
Episode #140
Semua kandidat pun fokus mempersiapkan diri mereka sendiri, wawancara akan di jadwalkan sekitar sepuluh menit lagi.
Sepuluh menit berlalu dengan keheningan, semua fokus dengan jawaban yang mereka persiapkan, ada yang menonton YouTube, tentang tips dan trik menghadapi HRD, ada juga yang membaca artikel dengan topik yang sama, bagi yang percaya diri, mereka hanya menggulir layar ponsel mereka di Aku sosial media mereka.
Jam setengah dua siang tepat, semua kandidat sudah siap di wawancara.
mereka penasaran, orang seperti apa yang akan mewawancarai Mereka,
Lima belas menit berlalu, masih tidak ada seorangpun yang masuk ke dalam ruangan itu, Beberapa kandidat mulai menggerutu.
" Ini bener gak sih, wawancaranya jam segini?" wanita berparas cantik yang mengusir Bastian dengan jijik itu melihat jam tangan di pergelangan tangannya, " Lelet banget!" tambahnya lagi.
Peserta yang lain juga mengangguk setuju.
Mereka pun menunggu lagi, lima belas menit kemudian telah berlalu begitu saja.
" Huuh! apa Bener gak sih, kita wawancara hari ini? jangan jangan HRD nya lupa lagi, kalau hari ini ada wawancara!" keluh pria yang menarik kursi Bastian.
" Gak nyangka ya, menejemen nya kok bobrok Begini! Gak menghargai waktu banget!" seorang pria berkacamata yang sejak tadi terdiam, berkomentar.
Kecuali Tia dan Bastian yang ada di pojokan, semua yang ada di sana ngedumel, karena lamanya HRD datang.
" Huh! Dasar orang tidak punya kesabaran! Baru nunggu tiga puluh menit saja sudah seperti menunggu enam jam, dasar mental pengeluh!" gumam Tia.
Bastian mendengar jelas gumaman tersebut, walaupun Tia mengucapkan nya dengan nada rendah.
" Udah, gua gak mau lagi di sini, nama perusahaannya doang yang gede, tapi menejemennya bobrok seperti ini, mending gua cabut, buang buang waktu aja di sini!" seorang pelamar wanita yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, segera keluar dengan membawa berkas di tangannya, dia bahkan tidak menoleh sedikitpun.
Para pelamar pun saling berpandangan, Mereka rata rata lulusan luar negeri, Mereka sangat menjunjung tinggi kedisiplinan dan sangat menghormati waktu, empat orang pun langsung keluar dari ruangan.
Bastian sedikit tersenyum, dalam hatinya dia mencibir," Baru menunggu setengah jam saja sudah tidak sanggup, apalagi menunggu klien hingga berjam-jam, idealis boleh, terlalu idealis jangan, apalagi mereka sangat mudah di pengaruhi, pergi sendiri mungkin pilihan terhormat bagi mereka, dibandingkan penolakan!"
__ADS_1
Sekarang tersisa enam orang pelamar, perempuan yang mengusir Bastian dengan jijik, dua orang yang tos pas Bastian jatuh, pria berkacamata yang menghina menejemen kantor, Tia, dan Bastian sendiri.
Empat orang yang tersisa tadi langsung memainkan mata mereka.
Kelakuan mereka tidak luput dari perhatian Bastian.
Ketiga pria itu mendekati Bastian dan Tia.
" Wah, couple kita makin mesra nih, di pojokan? Kok, kalian gak ikut keluar sih dengan peserta yang tadi? Butuh banget kerjaan ya?" Sindir perempuan berwajah cantik itu.
" Seperti situ gak butuh kerjaan saja! kalau situ gak butuh, kenapa gak ikutan keluar?" Tia membalas dengan ketus.
Bastian semakin terpesona, Tia bukanlah orang yang gampang ditindas.
" Ya, suka suka aku dong! lagian aku juga Udah punya kerjaan ya! Aku hanya iseng saja ikut wawancara, kalau kamu sih, nampaknya masih fresh graduate, baru lulus ya? pasti belum punya pengalaman, percaya diri banget kamu di sini!" perempuan itu berusaha membuat Tia kehilangan kepercayaan dirinya.
" Percaya diri? Pasti dong! buktinya aku di undang wawancara, berarti pihak kantor percaya dengan kemampuan aku, trus kenapa aku harus kurang percaya diri! Sinting kamu ya? nalarmu gak jalan!" balas Tia semakin monohok.
Tidak terima dengan perkataan Tia yang mengatakan bahwa nalarnya tidak jalan, alias dia bodoh, telapak tangan perempuan itu langsung melayang ke pipi Tia.
