Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Amukan tuan besar Wijaya Kusuma


__ADS_3

Episode #11


        Bu Boss Asyifa : Good job boy!"


  Ponsel Ferdinand bergetar, dia yang sedang menonton siaran televisi tentang viralnya kasus ini, segera mengecek ponselnya, Dia tersenyum senang, kerja kerasnya membuahkan hasil, butuh waktu lama dan tingkat kesulitan yang rumit, untuk melawan pihak yang berusaha membungkam berita itu.


  Ketika ingin berusaha membalas pesan tersebut, sebuah foto bukti transferan sebanyak seratus lima puluh juta rupiah, di lampirkan oleh Asyifa, Ferdinand tidak bisa tidak menahan senyumnya, pundi pundi uangnya terus bertambah, sebenarnya, dia tulus membantu Asyifa, tetapi Bu Boss nya itu selalu berdalih, " Sayang uangnya jika orang lain yang dapat, terlebih lagi saya menggunakan jasa dan keahlian kamu, itu harus di hargai,"


  Ibunya Ferdinand, yang baru ngumpul bersama teman temannya langsung duduk di samping Ferdinand, dia menonton siaran langsung penyelidikan kasus ini, hebohnya kasus ini bukan hanya karena Asyifa Prameswari, sebagai salah seorang pewaris sah group ternama di negri ini, tapi juga tentang kisah hidupnya, yang kemarin viral juga, dengan kasus yang sama, percobaan pembunuhan, terlebih lagi Asyifa sempat terjun ke dunia hiburan, sebagai bintang iklan, model dan pemain sitkom.


  " Kasian banget tuh, nasib perempuan ye!" nyak berceletuk di depan televisi, ketika foto Asyifa di tayangkan di sana," Kuat bener hatinya, kisah hidupnye udah persis kaya sinetron ikan terbang, Ade ade aje masalah nye, kagak pernah kelar, mana anaknye sebatang kara, yatim piatu, lagi, sedih bener dah!" nyak tidak sadar meneteskan air matanya.


   Ferdinand tersentuh, apa yang di katakan mamanya adalah sebuah kebenaran, terlalu banyak permasalahan hidup Asyifa, yang memang tak bisa di pikir secara logika, ya namanya manusia, tidak pernah lepas dari yang namanya masalah, orang yang tak berpunya di uji dengan masalah ekonomi, sedangkan orang yang berpunya di uji dengan masalah kesehatan, konflik, konspirasi, perebutan kekuasaan, dan lain sebagainya, semuanya memang sudah di takar dengan kemampuan masing-masing.


   Ferdinand melamun, dia sudah tidak fokus menatap layar segi empat tersebut, pikirannya tertuju pada Bu Boss Asyifa.


    Nyak yang melihat anaknya melamun, segera menghentikan jarinya ke kuping Ferdinand.


  "Aakh!" Ferdinand berteriak," Sakit tau nyak?" Ferdinand mengusap usap telinganya.


  " Gitu aje sakit! Lemah Luh! Lagian kerjaan elu ngelamun aje, ngelamunin apaan lu? ngelamunin yang jorok jorok ya? Makanye buruan dah lu nikah, Enek gue liat jomblo ngenes kaye elu, nyakitin mata aye aje!" cerocos nyak, tanpa melihat wajah anaknya yang kesakitan itu.


  " Kok jatuhnya ke arah sana nyak?" Ferdinand bingung jika sudah membahas hal ini.


     Nyak tak lagi menggubris Ferdinand, dia mengambil remote dan mengganti channel tv.


    Ferdinand tidak bisa berbuat apa-apa, jika remote sudah di kuasai nyak, dia menghela nafas dan beranjak ke kamarnya.


    " Eh, jangan pura-pura amnesia ye, kalau piring kotor numpuk!"


  " Weekend gini jalan jalan sama gebetan kek, ini malah asik berduaan sama komputer," nyak mengomel lagi.

__ADS_1


  Ferdinand hanya menghela nafas panjang, sebelum dia menjawab," Komputer kan bini aye nyak, menantunya enyak yang kagak pernah nentang enyak!"


  " Sialan lu!" seketika remote melayang ke arah Ferdinand.


  " Haaap!" Ferdinand menangkap dengan mulutnya, kemampuannya sebagai jawara silat Cimande memang sudah di akui, menangkap remote dengan mulut, sudah biasa.


    Sementara itu di mansion keluarga Kusuma.


    Atas insiden penculikan itu, seluruh tamu yang di undang Helena dan Rio terpaksa meninggalkan villa secepat mungkin, Rio dan Helena beserta seluruh keluarga Kusuma masih berada di perjalanan, sementara Angga dan Carrey sudah kembali.


