
Episode #23
Matahari sudah merangkak naik, para penghuni ibukota juga sudah memulai aktivitasnya, sementara Melinda masih meringkuk di dalam selimutnya, dia tertidur lelap setelah tekanan batin yang menghempas jiwanya kemarin, untung mentalnya kuat, kalau tidak dia akan bunuh diri di hari yang sama, bagaimana tidak, perselingkuhan sahabat dan kekasihnya sendiri, cicilan hutang yang semakin dekat, di tambah di khianati oleh orang kepercayaan, yah, walaupun ada sedikit kesalahpahaman.
Memikirkan hal itu dia sebenarnya ingin tidur lagi, tetapi karena hari ini dia berencana menemani supplyer, dia memaksakan diri untuk bangun dan segera membersihkan diri.
Setelah membersihkan diri dan mempersiapkan sarapannya sendiri, Melinda merenung sesaat, besok pegawai bank akan datang menagih cicilannya, hari ini dia harus mendapatkan uang itu, kalau tidak dia tidak akan bisa membayangkannya.
Pukul sepuluh pagi dia sudah ada di pabrik tempat dia memasok barangnya, tidak perlu menunggu lama, Supplyer langsung menemuinya.
" Selamat pagi Ci," sudah lama sekali rasanya tidak mengunjungi tempat ini," Sapa pak Narto, pihak yang memasok barangnya ke butik Lady's palace,"
" Iya pak, maklum banyak kerjaan di butik,"
" Oh ya pak,.. saya ingin menanyakan barang barang yang di pasok ke butik, kenapa mengalami penurunan,?" Melinda langsung menanyakan ke intinya karena tidak ingin membuang waktu.
" Bentar Ci,.. saya akan cek pembukuan dulu," ucap pak Narto dan segera memanggil bawahannya untuk mengambil buku catatan barang barang masuk dan keluar.
" Ini Ci,.. lihat di pembukuan, ini barang yang di pasok ke butik Cici memang mengalami penurunan sesuai dengan permintaan, ini memang terjadi beberapa bulan terakhir, saya pikir Cici sudah dapat pemasok baru, dan segan untuk memutuskan kerjasama yang sudah terjalin semenjak mama Cici masih ada, itu pemikiran saya Ci,?" ucap Narto serius, bagaimanapun butik yang di kelola Melinda saat ini adalah salah satu penjualannya sangat besar.
" Saya mengerti sekarang pak," tolong, jika nanti ada barang yang akan di pasok lagi hubungi saya terlebih dahulu,!" pinta Melinda pada pak Narto.
Pak Narto menganggukkan kepalanya dan menyanggupi permintaan tersebut.
Setelah berbincang sejenak, Melinda segera pamit undur diri, dia segera melangkah menuju mobilnya, ketika hendak membuka pintu mobil ponselnya berdering.
" Kriiing,! Kriiing,! kriiing,!
Melinda segera merogoh tasnya dan melihat id caller nya "Michael honey" dan seketika warna wajahnya berubah gelap.
" Ngapain si keong racun ini menelpon,?"
Setelah menimbang cukup lama, akhirnya dia mengangkat telpon dari orang yang pernah sangat di cintanya tersebut, walaupun ogah-ogahan dia masih menyapanya dengan manis, seperti biasa.
" Halo sayang,?"
" Barbie,.. kamu dimana honey,.. aku baru siap pemotretan di sekitar butik kamu, tetapi kata pegawai kamu belum ke butik?
"Apa ada masalah honey, ! " tell me, don't try to hide anything behind me,!" ucapnya manis di seberang telepon.
( ceritakan padaku, jangan coba sembunyikan apapun di belakangku,)
Mendengar rasa peduli dan khawatirnya Michael, Melinda yang dulu pasti akan terharu dan merasa bahagia, bahwasanya dia menemukan sosok laki-laki yang begitu tulus, akan tetapi, sekarang rasanya dia jijik dan ingin muntah.
Setelah menenangkan perasaannya akhirnya dia menjawab, " Ini aku baru mau ke butik, baru mau masuk mobil, butik ada masalah, aku pusing ini,!" keluh Melinda, sebagaimana dia bersikap biasa jika dia ada beban pikiran, walaupun dalam hatinya, ingin sekali dia mencincang Manusia itu dan memberikannya ke ikan piranha.
" Masalah apa? bicaralah, siapa tahu aku bisa bantu,!" Michael menawarkan bantuan.
__ADS_1
" Yang biang masalah itu ya kamu, dasar keong racun" umpat Melinda dalam hatinya.
Akhirnya Melinda menceritakan beban pikirannya, dia memberitahu pemuda itu tentang cicilannya yang macet dan harus membayar sebanyak dua ratus juta, pada tenggang waktu esok sore.
" Hmm,.. Barbie, kamu tahu aku mengalami masalah keuangan,aku memang gak bisa bantu kamu, coba kamu minta tolong koh Erik? kamu datang saja kekantornya, aku rasa dia bisa bantu kamu dengan nilai segitu," Michael menyarankan dengan penuh antusias.
