
Episode #32
Seminggu telah berlalu.
Asyifa sudah mempertimbangkan saran dari Amar, untuk tidak melaksanakan metode hipnotis itu untuk mengubah kepribadiannya, seminggu belakangan ini dia sudah banyak berdiskusi dengan psikolognya, Min Ho, dan dia sudah banyak mendapatkan pencerahan.
Hari ini, dia sengaja memutuskan untuk kembali ke Indonesia, dia tidak memberitahukan pada siapapun tentang kepulangannya ke Indonesia, karena dia ingin memantau situasinya lebih dulu.
" I will miss you May, don't forget me!" Song Chai Mi terisak di pelukan Asyifa, mereka sudah di bandara, dan menunggu keberangkatan Asyifa.
( aku akan kangen kamu may, jangan lupakan aku! )
" we will meet again, i promise!" Asyifa tersenyum, dan berusaha menenangkan Song Chai Mi, perawat yang sudah jadi sahabatnya selama di Seoul, dan melepaskan rangkulannya.
( kita akan bertemu lagi, aku janji )
" time to go,..bye," Asyifa berbalik dan melambaikan tangannya kearah Song Chai Mi, satu butir kristal bening jatuh dari ekor matanya, dia tidak mudah untuk berpisah, setelah menemukan seseorang yang berteman dengan tulus.
( waktunya pergi,.. selamat tinggal,)
Asyifa sudah memasuki pesawat, dia berjalan mencari tempat duduknya, di sebelahnya ada seorang nenek, dan hanya bertegur sapa seadanya, kemudian dia hanya menunggu pesawat lepas landas.
****
Perjalanan selama tujuh jam, dari Seoul ke Jakarta, sangat melelahkan, badannya terasa pegal sekali, rasanya sekarang dia membutuhkan kasur, untungnya Asyifa tidak membawa banyak barang, jadi bagasinya kosong, dia hanya membawa tas ransel yang berisi dokumen dan barang barang yang penting, yang di letakkan di kabin, jadi dia tidak perlu menunggu antrian bagasi lagi, di bandara tujuan.
Tepat jam satu malam, Asyifa keluar dari bandara, suasananya masih terbilang cukup ramai, banyak orang yang masih berkeliaran di bandara, dan tidak sedikit yang curi curi pandang ke arahnya, karena penasaran dengan sosoknya, aura bintang yang dia pancarkan sangat menarik perhatian sekitar, dan tak bisa ia sembunyikan, walaupun dia memakai masker dan kacamata hitam, orang orang di sana masih penasaran dengan sosok di balik itu.
Selama di bandara, Asyifa sering di sapa dan di tawari jasa oleh porter di sana, tetapi dengan lembut, wanita itu menolak.
Asyifa kemudian berjalan menuju pintu keluar bandara, wanita itu menoleh ke kiri dan ke kanan, dia sedang mencari taksi untuk mengantarnya ke hotel terdekat, yang sudah dia pesan sebelumnya, dia sangat membutuhkan kasur, badannya pegal sekali.
Sesampainya di hotel, Asyifa langsung check in dan membersihkan diri, badannya sangat lengket, setelah selesai wanita itu langsung tidur.
\*\*\*\*
Asyifa terbangun keesokan siangnya, tidurnya begitu lama, sayup sayup matanya terbuka, sinar matahari langsung menyapa matanya, dia seketika menyipitkan mata untuk menghalangi cahaya, samar samar dia melihat keberadaan seorang lelaki di sofa, sedang membaca koran, wajahnya tertutup sebagian lembaran kertas itu, sehingga dia tidak dapat melihat dengan jelas siapa pria tersebut.
" Sepertinya efek halusinasi dari pengaruh anastesi Belum hilang, lihatlah, sekarang aku melihat seorang pria sedang membaca koran di sofa," desisnya lirih.
" Sebaiknya aku mandi dulu," Gumam Asyifa, dia menyingkirkan selimutnya, duduk merenggangkan ototnya sebentar, lalu bangkit berdiri.
Melihat ada pergerakan dari tubuh wanita yang ada di tempat tidur, lelaki yang sedang membaca koran itu, langsung melipat dua korannya, Alangkah terkejutnya dia, ketika melihat wanita itu akan membuka pakaiannya di hadapannya.
" Hey," teriak lelaki itu.
Asyifa langsung beralih melihat ke arah lelaki tersebut, wanita itu terlihat tenang, seolah tidak menganggap pria itu ada, gumaman kecil terlontar dari bibir indahnya,. " Bahkan sekarang aku berhalusinasi bahwa Amar sekarang ada di kamar ini, dan berteriak ' Hey ' sepertinya aku lupa minum obat kemarin," Setelah itu dia langsung ke kamar mandi dan membersihkan diri tidak jadi membuka pakaiannya di sana, wanita itu benar benar tidak menganggap kehadiran Amar di kamar itu.
