Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Last memory


__ADS_3

Episode #13


   Malam belum begitu larut ketika Ardi membelah jalanan Jakarta, untuk menenangkan dirinya dari keterkejutan malam ini, tidak bisa pemuda itu pungkiri bahwa saat ini kondisinya begitu kacau, kenyataan tidak sesuai dengan harapan yang terlanjur di yakini nya, gerimis yang turun seolah mewakili perasaannya atas dasar kehilangan, entah itu kehilangan Asyifa atau kehilangan harta dan status yang begitu di puja olehnya.


  Dia begitu sedih, bahwa langkah yang telah dia tempuh selama ini telah salah arah, dia hanya bisa menelan kekecewaannya sendiri.


    " Di salah satu perempatan lampu merah Ardi menutup matanya sejenak , pikirannya melayang di peristiwa empat tahun yang lalu, di mana dia pertama kali berjumpa dengan Asyifa di kantor PT GARUDA TV NUSANTARA, seluruh karyawan di kantor sangat mengagumi Asyifa, perawakannya yang cantik dan begitu anggun banyak yang ingin mendekatinya, tetapi mereka kurang percaya diri dengan latar belakang keluarga Asyifa dan posisinya sebagai manager umum kala itu.


  Ardi masih mengingat awal kedekatan nya dengan Asyifa, kisahnya begitu manis persis seperti novel atau film romantis, dia masih mengingat dengan jelas ketika pertama kali mereka mengobrol .


   Malam itu sekitar pukul sembilan malam, Ardi kembali ke kantor karena ada berkas penting yang harus di presentasikan di kantor klien keesokan harinya tertinggal, daripada dia bulak balik kekantor trus ke kantor klien akan memakan waktu yang lama dan takutnya dia terlambat, dengan bantuan satpam Ardi memasuki kantor dan langsung menuju ke meja kerjanya.


Ardi melangkah pelan suara langkah kakinya begitu jelas sepanjang koridor, lelaki itu memperhatikan sekitarnya, semua lampu sudah di matikan, hanya lampu tertentu yang di jadikan penerangan, kesan mistis begitu terasa, Ardi yang memang agak penakut seketika merinding, lekas dia berlari ke meja kerjanya dan langsung membawa berkas tersebut.


Ketika menuju lift Ardi harus melewati kamar mandi, samar dia mendengar gemericik air dan langkah kaki, jantungnya memompa darah dua kali lebih cepat, warna wajahnya berubah menjadi pucat, tangannya menggigil kakinya tidak bisa di gerakkan, Ardi begitu ketakutan, ingin sekali lelaki itu berteriak, tapi suaranya tercekat di kerongkongan, dia mengamati sekeliling tapi memang tidak ada orang selain dirinya.


Suara gemericik air tiba tiba berhenti, berganti derap langkah kaki yang terdengar begitu jelas, bulir bening keringat sebesar biji jagung sudah menghiasi wajah pusatnya Ardi.



" KREK,"


Suara pintu kamar mandi terbuka, Ardi semakin ketakutan ketika melihat sosok makhluk berambut panjang sepinggang sontak lelaki itu berteriak.


"Ha,.. Hanntu,!"


Mendengar teriakkan tersebut, sosok yang keluar dari kamar mandi begitu terkejut, gegas dia berlari dan langsung menabrak Ardi yang tidak jauh dari kamar mandi.


" Bruuk,"


Ardi terjatuh setelah di tabrak sosok tersebut, tas tangan terbaru wanita itu langsung mengenai wajahnya Ardi,


"Auuch," Ardi mengaduh kesakitan.


"Han,. tunya mana? tanya sosok wanita tersebut kepada Ardi.


Sejenak mereka terdiam, hening, tak ada suara.


Kemudian mereka tertawa bersama sama, menyadari bahwa sosok hantu yang mereka maksud adalah sosok tersebut yang tak lain adalah Asyifa.


Ardi yang sejak awal begitu mengagumi sosok Asyifa semakin terpana melihat gadis itu tertawa, di kantor sosok tersebut jarang sekali tertawa lepas seperti di hadapannya sekarang, gadis itu hanya tersenyum tipis saja di hadapan semua orang, begitu elegan dan anggun.


"Maaf ya pak,.. saya membuat anda terjatuh dan secara tidak langsung menakuti anda!" Asyifa tersenyum dan meminta maaf, seraya memapah Ardi untuk berdiri.