" Koh, Erik,? Melinda memastikan pendengarannya.,
"Iya, Koh Erik, bilang saja aku yang sarankan,! "udah dulu ya Barbie, aku harus ke lokasi ini, ada pemotretan lagi, jangan telat makan yah,? miss you so much, emuuaaach," Michael segera memutuskan sambungan teleponnya.
" Rencana apalagi yang kamu buat Michael, dengan mengumpankan aku pada si Erik itu, sebegitu polosnya kah aku di matamu, hingga kau pikir aku tidak tahu sepak terjangmu, keparat," ok,.. baiklah aku akan ikuti alur permainanmu, aku harus berhati-hati olehmu dan ular betina itu Camilla,! renungnya.
Melinda segera memasukan ponselnya kedalam tasnya, kemudian dia membuka pintu mobil dan siap menyetir, dia akan menemui beberapa garmen dan pemasok lainnya dan mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.
Setelah menemui para supplyer, akhirnya Melinda mengambil kesimpulan bahwa apa yang di katakan Nany benar adanya, Michael bermain-main pada bisnisnya, sesudah meminta hal yang sama seperti pada pak Narto sebelumnya, Melinda akhirnya pergi menuju butiknya.
Ketika satu kilometer lagi sampai butik, Melinda teringat saran Michael yang meminta menemui Koh Erik, akhirnya dia putar arah menuju kantor lelaki tersebut.
Hampir satu jam dia berkendara ke kantor Erik, begitu sampai di kantor Erik, segera dia menemui resepsionis dan mengatakan tujuannya, para pegawai di sana sudah tidak heran, karena selalu saja ada para wanita cantik yang ingin bertemu dengan Erik, pimpinan mereka.
Menunggu sekitar tiga puluh menit, akhirnya Melinda di persilahkan memasuki ruangan Erik.
" Melinda, lama tidak berjumpa, bagaimana kabar pacarmu, Michael,? Koh Erik menyambut Melinda dengan menjulurkan tangannya.
" Sepertinya si keong racun itu berteman baik dengan si kucing garong ini," batin Dia segera menyambut uluran tangan tersebut untuk berjabat tangan.
" Michael kabarnya baik Koh,! masa kabar Michael aja yang di tanyain, kabar aku nggak,? Koko pilih kasih nih," balas Melinda mencoba mencairkan suasana.
"Hahahaha,.. maaf Barbie, aku begitu terpesona dengan kedatangan mu hingga lupa menanyakan kabarmu," elaknya sambil terkekeh.
Kemudian lelaki itu keluar sebentar dari ruangannya dan menyuruh sekretarisnya untuk menyiapkan minuman.
"Tidak usah repot-repot ko.. aku tak lama,! ucap Melinda sungkan, bagaimanapun dia kesini untuk mencari pinjaman bukan untuk minum.
" Never mind,!
"Sekarang ada perlu apa Barbie,? Erik bertanya pada intinya, walaupun lelaki itu berusaha untuk serius, mata mesumnya tidak bisa di sembunyikan, tak perlu munafik, dia memang menginginkan wanita Barbie ini sedari dulu.
__ADS_1
( sudahlah )
Melinda menyadari tatapan mesum tersebut, tetapi dia mencoba mengalihkan dan berusaha untuk tidak mengetahuinya.
" Begini Koh Erik," Melinda mulai membuka pembicaraannya.
" Aku ada sedikit kesulitan, dan Michael menyarankan aku kesini,"
"Trus,.. apa yang bisa aku bantu,? Erik langsung ke inti masalahnya.
Kemudian Melinda menceritakan untuk membayar cicilannya.
" Hanya dua ratus juta,? Koh Erik memastikan.
Melinda mengangguk membenarkan.
"Saya bisa kasih itu sekarang Barbie,! tapi ada syaratnya," ucap Koh Erik sambil memandangi Melinda.
" Tidak masalah koh, saya tidak keberatan dengan bunganya," ujar Melinda semangat.
Koh Erik terkekeh, " ini bukan tentang bunga, Barbie,?"
Melinda mengeryit heran, dia merasa ada yang tidak beres.
" Trus apa Koh,! tanyanya tidak sabar.
" Cukup kamu temani saya malam ini," balas Koh Erik dengan mengerlingkan sebelah matanya ke Melinda.
Melinda membelalakkan matanya, dia memang pernah dengar rumor tentang pengusaha satu ini, tapi dia tidak pernah menyangka bahwa pria ini begitu lugas!
"PLAK,.!
Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Koh Erik, pipinya yang putih begitu kontras dengan cap tangan dari Melinda.
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun Melinda segera keluar.
Sekretaris yang datang bersama nampan minuman di tangannya hanya menatap bengong.
"ERIK SIALAN," teriaknya kuat ketika memasuki mobil.
Segera dia bergerak menuju butiknya.
\*\*\*\*
__ADS_1