
Episode #15
Sementara Ardi sedang asyik dengan CAMILLA, sang mama, ANI malah hilir mudik di depan pintu seperti anak ABG yang sedang menunggu di apelin pacar pertama kali, sebentar bentar wanita paruh baya itu duduk, sebentar bentar berdiri, ponselnya selalu berada di dalam genggamannya, seperti menunggu balasan atau telpon dari orang tercinta.
Ami yang sedang bermain ponsel di ruang tamu mengeryit heran, awalnya perempuan itu memilih abai, tetapi sikap sang mama yang cukup aneh malam ini terasa mengusiknya.
" Mama kenapa sih, bulak balik Kaya setrikaan panas aja, pusing ngeliatnya," ujar Ami kesal, pandangannya ke arah Ani.
Ani menatap ke arah Ami, segera dia masuk kedalam rumah dan duduk di sebelah Ami, minuman segar yang tersaji di depannya langsung di teguk nya hingga kandas.
" Itu minuman Ami mah,.. kok dihabisin!" protes Ami tidak terima mamanya sudah menghabiskan semuanya padahal dia samasekali belum mencicipinya.
" Kamu pelit banget sih,.. tinggal buat yang baru saja apa susahnya udah berumah tangga tetap aja males gerak, untung Sandi suamimu pengertian, coba kamu dapat suami kaya papa,.. habis kamu di kursusin lagi kaya mama dulu," omel Ani pada Ami panjang lebar .
Ami tidak memperpanjang lagi masalah minuman tersebut, walaupun dia masih dongkol, dia takut mamanya akan membahas masalah yang lai, dengan tetap memainkan ponsel dia mengulang kembali pertanyaannya.
" Mama kenapa sih,..? dari tadi mondar mandir?"
Ani memandang kearah pintu, kemudian kearah ponselnya
dia menghembuskan nafas kasar sebelum menjawab.
" Ini loh,. mama dari tadi nungguin Ardi pulang, tapi gak pulang pulang, mama khawatir," Ani mengeluarkan kekhawatirannya, pada Ardi.
Mendengar penjelasan mamanya Ami yang sedang fokus bermain ponsel segera mendongak dan menoleh ke mamanya, alisnya mengkeryit menandakan bahwa mamanya sedang mencari cari alasan.
"Kak Ardi seorang pria dewasa sudah menikah, masa masih di khawatirkan karena belum pulang,? biasanya juga anak itu gak pernah di cariin sama mama kalau bukan berhubungan soal uang," ujarnya dalam hati saja, tak mungkin dia mengungkapkan itu dengan situasi hati yang begitu buruk sekarang.
" Sudahlah mah,.. paling kak Ardi menenangkan diri sejenak setelah shock denger kabar terbaru dari pengacara HAMDAN tadi, atau kalau gak kak Ardi nemuin CAMILLA!" berusaha menenangkan sang mama.
Mendengar Ami menyebutkan kata Camilla, Ani langsung terkejut dan kemudian tersenyum.
"Oh iya,.. Camilla,!" gumamnya seraya mengecek ponselnya dan segera menelpon Camilla.
Selang beberapa saat kemudian Ani terkulai, raut wajahnya begitu lemas, " Kontaknya gak aktif," ucap Ani menggenggam ponselnya.
Ami yang melihat tingkah aneh mamanya begitu penasaran.
Mamanya biasanya cuek dan tidak pernah seperhatian ini,
" Emang ada apa sih ma,? coba cerita sama Ami,! Ami menawarkan diri karena melihat ibunya yang sangat galau persis seperti seorang ABG yang tidak dikabari kekasihnya berhari hari.
Ani memang tidak bisa mengelabui Ami, hanya Ami yang begitu mengetahui bagaimana wataknya, di antara ketiga anaknya Ami memang paling dekat dengan dirinya, sedangkan Tia, anak perempuan satunya lebih dekat dengan sang papa, berbeda dengan ardi yang mudah berubah haluan, terkadang ke arah dirinya terkadang juga ke arah Andreas ayahnya.
"Ma,!" panggil Ami.
Panggilan Ami membuyarkan lamunan Ani tatapan mengintrogasi sedikit membuat nyalinya ciut.
Ani menghela nafas menyodorkan hapenya pada Ami, " Baca aja,"
Ami gegas meraih ponsel keluaran apel digigit tersebut, setelah itu dia membuka WhatsApp group yang di namakan "MACAN " manis cantik, membaca nama tersebut ada sesuatu yang menggelitik perutnya, ingin sekali wanita itu membully nama tersebut, tetapi melihat ekspresi mamanya niat tersebut di urungkan, setidaknya satu dosa gagal terwujud.
Di sertai rasa penasaran yang tinggi, jari jemarinya begitu lincah berselancar di atas benda kotak persegi tersebut.