Amar menggelengkan kepalanya dan tersenyum, dia berfikir bahwa Asyifa sudah tidak bisa membedakan Dunia nyata dan dunia ilusi, dia melanjutkan membaca korannya sambil menunggu Asyifa membersihkan diri.
Lima belas menit berlalu.
__ADS_1
Asyifa keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya, rambut dan beberapa bagian tubuhnya masih terlihat basah, terkadang Asyifa masih sering kaget dengan penampakan tubuhnya sekarang, dia belum sepenuhnya terbiasa.
Ketika melangkahkan ke arah tempat tidur, Asyifa terlonjak kaget, dan melemparkan remot AC yang di letakkan dekat meja kearah lelaki yang ada di ruangan itu, awalnya dia mengira bahwa itu hanya halusinasi saja, tetapi ternyata beneran! bagaimana bisa ada lelaki di kamarnya? ini tidak bisa di biarkan.
" BRUK!" bunyi remot AC tepat mengenai sasaran.
"Aaauch," seru Amar dan meletakkan sembarang korannya, dia segera memungut remot AC dan meletakkannya di sofa, kemudian dia mengalihkan pandangannya ke sosok yang melemparkan remot itu.
Amar tertegun menyaksikan pemandangan di depan matanya, dia tidak pernah menyangka jika Asyifa akan secantik ini, persis seperti Dewi Yunani, walaupun tadi dia sudah melihat wajah Asyifa yang baru ketika tidur dan beberapa foto yang di kirim kan oleh dokter yang mengoperasi Asyifa, ternyata aslinya sangat berbeda dengan apa yang sudah di lihatnya di foto, untuk sementara Amar kehilangan kata katanya.
" Amar!' Misteri Teddy Bear,! Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kau bisa masuk? Bagaimana kau tahu aku di sini?" matanya melotot garang menatap Amar yang sudah tersadar dan dengan gaya cuek bebeknya kembali membuka lipatan Korannya dan membacanya.
"Ih,! nyebelin banget sih!" Asyifa berseru kesal.
" Seharusnya aku yang kesel Syif, pulang gak bilang bilang, padahal aku sudah janji mau kesana! Eh, kamu sudah tiba aja di Indonesia, tanpa kabar sepatah katapun, kau membuat seorang seperti Amar tidak menepati janji dan ini yang pertama," jawab Amar kesal, dia merasa di curangi.
" Sudah lah, kamu lekas berpakaian, kita makan siang dan cepat minum obatmu biar kamu tidak merasa berhalusinasi lagi, Aku tunggu di parkiran !" tegas amar segera meninggalkan kamar Asyifa.
Asyifa segera bergegas berpakaian, dia tidak ingin si Mr, Teddy Bear mengamuk, dalam hati dia menggerutu, " Dia yang salah! masuk kamar orang seenaknya! sudah melanggar privasi tapi seolah olah bersikap jadi korban,.. Haissh !"
Di luar,.. jantung Amar serasa berdisko, debaran jantungnya semakin kuat, dia berhenti sejenak, lalu mengatur pernafasannya kembali untuk meredakan gejolak dalam hatinya, dia menghembuskan dan menarik nafas dengan pelan, " Pesona yang di miliki sekarang, sangat mampu membius sekitar,! batinnya, lalu segera menyusul Arsyad yang menunggu di mobil mewahnya.
Asyifa bergegas segera menuju parkiran, dia celingak-celinguk melihat sekitar, " Mana sih, itu si Mr Teddy Bear, bagaimana bisa aku tahu dia ada di mana, nunggunya dalam mobil!" gerutunya kesal.
Dengan bersembunyi dari satu mobil ke mobil lainnya, Asyifa sudah berdiri di belakang sosok itu, dengan penuh keisengan dia menepuk pundak tersebut.
" PLAK!"
Arsyad yang merasa ada yang menepuk pundaknya sontak menoleh, dia sudah waspada dan segera memusatkan kesadarannya, dia khawatir itu adalah tukang hipnotis.
Segera Arsyad berbalik, dia begitu kaget, dia fikir dia bertemu tukang hipnotis, tetapi sosok di depannya malah seperti Dewi Yunani, laki laki itu terkesima, dia memang benar benar terhipnotis dengan aura dan penampilan dari seorang Humaira Pramesti, identitas baru dari Asyifa Prameswari.
" Maaf nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya Arsyad, setelah mengumpulkan kembali kesadarannya, dia memang tidak mengenal sosok itu, Amar terlalu pelit untuk membagikan foto terbaru dari Asyifa, jadi wajar jika dia tidak mengenalnya.
