
Episode #107
Tower PRAMESWARI group.
" Bagaimana kerjanya, Tian? apa ada kendala?" Asyifa bertanya kepada Bastian, perihal dokumen yang seharusnya di kerjakan oleh Asyifa.
" Aman Nona Boss, Pekerjaan di sini lebih enak, daripada jadi menejer artis, Di sini aku hanya berhubungan dengan kertas kertas dan komputer, tidak lagi berhubungan dengan berbagai karakter manusia, yang membuat kepala nyut-nyutan!" Jawab Bastian, seraya jarinya menari di atas komputer.
" Baguslah, kalau kamu menikmatinya," ucap Asyifa penuh syukur, Diapun menghentikan drama yang dia tonton.
Dia berjalan ke arah meja Bastian dan memeriksa sekilas pekerjaannya.
" Bagus, kamu cepat belajar ternyata!" puji Asyifa melirik beberapa dokumen yang perlu di revisi, Bastian bisa mengerjakannya sendiri, jadi dia bisa bertambah santai.
" Oh ya, ngomong ngomong, satu set perhiasan yang saya suruh kamu teliti, sudah selesai belum hasilnya?" Asyifa mengingatkan Bastian tentang perhiasan yang di berikan oleh tuan Wijaya Kusuma ketika makan malam waktu itu.
Mendengar itu, jari jari Bastian yang tadinya berselancar di atas keyboard tiba tiba Berhenti, dia benar benar lupa untuk mengambil Perhiasan itu.
Dia menepuk jidatnya, " Astaga, maaf kan saya Nona Boss, saya benar benar lupa, mengambil Perhiasan itu di laboratorium, sepertinya hasilnya sudah keluar!" Bastian sedikit merasa bersalah, melalaikan tugasnya.
" Tidak apa-apa Tian, tapi Minggu depan saya ada acara, saya berniat memakai perhiasan itu kesana, kalau bisa kamu'ambil lebih cepat ya?" ucap Asyifa sambil berlalu lagi ke mejanya untuk meneruskan menonton drama kesukaannya.
Minggu depan adalah ulang tahun nyonya Arum Kusuma, istri tuan Wijaya Kusuma.
Tak lama kemudian, ponsel Asyifa berdering.
Dengan malas dia mengambil ponselnya, ternyata telpon dari Ferdinand, Ferdinand menelpon ke nomor Humaira, sesuai dengan teks Asyifa padanya, Asyifa berkata pada Ferdinand, bahwa apapun rencanya dia sudah memberitahu Humaira Pramesti, sebagai tangan kanannya, Ferdinand pun menyetujui, mengingat Nona May, sebelumnya sudah pernah membahas hal ini.
" Iya, Ferdinand, ada apa?" tanya Asyifa, setelah menekan tanda jawab di ponselnya.
" Halo Nona May, saya sudah mendapatkan rekaman cctv di ruangan tuan Wijaya Kusuma, yang menampilkan adegan dimana Ardi di minta untuk menyakiti nona Asyifa, dengan menghadirkan pihak ke tiga, apakah perlu, saya kirimkan ke tuan Wijaya Kusuma?" tanya Ferdinand, dengan lingkaran mata pandanya, Dia bekerja keras semalam, untuk masuk ke dalam data Base tower Kusuma group.
" Biar saya lihat dulu, jangan bertindak gegabah, orang tua itu tidak mudah di hadapi, gegabah sedikit, dia yang akan menyerang kita, Hmmm, Begini saja, kamu kirim dulu video nya ke saya, baru nanti saya yang akan putuskan, Bagaimana baiknya!" ujar Asyifa serius.
" Baiklah Nona May, saya akan mengirimkannya, Selamat pagi!" Setelah itu telepon terputus.
__ADS_1
Tak lama kemudian, sebuah rekaman video pun muncul, Asyifa langsung memasang earphone nya dan memutar video tersebut, masih ada Bastian di sini, jadi dia harus lebih berhati-hati.
Rekaman video pun terputar, rekaman itu sudah lama, sekitar memasuki tahun kedua pernikahannya, Asyifa yang menontonnya Hanya tersenyum pahit, " Apakah dari awal, dia memang tak pernah sedikitpun mempunyai perasaan padaku? Aku penasaran, apa yang di berikan tuan Wijaya Kusuma, sebenarnya pada laki laki parasit itu?" pikirnya, Asyifa larut dalam lamunannya.
Bastian yang memperhatikan Nona Boss nya hanya mengeryitkan dahinya, Dia berpikir Nona Boss nya bingung memilih, antara tuan muda Amar syaputra atau tuan muda Angga Kusuma, karena keduanya, sama sama pewaris perusahaan raksasa, " Nasib orang cantik emang beda!" gumamnya.
Sementara itu di kantor PT GARUDA TV NUSANTARA.
