
Episode #118
Waktu berlalu sekejap mata, kini matahari sudah sepenuhnya di gantikan oleh rembulan, sudah beberapa jam, Amar masih terpaku menatap Asyifa, bibirnya nampak berkecumik seperti melafalkan segala doa, dengan sang pemilik alam semesta.
Carrey pun mengetuk pintu, walaupun tidak ada sahutan dia tetap masuk, di tangannya ada bingkisan makanan dan minuman, Perempuan itu berjalan, dan perlahan masuk, dia meletakkan, makanan dan minuman itu di meja kamar.
" Makan dulu, kamu juga harus jaga kesehatan!" Carrey menegur, seraya menyerahkan sebotol air mineral, Amar menerimanya, dan hanya memegangnya.
AMAR menggeleng, " Aku tak lapar!" ucapnya lemas.
Carrey menghela nafas, dia sangat mengenal watak lelaki satu ini, keras kepala, sekali dia mengatakan A selamanya dia akan mengatakan A.
" Makan itu bukan perkara lapar atau nggak, akan tetapi, perkara kekuatan dan kebutuhan tubuhmu, kalau nanti kamu jatuh sakit, nona May pasti akan sedih juga, atau bahkan menyalahkan dirinya sendiri, kalau sudah seperti itu, Bagaimana?" Carrey mencoba membujuk.
Kamu juga harus ingat,
kamu butuh fisik yang kuat, jika nona may butuh sesuatu, dan kebetulan kamu sedang sakit, siapa yang akan memberikan bantuan di sini?, Angga?" carrey mencoba menggoyahkan pertahanan Amar.
mendengar nama Angga di sebut, hati Amar tergerak, dia segera beranjak menuju meja dan mulai makan dengan lahap, sungguh dia tak rela, jika Angga membantu Asyifa, jika sedang membutuhkan bantuan, Dia tak rela.
carrey pun akhirnya menarik nafas lega, dia tersenyum, melihat tingkah Amar yang kekanak-kanakan, tingkah cemburunya Sudah mencapai level tinggi.
" Baiklah, aku akan pergi dulu ke pesta nyonya Arum, kamu harus menjaga diri," pesan Carrey sebelum menutup pintu, dan meninggalkan ruangan tersebut.
Amar baru menyadari, bahwa Carrey tampil sangat memukau, Dress hitam di padukan dengan mutiara, begitu cocok di kulit putihnya, belum lagi riasan tipis di wajahnya, flawless, dia memang tampil memukau dan lebih terlihat sederhana, karena dia tidak ingin jadi perhatian, ini adalah pesta besar nyonya Arum Kusuma, tentu saja harus keluarga besar Kusuma yang jadi pusat perhatian, bukan orang lain.
Ruangan pun jadi kembali sunyi dan sepi, Amar melahap makan malamnya yang terasa hambar, dia memang belum mengisi perutnya dari tadi siang.
Lamat lamat dia memandang wajah Asyifa, yang seperti kertas kosong, ekspresi ini mengingatkan dia ketika pertama kali menolong Asyifa di tepi jurang, hatinya mendadak pilu.
__ADS_1
Tak lama setelah Amar membuang sampah bekas makanannya, Dokter pun datang, Amar segera mempersilahkan Dokter itu untuk memeriksa keadaan kondisi Asyifa.
Amar memperhatikan setiap gerakan yang dokter itu lakukan, setelah memeriksa dan memastikan, bahwa kondisi Asyifa membaik, dia lalu melepaskan stetoskop nya dari telinga, dan menggantungnya di leher.
" Keadaannya baik baik saja, tuan muda tidak perlu khawatir, kemungkinan besok dia akan sadar!" Dokter itu memberikan penjelasan, dan memanggil Amar dengan sebutan tuan muda, setelah tahu identitas Amar sebenarnya.
" Kenapa hingga sekarang dia masih belum sadarkan Dok?" Amar bertanya, dia tidak puas dengan penjelasan dari dokter.
" Kemungkinan karena rasa shock nya yang terlampau besar, hal ini umum terjadi, jika pasien pernah mengalami kejadian yang sama sebelumnya, saat ini mungkin pasien sedang berada di alam bawah sadarnya, sehingga dia tidak bisa bangun sekarang," Dokter memberikan sedikit penjelasan.
Amar hanya mengangguk tanda ia paham, penjelasan dari dokter, Asyifa memang pernah tenggelam, dan bahkan nyaris merenggut nyawanya, jadi dia berpikir jika penjelasan dari dokter sangat masuk akal.
Setelah memastikan semua baik baik saja, dokter pamit undur diri, setelah dia keluar dan menutup pintu, dia menghembuskan nafas lega, Aura dalam ruangan tersebut begitu mencekam.