Kali ini Angga tinggal berdua dengan kakeknya, di ruang kerja sang kakek, baru kali ini Angga mendatangi kakeknya, dan bertanya tentang keterlibatannya.


" Baskara sudah di bekuk subuh tadi, semua orang tahu Baskara adalah tangan kanan Kakek, selama hampir beberapa dekade, Apakah,.. Apakah ini perintah dari kakek?" Angga menatap tajam kakeknya, Aura kepemimpinannya begitu menguar, tatapannya mengunci pergerakan lawan bicaranya.


Di perlakukan seperti itu nyali tuan Wijaya Kusuma sedikit ciut, " Omong kosong apa yang kamu bicarakan, Aku tak ada kaitannya samasekali oleh baskara, kalau kamu mau tahu lebih jelas, kamu bisa langsung bertanya padanya di kantor polisi! Aneh, Apa hubungannya denganku!" tuan Wijaya Kusuma mendengus dingin, nada bicaranya nampak sudah begitu terlatih berada di posisi seperti ini.


" Kakek! Kali ini aku tak akan menyembunyikan apapun dari kakek, pihak kepolisian sudah menyelidiki, jika mereka adalah komplotan pembunuh bayaran yang memang merupakan buronan, Baskara menyuruh mereka untuk menculik dan membunuh Asyifa di hutan bambu, dan membuang mayatnya tanpa meninggalkan jejak dan kecurigaan apapun," Selesai bicara Angga berhenti untuk melihat reaksi dari kakeknya,


Angga mengganti menyilang kan kakinya, tangannya meraih cangkir kopi dan segera menyeruputnya.


Untuk pertama kalinya Wijaya Kusuma membenci cara intimidasi cucunya ini, padahal dia sendiri yang mengajarinya.


" Trus, Apa hubungannya denganku! Lagipula untuk apa aku menyuruhnya menghabisi Asyifa, kita tak ada samasekali hubungan bisnis dengan grup nya!" ketus tuan besar Wijaya Kusuma.


" Kakek yang tahu, apa yang sebenarnya terjadi!" Angga mengendikan bahunya dan kemudian ia bangkit berdiri.


Angga berjalan mendekati pintu, satu langkah lagi kakinya melangkah keluar, dia merogoh ponselnya dan mengirimkan pesan di teruskan, beserta pesan secrenshoot, bahwa pesan itu di kirimkan kepadanya, dia meneruskan pesan itu kepada tuan besar Wijaya Kusuma.


" Seseorang mengirimku itu, persiapkan diri kakek!" setelah itu Angga pergi, dan bayangannya pun menghilang.


Ting!" sebuah pesan masuk ke ponsel tuan besar Wijaya Kusuma.

__ADS_1


Dia membuka pesan dari Angga.


" Pesan rekaman suara?" Dahinya mengeryit.


Tak menunggu lama, dia langsung menyentuh layar ponselnya, suara rekaman suara pun terdengar.


" Habisi dia seperti kau menghabisi kedua orang tuanya, ingat, tanpa jejak,"


potongan rekaman itu segera berhenti.


" Jleb!" darah tuan Wijaya Kusuma berdesir, itu adalah suara rekaman percakapannya tempo hari, ketika dia meminta untuk melenyapkan Asyifa, suaranya begitu jelas dan jernih.


Tuan Wijaya Kusuma pun mulai menyadari, bahwa ada seseorang yang mengkhianatinya, ada mata mata di mansion nya, seketika raut wajah tuan WIJAYA Kusuma memerah, seperti tomat busuk, dia berteriak kencang, " CHANDRAAAA!"


Pintu yang tidak tertutup selepas Angga keluar, membuat suara melengking tuan besar Wijaya Kusuma jelas terdengar.


Chandra, sang kepala pelayan segera berlari, melihat suasana hati majikannya yang rumit, membuat perasaannya tidak enak.


" Duh, Gusti pangeran!" Chandra mengeluh, sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya, kemudian dia menarik nafas panjang,dan mengeluarkannya kembali, setelah merasa tenang dia kemudian mempersiapkan diri dan hatinya, menghadapi kemurkaan tuan besar Wijaya Kusuma.


Baru saja dia melangkah masuk.


" Prang!" sebuah gelas kopi melayang ke arahnya, beruntung Chandra bisa mengelak, dan gelas itu mengenai dinding.


" Dasar bodoh!" tuan Wijaya Kusuma mengumpat, " Apa pekerjaanmu! Apa kau tidak tahu ada mata mata di sini? Dasar tak berguna, sampah masih lebih berguna darimu!"


Puas memaki," Geledah ruangan ini, jangan lewatkan apapun!"


Tuan besar Wijaya Kusuma meninggalkan Chandra yang wajahnya sudah pucat seperti kapas.


****

__ADS_1


__ADS_2