Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Kejujuran Ami


__ADS_3

Episode #48


    Beberapa hari ini Ami, adik dari Ardi, sedang di Landa ketakutan dan kegelisahan, Akibat Audit yang di lakukan oleh Tim PRAMESWARI group yang di ketahui oleh Fany, orang yang sangat ahli di bidangnya.


      Membuat Ami tak enak makan, tidurpun tak nyenyak, Dia tidak tahu harus bercerita kepada siapa tentang hal ini, ingin bercerita kepada Tia,adik perempuannya, yang ada dia malah di ceramain habis habisan, ingin bercerita kepada suaminya, dia takut di amuk oleh suaminya, karena biar bagaimanapun, uang bulanan dari suaminya termasuk tinggi, jadi tidak mungkin dia bercerita, yang ada hanya akan menambah masalah dalam rumah tangganya, ingin bicara dengan mamanya, ANI, tidak mungkin, yang ada mamanya akan stroke lagi, seperti kasus viral sewaktu mereka menjual perhiasan imitasi, dengan sang papa, Andreas juga tidak mungkin, dia terlalu takut dengan sang papa, Akhirnya dia hanya memendam sendiri, hingga membuat dia semakin frustasi.


     Di kantor, Tim yang di ketuai Fany, Sudah mendapatkan titik terang tentang penggelapan dana tersebut, sayangnya hal tersebut hanya melibatkan satu orang saja, mereka telah mendapatkan IP address si pelaku penggelapan dana, untuk sementara, hal penting tersebut, di rahasiakan oleh Tim itu, Fany akan segera melapor kepada Humaira Pramesti secepatnya.


       Sementara itu, di Divisi keuangan desas-desus semakin terdengar, walaupun mereka tidak terlibat secara langsung dengan penggelapan Dividen salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan tersebut, para pegawai takut terjebak oleh si pelaku, jadi satu satunya pihak yang terlihat tenang di ruangan itu hanya office boy dan office girl yang kebetulan sedang berada di sana, selain mereka semua merasa ketar ketir.


    " Bagaimana nih? Udah berapa hari Audit, Aku takut jadi tersangka,!" lirih Tania salah seorang pegawai di Divisi keuangan itu.


    " Ngapain takut, kalau tidak bersalah?" Ya kan Mi?" jawab satu pegawai lainnya yang bernama Marni, kepada Mia.


    " Iya," Jawab Mia singkat, dia malas untuk memberikan komentar, meskipun dalam hatinya begitu ketakutan.


     Tania mengerucutkan bibirnya, tanda tidak setuju dengan pendapat Marni.


     Tiba tiba karyawan yang lain menimpali, " Wajarlah kita ketakutan guys, karena kita tidak tahu komputer mana yang di lakukan pelaku untuk melakukan aksinya, pekerjaan seperti ini biasanya di lakukan sama orang yang pintar, dia tidak akan menunjukkan jati dirinya pada orang lain, dengan bodohnya, melakukan hal tersebut tanpa memalsukan IP address-nya," Ucap Fahmi, menganalisis.


    Mendengar pernyataan dari Fahmi, membuat semua yang ada di divisi keuangan tersebut menjadi semakin ketakutan.


   Ami tidak mengomentari apapun, dia sedang berpura-pura sedang fokus dengan apa yang di kerjakan nya, padahal hati dan pikirannya sedang berkecamuk, " Ya, Aku harus membicarakan ini dengan kak Ardi," pikirnya, sambil meraih ponsel di meja kerjanya, segera dia mengetik pesan pada kakak laki-lakinya tersebut.


     { Kak, Aku mau cerita penting, Tapi tidak bisa cerita di kantor, kita makan siang bersama aja yah, Bagaimana?"}


  Ardi yang sedang sibuk memeriksa berkas di depannya, terpaksa berhenti, setelah mendengar nada aplikasi WhatsApp di ponselnya.


    Membaca pesan tersebut, Ardi merasa sedikit heran, gak biasanya Ami mengajak untuk bertemu empat mata, " Pasti ada sesuatu yang penting dan genting, Biasanya anak itu koar koar di group keluarga, Hmmmmp, ga ada salahnya juga aku ladeni," pikir Ardi.


