Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Pengkhianatan


__ADS_3

Episode #21


    Siti berlari keluar rumah dan berteriak teriak , " TOLONG ! TOLONG,!! BU ANI MENINGGAL, EH,.. PINGSAN !! TOLONG!!


  Warga yang masih ramai di gerobak sayur mang Udin segera menajamkan pendengaran mereka, ketika samar samar mendengar sebuah teriakkan.


   " Sepertinya ada yang minta tolong!" seru Bu santi yang masih bingung memilih sayuran.


   " Masak sih ?" tanya bu Rina memastikan.


   " TOLONG!, TOLONG!! BU ANI MENINGGAL ! TOLONG,! suara teriakkan siti semakin menggema semua yang ada di sana sangat kaget, mereka tidak pernah menyangka bahwa Bu Ani yang baru saja mereka ejek dan provokasi ternyata sudah meninggal dunia, raut wajah penyesalan menyelimuti mereka, terutama bu Rina yang tadi sangat bersemangat dan gencar dalam mengejek djeng Ani.


   "Siti, kenapa teriak teriak dan lari tidak jelas begitu,?" tegur mang Udin si pedagang sayur.


     Siti menghentikan langkahnya dia begitu terengah engah, dan menarik nafas sejenak sebelum berkata.


   " Tolong mang,! tolong ibu ibu,! ibu Ani tadi langsung jatuh ketika sudah sampai dapur, saya tidak tahu apakah bu Ani masih bernafas atau tidak, tolong Bu Ani ibu ibu,!


  Semua ibu ibu yang ada di gerobak mang Udin sontak menoleh satu sama lain, tanpa mereka sadari, mereka menegak ludah mereka kasar ada sebutir keringat di dahi mereka, mereka cemas dan takut jika terjadi sesuatu dengan djeng Ani akibat dari perbuatan mereka.


  " Ibu ibu, tolong temenin Siti mengecek keadaan djeng Ani, sedangkan saya akan melaporkan kejadian ini ke pak RT dulu!" ucap mang Udin yang langsung berlari ke kediaman pak RT yang tidak jauh dari rumahnya.


  Melihat mang Udin yang sudah pergi, Bu Santi menghampiri Siti dan mengajaknya ke rumah djeng Ani, " Ayo ti, kita kesana"


  Siti hanya menganggukkan kepalanya, dia dan ibu ibu yang ada di gerobak sayur mang Udin segera kerumah djeng Ani, tidak ada perbincangan selama perjalanan, mereka sibuk dengan pemikiran masing masing.


  Sesampainya di rumah djeng Ani, para ibu ibu langsung menuju ke dapur dan mendapati bahwa djeng Ani masih tergeletak di lantai, dengan kekuatan penuh para ibu ibu mengangkat djeng Ani ke kamar terdekat.


  Tidak berapa lama mang Udin datang bersama pak RT dan beberapa bapak bapak lainnya.


    Siti langsung mempersilahkan pak RT memasuki kamar dekat dapur, disana para ibu ibu sudah berbaris rapi menunggu tindakan dari pak RT.


   Pak RT langsung duduk di sisi ranjang djeng Ani, dia mencoba meletakkan jarinya di depan hidung djeng Ani tetapi tidak ada hembusan nafas, lelaki paruh baya itu juga memeriksa denyut nadi, tetapi dia tidak menemukan apapun.


   Dengan wajah lesu pak RT segera menggelengkan kepalanya dan berucap pada Siti.


   " Kabarkan pada pak Andreas djeng Ani sudah tidak bernafas dan denyut nadinya tidak di temukan.

__ADS_1


     "Deg!


   Jantung para ibu ibu di sana seakan berhenti, sudah di ketahui bahwa djeng Ani sudah tiada, mereka mengambil kesimpulan sendiri, kabut penyesalan segera menyambangi mereka yang tadi mengganggu djeng Ani du gerobak sayur mang Udin.


     "A, apa ibu Ani sudah tidak ada lagi pak RT?" tanya Siti yang sudah mulai terisak, air mata nya jatuh tanpa bisa dia kendalikan.


   " Saya tidak tahu Siti?" coba hubungi keluarga djeng Ani !" usul pak RT dan di setujui oleh semua yang hadir di sana.


   Andreas segera membalikkan kembali mobilnya ke arah rumah , ketika mendapatkan telpon dari Siti sang asisten rumah tangga.


  Selang setengah jam kemudian Andreas tiba di rumah dan bertepatan dengan dokter Irwan yang sudah dia hubungi sebelumnya.


   " Bapak, . Hiks,..Hiks,.." siti menangis tersedu sedu melihat kedatangan Andreas.


   " Ibu meninggal pak, sudah tidak ada nafas, Hiks,..Hiks,.." tangisannya semakin menjadi, seketika lendir hijau dari hidungnya keluar dan dia menghirupnya kembali, Sluurp,...!"


  " Siti,.. jangan jorok,. Eew,.." bu Rina menegur Siti dengan ekspresi jijik.


    " Biar saya periksa dulu ya pak Andreas!" Dokter meminta ijin dan langsung memeriksa keadaan Ani.


  Semua orang terdiam dan menunggu hasil pemeriksaan selesai.


