Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Diving dan snorkeling


__ADS_3

Episode #116


Asyifa segera berjalan ke tempatnya semula, di sana Niko masih menunggu, secangkir kopi menemani lelaki eksotis itu.


Asyifa segera duduk di kursinya semula, wajahnya masih memerah, diam diam dia mencuri pandang ketempat dimana Amar sedang berdiskusi dengan Carrey dan yang lainnya.


Amar yang menyadari, bahwa Asyifa Sedang menatapnya diam diam, seketika menangkap pandangan Asyifa dan mengeryingkan matanya, senyum nakal segera dia hadiahkan.


Mendapat respon seperti itu, Asyifa membuang pandangannya, wajahnya semakin memerah setelah ketahuan sedang curi curi pandang.


Niko memperhatikan gestur Asyifa, dan setelah melihat Amar di seberang, dia paham dengan apa yang terjadi, Niko tidak memperdulikan apapun, baginya tidak ada masalah menerima pekerjaan dari Charlie, uang dapat, teman baru dapat, masalah perasaan bisa di abaikan, toh dia tidak mungkin bisa membuat Asyifa jatuh cinta padanya, perempuan itu bukan remaja tanggung yang baru kenal cinta, dan terpesona dengan penampilan fisik Lawan jenis.


" Bagaimana? apa Kamu sudah siap diving atau snorkeling?" Niko memecahkan kesunyian.



Asyifa segera tersadar, " Ini pengalaman pertama aku, belum pernah aku melakukannya sebelumnya, bisa di katakan, aku awam banget, menurut kamu, aku lebih cocok diving atau snorkeling dulu?" Asyifa bertanya jujur, dia memang tidak pernah melakukan kegiatan seperti ini, maklumlah dia dulunya anak gunung yang suka mendaki, bukan anak pantai.



" Kalau sebagai pemula sih sebaiknya snorkeling aja, karena kedalaman menyelamnya hanya satu sampai tiga meter dan gak pernah ribet dengan berbagai peralatan, cukup kacamata selam dan snorkel aja sebagai alat bantu pernafasan, kalau diving itu kedalamannya bisa mencapai tiga ratus meter, dan memakai alat-alat, Lebih ribet,lah," jelas Niko. menjelaskan perbedaan antara diving dan snorkeling.



" Oh ya, aku tahu, aku sering lihat, mereka pakai tabung oksigen, kaki katak, baju selam dan perlengkapan lainnya, ya kan?" Asyifa bertanya antusias.


Niko hanya mengangguk dan tersenyum.


" Tapi aku salut dengan anak anak di labuan Bajo ini, mereka terkenal sebagai penyelam handal, tanpa memerlukan peralatan, Kamu seperti mereka juga kan?" tanya Asyifa polos.


" Ha ha ha! jangan mengaku anak labuan Bajo, kalau belum bisa menyelam tanpa peralatan!" Niko terlihat bangga.



" Ayolah, kita ke perahu, peralatannya sudah aku siapkan di sana, kamu bisa langsung kesana, Aku mau bertanya pada Charlie dan yang lainnya, apa mereka bisa ikut atau tidak, sebentar yah!" Niko bergegas pergi menghampiri Charlie, tidak sopan rasanya jika bertanya via telepon.



Charlie Sedang duduk bersama Tamara, sedangkan sepupu yang lainnya, Sedang asik mengitari keliling pulau bersama orang tua mereka.



" Aku ikut ya?" Rengek Tamara pada Charlie, dia kekeh ingin ikut, karena dia ingin menarik perhatian Niko.



Charlie menggeleng, " Ini bukan saatnya, kalau kamu ingin berlatih sama Niko, kamu kasih Niko sama May, waktu bersama, udah, Kamu jangan rusak rencana kita!" Charlie berbisik tegas.



" Kami tidak ikut Nik, kalian saja, kami disini saja!" Charlie menolak halus.

__ADS_1



Niko mengerti dan sudah menebak akan seperti ini, tetapi untuk menghindari kecurigaan Asyifa, dia tetap menanyakannya, setelah pamit, Niko pun meninggalkan Tamara dan Charlie.



Sepeninggal Niko, Tamara menatap punggung Niko yang sudah jauh, kemudian dia bergumam," Aaakh, gantengnya, kalau setiap hari melihatnya, stress kan bisa hilang, dengan sendirinya,'


Charlie menatap Tamara jijik, setelah itu dia menyumpal mulut Tamara dengan sepotong cake


" Makan, biar gak ileran," Charlie mencebik.



Tamara kesal dan tidak mengatakan apa-apa, dia lebih memilih, melihat pesona Niko, di banding mulut tajamnya Charlie.



Karena tidak ada yang mau ikut snorkeling, akhirnya dia kembali ke tempat Asyifa, setelah itu, keduanya bergegas menuju perahu, untuk melakukan kegiatan tersebut.



Setelah menemukan lokasi yang cocok, Niko membantu Asyifa menggunakan kacamata selam dan snorkel, dia juga memasang hal yang serupa, walaupun Niko baik baik saja tanpa menggunakan alat alat itu.


