona!" Amar pun pamit pergi.


  Rebecca menganggukkan kepalanya, dia menatap Amar yang pergi, hingga punggung amar mengecil.


  Rebecca menyunggingkan senyumnya," Aku tidak menyangka, jika bibi mempunyai anak yang cukup manis!".


***


   Sehari setelah pesta pertunangan Angga Kusuma dan Carrey Ramos.


  Hari Minggu, di sandiego hills, memorial Park Karawang.


     Asyifa menatap empat batu nisan yang ada di hadapannya, Dua sebelah kiri, tercatat nama kakek dan neneknya, Amir dan Neha, Di sisi satunya terdapat nama papa dan mamanya, Umar dan flora, Asyifa mengusap matanya yang basah, Hatinya bergetar.


     Kemudian dia duduk, dan mengusap makam mamanya " Mah, seharusnya nama ini di ganti dengan nama asli mama ya, Lady," Asyifa menarik nafas sejenak, kemudian menghembuskan nya, " Ma, Nama mama indah sekali ya, "Lady" nama yang sangat cantik, secantik mama,"


  " Ma, Aku sudah mencoba untuk berdamai dengan diriku sendiri, berusaha menerima semuanya, namun tidak mudah ma, prosesnya benar benar susah, walaupun begitu, aku selalu ingat kata mama, kita harus kuat, kita tak punya pilihan selain kuat setiap harinya.


     " Ma, aku akan segera berangkat ke London, aku akan mencari keluarga mama, Aku tahu mama sangat merindukan mereka," Asyifa mengusap beberapa kali nisan Lady.


    Kemudian Asyifa berbalik ke makam Umar, " Pa,.. Sudah lama sekali tidak ada canda tawa diantara kita, hingga saat ini, tidak ada cinta yang begitu tulus dan murni selain cinta dari papa, terima kasih masih tetap menjaga Asyifa, walaupun papa sudah lama berpulang, selamanya papa akan selalu ada di hati Syifa!"


  Kemudian Asyifa beralih ke makam Amir, kakeknya, " Kek, Semuanya sudah jelas, semuanya telah berakhir, tidak ada lagi penderitaan, setelah semuanya terbongkar, syifa harap, kakek akan tenang di sana,"


   Asyifa pun segera menuangkan air dan bunga setaman, di atas makam keempat orang yang sangat di kasihaninya, setelah itu dia merapalkan doa.


   Ketika semuanya telah selesai, Asyifa berdiri, dan menatap keempat makam tersebut dengan mata yang berkaca-kaca, Dalam benaknya, video memory nya telah berputar, kehangatan keluarga yang begitu sangat ia rindukan." Kalian bisa beristirahat dengan tenang!"Asyifa berkata dengan lirih, air matanya menetes begitu saja.


   Ketika dia hendak beranjak, sebuah suara memanggilnya, suara yang begitu dia kenali, Syifa,..!"

__ADS_1


   Tanpa menolehpun Asyifa sudah tahu identitas orang yang memanggilnya, " Tuan Wijaya Kusuma,"


   Tuan Wijaya Kusuma mendekati Asyifa, dia di dorong oleh salah satu pengawalnya, mendekati perempuan itu, " Maaf!" suara Tuan WIJAYA Kusuma begitu serak dan lemah.


  Asyifa kemudian menoleh ke arah tuan WIJAYA Kusuma yang di dorong oleh anak buahnya, Asyifa begitu heran, baru satu malam, penampilan Tuan Wijaya Kusuma begitu berbeda.


   Sosoknya yang Dominan dan kuat, saat ini nampak lemah, dia seperti kehilangan semuanya, wajahnya lebih cepat menua beberapa tahun.


  Kemudian tuan Wijaya Kusuma mengangkat tangannya, dan mengibaskan ke belakang, pengawalnya langsung mengerti, dia segera menunduk dan melangkah ke belakang, menunggu tak jauh dari tempat tuan Wijaya Kusuma berada.


" Maaf,...Maaf untuk semuanya, kalau saja Aku tidak di butakan oleh dendam, semua ini tak akan pernah terjadi!" Mata tuan besar Wijaya Kusuma basah, sudah berulang kali dia mengusap dengan tisu namun sayangnya usahanya itu sia sia, dia tetap tak bisa menyembunyikan kelemahannya tersebut.



