Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Kesedihan Baskara


__ADS_3

Episode #14


     Tak lama kemudian, pesanan keduanya diantar oleh pelayan.


    Setelah pelayan pergi menjauh, wajah Asyifa berubah serius, dia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah flashdisk berisi rekaman Tinro dan percakapan tuan Wijaya Kusuma dengan Baskara.


   Asyifa pun menyerahkan ponsel dan earphone miliknya kepada Ferdinand.


  Ferdinand memutar dan mendengarkan rekaman itu. wajahnya nampak serius sekali.


     " Kita harus berperang, bagaimanapun caranya kita harus bisa menjebloskan tuan Wijaya Kusuma ke penjara!" Asyifa berbicara serius, Aura dinginnya menguar, sorot matanya menyiratkan kemarahan.


  " Kenapa, Bu Boss berpikir bahwa kita tidak bisa memasukkan tuan Wijaya Kusuma ke penjara? Bukti kita termasuk kuat, Bu Boss!" Ferdinand bertanya penuh keheranan.


  " Jadi begini,...!" Asyifa membeberkan apa yang dia bicarakan dengan pengacara kondang HAMDAN HUTAPEA.


    "Jadi, kata kuncinya, kita harus memaksa Baskara buka mulut, dan membeberkan semuanya di persidangan?" Ferdinand mengambil kesimpulan.


  Asyifa mengangguk," Itu benar! Apa Kamu punya ide?"


  "Sebentar, Aku berpikir dulu!" Ferdinand segera memejamkan matanya, tangannya bersedekap, punggungnya bersandar ke kursi, sekitar tiga puluh detik kemudian, dia berseru," AHA!"matanya terbuka. punggungnya tegak seolah ada sebuah lampu yang menyala di sana.


    " Bagaimana? Apa idenya?" Asyifa nampak tidak sabar.


  " Begini, Bu Boss, kita jalankan, caranya pak Hamdan Hutapea, kita akan mempercepat pergantian posisi sang patriark Wijaya Kusuma, sehingga,.."


 "Sehingga Baskara, keberadaan keluarganya tidak merasa terancam oleh Wijaya Kusuma! Asyifa langsung memotong pembicaraan Ferdinand, " Tapi, bagaimana caranya?" Asyifa ingin tahu.


     " Itu serahkan pada saya, Bu Boss, bukankah tuan muda dari keluarga Kusuma dekat dengan seorang Dosen, Carrey Ramos?" Ferdinand menaikkan alisnya.


   " Tapi,..," Asyifa ingin membantah, tapi kemudian menyadari sesuatu, bibirnya pun melengkung,". Aku mengerti sekarang!"


  Ferdinand pun membalas senyuman Asyifa, sambil menunjuk nunjuk pelipisnya beberapa kali.


    " Nah, pembahasannya selesai, Aku tunggu kinerjamu, Ayok kita ke mall, belikan Enyak makeup dan skincare!" Asyifa langsung menyeruput kopinya dan segera berdiri.


  Ferdinand kehilangan kata-kata, Sekarang makeup dan skincare, sudah jadi hadiah bagus, yang lebih di harapkan, dari hanya sekedar pakaian.


  ***


  Dua hari kemudian.

__ADS_1


    Baskara yang di tahan di kantor polisi mendapatkan seorang tamu, dia adalah teman lamanya, sebelum masuk ke keluarga Kusuma, Dulu mereka sahabat selama di desa dan sama sama merantau ke ibukota, walaupun begitu, jalan hidup yang mereka pilih sangat berbeda, Sahabat masa kecilnya yang bernama Jaya itu, lebih memilih menjadi pedagang asongan di terminal, sebelum memiliki toko sembako yang besar, seperti sekarang ini, sementara Dia lebih memilih menjadi seorang pengawal.


    Baskara langsung memeluk sahabatnya tersebut, di antara semua orang yang mengenalnya, hanya jaya yang bersedia menjenguknya, Jaya juga membawakan beberapa keperluan pribadi untuk Baskara, dan sedikit makanan serta obat obatan.