" Disini arusnya tenang, jadi cocok untuk snorkeling atau diving bagi pemula," ungkap Niko, setelah itu dia melompat dari perahu.


Dia menunggu Asyifa.


Asyifa merasa takjub.


Satu jam berlalu, Asyifa dan Niko Sudah naik ke atas kapal, mereka pun membuka peralatan yang ada di tubuh mereka, kemudian perahu membawa mereka menuju pantai.



Kebetulan Amar Sudah selesai meeting dengan pihak dari komodo survival program, jadi dia memutuskan untuk berjalan santai ke tepi pantai, pantai yang pasir putihnya menggoda.



Niko dan Asyifa Sampai di tepi pantai, persis beberapa meter dari posisi Amar, Asyifa hanya melihat sekilas, dan cuek pada Amar, dia bergegas meninggalkan area itu, termasuk Niko, dia masih begitu malu dan tidak sanggup melihat Amar.


Asyifa segera berlalu ke kamar mandi, di sana dia membersihkan diri, dia juga mengganti pakaiannya, mengingat Amar mengutarakan perasaannya, membuat Asyifa jadi salah tingkah dan bersemu merah.


Tak lama kemudian, Asyifa keluar dari kamar ganti, dia pergi ke kafe, perutnya sudah kelaparan, dia memesan jagung bose, makanan khas labuan Bajo.


" Halo cantik," Amar langsung duduk di depan Asyifa, segera dia merebut sendok dari tangan perempuan itu, dan menyendokkan makanan itu ke mulutnya.


" Rasanya enak, bisa di makan sebagai pengganti nasi," jelas Amar, bertingkah seperti juri master chef.


Mata Asyifa berkedut, melihat tingkah Amar.


" Besok aku dan Tim akan ke pulau komodo dan pulau Rinca, kamu ikut ya? kamu tahu sendiri Aku sangat geli dengan bangsa reptil," Amar memelas.

__ADS_1


" Udah tau geli, ngapain bela belain ikut program itu?" Asyifa berdecak sebal.



" Namanya juga mau bertemu dengan yang ada di hati, jadi nyari seribu alasan deh buat nyusul!" Amar menaik turunkan alisnya.



Asyifa menunduk wajahnya mulai memerah.



" Aku kembali ke kapal dulu, sepertinya mereka sudah mau kembali ke pantai Waecicu," Asyifa segera berlalu meninggalkan Amar.


Tingkah Asyifa yang malu malu kucing, Sangat menggelitik perut Amar, dia hanya memandang punggung wanita itu menjauh.


Anggota keluarga Kusuma sudah mulai memasuki kapal, mereka tidak bisa berlama-lama di pulau bidadari, karena nanti malam, nyonya Arum ulang tahun, jadi mereka harus mempersiapkan diri terlebih dahulu.


Niko tidak ikut kembali ke panty Waecicu, dia masih memiliki tugas untuk menemani para wisatawan, untuk diving dan snorkeling.


Amar pun menyewa Speed boat untuk menyusul kapal Asyifa, dia sedang suka menggoda perempuan itu, Rona merah pada wajah perempuan itu seolah jadi candu bagi Amar.


Asyifa berdiri di geladak kapal, dia menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah Amar yang menyusulnya memakai speed boat, Amar nampak melambaikan tangannya ke arah Asyifa.


Tamara yang melihat itu, merasa geram dan mengepalkan tangannya, " Apa sih bagusnya perempuan itu, Angga hingga Amar berusaha mendapatkan hatinya, kenapa dia gak mati aja sih," umpatnya, Tamara memang memendam perasaan kepada Amar Sudah cukup lama.


Kalimat terakhir yang Tamara ucapkan, membuatnya seketika sadar, dan diapun menyunggingkan senyum, segera dia ke ruang navigasi.



Tamara membisikkan sesuatu kepada orang yang bertugas di sana, tiba tiba kapal berguncang hebat, dan dari luar terdengar teriakkan dan suara sesuatu tercebur ke air.



" Aaargh!" Asyifa berteriak, dia kehilangan keseimbangan ketika guncangan hebat terjadi.



Semua orang keluar dari kapal, Amar segera merubah arah speed boat nya, dan langsung terjun menyelamatkan Asyifa, Amar tampak panik dan berenang sekuat tenaga.



" Tolong, Tolong, bantu dia," Helena berteriak tidak jelas, Rio berusaha menenangkannya, sementara anggota keluarga Kusuma yang lainnya hanya melihat, dan menonton.


Anak buah kapal langsung menurunkan pelampung dan perahu karet, Rio pun turun tangan segera, menaiki perahu karet tersebut, mereka pun segera menuju lokasi Amar yang berusaha menyeret Asyifa kearah speed boat yang lumayan jauh.


Mendekati Amar, anak buah kapal segera turun dan membantu Amar menyeret Asyifa, keatas perahu karet, di atas Rio menarik Asyifa keatas perahu karet.


Ketika menarik Asyifa, pandangan Rio tak sengaja melihat tengkuk Asyifa, sebuah tato berwarna hijau, berbentuk kupu-kupu, terlihat di sana, tanpa sengaja dia bergumam, " Asyifa!"


****

__ADS_1


__ADS_2