Rapat bulanan yang diadakan berjalan membosankan seperti biasanya, mereka sedang membahas tentang rating tv yang melonjak turun, sejak absennya Humaira, beberapa saran meminta pak Aliansyah sebagai penanggung jawab untuk membujuknya kembali, pak Aliansyah Hanya menggeleng perlahan, dan memberikan keterangan, persis seperti yang Asyifa ucapkan.
Melihat anggota rapat yang membahas hal-hal membosankan, ARDIANSYAH, sebagai ketua rapat, iseng membuka ponselnya, Di sana ada pesan video, dari nomor kemarin yang membocorkan videonya, orang tersebut membuat akun kembali, karena penasaran Ardi ijin ke kamar mandi.
Di kamar mandi Ardi mengunci pintu, dia tidak ingin seorangpun masuk, setelah di yakini semuanya aman, dia membuka video tersebut.
Keringat dingin mengucur deras, tangannya gemetaran, jantungnya berdegup kencang, itu video ketika dia bersedia untuk membuat hidup Asyifa menderita, bahkan dia juga menandatangani perjanjian hitam di atas putih, dengan tuan besar Wijaya Kusuma, jika video ini tersebar, jeruji besi telah menunggunya atas kasus penipuan berkedok pernikahan, tapi sebelum itu terjadi, tuan Wijaya Kusuma pasti akan mencarinya terlebih dahulu dan langsung membereskannya, sebagai seseorang di bawah naungan Kusuma group, dia sangat mengerti, betapa ganasnya tuan Wijaya Kusuma, dia di kenal, tidak memiliki perasaan.
Ardi menyugar rambutnya, dia nampak frustasi, wajahnya seakan menua sepuluh tahun dalam satu hari.
" Aku harus bagaimana? Kau siapa sih, bajingan!" umpat Ardi, tanpa ia sadari air matanya meleleh, dia menangis tanpa suara, tangisan penyesalan, seharusnya dia memang tidak berurusan dengan tuan Wijaya Kusuma, tapi semua sudah terlambat, penyesalan tidak berguna.
Setelah mengendalikan keadaannya, dia mencuci wajah dan tangannya, keadaannya sekarang lebih segar, jadi dia berbalik menuju ruang meeting.
Ardi pum tiba, kehadirannya di perlukan, untuk mengambil keputusan, Ardi pun setuju, dengan semua hasil diskusi.
Meeting pun berakhir.
Ardi segera menuju ruangannya, sebelum masuk ruangan, dia melirik Ferdinand, senyum senyum di depan ponselnya.
" Ekhem!" Ardi berdehem.
__ADS_1
Ferdinand pun pura pura kaget, dan meletakkan ponselnya " Eh, pak bos, meeting nya sudah selesai?" tanya Ferdinand basa basi.
" Kerjamu sudah selesai?" tanya Ardi tegas.
" Sudah pak bos, semuanya sudah kelar, Makanya lagi chat sama gebetan, namanya Tia, kuliah di kampus yang dekat stasiun, orangnya cantik deh, pinter, rajin menabung juga,.."
Ferdinand Belum menyelesaikan ucapannya Ardi Sudah menyela, " Nama lengkapnya Tia siapa?" Ardi terhenyak sesaat mendengar nama gebetan Ferdinand, sama dengan adiknya, apalagi kampusnya sama.
" Nama lengkapnya ya pak bos? Siapa ya? Saya rada lupa! kalau tidak salah Tia An,......." Ferdinand berusaha mengingat.
" Andreas?" tanya Ardi tidak sabaran.
" An,..An,.. Andriani!" maaf bos, rada lupa, seharusnya di ingat yah, biar ijab qobul nya nanti lancar, he he he!"Ferdinand terkekeh perlahan, ekspresi nya seperti orang yang sedang jatuh cinta.
Ardi merasa lega, ternyata bukan Tia adiknya.
" Ya udah, lanjutin, asal pekerjaanmu beres!" Ardi pun segera melanjutkan langkahnya.
Setelah Ardi menjauh, Ferdinand mengambil kembali ponselnya, dia mengirim video ke Nona May, dengan caption, Tolong di teruskan ke Bu Bos Asyifa ya, Nona May, terima kasih!"
video tersebut adalah video, dimana Ardi menangis di kamar mandi, dia sudah memasang kamera super mini di beberapa sudut.
Itulah kenapa Ardi melihatnya senyum senyum di depan ponsel, dia sudah merencanakan semuanya, apalagi otaknya semakin encer, setelah menerima transferan seratus lima puluh juta dari Bu Boss.
__ADS_1
Di lain tempat, Camilla meminta bantuan seorang Hacker, untuk meneror dirinya sendiri, dia juga menyerahkan beberapa video panas mereka, setelah bagian pribadinya di tutupi oleh stiker, perempuan itu berharap, Ardi akan segera menikahinya.
****