   " Bu ani tidak apa apa,. Bu Ani tidak meninggal,.. memang laju nafasnya pelan dan denyut nadinya lemah, keadaan nya belum begitu stabil ketika keluar dari rumah sakit,. mungkin bu Ani ada pikiran, sehingga tekanan darahnya naik!" jelas sang dokter.


    " Baguslah kalau keadaannya tidak mengkhawatirkan," Andreas bernafas lega.


    " Jadi,.. jadi Bu Ani tidak meninggal kan dokter,?" tanya Siti masih terisak Isak.


Dokter hanya tersenyum dan mengangguk.


"Alhamdulillah,.. seru ibu ibu serentak seraya menghembuskan nafas lega, mereka sangat ketakutan jika terjadi sesuatu dengan Ani bagaimanapun mereka merasa bersalah karena mereka yang jadi pemicu keadaan.


" Kalau begitu kita pamit ya pak Andreas,Siti, pak dokter, kita masih mau masak dulu," ucap bu santi berpamitan dan di ikuti oleh ibu ibu di sana.


Pak RT dan bapak bapak yang lain juga pamit undur diri.


Akhirnya Andreas tidak berangkat ke kantor dan ijin merawat istrinya.

__ADS_1


****


Sementara itu di butik " Lady's palace Melinda sangat bingung, dia memijat kepala yang sangat pening, pegawai bank baru saja pergi dari ruangannya, menagih tunggakan bulanan dari cicilan pinjamannya, Gadis itu begitu frustrasi, selama ini dia selalu membayar cicilan, tetapi kenapa ada tunggakan?" dan ketika dia melihat kas di butiknya, dananya tidak mencukupi.


" Kenapa jadi seperti ini? pasti ada berkhianat di sini, tapi siapa,?" semuanya adalah orang kepercayaan ku dan orang lama," desisnya lirih.



"Sebaiknya aku cari pinjaman, tapi sama siapa? koh Erik? eh, jangan,.. jangan, dia lintah darat," Hmm," siapa ya?" oh iya Camilla, sepertinya 300 juta Camilla punya untuk saat ini, aku telpon saja ya? jangan deh,.. lebih baik aku ke apartemennya, sepertinya dia tidak ada pemotretan atau syuting hari ini, aku harus kesana sekarang,!" ucap Melinda pada dirinya sendiri.


Melinda akhirnya memutuskan ke apartemen Camilla, segera dia keluar dari ruangannya.


" Nany, sayat Titip butik yah,?" ucap Melinda kepada pegawai kepercayaannya, sebelum dia menuju mobilnya dan membelah jalanan Jakarta.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam akhirnya Melinda tiba di apartemen Camilla, segera dia membuka pintu dengan kode yang sudah di beritahukan oleh Camilla sebelumnya.


Sebelum dia mengucapkan salam, dia melihat sebuah pemandangan yang begitu menyakitkan hatinya, salam dan langkahnya urung di lanjutkan, dia hanya mematung, menyaksikan sepasang kekasih yang baru saja selesai meneguk kenikmatan dunia, pasangan tersebut tidak menyadari adanya kehadiran orang ketiga di sana.


," Bagaimana kau dengan ardi sayang? sebenarnya aku tak rela jika kau bersamanya, aku masih berharap kita bersatu kembali, seperti dulu" ucap si lelaki sambil mengelus punggung polos, wanita dalam rangkulannya.


" Tenanglah Michael, aku memang sama Ardi, tapi sungguh tidak ada rasa di hatiku untuknya, kau tahu sendiri, kamu yang pertama dan yang terakhir dalam hatiku" ucap Camilla seraya menghembuskan asap rokoknya.


" Ingat tujuan kita ya beb," Michael memperingati Camilla.


"Hahahaha, tak usah kau ingatkan, aku juga masih ingat sayang, kau juga harus ingat tujuanmu dengan Melinda, aku tak ingin melibatkan hatimu dengan dia,!" tegas Camilla.


" Tenang saja sayang,.. aku gak akan melibatkan hatiku dengan gadis polos itu, ardi dan Melinda itu hanyalah sebagai tambang uang untuk kita," ucap Michael, lalu membungkam Camilla dengan ciuman panasnya.


Permainan panas merekapun di mulai lagi.


Melinda yang mendengarkan dan menyaksikan hal itu, lalu meninggalkan pasangan laknat itu, diam diam dia melangkahkan kakinya dari sana tanpa di ketahui mereka, dia terus berlari dengan air mata yang terus membanjiri pipinya, sesampainya di mobil dia menangis sejadi jadinya, dia merasa sangat sakit hati, tak pernah di sangkanya sakitnya pengkhianatan yang di sebabkan oleh orang terdekat, Michael sang kekasih dan Camilla sang sahabat,


" Apakah begini, perasaannya Asyifa istrinya Ardi, ketika mengetahui suami dan sahabatnya berkhianat,?" tanyanya dalam hati.


Dengan hati kacau dia kembali ke butik, dia sudah tahu bahwa Camilla berbahaya, dia harus memainkan langkah selanjutnya dengan hati hati.


__ADS_1


\*\*\*\*


__ADS_2