
Episode #65
Melihat Camilla yang begitu cuek dan menganggapnya sebagai radio rusak, Melinda hanya mendengus kesal, dia sengaja memperlihatkan raut wajah seperti itu, padahal aslinya di dalam hati dia bersorak.
"Mil," panggil Melinda.
Camilla yang masih kesal, tidak menjawab, dia masih fokus dengan cemilan di tangannya.
" Aku udah mutusin, untuk tinggal di sini, aku sudah bicara dengan pengelola apartemen, dan katanya ada unit yang kosong di lantai bawah, tiga lantai dari sini, kebetulan sewa apartemenku habis, jadi bisa langsung nginep di sini, kamu hafalin dialognya dulu, aku mau pulang ke apartemen lamaku dulu, untuk ambil barang barang, besok pagi aku kembali kesini, kita udah harus mulai berolahraga, Aku gak mau badanmu itu mekar, semua kalori harus di bakar, Ok honey?" Melinda pun mencubit pipi Camilla, kemudian kabur dan terkikik.
lemparan macaroni tidak sempat mengenai tubuhnya.
Setelah keluar dari apartemen Camilla, senyum dan tawa Melinda langsung lenyap, wajahnya datar, dan dia langsung menuju lift.
Camilla juga heran, kenapa akhir-akhir ini nafsu makannya meningkat, jadwal datang bulannya juga jadi berantakan," Eh, tunggu,.. Bukannya Aku seharusnya sudah datang bulan? tapi selama ini, aku main aman! jangan jangan Aku hamil? ini tidak bisa di biarkan! trus kalau Aku hamil, bapaknya siapa? Ardi atau Michael? Hmm, Aku harus segera beli testpack!" pikir Camilla.
Camilla pun terus bersiap, dia mengenakan outfit kasual terbarunya, hasil ondorse butik Melinda beberapa waktu lalu.
Dengan Riasan sederhana dan naturalnya, sungguh membuat wajahnya begitu cantik dan bening, tidak akan ada yang menyangka, bahwa dia memiliki sifat lain, yang begitu bertolak belakang, memang segala sesuatu itu jangan di lihat dari sampulnya saja.
Dengan memakai masker dan kacamata hitam, Camilla keluar dari apartemennya, Di sore hari seperti ini, para penghuni unit lain, masih beraktivitas di luar, jadi Camilla, tidak bertemu dengan para tetangganya.
Lift sudah menuju lantai dasar, dari lantai lima belas, perempuan itu tidak menjumpai siapapun.
Ketika lift terbuka di lantai dasar, Camilla sedikit terkejut, melihat Bastian sang mantan menejer berdiri di hadapannya, Camilla pun keluar, begitu juga dengan Bastian, tidak ada sapa atau senyum antara mereka, seolah orang asing yang tidak mengenal, Camilla berpikir bahwa Bastian sudah pindah dari apartemen itu, nyatanya tidak, " untuk apa lagi di pedulikan!" pikirnya.
Camilla menuju parkiran dan bersiap untuk pergi, mobil hadiah ulang tahun dari sahabatnya Asyifa Prameswari itupun meluncur membelah jalanan ibukota, Camilla tidak hanya bepergian untuk membeli testpack tapi juga ke mall untuk belanja.
Sesampainya di sana, dia langsung menuju ke gerai makanan, dia sudah sangat lapar, setelah mengemudi.
Camilla makan dengan lahap, sejenak kekesalannya dengan Melinda teralihkan, dia juga mempunyai suasana hati yang baik setelah mencicipi semangkuk es krim.
Camilla menatap orang orang yang berkeliaran, ada yang sendiri, ada yang bersama pasangan ada juga yang berkelompok bersama bestie nya, dan ada juga yang datang dengan anggota keluarganya, tetapi, tiba tiba pandangannya tertuju pada sosok punggung yang familiar, dia terus menatap sosok itu, yang sedang menunggu di gerai sepatu, semakin dia melihat, semakin dia penasaran, dan tiba tiba sosok itu berbalik, Camilla benar benar terkejut, Michael? bukannya dia bilang sedang ada job?"
