
Episode #42
Asyifa segera menghampiri gadis kecil yang terjatuh tadi," Apa kau tidak apa-apa?" tanya Asyifa cemas.
Asyifa berjongkok dan membantu anak seusia Keumala itu berdiri, kemudian Asyifa menepuk nepuk baju anak itu agar debu yang menempel pergi.
Gadis itu tetap hening, seraya memperhatikan wajah Asyifa lekat.
" Lututmu terluka, Ayo kita kesana dulu, Tante obatin lukanya ya?" Asyifa berdiri, hendak menggandeng gadis kecil tersebut.
Sayangnya gadis itu tetap diam dan terpaku di tempatnya.
Dahi Asyifa mengerut," Sayang, jika lukanya di biarkan, nanti infeksi!" Asyifa mencoba membujuk gadis itu dengan lembut.
Gadis kecil itu malah tetap memandang Asyifa dengan tatapan yang sulit untuk di jelaskan.
Asyifa merasa heran," Kenapa sayang?"tanya Asyifa lembut.
" Mami,.." gadis itu berkata lirih.
Mendengar itu Asyifa menengok kekiri dan ke kanan, Dia mencari sosok yang di panggil mami oleh gadis tersebut, nihil, dia tidak menemukan siapapun.
Gadis kecil itu kemudian memeluk Asyifa dengan sangat erat, seolah tidak ingin melepaskannya," Mami,..Mami!"Gadis kecil itu mulai terisak.
Asyifa bingung melihat tingkah gadis itu, walaupun begitu dia tetap membalas pelukannya.
" Jasmine,.. Jasmine!" terdengar suara seorang laki-laki dewasa cukup keras.
Seketika Asyifa menoleh ke suara itu.
" Daddy!" Gadis kecil itu melepaskan pelukannya dan berlari menghampiri laki laki tersebut.
Lelaki tersebut langsung memeluknya.
" Apa kau terluka? Daddy dengar kau jatuh dari sepeda? Sudah berapa kali Daddy katakan untuk tidak membawa sepedanya kencang kencang, kau kan baru belajar naik sepeda?" lelaki tersebut mengomel.
Asyifa hanya tersenyum melihat interaksi ayah dan anak itu, Dia jadi mengingat masa-masa dia juga baru belajar naik sepeda, papanya juga akan marah jika dia membawa sepedanya kencang kencang, dan akhirnya jatuh, mengenang itu rasa rindu itu muncul lagi.
Jasmine gadis kecil itu tidak terima, dan mengerucutkan bibirnya, dia melipat tangannya di depan dadanya," Jika aku tidak terjatuh, aku tidak akan bertemu mami!" Dia menunjuk kearah Asyifa.
Laki laki itupun melihat ke arah sesuai dengan arah telunjuk anak perempuannya, sama seperti Jasmine, Diapun tertegun, wajah perempuan di depannya itu, begitu mirip dengan mendiang istrinya," Pantes aja Jasmine mengira ini maminya!" batinnya.
Asyifa yang di tatap seperti itupun salah tingkah, Diapun kemudian melambaikan tangannya seraya memperkenalkan diri," Hai, aku Asyifa, tadi Aku melihat Jasmine terjatuh dari sepeda, aku hanya ingin menolongnya!" ucap Asyifa sambil tersenyum.
Jasmine sudah berada dalam gendongan ayahnya, keduanya menghampiri Asyifa.
__ADS_1
" Apa kamu, Asyifa Prameswari? Mahasiswa bimbingan profesor Wilson?" tanya pria itu.
Asyifa mengangguk," Benar! Saya adalah mahasiswa bimbingan profesor Wilson, saya ada janji bertemu dengannya saat ini, hanya saya masih mengantri, teman saya Katy masih berada di dalam,".