Kemudian dengan cepat, dia segera menjawab isi pesan WhatsApp dari adik perempuannya itu.



\[ Baiklah, Nanti kita makan siang bareng, tunggu kakak di tempat parkir dekat mobil Kaka,"\]



\[ " Baik, kakak, terima kasih,"\] Balasan dari Ami.



Ardi sedikit tersenyum, membaca pesan terakhir dari adik perempuannya itu, " Sudah tau berterima kasih Dia!" batinnya.



Jam makan siang pun tiba, Ami sudah ada di parkiran, berdiri menunggu Ardi, di dekat mobil kakaknya itu, lebih tepat, mobil yang di pinjamkan oleh mantan kakak ipar, Asyifa Prameswari, Tak berselang lama, Ardi pun muncul dan segera masuk ke dalam mobil, Ami pun melakukan hal yang sama, dia duduk di sebelah Ardi yang sedang menyetir.



Hening, tidak ada perbincangan diantara mereka.



Ardi pun memaklumi sikap adik perempuannya tersebut, lelaki itu berfikir, adiknya sedang mengatur kata kata yang pas untuk dibicarakan, akhirnya dia menyalakan radio, agar suasana sedikit ceria.



Lima belas menit kemudian, mereka sampai di sebuah kafe, Ardi sudah memesan private room untuk mereka berdua, untuk mempersingkat waktu, mereka pun langsung memesan makanan.

__ADS_1


Pelayan mengarahkan mereka ke ruang private room yang telah mereka pesan, beserta makanan yang sudah mereka santap, setelah itu pelayan dan beberapa rekannya keluar.


Ardi dan Ami duduk berhadapan.



" Makan dulu, habis itu baru cerita," perintah Ardi dan langsung memasukkan makanan ke mulutnya.



Ami, yang awalnya mau menceritakan langsung, terpaksa mengurungkan niatnya, dan langsung mengambil makanan itu, meski belum ada selera makan, sebelum dia menceritakan dan mengakui semuanya kepada sang kakak.



Tidak ada suara antara mereka, hanya denting suara sendok dan garpu yang terdengar.



Sekitar dua puluh menit, mereka telah selesai menyantap makanan yang tersaji.



" Jadi, hal penting apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Ardi, memecahkan keheningan.



Ami menghela nafas, sebenarnya dia sedang mencari kekuatan untuk mengakui perbuatannya.



"Ami," Ardi memanggil, karena di lihatnya adiknya itu masih bergeming.




Mendengar itu, Ardi tidak bisa menahan senyumnya, Jika dia bisa mengungkap dan memberitahukan kepada Humaira dan Fany, Tim audit dari PRAMESWARI group, itu akan memberikan poin penting bagi dirinya sendiri, setidaknya sebagai CEO, dia bisa menguak dalang penggelapan dana tersebut, sebelum Tim audit menemukan pelakunya.



" Katakan pada kakak, siapa dalangnya, kakak tidak menyangka bahwa kamu cukup terampil dan menguak kasus ini, dan membantu citra kakak di depan para pemegang saham, kamu memang Adik terbaik kakak," puji Ardi dengan senyum sumringahnya, terlihat jelas dia begitu bangga dengan adik perempuannya ini.



Melihat respon kakaknya, sebenarnya Ami ingin menangis, Dia tidak menyangka, bahwa kakaknya begitu bersemangat, tentang dalang penggelapan Dividen tersebut.



" Ayok,.. cepat kasih tau kakak, siapa dalangnya,?" Tanya Ardi tidak sabar.



" Kak,..Se, Sebenarnya, Aku yang menggelapkan dana tersebut" Ami menunduk, dia tidak berani mengangkat kepalanya.



" Apa,.. Ka, kamu?" Ardi kaget luar biasa, tangannya menunjuk nunjuk Ami sang Adik.


__ADS_1


Ami tidak bisa menahan diri lagi, bahunya terguncang, dia terisak, air matanya sudah jatuh, maskaranya sudah belepotan.


Ardi yang awalnya marah, menjadi sedikit jijik, melihat air mata Ami yang berwarna hitam, akibat maskara yang luntur.


" Sudah, jangan menangis lagi, sekarang coba kamu ceritakan sebenarnya apa yang terjadi!" titah Ardi, berusaha untuk tenang.



