Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Kegelisahan Ardi dan Camilla


__ADS_3

Episode #135


   Mendengar bahwa Asyifa masih hidup, sontak keduanya saling melirik, mereka menoleh ke belakang, tapi Ami sudah di bawa oleh perawatnya ke ruangannya, sudah waktunya Ami makan siang dan minum obat.


  " Sayang, kamu dengar gak, tadi adik kamu bilang bahwa si Babon Asyifa masih hidup?" tanya Camilla seraya menggandeng tangan suaminya.


    Ardi mengangguk, " Aku mendengarnya, tapi apa kamu percaya jika Asyifa masih hidup?"


  Keduanya tetap berjalan meninggalkan taman rumah sakit jiwa.


    " Jujur, aku shock banget tau, jika Asyifa masih hidup, itu berarti kita berada di ujung tanduk sekarang! Bagaimana jika dia menyelidiki kasus kecelakaan itu?" Camilla terlihat panik.


    " Begini,.." seraya mendudukan Camilla di bangku taman yang baru saja mereka lewati," Seandainya pun dia masih hidup dan menyelidiki kasus ini, kamu tidak usah khawatir, saksi kunci sedang mengalami gangguan kejiwaan, jadi itu tidak akan berpengaruh!" saksi kunci yang Ardi maksud adalah adiknya sendiri, Ami Andreas.


    " Bagaimana jika ternyata Ami hanya berpura-pura mengalami gangguan mental?" tanya Camilla spontan.


    Ardi mengeryitkan dahinya, " Maksudmu?"


    "Sayang, kamu tau sendiri, kalau adikmu itu memiliki banyak akal, bagaimana jika ini hanya akal akalannya saja supaya bebas dari hotel prodeo?" Camilla mengeluarkan opininya, wajahnya begitu tegas dan serius.


    " Apa menurutmu begitu?" Ardi meragu.


  "Bisa jadi!" Camilla berkata tegas, "Sekarang dia sudah mendekam di jeruji besi, pernikahan dan karirnya yang hancur, bisa di katakan sekarang hidupnya tidak ada artinya lagi, jadi, bagaimana jika dia ingin menyeret kita juga kedalam penjara?"


   Ardi memikirkan semua perkataan Camilla," trus bagaimana?" Dia juga ikut panik, karena dia yang menyiapkan obat tidur dosis tinggi itu.


  Keduanya pun berkeringat dingin, ketakutan tidak bisa mereka sembunyikan.


     " Sebaiknya kita tanyakan pada Dokternya dulu, bagaimana keadaan kondisi Ami, saat ini!" usul Camilla.


    Ardi mengiyakan, Mereka berlalu dari taman, dan menuju pusat informasi, untuk menanyakan Dokter yang merawat Ami.

__ADS_1


  Seorang perawat mengarahkan mereka ke ruang dokter Panji, Dokter yang merawat Ami.


     Ketika memasuki ruangan dokter, nampak panji sedang memeriksa laporan perkembangan pasien.


    " Selamat pagi Dok! Saya Ardi, keluarga dari pasien yang bernama Ami Andreas, saya ingin bertanya, bagaimana tentang keadaan adik saya, selama di sini, apa sudah ada perubahan?' tanya Ardi, dengan jantung yang berdetak lebih kencang dari biasanya.


   Reaksi yang sama pun di tunjukkan Camilla, bagaimanapun dia sangat gugup.


   " Sebentar ya!" Panji menoleh ke asistennya dan berkata," Tolong berkas atas nama Ami Andreas".


     Sang asisten langsung ke lemari untuk mencari berkas atas nama Ami Andreas, tak lama kemudian sebuah berkas dengan nama Ami Andreas sudah dia temukan dan menyerahkannya pada dokter.


  " Bagaimana kondisi kejiwaan adik ipar saya Dok! Apakah masih bisakah di sembuhkan?" Camilla bertanya dengan raut wajah dan nada yang begitu khawatir.


  Bagi sebagian orang yang mendengar bagaimana Camilla mengkhawatirkan adik iparnya akan terenyuh, melihat hatinya yang tulus, sayangnya hanya dia dan Ardi yang berharap agar Ami tidak sembuh, agar rahasia mereka tidak terbongkar.


   Setelah sekilas membaca Rekam medis Ami, Dokter Panji membuka suara," Adik saudara memang mengalami gangguan jiwa ketika baru pertama tiba di sini, tapi sebulan kemudian kondisinya berangsur membaik".


  " Jadi adik saya sudah sembuh, Dok?" Ardi terkejut.


   " Awalnya dia masuk rumah sakit ini, dan memang terbukti mengalami gangguan kejiwaan, dan sebulan kemudian, kondisinya berangsur membaik, kami ingin melakukan tes lagi untuk memastikan keberadaan, tapi sungguh sulit sekali, terkadang dia mengamuk tak terkendali, dan menyakiti petugas, setelah itu dia tenang dalam waktu yang lama, tetapi, jika dia merasa terpicu oleh sesuatu, dia akan kumat, dan menyerang lagi dengan ganas, beberapa perawat sampai terluka," Terang dokter Panji.


