
Episode #33
Aaaaarg," suara sendawa yang cukup keras di keluarkan oleh Asyifa, " Oops! Makanannya enak! aku kenyang sekali!" ungkapnya sambil mengelus perutnya yang sudah penuh, terlihat ada tiga piring kotor tertumpuk di depannya.
Amar dan Arsyad refleks menutup hidung mereka dengan telapak tangan, bau pete merebak ke mana mana, untung suara musik di restoran itu menyamarkan suara sendawa Asyifa.
Melihat aksi kedua lelaki tampan dan rupawan di depannya, Asyifa hanya cengengesan dengan raut wajah polos tak bersalah, dia bahkan tidak meminta maaf atau sekedar tak enak hati karena sudah menimbulkan polusi udara lokal yang sepersekian detik telah mencemari udara dan mengganggu sistem pernapasan kedua makhluk hidup pujaan kaum hawa tersebut.
Setelah keadaan aman, dan mereka bisa bernafas normal kembali, Amar mencibir,. " Kalau ada yang makan tiga piring nasi Padang masih tidak kenyang, perlu di periksa, apakah lambungnya masih lambung manusia atau sudah di ganti dengan lambung babi!"
" Wow, jika ada yang seperti itu, pasti dunia kedokteran sudah semakin maju, penyakit per- lambungan yang di derita kebanyakan rakyat bangsawan, dan sudah jelas terpecahkan karena sudah menemukan solusinya!" jawab Asyifa semangat, dan alisnya naik turun tanda mengejek.
Amar diam, dia tidak ingin menambah jauh lagi, wanita di depannya ini masih tetap aja sama, walaupun cashingnya beda dan tetap dia akan kalah berdebat dengan Dewi Yunani versi KW ini, dia hanya bisa mendengus kasar.
" Nih,.. segera bersihkan kekacauan tadi, aku tak tahan aromanya, kalau buang air, tolong di siram yang banyak, agar tidak menzolimi orang lain!" perintah Amar sambil mengeluarkan satu bag paper kecil imut, yang berisi sikat gigi beserta pastanya, pembersih lidah dan mouth wash ( obat kumur) tak lupa juga ia sisipkan beberapa permen karet mint untuk mengurangi aroma horor tersebut.
Asyifa menerimanya, dan wajahnya sedikit cemberut mendengar penjelasan dari Mr Teddy Bear tersebut, berdiri dan seketika menunduk ke arah Amar, wajah mereka begitu dekat.
Jantung Amar seketika memompa darahnya dua kali lebih cepat telapak tangannya berkeringat dan dingin.
Wajah Asyifa semakin dekat, Arsyad juga hanya terbengong melihatnya, pikirannya sudah kemana mana,. " Nyonya syifa sungguh tidak tahu tempat," pikirnya.
Tiba tiba tanpa aba aba Asyifa membuka mulutnya lebar dan mengucapkan, "HAAAH!" kemudian setelah itu dia berlari ke arah kamar mandi sambil tertawa cekikikan, suara cekikikannya persis seperti mbak kunti, untung tidak ada pengunjung lain di kamar mandi, kalau tidak restoran itu akan di rumorkan angker dan menjadi ajang uji nyali kedepannya.
Amar semakin jengkel dengan tingkah Dewi Yunani versi KW itu, dia mengepalkan tangannya dan bersumpah akan membalasnya jika ada kesempatan.
Arsyad tidak bisa menahan tawanya, dia bungkam setelah di tatap tajam oleh tuan muda Amar.
Lima belas menit kemudian Asyifa kembali dan duduk di tempatnya semula, dia menatap Amar yang masih dongkol, wanita itu hanya membalas dengan senyum sumringahnya.
" Nih, makan" Amar menyerahkan seporsi yoghurt.
Asyifa menerimanya dan langsung memakannya, ada sensasi asam di mulutnya, dia tahu yoghurt dapat menyamarkan bau mulut, karena ada prebiotik ( bakteri baik ) yang terkandung di dalamnya dan dapat mencegah bakteri penyebab bau mulut.
" Rencana mau tinggal dimana? gak mungkin di hotel terus kan?" tanya Amar yang terus memperhatikan Asyifa yang sedang makan yogurt.
" Rencananya aku mau tinggal di apartemen Camilla, jadi tetangganya gitu, pasti seru!" ungkap Asyifa, dengan rencana yang sudah dia atur selama perjalanan di pesawat kemarin.
"Big No!" Amar berseru tidak setuju,. " Itu akan menghancurkan semua rencana kita syi,.. may" Amar hampir keceplosan memanggil Asyifa dengan nama aslinya.
" Gini aku jelasin! peran kamu di sini adalah menghancurkan Camilla, dengan merusak karirnya dan mengambil semua job yang biasa dia ambil, Nah kalau kamu jadi tetanggaan dengan dia, itu kentara sekali kalau kamu memang ada niat untuk hancurin dia, kok, gak mikir sejauh itu, biasanya kamu sudah mikir beberapa langkah kedepan!" omel Amar sambil menjentikkan jarinya ke dahi Asyifa.
