
Episode #63
Saya akan keluar untuk merokok, Nona syifa silahkan di lanjutkan kembali obrolannya!" setelah mengatakan itu Arsyad keluar dari ruangan menuju rooftop, di sana dia akan bersantai sejenak.
" Nona Syifa, semakin kesini semakin kesana!" gerutu Arsyad. seraya menggeleng gelengkan kepalanya.
" Ha ha ha! Tawa kedua wanita itu semakin meledak bersamaan.
" Suamimu begitu polos Melinda, Lihat wajahnya yang seperti kepiting rebus,dan alasan yang di buatnya, Apa tadi? Dia ingin merokok katanya? suamimu saja tak pernah menyentuh rokok!"Asyifa tertawa bahagia.
Tawa Melinda pun pecah seketika," Nona syifa, kau jahat sekali!"
Beberapa waktu kemudian, ketiganya pun makan, seraya mengobrol, mereka lebih banyak mengobrol tentang kesibukan Melinda, selama ada di Britania raya, yang sekarang sudah menjadi Youtuber sekaligus tiktoker yang subscribe, Dan sekarang followers semakin lama semakin menanjak.
Setelah acara makannya selesai, ketiganya langsung ke stasiun London Euston, mereka akan naik kereta ke stasiun Manchester piccadily, yang menempuh perjalanan sekitar dua jam tiga puluh menit.
"Nona syifa, kita akan berpisah di stasiun Manchester piccadily, nanti tuan di muda Amar akan menjemput anda di sana, kita berdua hanya di tugaskan untuk menjemput dan menemani Nona, agar tidak merasa kesepian di sepanjang perjalanan, menuju ke sana!" ucap Arsyad tersenyum.
Mata Asyifa berkedut mendengar ini," Haissh! anak itu! tak pernah berubah! tidak tahu apa jika Melinda sedang Hamil, kan kasian si Utun!" Asyifa menggeleng gelengkan kepalanya.
" Tidak apa-apa Nona syifa, hal ini sepadan dengan yang saya dapat, Nona," ucap Melinda menenangkan amarah Asyifa seraya mendelikan matanya ke arah Arsyad.
" Beberapa hari ini saya merindukan masakan Nusantara, beberapa kali saya mencoba ke rumah makan Asia yang ada di Manchester, tetapi rasanya sangat tidak cocok di lidah, jadi aku senang sekali ketika makan masakan Nusantara di apartemen nona Asyifa!" Melinda berkata jujur.
" Kalian berdua berusaha melindungi si Mr Bean itu kan?"Asyifa menatap tajam keduanya.
" Ha ha!" Arsyad tersenyum," Kami hanya cari aman saja Nona!" Arsyad menjawab.
" Haissh! Dasar!" Asyifa merutuk keduanya.
Perjalanan pun akhirnya selesai, mereka sampai di stasiun Manchester piccadily, ini adalah pertama kalinya mereka menginjakkan kakinya di sini, kota yang terkenal dengan grup sepakbola nya dan sejarahnya.
Beberapa meter dari pintu luar, Asyifa langsung di peluk oleh sosok yang familiar, " Kenapa kau datang lama sekali sayang! Lihat, Aku sudah jamuran menunggumu!"
Asyifa melepaskan pelukannya, dia menjewer langsung telinga sosok tersebut," Mr Bean, lain kali kalau nyuruh orang jemput aku, pastikan orang itu tidak sedang hamil!"
Amar mengaduh kesakitan," Loh, emangnya Arsyad hamil!?
Melinda dan Arsyad buru buru ingin kabur dari situasi ini,"Tuan muda, kami pulang dulu ya? setengah jam lagi ada kelas online, permisi!"Arsyad langsung menarik tangan Melinda, meninggalkan pasangan unik tersebut.
" Hey!" Amar berseru, tetapi tak di hiraukan oleh pasangan itu.
__ADS_1
Asyifa sudah berkacak pinggang, matanya mendelik tajam pada Amar.
Amar hanya bisa meneguk ludahnya kasar.
" Sekarang kita kemana, Mr, Tedy Bear?"tanya Asyifa ketika Amar membawanya keluar dari stasiun.
" Tebak, kita mau kemana?" Amar balik bertanya, seraya membukakan pintu mobilnya.
Asyifa masuk, dia melipat kedua tangannya di dada,"Manalah aku tahu, kau pikir aku cenayang?" bibir Asyifa mengerucut.
Hembusan nafas pelan Terdengar dari Amar.
" Kau kenapa?" Asyifa mengeryitkan dahinya.
" Aku tidak apa apa, Aku hanya ingin mengkritik buku yang aku baca, perihal perempuan jika di tanya akan kemana!" jawab Amar seraya menyalakan mesin mobilnya.
Asyifa menaikan sebelah alisnya dan kemudian berkata," Aku tak mengerti!"
Amar sudah membawa Asyifa keluar dari stasiun Manchester piccadily, dan sekarang mereka sudah berada di jalanan kota Manchester.
