
Episode #44
Malam sudah datang, Melinda sudah pulang, diantarkan oleh Arsyad, sedangkan Amar dan Asyifa, langsung menuju hotel tempat Asyifa menginap, Amar akan membantu Asyifa berkemas dan langsung menuju salah satu apartemen milik Prameswari group.
Setelah check out dari hotel, Amar segera membawa Asyifa menuju ke apartemen barunya, dalam perjalanan tidak ada perbincangan yang serius antara keduanya, mereka hanya sambung menyambung lirik lagu, seperti yang dulu selalu mereka lakukan.
Satu jam tidak terasa, perjalanan yang mereka tempuh, lelucon dan banyolan yang mereka lakukan membuat perjalanan terasa cepat, setelah memasuki private park, Amar dan Asyifa segera memasuki apartemen.
Sebenarnya Asyifa punya apartemen sendiri, sebelum menikah dengan Ardi, tapi bagaimana pun, dia tidak ingin tinggal di sana lagi, akan banyak timbul kecurigaan, terlebih dari sang mantan,, ibu mertua dan adik iparnya.
Apartemen Prameswari group yang di pilihkan Amar untuk Asyifa, termasuk mewah, di dalam kompleks apartemen terdapat berbagai fasilitas berstandar tinggi, seperti, kolam renang dengan jacuzzi, fitness center, studio yoga,, spa, area BBQ, Outdoor lounge, dan sky garden, Playground ruang serbaguna, perpustakaan dan lain sebagainya, selain itu juga di lengkapi dengan lift pribadi.
Setelah keduanya tiba di apartemen, Asyifa cukup puas dengan desain interiornya, Apartemen nya kali ini, tidak kalah dengan hotel bintang lima, tempat dia tinggal sebelumnya.
Amar sudah mempersiapkan semuanya dengan teliti, bahkan lemari es sudah terisi dengan berbagai bahan makanan yang fresh,, karena lelaki itu tahu, bahwa Asyifa lebih suka memasak sendiri di bandingkan dari pada makan di luar, karena menurut wanita cantik itu , memasak adalah kreativitas.
Karena semua bahan makanan sudah lengkap, Asyifa memutuskan untuk segera masak, agar malam ini mereka dapat menikmati makan malam dengan masakannya sendiri,
Amar tentu saja merasa bahagia, karena setelah sekian lama kini dia dapat merasakan masakan buatan Asyifa lagi, karena bukan hanya Amar yang tahu, tapi Semua orang yang pernah merasakan hasil masakan Asyifa, yang begitu nikmat karena mempunyai citra rasa yang tidak kalah dengan masakan chefs ternama.
Malam ini Asyifa memasak, Borsch, makanan khas Rusia, Borsch adalah Sup, yang berbahan dasar kaldu daging dengan tambahan sayuran, dan rasanya asam manis, sayuran yang sering di gunakan itu biasanya bit, tapi ada juga versi kubis putih dan sayuran hijau, biasanya juga di sajikan dengan krim asam yang di sebut Smetana.
Amar membantu memotong sayuran, sedangkan Asyifa menyiapkan bumbu bumbu yang akan dia gunakan, Banyak canda dan tawa yang mereka lakukan selama memasak, mereka mengenang masa kecil mereka yang bahagia.
Jika ada yang melihat mereka berdua akan mengira mereka adalah sepasang pengantin baru, setelah semuanya selesai, Asyifa menyiapkan hidangan makanan di meja makan, dan Amar pun menyiapkan minumannya.
Mereka berdua lebih memilih untuk makan di balkon, seraya menikmati pemandangan kerlap kerlip ibukota.
" Sebenarnya Aku berencana tinggal di gedung apartemen yang sama dengan Camilla, tapi kau mengacaukan semuanya,!" keluh Asyifa pada Amar, mulutnya masih sibuk mengunyah.
Amar hanya mendengus dingin dan berkata," Perencanaan mu yang kurang matang syif, Aku tidak melarang, Mungkin bagi sebagian orang yang beranggapan bahwa tempat yang paling berbahaya adalah tempat yang paling aman, berlaku untuk mereka, tetapi ini kasusnya berbeda, Camilla bukan seorang yang mudah di tebak, dia licik sekali, dan aku rasa kau lebih tau segalanya tentang dia,di bandingkan dengan aku bukan? Amar menanyakan sesuatu yang tidak perlu di jawab, tentu saja Asyifa sangat mengenal Camilla.
"Tapi,.." Asyifa mulai membantah.
Dengan cepat Amar menyela,"ingat, siapa otak perencanaan kecelakaan itu? CAMILLA bukan? bahkan walaupun kasus itu di usut dan di selidiki, dia tetap tenang dan bebas, karena tak ada barang bukti yang bisa menjeratnya, Publik pasti mendukungnya, karena citra yang sudah di bangun sebelumnya, dia mampu membuat suami mu dan keluarganya, maksud Aku, hanya ibu mertua dan adik iparmu, Ami, memihak dan menjadi jembatan untuk menyingkirkan kamu, atau lebih tepatnya, membunuhmu!" intonasi Amar berubah, menjadi sangat dingin.