" Antarkan aku ke rumah makan Padang terdekat, aku lapar sekali!" ucap Asyifa, dan langsung masuk kedalam mobil tanpa menunggu persetujuan Arsyad.
Arsyad termangu sepersekian detik dengan tingkah si Dewi Yunani yang ajaib, " Tapi tunggu! dia merasakan sesuatu yang familiar! suara itu! yah,.. suara itu! itu milik nyonya Syifa !" segera dia masuk kedalam mobil.
Di dalam mobil dia melihat tuan muda AMAR SYAPUTRA dan ASYIFA PRAMESWARI alis HUMAIRA PRAMESTI, tertawa terpingkal pingkal, melihat ekspresi dari Arsyad yang sudah di kerjai oleh Asyifa.
Bibir Arsyad hanya berkedut melihat manusia ajaib yang ada di kursi belakangnya, "tuan muda Amar yang sangat dingin dan elegan itu seketika tertawa? sungguh keeleganannya langsung hilang.
" Mulai sekarang, panggil dia HUMAIRA ok, jangan salah panggil lagi!" tegas Amar.
" Baik tuan" Arsyad kemudian menganggukkan kepalanya.
Segera dia menjalankan mobil, untuk mencari rumah makan minang, sesuai yang di inginkan oleh Asyifa, selama perjalanan, Arsyad hanya geleng-geleng kepala menyaksikan dua manusia ajaib di belakangnya, mereka saling ejek, saling cubit, untung saja tidak saling Jambak, di depan Asyifa tuan muda AMAR kehilangan wibawanya!
__ADS_1
Tidak berselang lama mereka tiba di restoran Minang yang terkenal, Arsyad segera memesan ruangan private room, tetapi pada jam makan siang seperti ini, semuanya penuh, jadi mau tidak mau mereka makan di tempat biasa.
Sebenarnya Amar menolak, tetapi Asyifa sudah kelaparan sekali.
Asyifa memaksa Arsyad untuk makan siang bersama, di meja itu ada mereka bertiga, dengan penampilan eksekutif muda.
Setelah pesanan datang, Asyifa begitu bersemangat, sudah lama sekali dia tidak makan rendang, apalagi setelah Amar mengirimkan foto Dinner nya kala itu.
"Amar, mana petenya, kurang lengkap nih !" protes Asyifa.
Arsyad segera ke mobil, untuk mengambil seikat Petai, tidak tanggung tanggung ada 25 papan.
Semua mata tertuju, ketika Asyifa yang seanggun Dewi Yunani makan nasi Padang dengan lahap di tambah dengan petai yang ada di depan mejanya.
Jarang jarang sekali ada wanita yang begitu cantik makan petai di depan umum, biasanya mereka akan ngumpet ngumpet.
Amar dengan telaten mengupas petai tersebut satu persatu dan meletakkannya di piring Asyifa, sontak saja mereka membuat iri semua orang, melihat pasangan yang rupawan tersebut.
Beberapa pengunjung pun sudah mulai mengambil ponsel mereka dan merekam diam diam, bahkan ada yang live streaming, lumayan untuk bahan konten mereka.
Sebenarnya mereka juga tau apa yang di lakukan para pengunjung itu, namun mereka memilih untuk mengabaikannya, apalagi seorang Amar, dia dengan mudah dapat menekan berita yang viral, sedangkan Arsyad hanya sebagai nyamuk di sana. ( kasian yang masih single dari SD 😁)
" Jadi bagaimana kamu tahu aku sudah pulang ke Indonesia dan menginap di hotel itu? perasaan nomor sudah aku nonaktifkan jadi kamu gak bisa ngelacak aku!" tanya Asyifa sambil terus memasukkan petai kedalam mulutnya, tidak ada elegannya samasekali.
" Di Jhon alias Min Ho, bertanya apa kamu sudah sampai atau belum, karena kamu tidak bisa di hubungi dan dia bertanya padaku! kenapa pulang tidak bilang bilang,?" omel Amar.
" Lho,.. aku cuma ingin melihat situasi dan kondisi terkini dulu, aku tidak ingin terburu-buru dan mengacaukan segalanya! seharusnya aku yang marah, kamu masuk ke kamar aku tanpa pemberitahuan ! bahkan aku berfikir saat itu kamu hanya halusinasiku saja!"
" Gampang untuk melacak kamu, aku sudah memasang GPS pada semua kartu identitas kamu, jadi dimana dan kemana kamu pergi aku tau! apalagi untuk sekedar memasuki hotel seperti itu!" jawab Amar sambil mengupas petai.
" Masuk akal," gumam Asyifa.
Mereka menghabiskan makan siang bersama, perbincangan mereka berdua semakin lama semakin asik, Arsyad hanya sebagai penonton dan pendengar yang baik.
*****
__ADS_1