" Dari beberapa artikel dan buku yang aku baca, mereka menyebutkan, bahwa, biasanya perempuan akan menjawab terserah, ketika mereka di tanya akan kemana!" Amar belum selesai tetapi Asyifa sudah menyela.
" Trus?"
Asyifa berdehem," Hemp!" dia menopang dagu dengan sebelah tangannya.
" Sayangnya, artikel itu tidak berarti untukmu, Di tanya kita mau kemana, malah di jawab, Kau pikir aku cenayang! Huh! menyebalkan!" Amar mengerucutkan bibirnya.
Mendengar itu Asyifa tidak mau menahan tawanya," Ha ha ha!"
Merasa di tertawaan Amar membuang wajahnya tidak terima.
" Jangan marah dong! Jelek tau kalau ngambek, mirip embek jadinya, he he!"kemudian Asyifa mencubit pipi Amar yang sedang menyetir," Duuh, Mr Tedy Bear menggemaskan sekali sih!"
Dalam hati Amar tertawa gembira, namun di permukaan dia menampakkan wajah ngambeknya.
" Nyebelin!" Asyifa melepaskan cubitannya, karena Amar tak bereaksi sama sekali, Dia membuang wajahnya keluar jendela, dan menikmati suasana kota Manchester.
Melihat wajah Asyifa yang sedang kesal, Amar menjawil hidung Asyifa, " Ngambek terus, seharusnya Aku yang ngambek!"
" Idiih, Lepasin!"Asyifa menyingkirkan tangan Amar.
__ADS_1
Keduanya pun tertawa sumringah.
" Ternyata artikel yang kau baca, tidak semuanya benar ya!" Asyifa akhirnya berkomentar setelah tawanya reda.
Amar mengangguk," Sayang sekali, tidak ada garansinya, jadi uangnya gak bisa kembali!"Desahnya pelan,"Buku itu bahkan tidak berhasil padamu!"Amar menggelengkan kepalanya pelan.
Mobil terus melesat maju, kini keduanya telah meninggalkan kota Manchester, menuju ke arah Keswick.
Asyifa heran, dia melihat keluar jendela," Kita mau kemana Amar? Kita tidak kelilingi kota Manchester?"Asyifa merasa heran.
Amar menggelengkan kepalanya, sebuah senyuman tersungging di bibir lelaki itu.
Asyifa memperhatikan dan sempat terpesona dengan senyuman Amar.
Amar tiba tiba sadar dan menatap Asyifa lembut," Kenapa kau melihatku seperti itu, Aku ganteng ya?" ucap Amar sambil menaik turunkan alisnya.
Asyifa langsung menabok Amar" Dih, Pede amat!"
Amar terkikik geli.
Mobil terus melaju meninggalkan Keswick dan sekarang sudah memasuki wilayah cleator, sudah dua jam mereka berdua di dalam mobil.
" Kenapa sekarang sudah gelap ya Amar?" Asyifa memperhatikan sekitarnya, semuanya sudah gelap, lampu jalan pun sudah menyala.
" Wajar dong syif, sekarang kan musim gugur, hari semakin pendek, hari akan semakin pendek dari tiga belas jam di bulan September menjadi delapan jam di bulan November, Nah sekarang kita di bulan Oktober," Amar menjelaskan.
Asyifa mengangguk tanda dia mengerti," Dulu terakhir aku kesini, waktu musim semi, he he!" Asyifa cengengesan.
" Kalau saja kita bisa berangkat lebih awal, kita bisa melihat pemandangan Danau Crummock water dan Gunung Melbreak, itu sangat indah sekali, apalagi di musim gugur!"
Perjalanan empat mil tidak terasa bagi mereka, "Nah, kita sudah sampai, kita akan bermalam di desa ini, sebelum melanjutkan perjalanan besok pagi!"
Asyifa mengedarkan pandangannya, dia melihat papan nama Desa " Eddernale Bridge"
Asyifa kemudian menyadari, betapa ramah dan tenangnya Desa ini di tengah tengah pegunungan, Asyifa juga banyak melihat akomodasi dan pub di sepanjang jalan.
" Kau sudah lapar? Kita bisa berhenti sejenak di salah satu pub di sini, mereka banyak menyediakan minuman dan makanan lokal!" Amar menawarkan.
Asyifa menggelengkan kepalanya, " Aku tidak terlalu cocok dengan makanan di sini, sebenarnya aku sudah membawa, Nasi, rendang, Aneka lalapan, dan ayam geprek, dan kawan kawannya di bagasiku!"Asyifa mengatakannya malu malu.
" Benarkah? Wah, kebetulan sekali, Aku juga bosan dengan makanan itu itu saja, jadi kita langsung saja ketempat penginapan kita, bagaimana?" tanya Amar bersemangat, perutnya sudah kelaparan.
__ADS_1
" Setuju!" sahut Asyifa.
Mobil Amar pun melesat meninggalkan ujung Desa Eddernale Bridge, Asyifa menikmati pemandangan di Desa tersebut, "Indah!"hanya itu kesan yang ada pada diri Asyifa tentang Desa ini.