Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Mas Bagong Slamet


__ADS_3

Episode #142


  Di Prameswari Tower.


  Di dalam ruangan khususnya, Asyifa menelpon, sambil rebahan, dia mempunyai tugas baru untuk Ferdinand.


  Bunyi telpon tersambung pun segera terdengar.


  " Halo, nona May, ada yang bisa saya bantu?"


  " Hay fer, langsung saja, Apa kamu tahu permasalahan hancurnya rumah tangga Ami?"


  " Maksud Nona, ini yang di maksud adalah mantan adik ipar si big boss?" Ferdinand tidak menyebutkan nama Ami atau Asyifa, identitas keduanya begitu sensitif di lingkungan kantornya, Dinding memiliki telinga.


  Asyifa mendesah pelan, sebelum menjawab singkat," Iya!"


  " Segelintir kabar yang tersebar di kantor, itu karena adanya PIL, alias Pria idaman lain, dari pihak perempuan," jawab Ferdinand lugas," Tapi untuk kejelasannya saya tidak mencari tahu lebih lanjut, karena saya memang tidak suka bergosip," tambahnya lagi.


  " Coba selidiki orang itu!" perintah Asyifa.


    Tidak ada pilihan lain bagi Ferdinand selain menerima, " Baik nona May!"


  Panggilan pun seketika terputus.


    " Camilla adalah orang yang sangat licik, mungkin menelusuri dari selingkuhannya Ami, titik terang akan muncul!" seraya menaruh ponselnya di samping tubuhnya.


     Asyifa menggulingkan badannya lagi, dan melihat lukisan yang di lukis oleh ayahnya Angga, lukisan tersebut di tempatkan di sini, di ruang privasinya, tidak ada seorangpun yang di izinkan masuk kesana termasuk Amar.


   " Mah,... Pah,..! aku pikir akan mencari keadilan untukku saja, ternyata aku harus mencari keadilan untuk mu juga, awalnya aku pikir, ini hanya masalah rumah tangga ku saja, tetapi ada konspirasi di sini, maaf kan putri semata wayang kalian ini ya, yang terlalu polos dalam kehidupannya,," batin Asyifa, matanya basah, bibirnya melengkungkan senyum pahit.


Asyifa turun dari ranjang, dan mendekati lukisan itu," Seandainya ini hanya masalah rumah tangga ku saja, pasti sudah selesai, Ami sudah masuk penjara, Camilla telah kehilangan karirnya, dan laki laki itu, sudah keluar dari rumah, beserta terlepas dari fasilitas Prameswari group," gumamnya pelan.


" Mah, pah!" mata Asyifa mulai basah, " Tinggal menunggu pengakuan keduanya, yang telah merencanakan pembunuhan terhadapku, yang belum ada, setelah mengumpulkan semua bukti itu, Aku akan menyeret mereka semua kedalam penjara!" sinar mata Asyifa berkilat, menunjukkan tekadnya yang kuat.



" Ting!" bunyi pesan masuk.


Amar mengirim pesan, Asyifa pun segera membukanya.


(Mr, Teddy bear)


" Dapat salam dari Yadi!"


Asyifa mengeryit, dan kemudian membalas.


(Mamanya anak-anak.)


" Yadi siapa?"

__ADS_1


( Mr, Teddy bear)


" Yadi,..Ya, diriku lah! Ha ha ha!"


Seutas senyum muncul di bibirnya, matanya yang basah semakin terlihat sipit, seolah mengeluarkan air mata yang masih tersisa.


Pesan baru muncul lagi.


( Mr, Teddy Bear)


" Nanti makan siang bareng ya? Aku jemput!"


( Mamanya anak anak)


"K!"


Di seberang sana wajah Amar merenggut.



Arsyad yang sedang berada di belakang kemudi bertanya, Kenapa tuan muda?"


" Biasa, Mamanya anak anak, jawabnya singkat! cuma dua karakter K dengan tanda seru!" Dengus Amar.


Arsyad tersenyum, " Pasti nona May masih ngambek!" pikirnya.


" Iya, dia memang masih ngambek!" Amar berucap lagi, matanya memandang keluar jendela, dia menghembuskan nafas pelan.


Sementara itu di ruangan Asyifa.


" Daripada galau di sini, Lebih baik aku keluar, siapa tahu Bastian butuh bantuan!" gumamnya.


Sementara itu, di ruangan kerjanya, Bastian sedang sibuk mengerjakan pekerjaan Asyifa,


dia sedang memeriksa laporan bulanan keuangan, dan mencocokan datanya, dia tidak ingin ceroboh, ada oknum yang memalsukan data.


