
Episode #49
" Akh, Kakek!" Raya baru saja teringat jika sang kakek sedang menunggu, bersama Moana di taman, " Aku duluan ya Ferdinand, senang bertemu denganmu, Bye!" Raya kemudian melambaikan tangannya dan menembus kerumunan orang lagi.
Ferdinand hanya melihat dari jauh, " Apa aku yang merasa, kalau wajahnya sedikit mirip dengan Bu Boss sebelum dia obesitas dan melakukan operasi plastik? Akh, mungkin perasaanku saja!"Ferdinand melangkah kakinya kembali, dia harus bertemu dan berkonsultasi dengan prof Albert.
Sementara itu, Jasmine sedang berada di mansion keluarga Stewart.
Anak perempuan itu sedang bergurau dengan neneknya, Elysa Yang tak lain adalah ibunya Amar syaputra.
" Bagaimana nek, Besok kan Aku ulang tahun, Aku ingin menginap di sini, jadi besok kita bisa berangkat bersama sama ke area pertanian, dari sini!" Jasmine membujuk
Elysa mengeryit" Apa Daddy mu akan mengijinkan?"
" Di ijinkan dong nek, Aku bilang saja, Aku masih rindu sama nenek!" Jasmine mengalungkan tangannya ke leher Elysa.
Elysa terkikik" Ayo ngaku, kamu punya rencana apa pada Daddy mu?"
Jasmine menggeleng" Aku tidak punya rencana apa apa, Nenek, Aku hanya ingin Daddy pergi dengan tante baik hati itu, jadi mereka bisa berduaan dalam perjalanan ke mari! Bagaimana nek? ideku Baguskan?"mata Jasmine mengerjap tiga kali.
Elysa belum sempat menjawab, sebuah sentilan mendarat di kening Jasmine" Ini ni, efek baca novel romantis terus!"
" Paman Amar salah, Daddy sudah larang aku baca novel, sekarang aku lebih suka baca komik remaja!" Jasmine mengepalkan tangannya, wajahnya terlihat marah.
Amar malah mencubit pipi Jasmine yang tembem, " Sama saja, princess, komik yang cocok untukmu itu, ya komik, Doraemon, Naruto, atau Conan, deh!"
Jasmine hanya bisa mengerucutkan bibirnya beberapa sentimeter.
***
"Hallo nenek! Apa nenek ada di dalam?" molly mengetuk pintu sebuah apartemen kecil, di lantai dua, yang terletak di tower Hamlet, sebuah pemukiman kumuh di London timur.
" Hai, Molly!" tetangga yang tinggal di samping apartemennya keluar dan menghampirinya.
" Bibi Anne!, Apa kabar! lama tidak berjumpa, apakah paman frans dan si kecil Miki sehat?" molly bertanya ramah.
"Kabarku baik baik saja Molly! Jangan tanyakan kedua ayah dan anak itu, mereka masih menjadi beban pikiranku!" ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
" Oh ya Molly, aku sempat bertemu dengan bibi Meghan, tadi dia terburu buru ingin ke bank, katanya ada urusan, jadi ponselnya ketinggalan, dia menitipkan pesan, jika kau datang, kunci apartemen ada di tempat biasa!" info Anne.
" Terima kasih bibi!" Molly menganggukkan kepalanya.
" Kalau begitu, Aku masuk dulu! Kau kerjanya yang semangat ya!" perempuan paruh baya yang di panggil Anne itu segera masuk.
" Kerja?" Dia hanya tersenyum, mendengar pernyataan bibi tetangganya itu, " ini pasti kerjaan nenek Meghan!" pikirnya seraya mengambil kunci di bawah pot bunga.
Molly pun segera masuk ke dalam rumah nenek Meghan, yang sudah selama lima tahun ini mereka tempati, sebelumnya mereka tinggal di Lambeth, London selatan yang juga wilayah hunian kumuh.
Molly kemudian merenggangkan kedua tangannya, dan kemudian berbaring di sofa yang sudah mulai tua, dan kusam, perlahan dia membuka topeng silikon yang di kenakannya, topeng tersebut, sama dengan topeng yang di gunakan di industri film, dimana memberikan efek khusus, seperti wajah palsu, Meghan menghabiskan banyak tabungannya, untuk merancang topeng itu, agar mirip dengan wajah lady, sebelumnya, molly hanya mengaplikasikan riasan, yang membuat wajahnya terlihat mirip dengan Lady.
Akh, akhirnya lepas juga!" seru Molly " Menjadi diri sendiri memang selalu lebih asyik, kalau tidak kesini, Aku tidak akan melihat wajah asliku sebebas ini!" kemudian Molly melihat dan menyentuh wajahnya di cermin berkali kali.
Tak berapa lama Meghan pulang, melihat ada sepatu wanita di depan pintu, perempuan di akhir usia lima puluhan itu menyadari bahwa Molly sudah datang.
Meghan langsung mendorong pintu depan keras.
BRAK!" Molly kaget, hampir saja dia menjatuhkan cermin yang dia pegang, segera dia mengembalikan cermin ke tempatnya, buru buru dia menghampiri sang nenek.
" Nenek kenapa? Apa ada yang membuatmu kesal?" Molly segera menuntun neneknya dan mendudukannya di kursi.
Teh itu di berikan nya pada Meghan" Minum dulu tehnya nek!"pinta Molly.
Meghan pun menerima cangkir teh tersebut, dia menyesapnya sebentar, dan kemudian menaruhnya di atas meja.