    Waktu kunjungan Emang tidak lama, jadi keduanya tidak akan berbasa-basi lagi, dan langsung berbicara pada intinya.


  " Sebaiknya kau akui semua perbuatan mu dan berkata jujur, selama penyidikan dan persidangan, kalau kau bekerjasama, setidaknya, pengadilan akan memberikan hukuman yang sedikit meringankan!" Jaya memberikan saran.


     " Maksudmu, Aku harus mengakui, bahwa aku hanya suruhan saja?" Baskara melihat sahabatnya itu nanar.


    Jaya mengangguk.


     Baskara tersenyum masam," Atas dasar apa? Aku hanya orang kecil, hanya sebuah pion catur, yang tak akan bisa membalas, keberadaan ku jelas, Aku Hanya sebagai tameng, untuk melindungi pihak di belakang ku!"


  Jaya mengusap hidungnya yang tiba-tiba gatal.


    " Percayalah! Bicaralah jujur, Katakan apa yang sebenarnya terjadi, siapa tahu, itu akan meringankan hukuman mu, selain itu, kau juga harus mengakui dan meminta maaf kepada bu Asyifa, hanya kau saksi kunci di sini, tolong, kau masih punya keluarga di kampung, anakmu masih kecil-kecil, Mereka butuh figur seorang ayah,"


  " Apa kau tahu, kasus pembunuhan terbaru yang melibatkan anggota kepolisian? Mungkin kau belum tau beritanya, polisi yang melakukan penembakan itu tidak di hukum berat dan tidak di pecat, karena apa? karena dia jujur, sehingga banyak di dukung oleh masyarakat!" Jaya mencoba mengubah sudut pandang sahabatnya.


"Baskara terkekeh, terkadang aku berpikir kearah sana, Jay, tapi Aku juga harus berpikir realistis juga, kau pikir jika aku berkata jujur, Big Bos akan melepaskan keluargaku? Kecuali, jika Big Bos sudah bukan Big Bos lagi, mungkin aku akan berpikir ulang, untuk mengatakan yang sebenarnya!"


Jaya mengangguk, " Aku mengerti, itu Memang pilihan yang sulit. tapi, seandainya ada yang menjamin keselamatan keluargamu, dan memodali mereka selama kau berada di sini, apa kau akan berubah pikiran?"


Baskara menatap jam dinding yang berada di ruang tunggu, masih ada waktu sekitar lima belas menit lagi, sebelum dia di bawa masuk kembali kedalam sel.


" Cepat katakan, apa yang terjadi, waktu berkunjung tidak lama!" Baskara mendesak.


" Hmmp!" Setelah jaya berpikir, akhirnya dia memutuskan apa yang ingin dia bicarakan," Sebenarnya, seseorang datang, menemui ku dan mengutusku kemari, untuk membicarakan hal ini kepadamu, sosok itu mengajakmu untuk bekerja sama dan jujur, siapa dalang di balik semua, sosok itu juga ingin, kau membongkar kasus kecelakaan pewaris Prameswari sebelumnya, Tuan Umar dan istrinya,"


" DUAR!"


Bagai petir di siang bolong, Baskara merasa langit runtuh menimpanya.


" Berdasarkan informasi yang mereka kumpulkan, Tinro, montir yang kau sewa waktu itu telah tertangkap, kesaksian dia juga di ambil, dia menyebutkan ciri-cirimu, walaupun tidak menyebutkan namamu!"


Jaya melanjutkan kembali, setelah menangkap raut keterkejutan di wajah Baskara, " Ini bukan sebuah tawaran, tapi sebuah ancaman, jika kau tidak jujur dan mengakui semuanya, keluargamu yang akan jadi sasarannya, secara tidak langsung kau sudah menghabisi keluarganya, dan dia juga bisa menghabisi keluargamu, mata dibayar mata dan nyawa dibayar nyawa, jika kau bersedia, sosok itu bisa memberikan jaminan keselamatan untuk keluargamu, dari cengkraman Big Bos dan memodali mereka, selama kau tidak ada!"


