
Episode #129
Dayat segera mengaktifkan kamera tersembunyi di ruangan itu, gerakan yang begitu normal, sehingga luput dari perhatian sekitar.
"Ceritakan!" perintah Angga dengan dingin.
"Bapak Umar Prameswari adalah langganan tetap di bengkel Garden Car, dia selalu menservis mobilnya di bengkel itu, hampir semua montir mengenalnya," Tinro terlihat menerawang sosok ramah tersebut, seketika muncul dalam benaknya.
" Pada suatu hari, seorang laki-laki berusia sekitar empat puluhan, datang menemui ku selepas pulang dari bengkel,"
Belum sempat Tirno menyelesaikan ceritanya, Angga tiba tiba menyela," Bagaimana ciri cirinya?"
Tirno hanya mendesah," Aku Sudah tidak ingat dengan jelas wajahnya, itu sudah belasan tahun yang lalu, hal yang aku ingat adalah, dia memiliki tahi lalat di ujung alis sebelah kiri, di pelipisnya ada bekas luka, sejajar dengan tahi lalat nya,"
Satu orang melintas di pikirkan Angga.
" Hal itu terjadi sekitar dua Minggu sebelum kecelakaan, Saat itu saya sedang kebingungan dengan uang kos dan uang persalinan, yang masih belum saya bayar di rumah sakit, pada saat saya duduk di warung kopi dekat bengkel, sosok itu datang menghampiri saya, dan memberikan sebungkus rokok, dia menawarkan pekerjaan, untuk mensabotase mobil pak Umar Prameswari, awalnya saya menolak, tetapi saat itu, dia mengeluarkan uang tunai sebesar lima belas juta rupiah, sebagai uang muka, dengan terpaksa sayapun mengambilnya," Tirno tidak bisa menahan air matanya.
Tirno pun akhirnya memaparkan, " Setelah itu, dia selalu memberikan saya instruksi, seperti mengajukan resign terlebih dahulu, dan saya benar-benar keluar dari pekerjaan saya di bengkel, dua hari sebelum kecelakaan itu terjadi, ini di maksudkan agar saya terlihat tidak terlibat, setelah itu, di hari terakhir saya bekerja, ada sebuah telpon dari pak Umar, untuk meminta montir ke rumahnya, mobilnya tiba tiba kempes dan bocor, saya mengajukan diri untuk singgah di sana, dengan alasan searah jalan pulang, sesampainya di sana, saya mengganti ban yang bocor dengan ban yang baru, saya juga berkesempatan untuk mengotak ngatik remnya".
Air mata Tirno Sudah menganak sungai, " Di hari kecelakaan juga, saya dibawa ke lokasi kejadian, oleh laki-laki itu, saya melihat, bagaimana pak Umar dan istrinya sedang sekarat meregang nyawa, laki laki itu menyuruh saya mengabaikannya, dan menyuruh saya untuk memperbaiki rem mobil, sebelum polisi tiba, oleh karena itulah, hingga kini, polisi tidak menemukan kerusakan apapun, pada mobil yang di kendarai, hal ini membuat polisi menyimpulkan, bahwa penyebab kecelakaan adalah ulah manusia".
Tinro menarik nafas besar, sebelum dia melanjutkan," Setelah itu, saya dan keluarga pindah, pulang kampung, dan menetap di sana, saya bahkan tidak berpikir untuk kembali ke ibukota, setelah laki laki itu memberi saya uang sebesar dua puluh lima juta rupiah lagi".
Mata Angga menyipit, " Apa kau tahu, siapa nama orang itu?"
Tirno menggeleng, " Dia bahkan tidak pernah menyebutkan namanya, dia mengancam akan membunuh saya dan keluarga, jika membocorkannya,"
Sekarang Tirno Sudah sangat ketakutan, udara dingin dan baju yang basah membuatnya bersin.
" Sekarang, Apa yang kamu inginkan?" Angga bertanya datar.
__ADS_1
Tirno mendesah pelan sekali, " Saya ingin pulang, saya ingin berkumpul dengan keluarga saya, anak saya pasti sudah mencari saya sekarang," Isak tangis menggema dalam ruangan.
Angga hanya tersenyum sinis,"Kamu mengkhawatirkan anakmu? Bagaimana anak kedua orang itu, mengkhawatirkan ayah, ibunya? anakmu Hanya kehilanganmu dan masih bersama ibunya, sedangkan anak pak Umar kehilangan kedua orang tuanya, trus, bagaimana dengan anak supir itu juga? kau secara tidak langsung telah membunuh tiga orang, dan seharusnya kau juga merasakan kematian sebanyak tiga kali!" Angga berkata ketus.
" Asep!" panggil Angga.
Asep mendekat,"Saya tuan bos!"
" Untuk sementara, kita biarkan dia hidup, pekerjaannya sekarang membersihkan kandang Chiko dan Miko," Setelah mengatakan itu Angga segera pergi dari gudang, di ikuti oleh Yuda dan Dayat.