__ADS_1
Dalam group tersebut hanya ada empat anggota yaitu. djeng Kirana, djeng Sinta, djeng Siska ketiganya memang teman akrab Ani, yang beberapa waktu lalu sampai di kecewakan karena barang belanjaan yang mereka inginkan harus segera di kembalikan gara gara kartu sakti yang hilang kesaktiannya.
@djeng Kirana: " menampilkan screenshot story'WhatsApp dari Ani dengan tulisan.
" Kembali menjadi sultan, cek,...! dengan emot memakai kacamata hitam.
@djeng Sinta: " waah, djeng Ani hebat eeuy,.. ga ada yang bisa ngalahin.
@djeng Siska: " Kita mah apa atuh, hanya butiran pasir jika di bandingkan dengan Sultanah kita, djeng Ani.
Membaca reaksi para bestie nya di WhatsApp group, Ani begitu bahagia, dia tersenyum puas,Ani memang haus akan pujian dan sangat suka di puja oleh siapapun,teman temannya tersebut mengetahui hal itu, dan mereka sudah dapat banyak keuntungan dari Ani.
@djeng Ani: " Hehehe, hanya dapat sedikit rejeki bestie bestie tercintaku,!" ( disertai emot love)
@djeng Kirana: "waah, kalau bagi djeng Ani porsi sedikit, itu bagi kita sudah besar banget,"
@djeng Sinta: " Bener sekali djeng Kirana, makin kesini djeng Ani semakin terlihat berkilau dan berjaya ya,?"
@djeng Siska: " Hahaha, jangan bandingkan kehidupan djeng Ani dengan kehidupan kita bertiga bestie,.. jauh sekali perbedaannya,"
@djeng Ani: " Hahaha,.. para bestie terkasih bisa aja, ini hanya sedikit rejeki kog,.. bagaimana kalau lusa kita ngumpul,? sudah lama sekali geng kita tidak menyerbu butik dan restoran, mereka pasti rindu dengan kehadiran kita,"
@djeng Siska: " Waah,. djeng Ani memang pengertian sekali, ayo bestie bestie kita luangkan waktu temani nyonya Sultanah menghabiskan waktu senggang,!"
@djeng Sinta: " Pasti dong,.. selalu ada waktu untuk menemani djeng Ani, ya gak para bestie,?"
@djeng Kirana:: " Setuju,!"
@djeng Ani: " Ok deh bestie,.. kita bertemu di tempat biasa ya,lusa, sekitar jam tiga sore,!"
@djeng Siska; " oce nyonya,!"
@djeng Kirana: " Siap boss kuh,"
__ADS_1
@djeng Sinta: "noted (di catat)
Setelah membaca chat di WhatsApp MACAN "manis cantik" Ami pun mengerutkan keningnya, segera dia meraih ponselnya dan mengecek story terbaru mamanya, tapi dia tidak menemukan apapun, kemudian dia melihat ke ponsel mamanya, dan melihat story tersebut masih ada, tetapi hanya di setting khusus group MACAN manis cantik.
Ami segera mengembalikan ponsel Ani.
" Kapan mama buat status gitu,?"Ami bertanya,sorot matanya tajam menatap Ani.
Ani menjadi kikuk di tatap seperti itu, dia merasa bersalah sekarang.
" Tadi sore, sebelum kedatangan pak Hamdan kesini, mama tuh yakin sekali kalau kita akan dapat semua asetnya Asyifa, eeeh ternyata zonk, mama stress ini, mana mama sudah janji dengan para bestie ngajakin mereka jalan, Aarrgh, pusing,!" Ani menyugar rambutnya kasar.
Mendengar istilah para bestie Ami sebenarnya ingin tertawa terpingkal pingkal, bisa bisanya geng mamanya memakai istilah istilah anak muda jaman now, akan tetapi melihat kondisi mamanya dia hanya menertawakan dari dalam hati para calon nenek pakai istilah ABG,.. ampyuun bestie. hehehe.
" Jadi hanya karena hal itu, mama nungguin kak Ardi seperti satpam lagi patroli,?" tanya Ami dengan kekehan pelan.
Ani langsung menatap tajam Ami.
Di tatap seperti itu Ami langsung membungkam tawanya.
" Mama harus bagaimana ini,? Bantu mikir dong,? hardik Ani. " mana Ardi gak bisa lagi di hubungin,! minta sama papa yang ada kena omel dan ceramah sana sini,! ini juga kartu gold start gak guna lagi!" keluh Ani seraya membuang kartu gold start ke tempat sampah.
" Memang mama benar benar lagi butuh,? tanya Ami memastikan.
" Ya ialah, kamu lihat sendiri chat di group WhatsApp mama, kenapa masih bertanya lagi sih,!" ketus Ani.
" Yaudah mah,.. ikut aku,! saatnya kita beraksi,!" Ami bangkit dari duduknya dan langsung menuju lantai dua, Ani mengikutinya dari belakang.
*****
""
__ADS_1