Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Berangkat ke villa Angga


__ADS_3

Episode #05


     "Apa ada yang perlu saya perbaiki lagi Bu, Carrey?" 'Ovan duduk di samping Carrey, dia memandang wajah cantik dosen pembimbingnya itu, entah kenapa aliran darahnya memompa dua kali lipat, dari sebelumnya, dia benar-benar mengagumi pesona kecantikan Carrey, pesona wanita Indonesia asli, tanpa ada pencampuran dengan bangsa lain.


  " Ternyata kamu sudah berusaha lebih keras, semuanya oke, bagus," Carrey tak pernah pelit dengan pujian, jika memang hasil mahasiswa nya bagus, dia dengan senang hati mengatakan sejujurnya, begitupun jika hasil mahasiswa nya buruk, dia akan mengatakan apa adanya.


  Ovan tersenyum penuh arti, tak sia sia dia mengeluarkan sedikit biaya untuk membayar joki skripsi.


   " Semuanya sudah bagus ya, bab satu dan bab dua kamu sudah bisa di kategorikan bagus, nah sekarang kita lanjut ke bab tiga, metologi penelitian, ada beberapa metode, coba kamu pilih yang mana yang cocok buat kamu pakai," Carrey mulai memaparkan beberapa jenis metologi yang cocok di pakai oleh Ovan.


  Ovan sama sekali tidak mendengarkan, dia lebih fokus melihat wajah dosen cantik pembimbingnya berbicara, tak jenuh dia memperhatikan bagaimana gestur Carrey.


  " Bagaimana, apa kamu mengerti?" carrey bertanya Serius


Ovan gelagapan, " Ba,.. Bagaimana Bu, saya masih kurang paham!"


Ovan bukannya kurang paham, dia sana sekali memang tidak memahami apapun, sedari tadi dia hanya sibuk memandangi wajah Carrey, bahkan dia tahu, ada beberapa tahi lalat di wajah dosennya itu.


" Apa ibu bisa menjelaskannya lagi?" tanya ovan bersemangat, dia terus mengulur waktu, agar bisa lebih lama dengan dosen yang tidak dia sadari, telah mencuri hatinya.


carrey melihat jam tangan di pergelangan tangannya, dia segera menggelengkan kepalanya, " Saya tidak punya cukup waktu untuk menjelaskan kembali, sore ini saya ada acara, jadi saya tidak bisa memberikan waktu lebih!"


carrey mulai membereskan barang barangnya.


Mata Ovan langsung terbelalak, melihat jam tangan yang di kenakan oleh Carrey, harga jam tangan tersebut, nyaris mencapai harga sepuluh juta rupiah," Sepertinya Bu Carrey tipe orang yang rendah hati, dia memakai barang bermerek, tetapi hidupnya begitu sederhana,"


carrey sudah selesai mengemasi barang-barangnya, Ovan segera tersadar dari lamunannya.


Melihat Dosen pembimbingnya yang sudah mau beranjak, Ovan segera menahan langkah Carrey, " Bu, Bagaimana kalau ibu menjelaskannya sambil berjalan, kali ini saya ijin rekam suara ibu, ya, biar saya ulang ulang lagi penjelasan ibu, kalau saya tidak paham,"


carrey mengangguk, dia setuju, terlepas dari niatan Ovan Sebenarnya, sebagai tenaga pendidik, dia sedikit senang, melihat semangat Ovan.


Ovan sudah menyalakan perekam suara di ponselnya, keduanya berjalan keluar dari ruangan menuju depan kampus, jaraknya sekitar sepuluh menit berjalan kaki.


carrey menunggu di depan gerbang kampus, dia memang tidak menaiki kendaraan ke kampus, jarak kosannya yang dekat dengan kampus, membuat dia lebih suka menggunakan transportasi umum, terkadang bersepeda ataupun berjalan kaki, mengurangi polusi, jika ada rekan kerja sesama Dosen yang bertanya, dia tidak ingin berkoar-koar sebagai pihak pecinta lingkungan, dia sendiri langsung melakukannya.


" Ibu naik kendaraan umum? Saya bisa mengantarkan ibu, maaf kalau hanya naik motor!"Ovan menawarkan tumpangan, dia berharap Dosen pembimbingnya tersebut luluh dan mau di antar.

__ADS_1


Beberapa detik setelah mengatakan itu, sebuah mobil mewah, Lexus LM350, berhenti tepat di depan Ovan dan Carrey.


Ovan sedikit terkesima dengan kemewahan mobil itu, tak hanya Ovan, kehadiran mobil itu juga menarik perhatian para mahasiswa yang ada di sekitar, mereka penasaran dan berbisik bisik, Mereka menebak nebak, tentang siapa yang menjemput Bu Carrey Ramos, Dosen primadona yang banyak di lirik oleh sesama Dosen dan mahasiswa.


Para mahasiswa tersebut tak perlu menunggu lama, Angga kemudian keluar, dan membukakan pintu kepada Carrey, " Maaf jika aku terlambat sepuluh menit sweetie!"