__ADS_1


Ardi yang begitu terpana dengan senyuman Asyifa mematung sesaat.


" Pak,!" sapa Asyifa.


" Panggil Ardi aja ya mbak, saya merasa tua sekali di panggil bapak,!" kekeh Ardi.


"Panggil saya Syifa saja kalau begitu, gak usah pakai embel embel mbak," lontar Asyifa masih dengan senyum manisnya.



Mereka berdua pun keluar dari kantor, dari kejadian tersebut Ardi dan Asyifa semakin dekat.


"Tiiin !"


" Tiiiin,!"



"Tiiin,!"


Suara klakson mobil segera membuyarkan lamunan Ardi, segera Ardi menyetir kembali, dan tanpa sengaja bola matanya melihat sebuah mobil yang begitu familiar, lekas pandangannya beralih ke arah plat nomor tersebut untuk memastikan tebakannya.


Tebakannya benar, itu adalah mobil Camilla, hadiah ulang tahun dari mendiang istrinya, gegas dia mengikuti kemana mobil itu pergi, dia tak ingin kehilangan jejak, dia harus memastikan kemana dan dengan siapa Camilla itu pergi.


" Rasanya aku pernah melihat laki laki itu, tapi di mana ya,? wajahnya sungguh tak asing," Ardi bergumam pelan, tak ia sadari tangannya mulai mengelus elus dagunya tanda dia sedang berpikir atau mengingat ingat sesuatu.


Lama dia berpikir, namun Ardi masih belum mengingatnya.


" Apa yang harus aku lakukan ya,? masa ya Camilla berkhianat ,! tidak mungkin,! Ardi berspekulasi sendiri.


" Ini kesempatanku untuk mengetes kejujuran CAMILLA, !" desisnya pelan.


Segera ardi mengambil telponnya dan menekan kontak Camilla.


" Tuutt,.. Tuuut,.. Tuuut, "


Panggilan pertama tak di angkat.


" Mencurigakan!" gumam Ardi.


Lanjut lagi dia menghubungi kembali.


"Tuuut,.. Tuuut,.. Tuuut,'

__ADS_1


masih belum tersambung.


" Kali ini kesempatan terakhir, kalau tidak di angkat aku susul mereka!" geram Ardi.


Pada panggilan ketiga ini Camilla mengangkat telponnya.


" Hai, sayang,!" sapa Camilla ramah dan bernada manja.



" Lagi di mana,?" tanya Ardi nada suaranya ketus dan dingin.



Camilla terdiam.



"Lagi di mana Camilla?" Ardi bertanya lagi nada suaranya semakin dingin.


" Aku lagi di hotel sayang,..aku ada endorse!" Camilla menjawab masih dengan nada genit.


" Share lock aku kesana sekarang,!" titah Ardi.


" Gak usah sayang, jauh,.. kasian kamunya, besok kamu mesti kerja, lebih baik kamu istirahat saja sayang,!" Camilla masih mencoba merayu Ardi agar tidak di datanginya.


" Camilla,!" nada suara Ardi semakin dingin.



" iya, iya, aku share lock,.. kamarnya nomor 150 ,!" balas Camilla yang tidak ingin memperpanjang masalah, setelah itu dia menutup telponnya.



Setelah menutup telponnya Ardi berpikir bahwa Camilla begitu jujur padanya, segera dia memasuki hotel tersebut, menuju parkiran, setelah itu gegas dia menuju nomor kamar tersebut.


Setelah sampai di kamar hotel Ardi terkejut oleh penampakan CAMILLA yang begitu memukau di tempat tidur, gaun tidur yang di kenakannya begitu **** dan terbuka, apalagi posenya begitu menantang, semua kaum Adam yang melihat ini akan neneguk ludah, tak ada kata lain selain sempurna, yang cocok di sematkan pada gadis blasteran itu.


Ardi kemudian mengalihkan pandangannya ke arah sang fotografer, bentuk tubuh yang tinggi dan tegap serta cambang halus di rahangnya akan menyihir para kaum hawa dengan sosoknya, tapi Ardi percaya kalau CAMILLA tidak akan tergoda.


Kemudian dia mengalihkan perhatiannya pada cara dia memotret CAMILLA, gerakkannya begitu profesional dan lelaki tersebut tahu bagaimana menahan diri dari pesona gadis tersebut, sepertinya dia sudah terbiasa dengan pemandangan ini, pikir Ardi, sambil mencari duduk di belakang fotografer.


******

__ADS_1


__ADS_2