" Wajah Asyifa tampak shock! mulutnya menganga, dan kemudian di tutup oleh telapak tangannya, kemudian dia berseru kaget, " OMG!" kamu benar,! kenapa aku jadi konyol sekarang? aku kira otakku bergeser ketika operasi? atau jangan-jangan ini bukan otakku? aduh bagaimana ini?"
Asyifa menampakkan raut wajah panik dan kemudian tertawa, " Hahaha"
__ADS_1
"Ckck,.. Amar berdecih dan memutar bola matanya, tingkah Asyifa kembali ketika mereka baru saja bertemu dulu, nyebelin! tapi entah mengapa, ada kehangatan tersendiri di hati pria tersebut.
Arsyad yang menonton reality show di depannya, sebenarnya ingin tertawa, tapi sekuat tenaga ia tahan, dia tidak ingin di potong gajinya oleh tuan muda AMAR SYAPUTRA.
"Masalah tempat tinggal gampang deh, mau tinggal di rumah atau apartemen juga gak masalah, rumah dan apartemen yang kamu miliki juga banyak, mobil tinggal pake dan pilih yang mana aja" Amar berkomentar.
Asyifa tetap tidak menyahut, dia masih asik dengan yoghurt nya, seolah olah tidak memperhatikan perkataan Amar.
" Denger gak sih?" Amar mulai kesal.
" Denger sih pasti iya,.. secara aku punya dua telinga yang masih berfungsi dengan sangat baik, tetapi kalau menyimak itu beda cerita," Asyifa menaikan bahunya sekilas acuh tak acuh.
" Hahahaha," Arsyad sudah tidak bisa menahan diri untuk tertawa.
Amar melotot pada Arsyad, yang di tatap langsung menunduk, sebelum di usir atau lebih tepatnya di potong gajinya dia berucap,. " Saya tunggu di mobil saja tuan," setelah itu dia langsung kabur, setelah di parkiran dia menghembuskan nafasnya lega, " Hampir saja!" kemudian dia mengambil sapu tangan dan mengusap keringat di dahinya.
" Kau menakutinya!" ujar Asyifa sambil menatap punggung Arsyad yang kabur.
" Kamu tidak melihat wajah tampanku ini, mana bisa menakuti orang orang, yang ada bikin tersenyum dan tidak bisa tidur," lontar Amar memuji diri sendiri.
Sifat elegan dan cool nya AMAR SYAPUTRA seketika hilang kalau sudah bersama Asyifa.
Percuma tampan tapi sekarang masih single, percuma tampan kalau gak berani ungkapin perasaan ke cewek yang di suka, eeh,.. aku masih penasaran sama cewe yang dulu kamu taksir!" goda Asyifa.
Asyifa paham, Amar memang selalu menghindari perihal itu, jadi dia juga tak ingin membahas lebih jauh, " Aku berencana ketemu paman HAMDAN, dia pasti khawatir, aku belum mengatakan apa apa padanya," ucap Asyifa.
" "Yasudah, kita langsung berangkat!" ucap Amar, langsung berdiri dan berjalan menuju kasir untuk pembayaran.
Sementara itu Asyifa terus berjalan ke parkiran, Arsyad yang melihat langsung membukakan pintu mobil dan mempersilahkan nya,
Selang satu jam kemudian, mereka telah tiba di kantor HAMDAN, pengacara kondang keluarga PRAMESWARI.
ketika memasuki gedung, tatapan semua orang tertuju pada mereka berdua, mereka bagaikan melihat sepasang Dewa dan Dewi sedang berjalan, mereka berdua serasi, tuan muda dari keluarga SYAPUTRA yang di kenal dengan ketampanan nya berjalan dengan seorang wanita yang begitu cantik, persis seperti penggambaran Dewi Yunani,. " Tetapi sikap gadis itu? gadis itu tak familiar sama sekali, mereka hanya bisa berspekulasi dalam pikiran mereka sendiri.
"Saya mau bertemu dengan pak HAMDAN, ucap Amar dingin pada resepsionis yang ada di depannya.
Untuk sesaat resepsionis itu terkesima dengan keanggunan pasangan di depan matanya, kemudian dia mendapatkan kesadarannya kembali dan mengucapkan,. " Sebentar, saya beritahu dulu,"
Resepsionis tersebut langsung menekan nomor sekretaris sang pengacara HAMDAN.
" Langsung saja pak, pak HAMDAN sedang berada di ruangannya,"
Pasangan itu mengucapkan terima kasih dan langsung berjalan ke ruangan sang pengacara HAMDAN, keduanya memang sangat familiar dengan gedung ini.
Ketika sampai di depan pintu ruangan pak HAMDAN, tiba tiba pintu ruangan terbuka, dan keluarlah sosok yang samasekali tak pernah mereka duga keluar dari ruangan tersebut, ARDI, ya Ardi lelaki itu keluar dari ruangan pak HAMDAN dengan wajah masam, dia sempat melihat Amar dan ASYIFA di depan pintu, tetapi memilih abai dan melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Asyifa dengan identitas baru Humaira, segera mengepalkan tangannya, ingin sekali dia menikam lelaki tersebut dengan belati dan mengambil jantungnya untuk di berikan kepada anjing liar.