Tinro sedikit bernafas lega, dia berpikir kalau dia akan tewas di tempat ini.
Asep menuntunnya keluar villa, dari belakang dia mendorong tubuh itu agar lebih cepat.
Akhirnya asep dan Tinro sampai di sebuah bangunan terpisah dari rumah utama.
" Ini namanya Chiko, tunjuk Asep pada seekor anjing campuran serigala, " Dan yang itu namanya Miko!" ucap Asep lagi pada seekor ular berukuran lima meter." Sekarang kamu masuk, dan bersihkan kandang mereka, saya akan segera kembali!"
Tinro yang di tinggal dan di kunci, seketika mengalami perubahan warna wajah, saat ini, wajahnya sudah putih, bagai secarik kertas, Dua hewan ini adalah hewan yang paling dia takuti, untuk pertama kali dia merasa, Lebih baik mati daripada hidup.
Angga kembali ke ibukota, tak lupa dia berbelanja oleh oleh terlebih dahulu, dia membeli bolu lapis Sangkuriang, keripik talas dan asinan Bogor, dia memerintahkan Yuda untuk mengirimnya ke kosan Carrey.
Sepanjang perjalanannya, Angga hanya mengalihkan pandangannya keluar, jendela, hujan deras sedang mengguyur, Sampai saat ini, dia masih tidak percaya, kalau kakeknya adalah dalang semua ini.
Angga mendesah pelan, melihat rintik rintik hujan, dia semakin bertekad untuk mencari lebih jauh kebenarannya, bagaimanapun Angga di didik dengan pemahaman yang benar oleh Helena, dan tidak akan membela sebuah kejahatan fatal seperti itu.
Sementara itu di PT GARUDA TV NUSANTARA, Ardi Sedang browsing, tentang mobil yang akan dia beli, kali ini dia Hanya memiliki dana sekitar lima ratus juta rupiah, walaupun mobilnya nanti tiga kali lebih murah dari mobil lamanya, itu lebih baik, daripada di bandingkan selalu memakai mobil operasional kantor, dan menjadikan hal tersebut sebagai olokan bawahannya.
" Ferdinand!" Ardi memanggil asisten pribadinya.
Ferdinand yang sedang asik membaca komik one piece di ponselnya, segera beranjak menemui Ardi.
__ADS_1
" Iya, paj bos!"Ferdinand sudah berada di hadapan CEO itu.
" Apa aku masih ada jadwal lagi? Ardi bertanya, tanpa mengalihkan pandangannya ke ponselnya.
" Ada pak bos, kali ini, pak bos ada meeting dengan CEO perusahaan es krim love, di restoran Jepang, yang letaknya tidak jauh dari sini, hal ini tentang kontrak mereka di stasiun televisi kita, Rapatnya setelah makan siang bersama!" Ferdinand menjawab dengan lugas," Saya juga telah mempersiapkan dokumennya," lanjutnya.
Ardi mendesah pelan, awalnya dia ingin pergi ke showroom mobil untuk melihat dan melakukan Test Drive untuk mobil barunya. akan tetapi, semua itu harus dia urungkan, jika jadwal meeting ini hanya meeting biasa, dia akan mengutus Ferdinand untuk menanganinya, tapi sayangnya, meeting ini, adalah meeting dengan pengusaha, yang iklannya merupakan pembayar tertinggi di tv, sepertinya Aku akan mengambil sedikit keuntungan!" pikir Ardi, sambil melengkungkan sebelah bibirnya.
" Kalau begitu, kamu ikut saya meeting" titah Ardi.
Ferdinand hanya mengangguk, toh dia tidak mungkin menolak perintah atasannya.
Dua jam berlalu begitu saja tanpa terasa.
Sekarang Ardi dan Ferdinand turun dari mobil operasional kantor, tanpa mereka sangka, di tempat parkir sebelahnya, sebuah mobil Alphard 3-5 Q exeecutive Lounge, berhenti. Seorang pria, berusia sekitar tiga puluh tahunan pun keluar, dan pandangannya tidak sengaja melihat Ferdinand dan Ardi.
Ardi tidak mengenal sosok itu, awalnya dia acuh, hingga Ferdinand menyapanya, dengan begitu sopan. " Pak Wisesa, selamat siang, senang bertemu anda di sini!"
Wisesa adalah CEO es krim love yang sangat populer, Ferdinand mengenalnya, karena pada kontrak pertama, dia menjamu laki laki tersebut dengan bu boss Asyifa.
Ardi berlalu pergi, tanpa menyapanya terlebih dahulu, dia tidak mengenal laki laki itu, jadi untuk apa dia berlaku sopan.
Wisesa hanya menggelengkan kepalanya melihat punggung Ardi menjauh
Ferdinand hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, " Mampus deh, kalau ceritanya begini! lirihnya dalam hati." Bisa ambyar!"
****
,
__ADS_1