" Ha ha!" lelaki tersebut tertawa, " Temanmu Katy sudah selesai dari tadi, Aku menunggumu tapi kau tak kunjung datang, ternyata putriku menahanmu di sini,"
Asyifa menutupi mulutnya dengan kedua tangannya, walaupun teman afrikanya bilang kalau profesor Wilson masih muda, dia tidak membayangkan jika penampilannya persis seperti anak muda, tidak seperti akademis senior yang ada di pikirannya.
" Maaf profesor Wilson, saya tidak mengenali anda!" Asyifa tersenyum canggung.
" Tidak masalah, semua orang yang melihat saya pertama kali juga memiliki reaksi yang sama seperti anda, oh ya, panggil saja saya dengan nama langsung, Wilson, jangan pakai embel-embel prof, di sini kita biasanya di panggil dengan nama!"jelas Wilson.
Jasmine kemudian merengek," Daddy, mau di gendong mami!"
Wilson menggeleng gelengkan kepalanya, " Tidak sayang, ini Tante Asyifa bukan mami, maminya Jasmine kan sudah ada di surga," Wilson berusaha menjelaskan.
" Mau sama mami! Aku mau sama mami!" Jasmine meronta-ronta minta di lepaskan.
Asyifa mendesah, dia paham sekali Bagaimana perasaan Jasmine yang sangat merindukan kehadiran seorang ibu.
" Biar saya gendong saja ya? Kasian Jasmine!" Asyifa menyetujui permintaan gadis kecil itu.
" Jasmine kan sudah besar, badannya sudah berat kalau di gendong tante Asyifa, tantenya pasti tidak kuat, Jasmine jalan saja ya, tangannya di gandeng Tante Asyifa,"
Jasmine mengangguk, Diapun kemudian meminta turun, lekas dia menggandeng tangan Asyifa erat.
" Maaf jika tingkah Jasmine terlalu absurd, karena wajah kamu mirip sekali dengan mendiang maminya Jasmine!" ucap prof Wilson hati hati.
" Tidak masalah, saya tidak memasukan hal itu kedalam hati saya," Asyifa sadar tentang kemiripan wajahnya dengan orang lain. bagaimanapun ini bukan wajah aslinya, ini hasil operasi plastik yang di lakukan di Seoul beberapa waktu lalu.
prof Wilson mengangguk lega," Oh ya, omong omong, bagaimana dengan essai yang saya tugaskan! Apa ada kesulitan?"
Ketiganya menuju ruangan prof Wilson, Jasmine berjalan di tengah, dia menggandeng ayah dan Asyifa, mereka persis seperti keluarga yang bahagia.
Beberapa jam kemudian, di mansion kediaman Stewart.
Elysa Stewart, mamanya Amar tertawa terbahak bahak di telepon,
dia beberapa kali memuji gadis kecil yang berada di layar ponselnya.
Amar pun datang, sesaat setelah Elysa memutuskan telponnya.
Kemudian Amar duduk di samping Elysa, dia menyesap teh yang sudah di hidangkan oleh pelayan.
" Siapa ma? Sepertinya mama senang sekali?" tanya Amar.
__ADS_1
" Itu, tadi si cantik Jasmine menelpon, dia bercerita jika dia mengerjai ayahnya!" Elysa menuangkan teh dari teko kedalam gelasnya.
Amar mengerutkan dahinya," Trus? Bukankah setiap hari kerjaannya hanya menjaili ayahnya?"
Elysa menggeleng," Kali ini berbeda Amar, Dia mau menjodohkan ayahnya dengan salah satu mahasiswi bimbingan ayahnya, kata Jasmine, perempuan itu sangat baik, dan mirip dengan mendiang mamanya!"
" Bagus dong ma! Lagian juga Wilson sudah terlalu lama menduda! Biarlah dia menikah lagi, Aku setuju dengan Jasmine! Amar bersemangat.
