Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Sang Dewi


__ADS_3

Episode #14


   Menjelang pemotretan selesai, mereka bertiga di kejutkan dengan sosok wanita bergaun merah yang sangat cantik, wanita itu langsung memasuki kamar tersebut dan langsung duduk di kursi sebelah Ardi, gadis itu hanya tersenyum tipis saja, akan tetapi Ardi sekejap terkesima dengan pesona yang di tawarkan oleh wanita tersebut, kulit putih mulus, mata belo, hidung Bangir Alis tebal dengan lesung pipi di kedua pipinya di tambah rambut hitam bergelombang, begitu membius Ardi.


  Sepersekian detik Ardi tidak dapat mengalihkan pandangannya, ada yang salah dengan degub jantungnya yang memaksa aliran darahnya mengalir dua kali lebih cepat.


      " Apakah ini cinta pada pandangan pertama?" pikir Ardi.


sepanjang pemotretan Ardi duduk dengan tidak nyaman, sesekali matanya melirik Dewi di sebelahnya, ya,.. dewi, Ardi menyebutnya Dewi karena dia belum mengenal wanita tersebut, banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan kepada dewi di sebelahnya karena Ardi begitu penasaran siapa wanita cantik di sebelahnya itu.


      " Apakah dia juga model gaun tidur seperti Camilla,? kalau ya aku beruntung banget bisa cuci mata lihat posenya" Ardi mulai berfikir mesum, sudut bibirnya tertarik untuk beberapa detik, kembali dia fokus melihat Camilla yang begitu lihai berpose di ranjang, bagian dari dirinya tiba tiba ada yang berubah menjadi keras, Ardi menghela nafas sejenak untuk mengurangi gejolak dalam dirinya.


  Selang beberapa lama, Ardi melirik lagi wanita di sebelahnya yang sedang melihat pemotretan Camilla, gadis itu tidak menghiraukan Ardi dengan segala kegelisahannya, Ardi rasanya ingin sekali berkenalan, tapi dia masih bertahan, dia masih berusaha tetap stay cool untuk mempertahankan image nya.


    " Masa seorang CEO harus berkenalan lebih dulu,? gengsi dong,!" ucapnya dalam hati.


      Seandainya sang dewi bergaun merah di sebelah Ardi tahu apa isi pikiran laki laki itu saat ini, di pastikan dia akan sakit perut menahan tawanya, meskipun ini pertemuan pertama mereka secara resmi, si sang Dewi sudah sangat mengenal Ardi si CEO , dari cerita cerita dan curhatnya CAMILLA, walaupun secara fisik Ardi termasuk golongan pria yang di perebutkan kaum hawa dan secara finansial akan banyak menarik perhatian para sugar baby atau gold digger sang Dewi merasa tidak cocok dengannya.


    Selesai pemotretan Camilla segera ke kamar mandi untuk berganti pakaian, sang Dewi di sebelah Ardi langsung bangkit dari tempat duduknya, Ardi berpikir sang Dewi akan segera menyusul CAMILLA ke kamar mandi untuk berganti pakaian dan langsung memulai pemotretan lagi, Ardi sudah membayangkan bagaimana bentuk tubuh sempurna itu berpose di atas ranjang, tanpa dia sadari, air liurnya bereaksi dan setetes ludah sempat keluar dari celah bibirnya, mengetahui keadaan seperti itu Ardi segera menjilat bibirnya dengan lidahnya seolah olah melembabkan bibirnya yang kering.


    Arah bola mata ardi mengikuti setiap pergerakan si sang Dewi, sungguh saat ini pria itu tidak memikirkan CAMILLA samasekali, ini baru pertama kali baginya, biasanya posisi CAMILLA tak pernah teralihkan dari hatinya, tapi sekarang,?


      Alangkah kecewanya Ardi ketika si sang Dewi tidak berjalan menuju kamar mandi, tetapi langsung memeluk sang fotografer, menyaksikan hal tersebut entah mengapa hati sang CEO merasa tercubit sedikit,


     "Maaf ya sayang,..aku gak bisa jemput tadi ke lokasi pemotretan, jadi ngerepotin Camilla deh yang harus anterin kamu kesini,!" sang Dewi memeluk dari belakang si fotografer yang sibuk merapihkan peralatannya.


Sang fotografer langsung membalikkan badannya dan membalas pelukan sang Dewi kemudian dia mengecup pucuk kepala gadis itu dengan penuh kasih dan berujar.



" Gak apa apa Barbie, aku tahu kamu sedang sibuk, dan camilan juga gak keberatan,!" satu buah senyuman di hadiahkan untuk sang Dewi.



