
Episode #31
Setelah selesai dari semua perawatan di klinik kecantikan tersebut, Camilla dan Melinda, langsung pulang, hari sudah sore, jadi Melinda langsung menuju butik sedangkan Camilla langsung pulang setelah menghubungi Bastian untuk segera menjemputnya di klinik kecantikan tersebut, mereka berpisah di parkiran klinik.
Di dalam mobil Camilla masih uring-uringan, dia masih kesal dengan kenyataan, bahwa uang yang di habiskan dalam perawatan sekali ini adalah uang Michael,, walaupun hasilnya sepadan dengan harga, namun tetap saja dia tidak rela.
" Melihat itu Melinda berteriak," Apa maksud anda!"
Bastian hanya melirik saja tingkah Camilla, dia tidak mengomentari atau menanyakan apapun, kondisi artis yang di menejerinya itu sedang tidak bagus, jadi sebagai orang waras, dia memilih diam daripada jadi amukan Camilla.
"Kita langsung menuju lab biasa, aku rasa masih buka, aku akan periksa obat yang di rekomendasikan oleh dokter tadi, entah mengapa aku merasa curiga dan sedikit waspada, besok tolong antarkan beberapa sampelnya ke lab yang berbeda, aku mau membandingkan hasilnya," lontar Camilla memecahkan keheningan seraya mencari kontak Michael dan mengirim pesan.
{ " Kerjaan di luar kota sudah beres? Temui aku di apartemen Malam ini, penting!' Awas kalau tidak datang, aku kebiri,! }
Bastian hanya mengangguk menyetujui permintaan Camilla, kemudian dia berbelok menuju lab yang tadi di maksud Camilla, dia tidak mengatakan sepatah katapun.
Sementara itu, satu jam kemudian, Melinda sudah tiba di butiknya, pelanggannya hari ini cukup ramai, dan para pegawai sedang sibuk dengan kegiatannya.
Melinda melangkah masuk kedalam ruangannya, wajahnya begitu segar dan tubuhnya terasa ringan, raut wajah bahagia tidak bisa ia sembunyikan, dia sangat puas hari ini, para pegawai yang menyaksikan hal itupun merasa senang, sudah beberapa hari sejak mereka di kumpulkan pada malam hari itu, sikap Melinda menjadi dingin.
Memasuki ruangannya dia segera menuju pojok ruangan, dan mengambil minuman mineral dingin dari lemari es, dia juga mengambil beberapa puding dan menikmatinya di sofa ruang kerjanya, segera dia merogoh tasnya dan mengambil ponselnya, segera dia mencari kontak Fani dan mengirim pesan.
( "Thanks Fani" )
Keberhasilannya bisa masuk ke klinik kecantikan itu dan bekerja sama dengan terapis dan dokter kecantikan , tidak lain tidak bukan karena adanya campur tangan Fani, sahabatnya yang juga memeriksa keuangan butiknya beberapa waktu yang lalu.
Klinik kecantikan tersebut adalah milik keluarga Fani, mamanya yang seorang dokter membuka klinik tersebut dengan standar yang tinggi.
Setelah itu dia bersiap pulang, namun sebelum itu dia menelpon kekasihnya Michael.
" Tuutt,.. Tuuut,.. Tuuut,. "
Nada panggilan terhubung.
Michael yang baru sampai di apartemen miliknya dengan malas mengangkat telpon dari Melinda, dia begitu malas berhubungan dengan gadis itu, tetapi dia tidak punya pilihan lain.
" Ya sayang, ini aku,.. baru sampai, bagaimana kegiatanmu hari ini?' tanyanya mesra.
" Aku hari ini pergi ke klinik kecantikan dengan Camilla, hari ini sangat menyenangkan" balasnya.
Melinda kemudian menceritakan kegiatan mereka selama di sana.
Sebenarnya Michael sangat bosan mendengarkan celotehan Melinda, tetapi dia menanggapinya dengan sabar dan penuh perhatian, sampai ada kalimat Melinda yang membuatnya merinding,. " Aku bilang sama Camilla kalau duit untuk treatment hari ini adalah uang jajan dari kamu, jadi lima belas juta itu habis untuk perawatan kita, pokoknya kita seneng banget hari ini,"
" Apa?' Michael melonjak kaget,. " Jika Camilla tau mampus, itukan duit Camilla yang aku pinjam untuk benerin motor?'
" Kenapa sayang? kamu keberatan yah?' suara sendu terdengar di seberang.
" Hahaha, tidak dong Barbie, itukan uang jajan buat kamu, kemarin kamu dapat masalah, aku gak bisa bantu, jadi cuma segitu aja yang bisa aku kasih, maaf ya sayang!' suara Michael merdu dan menghipnotis setiap kaum hawa yang mendengar nya.
Melinda mencibir, untung saja Michael berada di seberang telepon kalau tidak dia akan melihat saat Melinda memajukan bibir bawahnya , hatinya berkata,. " Seandainya aku belum tau niatmu pasti bahagia sekali," seketika Melinda menjadi muram, dia tidak bisa menampik bahwa dia memang menyayangi laki laki itu tulus.