Asyifa tidak dapat berkata apa-apa lagi, apa yang Amar katakan adalah sebuah kebenaran.
Amar mendesah pelan sebelum dia berkata," Dan ada satu hal, yang perlu kamu ketahui syif, ketika kamu kecelakaan, hasil laboratorium menunjukkan, bahwa dalam darahmu di temukan zat penggemuk badan, kamu kelebihan berat badan bukan karena life style, tapi karena zat itu, seperti yang kamu tahu, banyak juga para artis yang berubah menjadi obesitas karena mengkonsumsi obat obatan tertentu, zat seperti itu yang ada dalam tubuhmu!"
Asyifa sangat kaget mendengar itu, dia memang samasekali tidak pernah menyangka kebenarannya seperti itu, selama ini dia hanya berpikir jika pola makannya sangat buruk, sehingga terjadi penumpukan kalori, yang akhirnya menjadi lipatan lemak, jika gemuk karena pil KB itu tidak mungkin, karena dia tidak pernah mengkonsumsinya, yang menjadi pikirannya, bagaimana caranya dia bisa mengkonsumsi obat yang membuat berat badannya semakin bertambah, diapun merenung.
Amar melihat reaksi Asyifa yang terkejut dan tiba tiba termenung, dia bisa menebak jalan pikiran Asyifa.
" Kau pasti bertanya, bagaimana caranya Camilla bisa memberikan obat itu, sehingga bisa terserap di tubuhmu, iya kan?"
Asyifa hanya tersenyum, dia memberikan tanda, bahwa dia menyetujui pertanyaan dari Amar.
" Tak ku sangka dan tak kuduga, ternyata otak dari Mr Teddy Bear masih jalan juga,He he he!" kekeh Asyifa.
" Huuft,! Amar mendengus sejenak, dan kemudian berkata," Otakku selalu encer syif, tidak pernah tumpul, apalagi tiga tahun," Dia menyindir Asyifa.
Asyifa yang di sindir malah tertawa terbahak-bahak, padahal Amar sudah bersiap-siap jika Asyifa akan menjitak kepalanya.
__ADS_1
" Hahahaha, kalau di pikirkan lagi, ternyata aku sangat bodoh, menunggu seseorang yang tak pasti, hingga beralih pada sosok toxic seperti itu, sampai sampai aku di singkirkan dan berganti identitas, kalau di pikir ternyata lucu juga yah,." Asyifa tertawa, tetapi ada kesedihan di dalamnya.
Amar berfikir sejenak, " Tunggu, tunggu,! menunggu seseorang? beralih ke sosok toxic?" Amar mengeryitkan dahinya, dia tidak mengerti.
" Maksudnya bagaimana Syif,? aku tidak mengerti," ucap Amar keheranan.
Asyifa tersenyum, sambil menggelengkan kepalanya perlahan, " Sudah, itu hanya masa lalu, sudah tertinggal jauh di belakang, tak perlu dibahas lagi,"
Amar cemberut, bibirnya mengerucut.
Asyifa tidak bisa menahan ketawanya, dia mencubit pipi Amar gemas.
Amar mencoba mengelak, dan tak sengaja memegang kedua tangan Asyifa.
mata mereka saling bersitatap.
Suasana menjadi canggung, kemudian secara bersamaan tawa keduanya meledak.
Mereka saling melepas genggaman satu sama lain, tetapi ada rasa tak rela di hati keduanya.
*Sudah, tolong cuci piringnya, dan bereskan semuanya, Aku mau mandi dulu," perintah Asyifa dan beranjak meninggalkan balkon, Dia buru buru menuju kamarnya, agar Amar tidak menyadari bahwa pipinya memerah.
Amar hanya terbengong sesaat, lalu tersadar, kemudian dia berteriak," Hey, kau benar benar tidak penasaran, bagaimana zat itu ada di tubuhmu?"
Asyifa menyahut dari dalam kamarnya," Itu sudah tak penting lagi, cepat bereskan semuanya, awas kalau tidak bersih yah!" sahut Asyifa dari kamarnya, dia tersenyum sedikit mengerjai tuan Amar.
Amar mendengus kesal, dia segera membersihkan sisa makanan dan mencuci semua yang kotor, dia bersenandung bahagia, mengingat hangatnya tangan Asyifa diapun tersenyum bahagia.
Sementara itu, di rumah Ani, orang tua Ardi.
Ani sedang bersantai di ruang keluarga, dia sedang memegang remot dan menonton acara pencarian bakat, di salah satu stasiun televisi swasta, di sampingnya, ada dua bungkusan keripik kentang yang sudah terbuka.
" Acaranya ngebosenin, juri sama MC nya kebanyakan bercanda,! protes Ani sambil menekan tombol off, pada remot tv, dan meletakkannya kembali ke atas meja.