Mereka berdua melepaskan pelukannya, sang Dewi segera duduk di tepi ranjang dekat sang fotografer yang sudah hampir selesai berkemas.

__ADS_1



Ardi yang diam duduk di sana hanya mendecih sinis melihat kedekatan dua sejoli itu,tak bisa di pungkiri ada sedikit bias cemburu dalam hatinya.



"Barbie, panggilan apaan itu, lebay banget, ya,.. walaupun cewek nya bisa di kategorikan mirip Barbie sih,!" cibir Ardi dalam hatinya.



Kemudian Ardi juga membayangkan gadis tersebut juga memeluk dirinya, seutas senyum singkat sempat menghias pipinya sepersekian detik.



" Kretek,"


Lamunan Ardi langsung buyar mendengar suara itu.


Pintu kamar mandi terbuka, tampaklah sosok CAMILLA yang sudah berganti pakaian yang tidak berbeda jauh dengan gadis bergaun merah, Ardi tersadar dan segera berdiri, dia merentangkan tangannya hingga Camilla segera menghamburkan dirinya ke pelukan Ardi, tak lupa model itu juga mencium pipi kiri dan kanan si CEO, dengan manjanya dia berucap, " Aku seneng sekali kalau di temenin kerja begini,!"


Camilla tidak menjawab tetapi menghadiahi Ardi dengan beberapa kecupan ringan di wajahnya itu, setelah cukup menghadiahi Ardi dia menjawab.


" Aduuh,.. so sweet,"


Melihat kemesraan pasangan tersebut ada kilat cemburu terpancar dari seseorang di ruangan tersebut.


Camilla segera melepaskan pelukannya gadis itu menarik Ardi ke tepi ranjang mendekati sang Dewi dan fotografer, kemudian diapun mengenalkan Ardi kepada kedua orang di ruangan tersebut.



" Ini Melinda dan ini Michael," Camilla mengenalkan pada Ardi.


Mereka bertiga berjabat tangan sambil menyebutkan namanya masing masing.


Ketika Ardi berjabat tangan dengan Melinda, si sang Dewi bergaun merah, lelaki tersebut terlihat memperkuat jabatannya ke tangan mulus sang Dewi, Melinda yang menyadari bahwa jabatan tangan ini sudah di luar batas segera menarik tangannya, Ardi hanya tersenyum atas sikap Melinda.

__ADS_1



Seketika hening menyelimuti dua pasang manusia di sana.


"Michael ini sepertinya tidak asing ya beb, aku sepertinya pernah lihat dia, tapi lupa entah dimana," ucap Ardi mencoba mengingat lagi, pria itu mencoba memecah kesunyian.


Mendengar itu CAMILLA langsung terkekeh, " Pernah sayang,.. kamu bahkan cemburu dengan dia,!"


" Kapan,? tanya Ardi , keningnya langsung berkerut berusaha untuk mengingat.


" Waktu kamu ke apartemen, kamu merampas ponselku karena aku baru bertelponan dengan Melinda, yang foto profilnya foto Michael," jelas Camilla ketika mengingat kejadian ketika Ardi memergoki dia sedang bertelpon mesra.


" Ya sepertinya kamu benar sayang" kemudian dia mengalihkan pandangan kepada sepasang manusia di hadapannya dan bertanya, " Jadi kalian ini adalah pasangan,?



Melinda langsung menjawab, " Benar pak Ardi,"


" Panggil Ardi saja jangan pake pak,. serasa saya sudah tua sekali," sela Ardi sambil terkekeh.


Melinda langsung mengangguk mengiyakan permintaan sang CEO sebelum dia melanjutkan.



" Benar pak, eh Ardi,.. kita pasangan, Michael ini seorang fotografer," jelasnya.



" Ini loh sayang,.. Melinda ini bestie aku yang sering aku ajak keluar, dia punya butik, jadi aku sering di minta endorse," jelas CAMILLA.



Ardi hanya mengangguk dan mengulum senyum, dia mulai tertarik dengan sosok sang Dewi gadis bergaun merah tersebut, walaupun sikapnya terkesan normal normal saja, tetapi Ardi sudah bisa menangkap ada niat menyimpan dari Ardi.


Mereka berempat terus berbincang mengakrabkan diri, setelah perlengkapan sudah selesai di kemas Michael dan Melinda undur diri, tak lupa sebelum berpisah Ardi memberikan kartu namanya pada mereka berdua.

__ADS_1


\*\*\*\*


__ADS_2