
Episode #11
Sebulan telah berlalu, sejak kepergian Asyifa ke Seoul, ibukota Korea Selatan untuk menjalani operasi plastik dan juga sedot lemak di sana, operasi telah berhasil dan sekarang wanita itu sedang dalam masa pemulihan, selama enam bulan, Amar melarang dia untuk melihat cermin begitupun dengan perawatan dan dokter di sana, sekarang wanita itu sedang berusaha membentuk kepribadian "Humaira Pramesti " sebagai identitas barunya.
Setelah pemilihan diri, dia akan menjalani terapi hipnotis untuk membentuk kepribadian tersebut tanpa menghilangkan ingatan sebelumnya, langkah ini di ambil sepihak oleh Amar tanpa persetujuan Asyifa, karena dia ingin membentuk kepribadian Humaira, yang bertolak belakang dengan Asyifa, sehingga tidak mencurigakan bagi pihak lain.
Amar sebulan ini sibuk merintis usaha barunya di bidang agrowisata dan sesekali mengurus bisnis yang di tinggalkan oleh Asyifa, yaitu Prameswari group, lelaki itu juga sudah menghubungi silau hukum terutama pengacara keluarga Asyifa yaitu HAMDAN sebagai kuasa hukum yang mengurus bisnis keluarga PRAMESWARI group.
Setelah mendapat cerita tentang kejadian detail tentang keadaan Asyifa, HAMDAN merasa senang dan ikut bermain dengan keluarga ARDIANSYAH, seperti rencana semula, dia juga ikut mendukung tentang rencana pembalasan Asyifa Prameswari yang sekarang berubah nama menjadi HUMAIRA PRAMESTI.
Sementara itu keluarga ARDIANSYAH sedang di tahap kesulitan, tanpa kehadiran Asyifa gaya hidup yang hedonis tidak bisa di topang tanpa adanya kartu sakti gold start, walaupun Ardi seketika menjabat sebagai CEO pendapatannya sangat tidak cukup untuk menopang gaya hidup keluarganya dan CAMILLA, setiap hari, tidak ada kedamaian di sana, selalu ada hal yang di permasalahkan terutama soal uang, uang dan uang.
Mereka, terutama Ardi, Camilla, Ami dan Ani berharap audit keuangan Prameswari group cepat selesai dan pengalihan aset secepatnya di lakukan.
\*\*\*\*
Senin pagi di kantor PT GARUDA TV NUSANTARA.
Ardi duduk di kursi CEO di ruangannya, di mejanya terlihat banyak tumpukan berkas yang harus dia periksa secara teliti, walaupun semua laporan yang masuk ke mejanya adalah laporan yang sudah di revisi berkali kali, keputusan akhir tetap ada padanya, sesekali dia memijit keningnya, ketelitian tingkat tinggi harus di terapkan nya, karena kelengahan sedikit akan berakibat fatal sekali untuk karirnya, karena posisinya saat ini sangat rentan dan banyak pihak mencari celah untuk menjatuhkannya.
Pada dokumen tersebut, terselip acara tv yang akan di rilis tahun depan, Ardi begitu tertarik dan berharap acara ini akan mendapatkan rating tinggi, sehingga stasiun televisi yang di naunginya akan semakin maju sehingga posisinya tidak terancam dan bisa meyakini dewan direksi, terlebih lagi dia akan merekomendasikan CAMILLA untuk mendapatkan peran penting di program acara itu.
Ketika sedang fokus memeriksa laporan, ponsel Ardi bergetar, dia memang sengaja membuat getar agar notifikasi yang tidak penting tidak menggangu konsentrasinya lalu dia meraih ponselnya dan melihat panggilan masuk di aplikasi hijau tersebut, terlihat nama HAMDAN di sana, sontak wajah Ardi yang serius berubah menjadi ramah dan lebih bersemangat.
" Selamat pagi pak,!" sapa Ardi riang.
Mendengar suara Ardi yang begitu bersemangat, HAMDAN merasa muak, tetapi dia masih bisa menahan diri.
"Selamat pagi bapak ARDIANSYAH, maaf kalau saya mengganggu sepagi ini,!" balasnya tak kalah riang dan bersemangat.
" Bapak bisa saja ! bapak tidak pernah mengganggu saya,.. bagaimana pak,? apa ada kabar terbaru,? Ardi sudah tidak bisa menahan diri.
mendengar respon Ardi seperti itu HAMDAN hanya bisa mengutuknya dalam hati.
" Pak,? Ardi memanggil lagi.
" Maaf pak, tadi saya sedang memeriksa file yang akan saya laporkan ke bapak," balas Hamdan.
" Jadi bagaimana pak,? Ardi benar benar sudah tidak bisa menahan dirinya.
" Semua dokumen sudah selesai pak, kira kira kapan dan di mana saya bisa membacakan surat wasiat,? HAMDAN langsung berbicara ke intinya. dia sudah benar benar muak untuk sekedar berbasa basi.
__ADS_1
Ardi sejenak berfikir sambil melihat jadwal yang tertulis di mejanya.