    " Hingga sekarang, sangat susah mencari tahu, tentang perkembangan kejiwaan saudari Ami, dia hanya termenung dengan sorot mata yang kosong, terkadang juga dia nyinden tengah malam," Dokter Panji memperlihatkan video cctv, dimana pada tengah malam Ami nyinden sambil menyisir dalam keadaan gelap gulita.


  " Beberapa petugas sedikit ketakutan jika berjaga, bagaimanapun status adik anda adalah seorang tahanan, jadi akan ada petugas yang mengawasinya Dua puluh empat jam," Dokter Panji menjelaskan lebih lanjut.


  " Kok, serem ya Dok, Setahu saya Ami tidak bisa berbahasa Jawa, apalagi nyinden," terang Ardi.


  " Kami memang tidak bisa mengetes kejiwaan saudari anda, karena itu kami selalu memperhatikan tingkah perilakunya, hingga saat ini, tidak ada perilaku yang mencurigakan, bisa di katakan dia memang mengalami gangguan jiwa, Karena bagaimanapun, status adik anda adalah seorang tahanan, jadi saya harus terus memberikan laporan kepada pihak kepolisian," ujarnya lagi.


    Ardi dan Camilla saling pandang, mereka berdua benar-benar sepakat, jika Ami hanya berpura-pura mengalami gangguan mental, karena selalu menghindari tes gangguan kejiwaan! Tentu saja, karena jika dia sudah terbukti normal, dia akan kembali masuk kedalam penjara, menelisik watak Ami, dia lebih baik berada di dalam lingkungan orang orang dengan gangguan jiwa, daripada jadi kacung di dalam sel tahanan lain, setidaknya di sini dia lebih terurus daripada di sana.

__ADS_1


Ardi dan Camilla, memiliki pertanyaan sama dalam hatinya, " Darimana Ami tau jika Asyifa masih hidup?"


" Dok, saya mau bertanya tentang hal lainnya, Apakah sebelumnya ada pihak yang datang menjenguk adik saya Ami Andreas?" Ardi berusaha mencari informasi, bisa saja Asyifa berkunjung menemui Ami.


" Sebentar saya cek dulu," Dr Panji mulai mengecek daftar hadir tamu yang mengunjungi Ami.



Tak lama berselang, Dr Panji menjawab," Selain keluarga, pihak manapun dari luar, harus meminta ijin lebih dulu kepada pihak berwajib, jika ingin mengunjungi adik anda, dari daftar buku tamu, selain orang tua anda, pak Andreas dan istrinya, ibu Ani, juga Arif, mantan suaminya, pernah sekali datang berkunjung, kami menemukan sebuah undangan pernikahan di sebelah adik anda,"


Ardi dan Camilla saling melirik, mereka ingin mengunjungi Ami sekali lagi, karena ingin bertanya lebih lanjut, niat itu terpaksa mereka urungkan, karena bagaimanapun status Ami adalah seorang tahanan, terlebih lagi, Ami akan terus berpura pura mengalami gangguan jiwa.


Setelah berucap dengan basa basi sejenak dengan Dr Panji, pasangan baru itupun pamit undur diri.


Sementara itu, perawat yang menyuapkan Obat pada Ami, Perawat itu tidak tahu, jika Ami selalu menyembunyikan obatnya di bawah lidahnya, ketika perawat pergi, dia akan berpura pura ke toilet, dan membuangnya di toilet, bagaimanapun dia adalah orang yang normal.


Ami sengaja membuat Ardi dan Camilla kepikiran, berdasarkan kemampuan otak keduanya, mereka pasti bisa menganalisis semuanya, Ami hanya tersenyum sinis, " Detik detik kehancuran kalian,"


Di tengah perjalanan, Camilla bertanya," Apa kau percaya, jika Asyifa masih hidup?"


Ardi yang berada di balik kemudi segera menggeleng, " Sama sekali tidak! Itu hanya akal akalannya saja, Aku kenal kepribadiannya, dia adalah tipe pendendam, sepertinya dia memiliki dendam pada kita berdua, jadi, dia sengaja membuat kita kepikiran dengan hal yang kita takutkan,"


" Bagaimana kamu bisa menyimpulkan hal seperti itu, sayang?" Camilla memilih mempercayai suaminya.


" Itu bisa di tebak, tidak pernah ada tamu lain yang datang menjenguk, kecuali Arif mantan suaminya, itupun hanya memberikan undangan pernikahannya," Ardi mengeluarkan jawabannya.


Camilla mengangguk," Masuk akal!" katanya.


Keduanya bernafas lega.


Tanpa mereka ketahui, Asyifa sendiri yang menyampaikannya, dengan identitas Humaira Pramesti.

__ADS_1


***


__ADS_2