Amar yang melihat perubahan emosi Asyifa langsung menggenggam tangannya dan memeluknya, dia memberikan ketenangan pada sahabatnya itu.
" Calm down, Calm down!" bisiknya dengan penuh kasih sayang sambil mengusap usap rambut Asyifa lembut.
( tenang, tenang )
Pak HAMDAN segera berdiri dan menyaksikan adegan mesra di depannya, Tidak kaget tuan muda AMAR datang ke kantornya, tetapi wanita yang dalam pelukannya? Amar bahkan tidak pernah mengumbar kemesraan di depan umum, bahkan untuk sekedar bertemu lawan jenis di luar pekerjaan pun tidak,!
"Ekhem, Ekhem," Pak HAMDAN berdehem.
Deheman tersebut segera menyadarkan mereka, pak HAMDAN sudah berdiri di depan pintu, seketika keduanya melepas rangkulannya melihat pak HAMDAN yang sedang berdiri di hadapannya, sontak Asyifa memeluk pamannya tersebut.
Pak HAMDAN yang tidak siap di peluk tiba tiba oleh seorang perempuan cantik, tentu saja sangat kaget dan tak bisa menghindar, posisinya serba salah, lelaki tersebut tidak ingin ada kesalahan pahaman.
" Paman, ini aku! ucap Asyifa akhirnya.
Untuk sesaat, pak HAMDAN bengong, suara ini begitu familiar, suara ini, ya, suara ini suara Asyifa.
Kemudian pak HAMDAN membalas pelukan Asyifa, "Syifa,.." lirihnya dan melepas pelukannya dia menangkupkan tangannya ke wajah Asyifa, walaupun secara fisik Asyifa sudah jadi orang lain, namun, bola dan sinar mata itu yang sedari lahir sudah sangat di kenalnya tetap tidak mengalami perubahan, kemudian dia menghapus air mata perempuan muda itu dan mempersilahkan mereka masuk.
Hamdan merupakan sahabat sekaligus saudara angkat dari ayahnya Umar Prameswari, sedari mereka kecil, Hamdan adalah seorang anak yatim, teman kecil sekaligus tetangga dari Umar Prameswari, Hadi Prameswari kakek dari Asyifa kemudian mengangkat Hamdan menjadi anak, karena melihat kesopanan, kejujuran, dan kepintaran yang di milikinya, oleh karena itu semua aset dari PRAMESWARI group di kelola dengan baik oleh Hamdan, yang sudah di rencanakan sebelumnya oleh Hadi Prameswari dia mendidik langsung Hamdan seperti Umar dan tidak pernah membedakan keduanya.
Setelah menenangkan diri sejenak dari reuni yang begitu mengharukan, kemudian ketiganya tertawa bersamaan, bisa bisanya mereka bertiga bertingkah seperti itu.
" Paman sudah tahu semuanya Syif, paman sedikit kecewa dengan keputusanmu menutupi semua kekerasan yang di lakukan oleh bajingan itu! paman juga sangat terpukul dengan berita tengah malam waktu itu, bibimu sangat shock sampai menangis semalaman," kenang HAMDAN.
"Iya paman, kalau di pikir lagi ko Aku jadi bodoh ya paman? seperti ada yang salah dengan otakku waktu itu, apa aku di guna guna yah?" Asyifa asal ngomong,
" Paman, apa di ruanganmu ini gak ada sedikit cemilan? aku sedikit lapar!" ucap Asyifa sambil memegang perutnya.
Ucapan Asyifa sempat membuat orang di sana terhenyak, dan ucapan kedua membuat mereka menepuk jidat, bisa bisanya gadis ini mengalihkan topik begitu cepat.
" Paman tidak ada cemilan kekinian, bibimu cerewet, dia akan mengomeli paman jika makan yang aneh aneh, lihat sendiri di kulkas, banyak buah di sana," imbuh Hamdan menatap lembut Asyifa di depannya, walaupun fisiknya tidak dia kenali tetapi tingkahnya mengingatkan, betapa riang dan cerianya Asyifa sebelum kecelakaan tragis kedua orang tuanya, sepertinya operasi itu sudah membuat efek anastesi mengungkit kembali sifat ceria Asyifa.
Asyifa mengambil beberapa buah di kulkas dan menaruhnya di atas meja.
"Oh ya paman, laki laki tadi ngapain kesini? Asyifa bertanya sambil mengupas buah, dia sudah menata kembali emosinya.
" Paman malas menjelaskan, tonton saja videonya dari laptop paman di atas meja" tunjuk pak HAMDAN pada laptopnya.
Ruangan pak HAMDAN memang miliki CCTV yang sangat kecil dan tersamarkan, tidak ada yang tahu soal itu, hanya pak Hamdan sendiri yang mengetahuinya, laki laki itu selalu bersikap waspada dan tidak bisa dengan mudah mempercayai orang lain.
\*\*\*\*
__ADS_1