"Bagaimana kalau malam ini saja pak,? di rumah saya dengan Asyifa ? Ardi mengajukan pendapat.
" Baiklah pak kalau begitu, tolong di kumpulkan juga semua anggota keluarga bapak biar sekalian menjadi saksi,!" usul pengacara HAMDAN.
" Baik kalau seperti itu pak,! selamat pagi!" Ardi langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Hamdan yang menyadari telponnya sudah di tutup hanya bisa menggelengkan kepala.dia berfikir, kenapa seorang Asyifa bisa tahan hidup dengan pria tidak ada akhlak begini.
Ardi yang saat itu begitu bahagia mendapat kabar dari HAMDAN langsung menghubungi keluarganya via WhatsApp group.
@Ardi: " Perhatian semuanya,.. nanti malam harap kosongkan semua kegiatan, semuanya harap datang ke rumahku tanpa terkecuali, PENTING,!"
@Ami: " Ada acara apa? pemberitahuan kalau mau nikah sama CAMILLA ya,?"
@ATI: " Beneran mau menikah sama kuntilanak merah itu??©
@AMI: " Tia, mau ngomong bagaimanapun tetap saja dia calon kakak iparmu, hahahaha,"
@TIA: " GAK,. SUDI,!"
@AMI: " iyalah,. ipar terbaikmu kan si Babon bulet itu, hahahaha,"
@TIA: " Lupa ya,.. tanpa ada dia elu hidup merana,.. kasihan.. hihihi "
@ANI: " Gak usah berantem" ini tentang apa Di,?"
@Ardi: " Tadi pak HAMDAN hubungi aku untuk pembacaan surat wasiat, nanti malam di rumahku"
@ANI: " Beneran Di,?"
@AMI: " Akhirnya,.. masa penantian datang juga, udah gak sabar pengen belanja dan jalan jalan lagi,
@ANI: " Iya,... mama juga udah gak malu lagi dengan geng sosialita mama,. hahahaha,"
@Andreas: " Mah,.. jangan terlalu happy,.. jangan lupa siapin makanan dan minuman di sana!"
Group WhatsApp keluarga ARDIANSYAH begitu riuh dan penuh kebahagiaan, mereka akhirnya terbebas dari kesulitan ketika membayangkan semua aset Prameswari group beralih ke tangan mereka.
****
Malam harinya di rumah Ardi dan Asyifa.
Andreas dan Ani beserta kedua putrinya Ami dan Tia serta suami dari Tia sudah tiba di rumah Ardi semenjak sore tadi, mereka juga sudah menyiapkan aneka makanan dan minuman, sementara CAMILLA tidak mereka undang, karena khawatir kalau HAMDAN akan curiga.
Sekitar jam tujuh malam, HAMDAN dan kedua anak buahnya sudah tiba di kediaman Ardi dan Asyifa, mereka sangat di sambut oleh Ani dan Ami, mereka berdua langsung mengerahkan ke meja makan untuk makan malam terlebih dahulu, tetapi HAMDAN menolak secara halus.
sembilan orang sudah berkumpul di ruang tamu,. keluarga ARDIANSYAH nampak sudah tak sabar ingin mendengarkan pembacaan surat wasiat, sedangkan HAMDAN sibuk membongkar dokumen.
" Baik,.. saya akan membacakan surat wasiat dari bapak UMAR PRAMESWARI ayahanda dari ibu ASYIFA PRAMESWARI, silahkan di dengar baik baik,!" Hamdan sudah mulai membacakan surat wasiat.
" Saya yang bertanda tangan di bawah ini UMAR PRAMESWARI menyatakan bahwa seluruh aset kekayaan saya yang meliputi perkebunan sawit di Jambi, perkebunan karet di Sumatra Utara, perkebunan teh di Jawa barat, saham tiga puluh persen pertambangan, di Kalimantan, saham dua puluh lima persen di PT GARUDA TV NUSANTARA, satu unit PRAMESWARI tower yang mencakup apartemen, mall dan wilayah perkantoran perumahan GRAHA ASRI, hotel bintang lima CITRA WIDIA, puluhan butik dan ratusan gerai yang di sewakan di mall akan jatuh kepada anak semata wayang saya, ASYIFA PRAMESWARI, pembalikan nama dan pengelolaan atas aset tersebut akan di lakukan ketika Asyifa Prameswari berusia tiga puluh lima tahun, jika sebelum usia tersebut Asyifa sudah tidak ada maka akan di turunkan kepada putra dan putrinya dan jika Asyifa belum memiliki penerus seluruh aset tersebut akan di kelola dan di awasi di bawah naungan silau hukum dan hasilnya akan di sumbangkan kepada rumah sakit, panti asuhan, panti jompo, yayasan pendidikan dan yayasan amal di bawah naungan Prameswari group. Demikian surat wasiat ini saya buat tanpa paksaan dari pihak manapun, tertanda UMAR PRAMESWARI"
Setelah membaca surat wasiat tersebut asisten dari Hamdan menyerahkan salinannya kepada masing-masing yang hadir di ruangan tersebut.