Amar belum pernah melihat istri dari Wilson sebelumnya, ketika Wilson menikah, dia sedang praktik kuliah di Kanada, dan ketika dia kembali ke London, Wilson dan istrinya sudah berangkat ke Amerika serikat, Wilson mengambil gelar doktornya di sana, pun ketika istrinya Wilson meninggal, dia sudah pulang ke Indonesia.
" Baiklah, aku juga setuju, bagaimanapun Wilson masih muda, dia masih butuh seorang pendamping, mudah mudahan dia berjodoh dengan mahasiswi nya tersebut!" Elysa berharap.
" Oh ya, Bagaimana urusanmu dengan cucunya tuan Jhonson?" Elsye mengalihkan pembicaraan.
" Rebecca, salah satu cucunya yang baru aku temui mengajakku makan malam, Aku pikir dia tidak akan menghubungiku tapi ternyata salah!" Amar menghela nafasnya.
" Akh, perempuan itu, di bandingkan Rebecca, mama lebih suka dengan Raya, anaknya lebih lembut dan rendah hati, berbeda dengan Rebecca yang sedikit sombong!" Elysa menyesap tehnya kembali.
" Apa mama mengenal semua cucu tuan Jhonson?" Amar nampak kaget.
Elysa menyipitkan matanya, " Semua anak Darren tentu saja aku kenal, baik dari istri yang dulu ataupun istri yang sekarang, bagaimanapun kita tumbuh dan besar bersama," Elysa menghela nafasnya pendek," Hanya anak dari Lady yang aku tidak kenal!"
" Mama, Apakah mama bermasalah, seandainya sosok yang aku cintai adalah seorang yang sudah pernah menikah Sebelumnya? maksudku, dia seorang janda! Apakah mama setuju?"Amar menatap Elysa dengan pandangan yang penuh harap.
Majalah yang ada di tangan Elysa langsung terbang ke kepala Amar.
" PLAK!" Karena tidak ada persiapan, majalah itu mendarat mulus di kepala Amar.
" Mama, jangan lempar majalah sembarangan, lihat, rambutku jadi berantakan lagi!"Amar memperbaiki rambutnya, yang sedikit berantakan karena hempasan majalah.
" Untung kepalamu yang kena, padahal target mama adalah mulutmu itu, pertanyaanmu itu lagaknya merendahkan status janda saja, Lihat pangeran Harry, istrinya janda, Lihat Raja Edward yang rela turun tahta dari Raja Inggris, Demi Willis Simpson, seorang wanita yang sudah menjanda dua kali, sosok yang tak kalah penting lagi, Lihat Gatot Atmaja, ayahmu, yang menikah Elysa Stewart, seorang janda yang di tinggal mati oleh suaminya!" Elysa mendengus.
Amar terbelalak kaget," Apa? mama juga seorang janda ketika menikah dengan papa? kenapa aku tak pernah tahu?"
" Karena kau, terlalu cuek dan tak perduli apapun, sekarang coba kau pikir, kenapa nama belakang Wilson adalah Smith? Bukan Stewart ataupun Syaputra? Wilson itu adalah anak yang aku adopsi dengan suami pertamaku, oleh karena itu, kau di anggap cucu tertua oleh keluarga Stewart, karena darah Stewart mengalir dalam darahmu!"Elysa mengatakan lebih lanjut, dia mengambil majalah yang di lemparkan kepada anak sulungnya itu.
Amar sedikit terhenyak dengan fakta yang baru saja dia ketahui, senyumpun berkembang Sekarang, dia sudah tak khawatir lagi dengan status Asyifa.
" Oh ya, Kamu akan pergi ke pertanian, kan?" Elysa bertanya.
" Iya ma, untuk sementara ini, kakek menempatkanku di sana, kenapa ma?"tanya Amar, jarang sekali mamanya bertanya tentang kegiatannya.
" Mama ikut, Mama mau membuat pesta ulang tahun Jasmine di sana, mama mau mendekor nya,," pinta Elysa.
Amar mengangguk, dia segera berlalu meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
****