Kemudian Molly berusaha memijat bahu Meghan, " Kenapa nek? Sepertinya suasana hati nenek tidak begitu baik?"
" Aku kesal sekali dengan si tua Bangka Edmund itu, rasanya ingin sekali Aku menenggelamkan dia di sungai Thames!"p geram Meghan.
Alis Molly terangkat, sebenarnya dia sudah lama tahu jika suami Meghan, Philips Jhonson adalah kakak kandung dari Edmund Jhonson, entah konflik apa yang terjadi antara keduanya, di masa lalu, Namun Molly menyadari satu hal, Edmund sudah memutuskan hubungan keluarga diantara keduanya, baik Meghan maupun Philips tak pernah membahas soal ini, jadi Molly pun berusaha menahan rasa penasarannya.
Pijatan Molly semakin merilekskan Meghan, sebagai seorang yang Lima tahun belakangan ini bekerja dari salon ke salon, Molly tentu saja sudah hafal berbagai pijatan yang menenangkan saraf.
Setelah Molly yakin bahwa Meghan sudah mulai tenang, dan bisa di ajak berbicara dengan baik baik, Diapun kemudian mengajukan pertanyaan dengan hati hati.
" Sebenarnya apa yang terjadi nek, Aku bertemu bibi Anne dan dia berkata nenek sedang pergi ke bank,"
__ADS_1
" Aku memang pergi ke bank, Hari ini adalah dimana deposito yang kami buat belasan tahun lalu akhirnya jatuh tempo, sayangnya, tua Bangka itu telah memblokir kami, dan uang deposito tersebut tidak dapat di cairkan, sebagai seorang yang mempunyai kuasa, hal ini sangat mudah dia lakukan, ah, sungguh menyebalkan!"keluh Meghan, dia hanya bisa pasrah, mau naik banding atau apapun namanya, percuma saja, jika sudah tahu hasil akhirnya, uang tidak bisa kembali, malah energinya yang terkuras.
Molly tahu apa yang ada di pikiran Meghan, " Nenek tenang saja, kakek Edmund memberikan aku uang saku, yang menurutku cukup banyak, nenek tunggu sebentar ya, akan Aku ambilkan!" perempuan muda itupun meraih tas selempangnya, di sana dia sudah menyiapkan uang sebesar tujuh ratus pound Sterling, dalam sebuah amplop putih.
" Ini ada uang nek!" Molly menyerahkan amplop putih itu, " Maaf jika menurut nenek nilainya sangat kurang, bagaimanapun aku harus tetap berjaga jaga, Alice dan Edhena, bisa saja mengawasi akun rekeningku sekarang, Bukankah akan sangat mencurigakan, jika aku mengambil uang dalam jumlah banyak, baik secara tunai ataupun via transfer!" molly menjelaskan.
Meghan langsung menerimanya, dia tergesa-gesa membuka amplop putih itu, dan langsung mengeluarkan, empat belas lembar, pecahan lima puluh pound Sterling, dia mengendusnya beberapa kali, " Benar sekali, Molly, kau harus berhati-hati!" jawab Meghan dengan suasana hati yang semakin membaik, matanya berbinar, lengkungan di bibirnya tercipta Begitu saja, seolah dia lupa, bahwa dia baru saja kesal setengah mati, pada Edmund dan pihak bank.
Molly hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan, bagi Meghan, obat kesedihan dan patah hati,
kesedihan, kekecewaan, atau apapun itu namanya, yang menyebabkan suasana hati yang buruk, uang adalah solusinya.
" Oh ya, apa kau sudah bertemu dengan cucunya tuan Steward? Meghan kembali bertanya serius.
" Sudah!" jawab Molly, " Dia datang ke pesta pengenalan ku, dan aku juga mendapatkan kado darinya, di dalam kado tersebut dia menyelipkan kartu namanya!"
" Sepertinya, dia sedang berusaha mendekatimu, kemungkinan, dia sudah tahu jika dia di jodohkan, hanya saja, dia tidak tahu, cucu Jhonson yang mana yang akan berdampingan dengannya!" Meghan mulai menganalisis.
" Sepertinya, Nora juga sudah mulai bertindak, bukan? Apakah Rebecca terus menempel padanya sepanjang acara?" Meghan menaikan sebelah alisnya yang sudah mulai memutih.
molly mengangguk" Benar nek!"
" Bagaimana menurutmu dengan laki laki itu? Aku tahu jika ayahnya adalah orang Asia yang berkulit coklat, bukankah kau menyukai pria eksotis seperti itu? mereka terlihat lebih maskulin, bukan?" Meghan menggoda Molly.
Wajah asli Molly bersemu merah, dia menutup wajahnya karena malu.
" Nenek!"
Meghan tertawa," Jika kau tertarik dengan laki laki itu, kau harus berjuang, ingat, saingamu hanya Rebecca saja, Moana dan Raya tidak akan tertarik samasekali, tapi tidak ada ketidak mungkinan jika mereka tertarik,"
Molly mengangguk," A,..Aku akan berusaha nenek!" Bola mata Molly bersinar, ada semangat di dalamnya.
" Aku dengar, besok anaknya Wilson ulang tahun, anak itu begitu dekat dengan Amar, jika kau bisa mengambil hatinya, dan juga hati ibunya Amar, kau akan berhasil lebih cepat!" Meghan memberikan nasihat.
" Baik nenek, aku akan berusaha!" suara Molly Terdengar bersemangat.
" Ingat, Jangan sampai ada yang melihat wajah aslimu!" Meghan memperingatkan.
__ADS_1
Molly mengangguk.
****