" Lepasin!" perempuan itu berusaha melepaskan tangannya.tapi semakin dia berusaha , semakin kuat cengkraman tangan Tia.
Tia sudah di latih sejak kecil, oleh papanya sendiri, Andreas, seorang mantan atlit bela diri nasional, otomatis kekuatannya tidak bisa di bandingkan dengan orang biasa.
" Ada cctv di sana!" Tia menunjuk dengan tangan satunya ke pojok ruangan, " Aku bisa saja melaporkanmu dengan penganiayaan ringan, walaupun hukuman dan dendanya tidak seberapa, tapi nama baikmu akan tercemar dan kau akan masuk dalam daftar orang yang cacat hukum, apakah setelah itu akan ada perusahaan yang menerima kamu? lain kali, berpikir sebelum bertindak, Dasar betina bodoh! fisik terus yang di rawat, otak gak pernah!" kemudian Tia melepaskan cengkramannya dan menghempaskan tangan wanita itu.
Hinaan yang di layangkan Tia, membuat wajah perempuan itu memerah, semerah hati babi, dia memilih berbalik dan kembali ke kursinya, dia meraih ponselnya dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Bastian ingin bertepuk tangan dan bersorak, luar biasa, bagaimana bisa seorang ARDIANSYAH memiliki Adik luar biasa seperti ini? Batinnya " Sangat berbeda sekali dengan kakaknya yang pengecut!" pikirnya dalam hati.
Tidak ada lagi yang memprovokasi Tia, ketiga lelaki tersebut saling pandang dan melirik kearah Bastian.
Bastian terkesan tidak peduli apa apa, dan lanjut membaca buku yang di bawa, map berisi cv- nya di letakkan di atas mejanya.
__ADS_1
Ketiganya langsung merebut dan membuka cvnya, Mereka langsung tertawa.
" Lihat, namanya Bagong Slamet, lulusan dari sekolah tinggi, pengalaman kerjanya kebanyakan jadi admin!" kekeh pria berkacamata.
" Kamu lulusan dari mana sih? kampusmu bahkan tidak pernah terdengar samasekali, apa kampusmu benar benar terdaftar?" ledek laki laki yang memakai suit.
Gelak tawa terdengar lagi.
Pengalaman kerja!" laki laki yang menarik kursi tadi membaca keras keras, " Admin di perusahaan A, Akuntan di perusahaan B, Marketing alias Sales di perusahaan C, dan tentor bahasa Inggris di kampung, itu pekerjaan atau borongan?"
Gelak tawa terdengar lagi, bahkan perempuan yang di beri pelajaran dengan Tia ikut tertawa lepas.
Tia berdiri, kemudian merebut cvnya Bagong Slamet, dan menyerahkannya pada Bastian.
Kemudian dia menunjuk nunjuk jarinya kepada ketiga pria tersebut," Sampah,. Sampah,..Sampah,..!" begini ya ternyata didikan luar negeri, mengedepankan intelejensi, dan mengesampingkan budi pekerti, itu benar didikan luar negeri,.. atau didikan keluarga inti? Miris!" Tia kembali ke tempat duduknya seraya berdecak kasihan." Kalian benar-benar butuh kursus kepribadian".
Ketika mereka ingin mengeluarkan kata-kata balasan, tiba tiba pintu terbuka.
Asyifa langsung masuk karena mendengar keributan, dia terbangun dan langsung mencari sumber suara.
Semuanya terpana melihat pesona Asyifa, walaupun mereka pernah melihatnya di televisi atau media sosial, aslinya lebih menawan daripada di media, Sontak semuanya tersenyum dan menyapa," Nona May!"
Asyifa mengabaikan mereka semua, pandangannya langsung tertuju pada Bastian, yang begitu culun dan aneh.
" Selesaikan secepatnya sekarang Tian, saya tidak ingin mendengar keributan lagi, jika sudah mendapatkan kandidat yang cocok, langsung di bubarkan saja,"
Semua pelamar kerja saling memandang, " Pewawancara nya sudah ada di sini? Siapa?"
" Baik Nona Boss, maaf kalau Nona Boss terganggu!" ucap Bastian sopan.
Semuanya tercengang, pihak yang menuding Bagong Slamet pun terdiam.
" Baiklah semuanya, terima kasih atas partisipasi dalam wawancara ini, selamat kepada Nona Tia Andreas, anda lulus seleksi, mari ikut saya membicarakan kontrak, bagi yang lain, kalian di persilahkan untuk pulang.
__ADS_1
Tia benar benar terkejut, dia lulus seleksi, "Bagaimana bisa? pikirnya.
****