Baskara tertegun, montir yang sudah lari keluar pulau saja tertangkap, apalagi hanya keluarganya, yang masih satu pulau.


" Tolong pertimbangkan dengan matang, mereka saja mampu memaksaku datang ke sini, sebagai penyambung lidah, padahal, kau tahu sendiri, hampir belasan tahun kita berpura-pura untuk tidak saling mengenal, agar Aku tidak terseret dalam duniamu, tapi, lihatlah sekarang, akupun terseret," wajah sedih tampak di mimik muka Jaya.

__ADS_1


Baskara belum bisa berkata apa-apa, Hening diantara keduanya.


" Oh, ya! ada pesan dari Riska!" Jaya mengeluarkan sebuah surat.


Riska adalah anak sulung dari Baskara.


Mata Baskara basah, mengingat istri dan anak anaknya, rasa sesal pun sudah tak ada gunanya lagi.


" Kau tenang saja, tidak ada satu orang pun dari desa, yang tau masalah mu, hingga saat ini! Bagaimanapun, namamu di desa berbeda dengan namamu di sini! Jaya seperti bisa mengenali kegelisahan Baskara.


" Waktu kunjungan sudah habis!" Tiba tiba suara anggota polisi, mengagetkan mereka,


" Pikirkan kembali!" Jaya menepuk pundak Baskara dan berlalu pergi.


Hingga saat inipun, Baskara belum mengeluarkan sepatah katapun.


Seorang sipir menghampirinya dan menggiringnya kembali ke sel tahanan.


Di dalam sel tersebut, dia membuka surat dari Riska.


" Assalamu'alaikum wr, wb!"


" Ayah, apa kabar disana? Riska rindu sekali dengan ayah, gak cuma Riska, adik Reyhan dan adik Raisa juga, kita rindu sekali dengan ayah.


" Ayah, kenapa hapenya gak bisa di hubungi? " kata pak de, Jaya, hape ayah rusak lagi ya?"


" Oh ya, ayah! kemarin ada tamu dari kota, kakaknya cantik sekali, seperti artis, Kakak itu bilang, dia adalah bos ayah di kota, Riska, ibu dan adik adik, di ajak jalan jalan ke mall, trus ketempat yang banyak permainannya, Riska lupa namanya apa, kita di belikan, baju, mainan, dan banyak makanan, kita juga diajak main ke Waterboom, seru deh, ayah, sayangnya ayah tak ikut.


"Kalau ayah ketemu kakak cantik itu, salam ya ayah? trus semoga hape ayah cepat di perbaiki.


" Peluk cium penuh rindu, dari Ibu, Riska Adik Reyhan dan adik Reisa.


"Sudah dulu ya, ayah! pak de Jaya, katanya sudah mau berangkat.


" Wassalamu'alaikum!"


Air mata Baskara jatuh tak terbendung membaca surat itu, dia meletakkan surat itu di dadanya, " Maafkan ayah, Nduk!"


Baskara kemudian menghapus air matanya, dia melipat surat itu dan memasukannya kedalam saku celananya.


Baskara memejamkan matanya sejenak, dia pasti tahu, siapa kakak cantik yang di maksud anak perempuannya, itu tidak lain dan tidak bukan adalah Asyifa Prameswari, seorang perempuan yang sudah dia hancurkan hidupnya, Baskara sudah membunuh kedua orang tuanya, sehingga membuat Asyifa hidup sebatang kara, di dunia ini, belum lagi insiden terakhir, dimana dia mengirim pembunuh bayaran untuk menculik dan menghabisinya.

__ADS_1


Baskara tersenyum kecut, kali ini dia memang tidak punya pilihan lain, selain mengakui semuanya.


****


__ADS_2