Kemudian Camilla membereskan barang barang nya dan ingin menghampiri Michael, tetapi tiba tiba, ada sesosok wanita cantik berambut sebahu, menghampiri Michael, dan langsung menggandeng tangan Michael dengan tas belanjanya.
Camilla duduk kembali, dia shock, gemeretuk giginya terdengar, untung suara musik menyamari bunyinya, dia mengepalkan tangannya, " Dasar Michael pengkhianat, playboy cap kutil!"cercanya dalam hati.
****
Malam hari di apartemen Camilla.
Michael Sudah tiba di apartemen Camilla, dia sudah memarkirkan mobilnya, dia segera menuju unit apartemen Camilla, dia tahu,, besok Camilla akan mulai syuting dan di temani oleh Melinda sebagai manejernya,, di tambah lagi di sana juga ada Ardi, otomatis waktu mereka berdua akan sangat sulit, dengan percaya dirinya, dia langsung ke lift, dan langsung menuju ke lantai apartemen Camilla, Michael sudah membayangkan hal hal yang indah.
__ADS_1
"Ting!" bunyi lift terbuka.
Michael segera melangkah, dan menekan kode, seketika pintu apartemen terbuka.
Michael semakin bahagia, melihat Camilla berdiri di hadapannya, lelaki itu merentangkan tangannya, menanti pelukan dari kekasih gelapnya itu.
Camilla tentu saja melangkah dengan senyum manisnya, ketika jarak mereka semakin mendekat, dengan kekuatan penuh Camilla menampar Michael.
" PLAK!"
Sekali lagi, " PLAK!"
Tangan Camilla terasa kebas, wajah Michael Sudah memerah seperti kepiting rebus.
Michael begitu terkejut, dia memegangi pipinya, rasanya masih begitu perih, selama mereka berhubungan, ini pertama kalinya perempuan itu memperlakukannya begini.
" Kau,. " Sebelum Michael melanjutkan ucapannya, Camilla melemparkan ponselnya, dan video rekaman Michael bersama wanita cantik berambut sebahu segera berputar.
Michael membeku, tidak bisa berkata apa apa lagi.
Camilla melipat kedua tangannya di dada, alisnya melengkung, wajahnya begitu angkuh.
" Aku salah, maaf!" ucap Michael tiba tiba.
Michael hanya mendesah, dia memang salah, dan dia sudah mengakuinya, perempuan itu adalah calon korbannya, yang beberapa hari di potretnya, yang di pinta Koh Erik, dia tidak mungkin menjelaskannya,
Michael terus melangkah menghampiri Camilla, Dia duduk di samping perempuan itu, dia mencoba terus untuk merangkulnya, tetapi selalu di tepis.
" Baiklah, aku jujur!" Ada jeda sejenak, sebelum dia melanjutkan, dia memperhatikan wajah Camilla, wanita itu sudah melihat ke arahnya, "Wanita itu bernama, Rachel, Dia putri seorang konglomerat, pekerjaannya seorang model, mungkin kamu belum mengenalnya, karena dia pendatang baru, dia dari agensi model, beberapa kali aku memotretnya beberapa hari yang lalu.
Michael terdiam, dia mengambil minuman dari tangan Camilla dan langsung meneguknya hingga tandas.
" Trus?" tanya Camilla masih ketus.
" Aku berencana, usaha apa yang dia kelola dan dia punya dari keluarganya, aku sedikit mendengar bahwa Rachel mengelola sebuah usaha, tapi aku belum tahu usaha apa itu, Aku berencana menggantikan dia pengganti Melinda, seperti yang kita tahu, Melinda Sudah tak memiliki butik seperti dulu lagi, jadi tidak ada jalan untuk mendapatkan uang lebih," tutur Michael, dengan nada yang lembut dan meyakinkan.