" Permisi!" Suara ketukan terdengar dari luar.



Bastian segera keluar, dia melihat seorang perempuan mungil, dengan setelan kerja yang pas, riasannya begitu natural dan tidak menor, rambutnya di sanggul seperti pramugari, sesaat Bastian terpana.



" Maaf, seperti saya salah ruangan!" ucap karyawati itu, dan hendak berlalu pergi, entah kenapa jantungnya berdebar, di tatap oleh pria di hadapannya ini, dia sedikit gugup.



Kemudian Bastian menahan lengannya, perempuan itu sedikit terkejut." Maaf,..Maaf,.." Bastian segera melepaskan genggamannya. " Tia, Kamu tidak salah, ini ruangan kamu!"

__ADS_1


Tia nampak bengong, dia mencari seseorang, matanya terlihat kesana Kemari, dengan mengumpulkan keberaniannya dia bertanya, " Mas Bagong Slamet, kemana ya?"


Rasanya Bastian ingin menghantamkan kepalanya di dinding, perempuan yang kemarin garang bak macan betina, bisa sepolos ini, ingin sekali dia mencubit kedua pipi gadis itu, saking gemesnya, " Tahan Bastian, tahan, jangan nyubit anak orang sembarangan, nanti kena pasal penganiayaan ringan!"


"Pak!" Tia memastikan, dia heran, kenapa sosok di hadapannya ini diam seperti patung.


" Pak!" Tia meninggikan suaranya.


Bastian tiba tiba tersadar, Diapun menjawab pertanyaan Tia setelah mempersilahkan nya masuk dulu, " Bagong Slamet itu tidak ada, itu hanya peran saya saja, saya itu Bastian, bukan Bagong Slamet!"


" Hah!" Tia terkejut, dia tidak menyangka, Bagong Slamet memiliki paras setampan ini, pipinya memerah.


" Entah kenapa saya lebih nyaman memanggil anda dengan sebutan mas Bagong, tidak apa apa kan kalau saya memanggil anda mas Bagong?" Mata Tia mengerjap, bola mata itu seakan-akan bisa menumpahkan isinya jika dia menolak.



Bastian terdiam, dia kehilangan kata-kata.


Suasana kaku tersebut tidak berlangsung lama, suara cekikikan terdengar dari ruangan dalam.


" Mas Bagong,... oi,..Mas Bagong!" panggil Asyifa.


Keduanya saling melirik dan langsung masuk kedalam ruangan, Mereka melihat bahu Asyifa terguncang, dia mentertawakan panggilan baru Bastian.


" Nona May, Selamat pagi!" Sapa Tia sopan.


" Selamat pagi Tia, ternyata kamu yang memenangkan seleksi, selamat ya, semoga kamu betah di sini!" Asyifa mengulurkan tangannya, dia memang tidak tahu siapa kandidat, dan tidak tahu siapa yang mendapatkan pekerjaan, semuanya murni seleksi dari Bastian.



" Terima kasih Nona May, suatu kehormatan bagi saya bisa bekerja di perusahaan sebesar ini, mohon bimbingannya!" nada ketulusan dan penuh rasa syukur, terdengar jelas dari suara Tia.



Asyifa menganggukkan kepalanya, " Mas Bagong akan membimbing kamu, kamu akan membantu dia menyelesaikan tugas tugasnya!" Asyifa menekankan nama Mas Bagong, kemudian melirik Bastian.



Bastian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, " Kenapa jadi ganti nama begini sih?" Bagaimana jadinya kalau satu kantor memanggil aku, mas Bagong? Kacau sudah!" gerutunya dalam hati.



Asyifa pun kembali ke meja kerjanya, sebagai pemegang tertinggi di Prameswari group, dia selalu mengecek semua laporan, yang di kirimkan dari para petinggi melalui email kantor, terkadang dia akan menjadi penasehat atas beberapa kendala perusahaan, karena akan berlibur ke Bali dia harus menyelesaikan semua laporan terlebih dahulu.


Entah kenapa, Asyifa terkenang lagi perbuatan Ardi kepadanya, dalam kepalanya, berbagai peristiwa seperti berputar, adegan per adegan memenuhi kepalanya, hatinya langsung sakit.


Dia meraih ponselnya dan segera mengetik pesan.


uncle HAMDAN.

__ADS_1


" Om, tolong kumpulkan semua bukti tentang keterlibatan Ami, dalam kecelakaan, bukti perselingkuhan Ardi dan Camilla juga, ketika aku sudah dapat pengakuan mereka tentang kejahatan itu, segera laporkan kejahatan mereka.


****


__ADS_2