" Malam ini ketemuan yuk? kita udah lama gak nge -date!" ajak Melinda, dia hanya sekedar ingin tahu bahwa pria itu pasti menolak dan akan menemui Camilla.
" Maaf Barbie, aku ingin menyelesaikan pekerjaan malam ini, Deadline ku mepet banget," tolak Michael halus.
" Benarkan tebakanku, Dasar si keong racun!' menghela nafas panjang Melinda kemudian berucap dengan nada sendu,. " yaudah sayang, gak apa apa, yaudah aku lanjut kerja lagi, kamu baik baik ya?' setelah mengatakan itu Melinda menutup telponnya.
Michael hanya memandangi ponselnya, tak pernah dia di perlakukan seperti ini, tak biasanya Melinda bersikap ketus saat menutup telpon.
( kerjaan di luar kota sudah beres? temui aku di apartemen Malam ini, penting! awas kalau tidak datang, aku kebiri")
Membaca pesan itu tangannya langsung berkeringat dingin, dia tau betul Camilla tidak pernah bermain main dengan kata katanya,. " ini pasti tentang uang itu" batinnya.
Malam pun sudah tiba, Camilla Sudah bersiap menunggu Michael di apartemennya, dengan rokok di jemari tangannya dan segelas anggur merah di hadapannya.
__ADS_1
Pukul sembilan malam, Michael memasuki apartemen Camilla, dia sudah tahu kodenya jadi langsung masuk saja.
Ketika langkah kakinya semakin mendekat, dia melihat sebuah gelas melayang, dengan tepat dia menghindar, jadi gelas itu menghantam dinding.
"PRANG!
Darah Michael bergejolak, wajahnya seketika pias, tak di sangka di sambut dengan gelas terbang.
" Dasar bajingan! umpat Camilla lirih sambil menyesap anggur merah.
Michael mendekat,. " Tenang sayang,..aku tak berniat menipu kamu! Aku terpaksa! Michael mendekati Camilla dan duduk di sebelahnya, tangannya merangkul Camilla dan memeluknya lembut, " Aku bisa jelaskan,! ucapnya dengan nada memelas.
" Jelaskan! nada suara Camilla dingin, dia menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya pada lelaki itu.
Michael merebut gelas yang berisi anggur merah dari tangan Camilla dan menyesapnya sedikit.
" Aku hanya berjaga jaga saja sayang? Aku menghindar kecurigaan dia, kita berdua tahu kenapa dia terjerat hutang tersebut dan tidak bisa melunasinya, dan ketika dia sedang ada masalah kemarin, aku tidak membantunya dan langsung pergi, seolah olah aku melarikan diri dengan dalih ada job dadakan, aku sengaja mentransfer duit itu, duit lima belas juta yang aku pinjam darimu untuk memperbaiki motor sebagai uang jajannya dan sebagai penghibur untuknya, aku tidak ingin dia berubah kesannya sama aku, ketika susah tidak ada untuk dirinya," Michael menjelaskan sambil mengusap usap lembut kepala Camilla dengan penuh kasih sayang.
" Jangan bilang kamu sudah punya hati dengan dia !' tegas Camilla.
Michael seketika meneguk ludahnya kasar, sebenarnya dia tidak perduli dengan Melinda, tetapi entah kenapa ada sesuatu yang tidak mengenakkan ketika Melinda menutup telponnya dengan ketus.
"Tidak dong sayang, kamu tau aku orangnya seperti apa, Dan, aku juga harus ingat dengan tujuan kita" Michael berbisik dan mengecup kuping telinga Camilla dengan lembut.
Merekapun melewatkan malam bersama.
****
"CUT! Camilla bagaimana sih! ini sudah berapa kali take, tapi kamu salah pose Mulu! teriak Erwin, sang fotografer terkenal.
Camilla hanya tersenyum kikuk, dia susah bergerak, karena persendiannya sakit dan rasanya seperti keseleo.
" Maaf Bang!" cicit Camilla.
" Kalau begini ceritanya, mending ganti model aja deh, males saya,.. seperti tak pernah di depan kamera! katanya model profesional, profesional apanya!" maki Erwin.
Bastian pun datang menengahi,. " Sepertinya modelnya kurang sehat Bang, bisa minta waktu sebentar, atau pemotretan di tunda dulu?
" Ditunda?" memangnya kamu siapa? kamu pikir saya tidak punya kerjaan lain apa? sudah ganti saja modelnya! saya tidak mau pakai model yang ini!' Erwin ngotot dan tidak mau kompromi.
Camilla marah, gemeretuk giginya terdengar dia segera keluar dari ruangan tersebut tanpa bicara sepatah katapun.
Bastian langsung menyusul Camilla yang menuju parkiran.
Setelah di dalam mobil Camilla berteriak, " Nyebelin!' siapa sih itu si fotografer? Belagu amat !
Bastian menghela nafas sebelum berkata, " Dia tidak sepenuhnya salah kamu kenapa? hari ini beda banget!"