"Udah tau belum, si j@l@ng kuntilanak itu tercebur ke laut, sampai sekarang belum siuman! Kenapa gak sampai tamat saja sih?" Camilla berkata pada suaminya, Ardi, wajahnya sedikit kesal.
Ardi tiba tiba memasukkan sepotong brownis ke mulut Camilla, perempuan itu tersedak dan mendelikan matanya, tanda ia protes, tidak suka dengan perlakuan kasar suaminya.
" Kalau punya otak itu di pake Mil, Bukan hanya di panjang, udah tau itu ada sangkut pautnya dengan keluarga Kusuma, dan kamu membahas itu di pesta mereka, kalau mau cari mati, jangan ajak ajak aku, mata mata dan anak buah mereka ada di mana mana, kamu itu gak melihat situasi!" Ardi mengomeli Camilla.
Camilla tahu dirinya salah, gak seharusnya dia membahas itu di tempat ini, namun dia tidak terima dengan perlakuan Ardi yang mengingatkan nya dengan cara yang kasar.
__ADS_1
" Dasar munafik, Aku tau kamu juga menginginkan hal yang sama pada kuntilanak itu, seperti yang aku inginkan, jangan bersikap sok suci kamu di hadapanku," Camilla mencibir sinis pada Ardi.
Ardi diam, Sebenarnya memang dia menginginkan hal yang sama pada Asyifa, terlebih dia sudah tahu tentang pernikahannya yang sudah sah dengan Camilla, meskipun baru tercatat secara agama, dan belum di sah kan secara negara, Alhasil, Ardi Sedang ketar ketir menghadapi permasalahan yang akan menyambutnya setelah tiba di ibukota, sungguh mustahil, jika Asyifa tidak melaporkannya kepada pengacara kondang HAMDAN HUTAPEA, tetapi mengingat bahwa istrinya, anak pemilik resort berkelas internasional ini, Ardi sedikit tenang, dia tidak menyangka, bahwa orang tua Camilla mempunyai aset dan penghasilan berlimpah.
" Sudah, sudah, tidak usah di perpanjang, bagaimanapun kita ini pengantin baru, mari kita tunjukkan kemesraan pada mereka, bukan perseteruan," Ardi berkata lugas.
Camilla memutar bola matanya dengan malas, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.
Tak lama kemudian, nyonya Arum Kusuma dan tuan Wijaya Kusuma, hadir, semua yang hadir tampak menundukkan kepala mereka, tanda hormat kepada mereka, tuan Wijaya Kusuma menggandeng mesra nyonya Arum Kusuma, walaupun usia mereka sudah mencapai kepala tujuh, kemesraan mereka tidak pernah lekang oleh waktu, semua orang begitu mengagumi tuan Wijaya Kusuma, yang begitu setia pada istrinya.
Tak lama kemudian, Angga pun datang, dengan menggandeng Carrey, ada beberapa orang, yang bertanya tanya, tentang hubungan keduanya, karena setahu mereka, tuan muda Angga, Sedang dekat dengan Humaira Pramesti, sebagian yang lain juga paham akan insiden yang di alami oleh wanita malang tersebut.
Semua anggota Kusuma tidak menganggap hal ini penting, karena mereka paham jika Amar. sedang merawat Humaira Pramesti, jadi Angga memutuskan untuk menggandeng Carrey ke pesta tersebut.
Hanya Rio dan Helena, yang memperhatikan binar aneh, di bola mata putra mereka, sinar mata itu tampak hidup, tidak seperti biasanya, segera mereka paham, jika penyebabnya adalah gadis di sebelah anaknya, yaitu Carrey Ramos.
Helena memandang lebih dalam ke Carrey, tampilan wanita itu begitu sederhana, tapi memiliki sikap yang elegan dan anggun, perempuan ini bisa membawa dirinya, dan mengetahui tempatnya berdiri, dia tampil tidak mencolok, karena dia tahu jika dia bukanlah bintang di sini, ini sangat berbeda sekali, dengan yang ada di pojokan sana, Helena melihat Camilla, pengantin baru itu terlihat sangat glamor, seperti dialah bintangnya.
Helena menghembuskan nafasnya lagi perlahan, Carrey memang cocok mendampingi Angga, dia perempuan yang cerdas, tidak hanya tentang intelejensi, tetapi juga emosi dan pengelola diri, namun sangat di sayangkan, Angga tidak bisa menentukan langkahnya sendiri, seandainya dia bisa bersikap seperti papanya, dia akan hidup lebih bahagia, Helena tersenyum getir, ibu mana yang tak ingin melihat anaknya bahagia.
Pesta ulang tahun pun segera di mulai.
__ADS_1
****