" Aku menggelapkan Dividen karena sakit hati dengan mantan istrimu itu, Syifa, Aku merasa kita punya hak, atas sebagian hartanya, jadi ketika perhitungan Dividen kemarin, aku mengambil sepuluh persen dari mereka, Hiks, Hiks, Hiks, Aku tak mengira mereka akan bertindak sejauh ini, Tolong aku, kak, Aku gak mau di penjara,"


Ami terisak Isak, dia sudah coba menyembunyikan air matanya beberapa hari ini.


Ardi terlihat sangat marah, tangannya terkepal, wajahnya memerah, kalau saja adik nya ini laki laki, mungkin dia akan menghajarnya habis habisan.


" APA KAU TAHU APA YANG SEDANG KAMU PERBUAT? TIDAK HANYA MEMBAHAYAKAN DIRIMU SENDIRI, TAPI KAU JUGA AKAN MENGHANCURKAN KELUARGA KITA! KAU JUGA INGIN MERUSAK KARIRKU? Ardi sudah tidak bisa menahan amarahnya, dia meninju sofa di ruangan tersebut, untung private room itu kedap suara, jika tidak mereka pasti akan di usir dari sana karena membuat keributan.


" A, Aku ta, tak bermaksud seperti itu kak? cicit Ami terbata bata, dia tidak menyangka Ardi akan semarah itu, dia sangat takut melihat kemarahan kakaknya tersebut, dulu dia sering melihat kemarahan kakaknya ketika masih berumah tangga dengan Asyifa.


Setelah mengatur nafasnya,Ardi sudah mulai bisa mengontrol dirinya, kemudian dia menghardik adiknya itu, " Lihat kekacauan yang kau timbulkan, jika PRAMESWARI group merasa di rugikan dan di tipu, kemudian dia menarik sahamnya yang dua puluh lima persen, kamu pikir pemegang saham lain tidak akan mengambil langkah serupa? Dalam bisnis kepercayaan itu penting, jika mereka tidak percaya lagi dengan kita, trus apa? Mereka dengan mudahnya menggantikan ku, sebagai CEO di sini, dan bisa jadi mereka meminta ganti rugi, uang darimana itu? saat ini kita sudah tidak punya dukungan lagi! " INGAT ITU, percuma pendidikan mu tinggi, kalau logika seperti itu tak pernah kamu pakai !


Ami terdiam, menyimak kata kata yang di lontarkan kakaknya, dan itu semuanya benar.


" Berapa total dana yang kamu gelapkan? Berapa? Ardi bertanya dengan nada yang naik satu oktaf.



" Totalnya, a, ada tiga milyar rupiah,! Ami masih menundukkan kepalanya, dia belum berani untuk menatap sang kakak, wajahnya sudah pias.



" Besok tolong kembalikan semuanya, persiapkan dananya, biar aku coba ngomong sama Nona Humaira dan Nona Fany, agar menghentikan Audio, Aku juga akan berusaha menyembunyikan nama kamu di kantor," Ucap Ardi mencoba mencari jalan penyelesaiannya.



Ami nampak ragu.


Ardi memperhatikan itu dan kemudian berkata," Jangan bilang, jika uangnya sudah tidak ada!


Ami menghela nafas panjang, satu kejujuran lagi yang harus dia ungkapkan.


" Uangnya sudah tidak ada lagi, Aku investasikan, namun setelah beberapa waktu tidak ada pemberitahuan, akhirnya aku check, semuanya bodong, Aku investasi bodong,"



" AMI !"pekik Ardi.


Ami ketakutan sekali, badannya menggigil.


Hening, tak ada pembicaraan antara mereka, setelah beberapa saat, Ardi akhirnya bersuara,


" Kita akan bahas masalah ini nanti malam, dengan semuanya di rumah, malam ini aku akan ke rumah mama, Aku juga akan mengundang suamimu, kita musyawarah mencari solusinya, jika memang tak menemukan jalan, persiapkan dirimu baik baik, Sudah, hapus air matamu, perbaiki riasanmu, kita akan kembali ke kantor, jam makan siang sudah habis,"


Ami hanya mengangguk pasrah, kemudian dia masuk ke kamar mandi untuk memperbaiki riasannya, alangkah kagetnya, dia melihat cermin, wajahnya belepotan, maskaranya luntur, air matanya mengering, meninggalkan jejak kehitaman, lipstik nya pudar.


Setelah memperbaiki penampilannya, Ardi dan Ami, sepasang kakak beradik itu pergi menuju ke kantor, PT GARUDA TV NUSANTARA.



\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2