Pipi Carrey merona, dia sedikit gugup di perlakukan seperti itu, ingin sekali dia menjitak kepala Angga dengan tas tangannya, entah sejak kapan Angga bisa mengekspresikan perasaannya seperti ini.


Mendengar sikap dan perkataannya kepada Carrey, semua mahasiswi hanya bisa menarik nafas.


" Angga ganteng banget!"


" Iri banget dengan Bu Carrey!"


" So sweet banget nih, bang Angga!"


" Bang Angga, Aku padamu!"


Semua mahasiswi Disana segera berteriak, mengungkapkan perasaan mereka.


carrey hanya bisa menggelengkan kepalanya, pesona Angga memang tidak bisa di lawan.


Angga pun menyusul kemudian.


Mobil melaju menuju kosan Carrey, setelah itu mereka akan langsung menuju apartemen Asyifa.


Sementara itu, Ovan masih diam berdiri di tempatnya.


" Sudahlah Bray, Perjuanganmu berat sekali kali ini!" seorang mahasiswa dengan grup yang sama" Sugar baby" menepuk pundaknya.


Ovan hanya bisa menghela nafasnya, sekarang dia paham posisinya, dia tidak mempermasalahkan, apakah ia bisa mendapatkan dosen pembimbingnya atau tidak, nyawanya lebih berharga dari itu semua.


Ovan seketika bergidik ngeri, mengingat sepupu Angga, Tamara, yang di hukum olehnya, awalnya Ovan akan mendekati Tamara untuk misi selanjutnya, tetapi apalah daya, Tamara di hukum oleh Angga, dan semua fasilitasnya di cabut, bahkan sekarang Tamara bekerja sebagai office girl, di Salah satu perusahaan di bawah naungan Kusuma group, jika pada sepupunya saja dia bisa bersikap kejam seperti itu, Bagaimana dengan dia, yang orang asing?"


" Yok, cabut!" akhirnya Ovan mengajak temannya pergi dari sana.


***

__ADS_1


Perjalanan ke Cisarua berjalan dengan tenang dan damai, karena kelelahan, baik Asyifa maupun Carrey tertidur sepanjang perjalanan, hanya Angga yang mengobrol dengan supir, yang sekaligus merangkap jadi pengawalnya itu.


Perjalanan menjelang weekend memang membuat sedikit kemacetan, Rombongan Angga terlambat sekitar dua jam, dari waktu seharusnya, Mereka langsung di sambut oleh Helena, mamanya Angga.


" Akhirnya kalian sampai juga! Om dan Tante sudah menunggu begitu lama! Kalian sudah makan?" Helena langsung memberondong beberapa pertanyaan sekaligus.


" Mama!" Rio menepuk pundak istrinya tersebut, " Biarkan mereka istirahat dan membersihkan diri dulu di kamar, nanti kita bertemu lagi pada jam makan malam!"


" Benar kata papa, mah! Angga membenarkan.


Helena pun mengalah.


Selang setengah jam kemudian, mereka pun makan malam, tidak ada perbincangan menarik diantara mereka.


Selepas makan malam, Angga mengajak Carrey jalan jalan, Sedangkan Asyifa memilih untuk beristirahat di villa, dia masih kepikiran Amar, dan rencana keberangkatannya ke London, dia juga belum menjelaskan hal ini ke Ferdinand, apakah ibu Ferdinand akan membiarkan anak bungsunya itu ikut?"


Jam setengah sebelas malam, udara puncak sangat dingin, kabutpun sudah turun dan memangkas jarak pandang.


carrey dan Angga Sedang menghabiskan malam di atas rooftop, mereka bisa melihat kerlap kerlip lampu pemukiman penduduk, dari tempat keduanya, tak lupa coklat panas menemani malam mereka.


Sementara itu, kamar Asyifa di ketuk oleh seorang pelayan bernama Kokom, " Neng syifa di panggil Bapak Rio di bawah!"


Asyifa tidak menyahut, dia langsung membukakan pintu, keduanya pun berjalan menuju tempat Rio duduk.


Rio sendirian duduk di sana, dia sedang membolak-balikan majalah di tangannya, Asyifa heran, kemana tante Helena yang biasanya selalu ikut dengan Om Rio.


"Tante mu sudah tidur, ngantuk katanya!" Rio seolah bisa membaca pikiran Asyifa.


Asyifa hanya mengangguk.


" Apa kamu sudah siap bertemu dengan orang itu?" Rio menanyakan kemantapan hati Asyifa.


" Siap Om!" ucapnya mantap.


Rio mengerti, keduanya menuju ruang bawah tanah, di sana ada sedikit terowongan, yang menghubungkan villa ini dengan villa sebelahnya.


Kemunculan Rio langsung di sambut, para penjaga sudah tahu tujuan Rio kesini, mereka pun langsung membawa Tinro kehadapan Rio dan Asyifa.

__ADS_1


****


__ADS_2