__ADS_1
ANI, AMI dan ARDI masih tidak percaya dengan surat wasiat yang di keluarkan tersebut, wajah mereka sudah menunjukkan kekecewaan dan ada kemurkaan terlihat di wajah mereka.
Sementara itu Andreas dan Tia nampak biasa saja, karena memang mereka tak berharap terlalu banyak.
" Ini tidak sah pak,.. ini tidak adil,. " pekik Ani pada HAMDAN seraya meremas salinan dokumen tersebut.
" Kakak saya jadi suaminya selama tiga tahun masa tidak mendapatkan apa apa dari harta bersama dari sekian banyak aset PRAMESWARI group?" Ami juga tak kalah berteriak protes pada HAMDAN.
Ardi masih tercengang dan bingung dia tidak bisa mengeluarkan kata kata.
" Sudahlah Bu,.. lagian itu harta dari keluarga Asyifa kita memang tidak punya hak di sana!" Andreas menenangkan istrinya.
" Gak bisa gitu dong pak, . kita ini juga keluarga Asyifa," balas Ani marah marah.
" Ini tidak adil pak,.. masa tidak ada harta bersama juga?" sentak Ani lagi.
" Maafkan istri dan anak saya pak!" ucap Andreas tak enak hati pada tamunya.
Ardi masih terbungkam tidak bersuara.
" Baiklah,.. saya hanya menyampaikan wasiat saja, akta Kematian ibu Asyifa juga sudah keluar, dan status dari bapak ARDIANSYAH sekarang adalah duda mati, untuk harta bersama tidak ada yang bisa di bagi, karena selama pernikahan tidak ada harta bersama, baik dari ibu ASYIFA PRAMESWARI maupun dari bapak ARDIANSYAH, semua fasilitas yang ibu ASYIFA gunakan semua masih atas nama UMAR PRAMESWARI dan bukan atas nama ibu ASYIFA PRAMESWARI, tidak ada aset sedikitpun yang mencantumkan nama beliau!" terang HAMDAN.
Semuanya terdiam, dan memang itu kenyataannya, kendaraan, rumah dan fasilitas lainnya semua bukan atas nama Asyifa Prameswari dan juga selama pernikahan tiga tahun baik Ardi atau Asyifa tidak pernah membeli aset apapun.
" Untuk rumah dan mobil, pak Ardi bisa menggunakannya untuk sementara waktu, namun jika bapak memutuskan untuk menikah kembali semuanya harus di kembalikan, karena itu masih aset dari bapak UMAR PRAMESWARI," ungkap HAMDAN langsung ke intinya.
Ardi masih terbungkam belum bereaksi apa-apa lelaki itu masih belum percaya seutuhnya.
" Masih ada yang di pertanyakan? apa masih ada yang tidak jelas? tanya HAMDAN seraya menatap wajah wajah lesu di hadapannya.
Semuanya tidak menggubris pertanyaan dari sang pengacara HAMDAN.
"Baiklah jika tidak ada pertanyaan lagi, saya akan permisi pulang!" pamit Hamdan undur diri, dia sudah melangkahkan kakinya.
" Tunggu,!" Ami berseru.
Hamdan dan kedua asistennya berhenti melangkah dan membalikkan badan, dengan wajah tersenyum dia bertanya, " Apa ada yang bisa saya bantu lagi?"
"Mm,. anu,.. apa kartu gold start sudah bisa di pakai lagi?" Ami bertanya kikuk ada nada canggung dalam pertanyaannya.
" Mengenai kartu gold start ya,..? Hamdan termenung sejenak seolah dia teringat sesuatu.
"Setahu saya kartu gold start memang di keluarkan oleh Prameswari group tetapi dana yang ada di sana adalah dana pribadi hasil bersih dari keuntungan perusahaan ibu Asyifa dan tidak ada sangkut pautnya dengan keuangan perusahaan, jadi dengan tiadanya Bu Asyifa kartu gold start juga tidak dapat di gunakan lagi, karena sesuai wasiat seluruh hasil dari PRAMESWARI group akan di serahkan kepada yayasan amal dan bidang terkait!"
Keluarga ARDIANSYAH sontak sangat terkejut dengan fakta tersebut,ada raut penyesalan yang kentara di wajah mereka, Hamdan sangat menyukai ekspresi itu, bibirnya melengkung tipis sepersekian detik dan menampilkan wajah datar kembali.
Melihat anggota keluarganya yang seperti kerupuk tersiram air Andreas sebagai kepala keluarga tak bisa menyembunyikan rasa malu dan tak enak hati, dia hanya menggelengkan kepalanya sejenak kemudian dia menghadap ke Hamdan dan berkata, " Terima kasih atas penjelasannya ya pak,.. mari saya antar,!"
__ADS_1
Andreas mengantarkan Hamdan dan kedua asistennya sampai ke depan pintu, ketika sudah memastikan bahwa ketiga tamunya sudah meninggalkan kediaman tersebut dia berbalik memasuki rumah.
\*\*\*\*