" Gak tau nih! Badan rasanya remuk banget seperti di gebukin warga sekampung!' jawab Camilla ketus, dan menutup matanya, dia masih tidak menyangka, bahwa dia akan kehilangan job dengan cara memalukan seperti ini, sepanjang karirnya, baru ini dia di perlakukan seperti ini,. " Apa ini gara gara Massage kemarin yah? Atau karena aksi Michael tadi malam? Entahlah!' Camilla pun jatuh tertidur.
Melihat Camilla seperti itu, Bastian segera membatalkan semua jadwal dan mengantarkan Camilla pulang.
Sementara itu di butik Lady's palace.
Arsyad datang, memasuki pintu masuk wajah tampan dan pentolannya seketika membius para wanita sana , para pegawai wanita berebutan untuk melayaninya, namun semua di tepis halus olehnya.
" Saya hanya ingin bertemu dengan Melinda" ucapnya sopan.
Nany langsung mengantarkan Arsyad ke ruangan Melinda, walaupun Arsyad sudah tahu letaknya, tetapi dia tetap mengikuti pegawai butik itu.
"Selamat siang nona Melinda, senang bisa bertemu anda kembali," ucap Arsyad sopan.
Melinda mendongak, dia kaget melihat ada sosok ganteng di hadapannya, sepersekian detik dia terkesima.
" Nona Melinda?' tanya Arsyad lagi.
__ADS_1
" Oh, iyaaa," Melinda tergagap, wajahnya bersemu merah,. " Silahkan duduk Arsyad?
Arsyad segera menarik kursinya dan langsung duduk.
Melinda mengirimkan pesan ke Nany agar segera membawakan minuman dan cemilan ke ruangannya.
' Saya tidak bisa lama lama Nona, kedatangan saya kesini hanya untuk mengantarkan ini, sesuai dengan perintah tuan muda AMAR,!" Arsyad langsung mengeluarkan dua botol obat yang sama, dengan yang dia berikan pada Camilla.
Melihat itu Melinda berteriak," Apa maksud anda memberikan obat ini juga untuk saya? jangan bilang kalau saya juga harus mengkonsumsinya,? saya tidak ingin jadi gendut !" bentak Melinda, matanya melotot tajam.
" Tapi,..Nona,.."
Belum sempat Arsyad berbicara, sudah di sela oleh Melinda,. " Apa anda ingin saya jadi gendut, trus tidak ada yang mau dengan saya ? bukan begini perjanjiannya !" Amarah Melinda meledak ledak.
Arsyad semakin melongo.
" Bilang saja anda dan tuan anda ingin saya jadi gendut, dan tidak ada yang mau dengan saya?" Melinda masih marah marah.
Nona, Anda salah faham, lagi pula tidak ada hubungan gendut dengan perasaan seseorang,. .kalau sudah cinta umur atau timbangan, bahkan ras juga tidak penting," jelas Arsyad.
" Anda berbicara begitu, karena anda belum pernah mencintai perempuan gendut !" cibir Melinda.
" Saya pernah mencintai perempuan oversize," Arsyad menjawab lugas.
Melinda tersadar,.. ada sedikit perasaan sesak.
"Ooh,.. jadi kalian berpacaran?" Melinda berusaha menyembunyikan kekagetannya.
" Tidak nona, saya kehilangan jejaknya," jawab Arsyad lesu.
"Kenapa?" Melinda kepo sekali.
" Saya tidak tahu dia masuk ke SMP mana, setelah kita lulus SD," wajah Arsyad serius.
Melinda seketika tertawa terbahak bahak, dia yang awalnya marah marah tidak jelas, sekarang tertawa, Arsyad yang melihat, hanya menatap bingung, pada Melinda, dia berfikir bahwa perempuan adalah makhluk yang paling unik.
"Maaf,..Maaf,." ucap Melinda menahan malu.
"Nona, ini obat yang harus anda konsumsi, ini berbeda dengan obat yang ada pada Camilla, karena ini tidak ada efek sampingnya, ini adalah produk originalnya, Camilla pasti waspada, dan membiarkan Anda mengkonsumsinya terlebih dahulu, setelah melihat perubahan yang terjadi pada anda, baru Camilla akan mengkonsumsinya," Arsyad menjelaskan maksud kedatangannya.
" Ooh, seperti itu? maaf saya sudah salah faham," jawab Melinda dengan malu malu.
Arsyad hanya tersenyum dan mengangguk, " Tidak apa apa nona saya memaklumi nya!"
Melihat Arsyad tersenyum, Melinda, tertegun, ini pertama kalinya Arsyad tersenyum, ya! Arsyad tersenyum padanya.
Seketika suasana kikuk, Arsyad juga bingung, kenapa tiba-tiba dia tersenyum, seketika suasana jadi canggung.
Tak lama Nany datang dengan membawakan minuman dan cemilan, sesuai dengan yang di perintahkan Melinda, gadis itu memperhatikan, kedua pipi mereka sama sama bersemu merah.
Setelah perbincangan sejenak, Arsyad pun pamit, untuk melapor pada tuan muda AMAR SYAPUTRA, sedangkan Melinda, masih terpaku, dia merasakan denyut jantungnya semakin cepat.
__ADS_1
****