" Camilla, bagaimana kabarnya ya? apa dia baik baik saja setelah di Serbu netizen? kok sampai sekarang belum ada klarifikasi atau video dia untuk meminta maaf? coba ah, telpon dia" gumam Ani sambil meraih ponsel di sampingnya.
Ani mencari kontak Camilla, kemudian menelponnya.
Telponnya tidak terhubung, Ani mencoba menelpon lagi, tetapi tetap tidak terhubung.
Dia mendengus kesal.
" Lebih baik aku tanya Ami saja, mungkin dia punya informasi tentang Camilla," ucap Ani sambil melirik kamar Ami, anak perempuannya.
Ani beranjak dari sofa dan menuju kamar Ami, untungnya suami Ami sedang berada di luar kota, jadi dia tidak merasa canggung jika mengetuk pintu kamar anak perempuannya itu.
Tap, Tap, Tap.
langkah kaki Ani terdengar begitu nyaring.
Tok Tik , Tok
Ani mulai mengetuk pintu.
__ADS_1
Hening, tidak ada jawaban.
Ani mengetuk pintu lagi, kali ini begitu keras.
Tok, Tok, Tok,
tetap tidak ada jawaban.
" Ami, ..Ami.." panggil Ani dari luar pintu.
Hening juga, tidak ada sahutan samasekali.
Ani hanya mendengus pelan, dan berfikir bahwa Ami sudah tertidur, meski belum terlalu malam, " mungkin pekerjaan di kantor sangat melelahkan, sehingga dia bisa ketiduran seperti itu," Ani mengambil kesimpulan sendiri.
Sementara itu, Ami di kamar sedang mundar mandir gelisah, sesekali dia menyugar rambutnya, terlihat sangat frustasi, hingga tak mendengar suara ketukan dan panggilan dari sang mama, Ani.
" Sekarang aku harus apa? Aku tak mau di penjara, aduh bagaimana ini?" Ami sudah ketakutan, hingga dia tak sadar sudah menggigit kuku tangannya.
Kemudian dia duduk di tepi ranjang dan berfikir, " Lebih baik Aku jujur dengan kak Ardi, sapa tau dia bisa membantu aku keluar dari permasalahan ini, bagaimanapun dia itu CEO, lebih baik besok aku ketemu kak Ardi, mudah mudahan kak Ardi bisa membantu"
Ami pun berbaring, dia mencoba untuk memejamkan matanya.
Sementara itu, Ani yang tidak di tanggapi oleh Ami, beranjak ke dapur, dia haus dan segera meneguk segelas air, tak lama Mira asisten rumah tangganya muncul.
"Mir," panggilnya sembari meletakkan gelas di meja.
Merasa di panggil, Mira menoleh dan menyahut, " Iya, Bu!"
"Kamu tadi ada lihat Ami tidak? Aku panggil panggil dia tidak keluar kamar," keluh Ani.
Mira segera menjawab," Tadi ada Bu, sepertinya mbak Ami tidak enak badan, wajahnya terlihat pucat, tidak cerah seperti biasa, terus tadi, waktu saya tawari makan, dia bilang tidak selera, padahal saya masak makanan kesukaannya loh Bu!"
Ani mengeryitkan dahinya, " Aneh, biasanya dia gak pernah nolak makanan kesukaannya, wajahnya pucat, kira kira sakit apa ya Mir?"
" Jangan jangan, mbak Ami, hamil Bu, biasanya kan gitu, gak selera makan, apalagi bulan ini mbak Ami gak menyuruh saya membeli pembalut, padahal seingat saya ini sudah tanggalnya" Mira mencoba menganalisis situasi, setelah mengingat tanggal penting, tentang datang bulannya Ami, " Kalau saya tidak salah hitung, sudah lewat tiga Minggu Bu, sejak tanggal biasanya mbak Ami haid"
Wajah Ani langsung cerah, senyumnya mengembang, " Waah, kalau itu benar, bentar lagi saya punya cucu Mir, Aku senang sekali, setelah lama, akhirnya bisa gendong cucu, he he he" Ani terkekeh bahagia.
Tia adik perempuannya Ami, yang menuju dapur untuk mengambil puding di kulkas, merasa heran dengan sang mama, Ani, yang terkekeh bahagia, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya," ada apa mah? Bahagia sekali kelihatannya?
Ani segera menoleh, " Tia, bentar lagi kamu'punya ponakan, Ami sedang hamil,! ungkapnya dengan kebahagiaan.
Tia hanya menggelengkan kepalanya perlahan, setelah menyadari kehadiran Mira, " Ami hamil? ini pasti dugaan sekilas dari Mira! mama kok gak pernah berubah sih, Mira di percaya!"
Tia tidak ingin memperpanjang lebih jauh lagi, dia mengambil puding di kulkas, dan segera berlalu ke kamarnya, meninggalkan Ani dan Mira.
***
__ADS_1