" Kalau memang seperti itu, kenapa tidak di bicarakan sebelumnya?" tanya Camilla, nada suaranya sudah mulai lembut.
" Sebenarnya aku ingin jujur, Setelah penyelidikan ku berhasil, dan memastikan kalau dia bisa di manfaatkan, baru setelah itu aku kasih tau ke kamu, tapi ternyata kamu sudah tahu duluan, maafkan aku sayang!" pinta Michael, sambil merangkul kembali Camilla.
Camilla tidak menepis kali ini, senyumnya Sudah menghiasi wajahnya kembali, Mega mendukung yang sedari tadi bergelayut sudah sirna.
Tanpa mereka sadari, Melinda Sudah mendengar dan menonton semua adegan dramatis tadi, perempuan itu tidak sengaja ingin mampir ke apartemen Camilla, untuk mengabarkan bahwa dia sudah pindah ke lantai bawah, tetapi ketika datang, adegan drama tersuguhkan secara live, Melinda hanya melengkungkan satu sudut bibirnya keatas, dan menggelengkan kepalanya perlahan, bergegas dia segera keluar dari pintu yang belum sempat mereka tutup.
__ADS_1
Sekitar sepuluh menit kemudian.
Sejoli itu masih bermesraan, dan tidak menyadari bahwa pintu masih dalam keadaan terbuka.
" Mil,..Mila,.." Suara Melinda menggema,
Sontak kedua orang itu, saling berjauhan dan merapikan pakaiannya masing masing.
" Kok, pintunya gak di tutup sih Camilla? omel Melinda, langsung menutup pintu apartemen Camilla.
Ketika Melinda berbalik Setelah menutup pintu, di kagetkan oleh Michael.
" Barbie!" ucap Michael, seraya merangkul pundak Melinda.
Melinda berpura pura kaget dan terkejut.
" Loh, kok kamu di sini sih?" tanya Melinda senang, mereka berjalan ke ruang tengah, nampak Camilla sedang membaca draft untuk syuting besok.
" Michael kesini nyariin kamu, ponsel kamu mati, apartemen kamu terkunci, dia sangat khawatir, jadi dia berpikir kamu sedang bersamaku" jelas Camilla datar.
Melinda mengangguk paham, Camilla memang pintar akting.
" Maaf ya sayang, seharian ponselku mati, pas tadi mau hubungin kamu, mau kasih tau kalau aku sudah pindah, baru sadar kalau sudah mati total, jadi baru aku cas, maaf ya, buat kamu khawatir!" ucapan Melinda terdengar sangat tulus.
" Pindah? kamu sudah pindah? Pindah kemana?" tanya Michael penasaran, dia memang tidak tahu hal itu.," Melinda memberikan jawaban yang lugas, ini sama dengan Bastian yang juga pindah satu apartemen dengan Camilla sewaktu masih menjadi menejer nya.
" Pindah kesini, di lantai bawah, biar lebih enak kerjanya sama Camilla," jelas Melinda.
" Ini, pipi kamu kenapa sayang? kok merah, seperti habis di tampar?" kekhawatiran jelas terlihat dari bola mata Melinda, lalu gadis itu menyentuh pipi Michael.
" Tidak apa apa sayang, aku sepertinya alergi sabun cuci muka, tidak masalah, jangan terlalu khawatir," jawab Michael senang, hatinya tiba tiba menghangat melihat bagaimana Mengkhawatirkan dirinya.
Dia menurunkan tangan Melinda.
" Oh, baguslah kalau begitu, Aku pikir tadi habis di cium ulat bulu betina, he he he" kekeh Melinda terdengar nyaring.
Michael hanya tersenyum masam.
Camilla yang mendengarnya langsung tersedak air minum.
__ADS_1
****