" Sebenarnya saya tidak ingin memaafkan kakek, Bagaimanapun kakek telah merenggut semua hal yang saya cintai, berat rasanya untuk memaafkan kakek!"Asyifa masih menatap makam kedua orang tuanya.


" Saya telah kehilangan semuanya, atas ulah anda kek, tak hanya orang tua, saya juga kehilangan bayi saya di perut, berkat ulah mantan suami saya, yang notabenenya adalah suruhan kakek sendiri!"Kali ini Asyifa tidak kuat menahan air matanya, setiap kali mengingat calon bayinya, hatinya terasa sakit, jika janin itu bisa di pertahankan pasti sekarang sudah berusia empat tahun, fase lucu lucunya.


" Maaf!" Suara yang begitu lirih terdengar jelas di telinga Asyifa.


Asyifa menghembuskan nafas, " Kakek saya Amir sangat menyayangi kakek, bahkan setelah apa yang kakek perbuat dengan menghabisi anak dan menantunya, beliau masih berharap, suatu saat anda bisa berubah dan menjadi pribadi seperti dulu, sahabat masa kecilnya, sahabat yang masa kanak-kanak di desa yang di kelilingi kebun tebu, aku tahu itu, karena Kakek masih menyimpan rapi semua barang pemberian anda, dan menyimpan foto lawas kalian,"


" Kakek Amir selalu melihat album foto kebersamaan kalian, bahkan beliau menyimpannya dengan rapi, surat dari indah saja masih dia simpan," Asyifa tersenyum simpul.


Tuan Wijaya Kusuma semakin diam di tempat, Hatinya begitu sakit mendengarnya, Dia mengusap kembali air matanya.


" Aku,


.Aku benar-benar bodoh, tidak menanyakan terlebih dahulu pada Amir tentang kebenarannya, sampai sekarang aku tidak mengerti, bagaimana jalan pikiran indah, hingga dia masih memfitnah seseorang, ketika dia sudah merencanakan menghabisi nyawanya sendiri!" Suara Wijaya Kusuma begitu lirih, penuh penekanan.


" Maafkan Aku!" lagi lagi tuan Wijaya Kusuma meminta maaf, kepalanya tertunduk lesu, tidak ada lagi Wijaya Kusuma yang berkuasa dan dominan, di hadapan Asyifa, perempuan di akhir dua puluhan, dia terlihat seperti seorang pesakitan yang sedang menunggu putusan.



Asyifa memandang tuan Wijaya Kusuma begitu lekat, tak berapa lama kemudian, dia menghela nafas panjang," Baiklah, Aku memaafkan kakek ataupun tidak, semuanya sudah terjadi, kedua orang tuaku juga tak bisa kembali, papa dan mama tetap berada di bawah sana," ada jeda sejenak, sebelum Asyifa melanjutkan," Kehidupanpun tak bisa di putar ulang, Aku tak bisa menolak lamaran ARDIANSYAH, bukan? Rumah tanggaku memang sudah di permainkan sejak awal," Asyifa tersenyum kecut.



Tuan Wijaya Kusuma semakin sakit, Betapa kejamnya dia, telah menyiksa satu satunya keturunan sahabatnya itu, itupun jika dia masih pantas di sebut sahabat, orang tua itu hanya menunduk dalam, dia tak bisa berkata apa-apa lagi.


__ADS_1


" Aku memilih memaafkan, bukan karena kakek sosok yang di sayangi oleh kakekku, Amir, Aku memilih memaafkan dan berusaha menerima takdirku, sejatinya, hanya untuk mendamaikan hatiku, Aku tak ingin rasa dendam mengisi hari hariku, dan membuat diriku semakin terpuruk, Aku memilih untuk tidak perduli pada hasil akhirnya, Apakah kakek akan di adili atau tidak, toh Semuanya tak bisa kembali, bukan?" Asyifa melangkah pergi, dia mengenakan kembali kacamata hitam miliknya, dia pergi tanpa permisi dan bahkan tak menoleh kebelakang barang sedetikpun!"


****


__ADS_2