
Episode #123
Malamnya, Ardi dan Camilla Sudah tiba di ibukota, gemerlap lampu neon dan kemacetan langsung menyapa, sehingga ketika sampai di apartemen Camilla, keduanya langsung membersihkan diri dan langsung tertidur.
Keesokan paginya, Ardi terbangun dan segera berlalu ke kamar mandi, dia masih tidak menyangka, bahwa dia sudah menikah lagi, dan melepas masa dudanya.
Setelah mandi, Ardi segera bergegas meraih pakaian kerjanya, beberapa pakaian kerja dan kasual memang terpampang rapi di lemari apartemen Camilla, untuk berjaga jaga jika sewaktu-waktu dia menginap.
Camilla masih membungkus dirinya dalam selimut, hanya kepalanya saja yang terlihat.
Ardi hanya bisa menggelengkan kepalanya, kini status mereka sudah berbeda, seharusnya Camilla lebih peka untuk memenuhi tugasnya sebagai seorang istri, bukannya menyiapkan sarapan untuk sang suami, malah asik dengan alam mimpinya.
Setelah mengenakan pakaian Ardi beranjak ke ranjang, dia menyingkap selimut yang menutupi istrinya, dan menepuk nepuk pipi wanita itu perlahan.
" Mil,... Mila!" ujar lelaki itu membangunkannya.
Mendengar suara dan merasakan tepukan ringan di wajahnya, Camilla mengerjap dan membuka matanya, ketika dia melihat, ternyata Ardi, Dia membalikkan badannya, dan meraih selimut untuk membungkus tubuhnya kembali, kali ini wajahnya pun di benamkan dalam selimut, sehingga Ardi hanya melihat gumpalan selimut di atas ranjang.
Ardi pun menggelengkan kepalanya perlahan, dia beranjak dari ranjang, sambil memakai dasi dia berkata," Sayang, buatin aku sarapan dong, Aku mau berangkat kerja,"
Hening, tidak ada jawaban samasekali.
"Sayang!" panggil Ardi lagi.
Hening, masih tidak ada suara.
" Camilla!" kali ini Ardi memanggil dengan namanya.
" Aku masih ngantuk sayang, lagi pula kita baru pulang semalam, tidak ada bahan makanan, Ada dua bungkus lagi mie instan di laci dapur, kamu masak aja ya? Sekalian buatin aku, Aku juga laper!" Camilla mengucapkannya masih di dalam selimut, tidak ada niat untuk menyingkapnya, sekalipun hanya wajahnya.
Ardi menghela nafas, " Kamu lanjut saja tidurnya, Aku sarapan di kantor saja!" Setelah mengatakan itu, Ardi keluar dari apartemen Camilla, di lobi sudah ada pak Karim, supir kantor yang di kirim Ferdinand untuk menjemput Ardi, karena mobil Ardi masih ada di rumahnya.
Di dalam perjalanan, Ardi tidak bisa menyembunyikan rasa gelisah nya, perasaan tak nyaman seperti ini sangat menyiksanya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, Galau atau berpikir berlebihan hanya akan mengacaukan pikirannya, " Sepertinya aku butuh kafein" pikirnya.
__ADS_1
Sesampainya di kantor, tidak ada perubahan apa apa, semuanya berjalan seperti biasa, Ardi pun melangkahkan kakinya ke arah ruangannya, sebelum itu, dia melewati meja Ferdinand, Nampak Ferdinand Sedang sarapan pagi di mejanya, sambil menonton serial animasi one piece.
" Hmmp!" Ardi mendehem, melihat Ferdinand yang lahap menyantap nasi goreng, sebagai sarapannya, seketika rasa lapar yang tadi terlupakan datang kembali.
Mendengarkan ada suara deheman, Ferdinand menoleh, dan melihat ada Ardi di depan mejanya, sebenarnya dia tidak kaget samasekali, tetapi demi aksinya, Diapun berpura-pura ketahuan, sedang menyalahgunakan fasilitas kantor demi kesenangan pribadi.
" Eh, pak bos sudah datang, Bagaimana cutinya bos?" tanya Ferdinand, seraya mematikan laman tempat dia menonton video, Diapun langsung meletakkan piringnya di atas meja.
Ardi melirik isi piring tersebut, rasa laparnya semakin menguat.
" Bagaimana kantor! Selama saya pergi?" tanya Ardi berbasa-basi.
"Semua pekerjaan pak bos sudah saya tangani!" Ferdinand berkata jujur, dia sudah sangat paham pekerjaannya, jika menggantikan peran si bos.
" Baguslah kalau begitu," ucap Ardi, dan segera beranjak ke dalam ruangannya.
" Pak bos, tunggu sebentar!" Ferdinand berusaha menahan langkah Ardi yang hendak mendorong pintu ruangannya, seketika Ardi menurunkan tangannya dan melihat ke arah Ferdinand.
" Ya, sahut Ardi seraya melengkungkan alisnya.
" Sampaikan ucapan terima kasih saya pada mamamu ya, Ferdinand!" setelah mengatakan itu, Ardi mengambil kotak nasi goreng, dan berbalik badan menuju ruangannya.
Ferdinand tersenyum, senyum yang amat manis, kemudian dia duduk kembali dan melanjutkan menonton film animasi kesukaannya, seraya mengirimkan pesan kepada seseorang.
Ardi sebenarnya sangat bahagia, mendapatkan makanan gratis, apalagi dia memang sudah kelaparan, karena makan terakhirnya ketika transit di bandara Juanda Surabaya.
Ardi membuka kotak makanan itu, aromanya begitu menggiurkan, menggugah selera, tak perlu waktu lama, dia segera mengambil sendok dan menyuapkan ke mulutnya.
Sekali kunyah.
Dua kali kunyah.
Di kunyahan ketiga, dia mengeryitkan dahinya, Rasa nasi goreng ini serasa tak asing, Ardi berhenti mengunyah, dan kemudian dia baru tersadar sesuatu, citra rasa masakan ini, begitu sama dengan masakan yang pernah dia makan beberapa waktu lalu, saat dia masih menjadi suami Asyifa.
__ADS_1
Tiba tiba ingatannya kembali, di awal awal pernikahannya dengan Asyifa.
" Selamat pagi sayang, Sana kamu mandi dulu, siap siap berangkat kerja, aku sedang masak nasi goreng, baju kerja kamu sudah saya siapkan di atas tempat tidur," Begitulah suara Asyifa, menelpon suaminya, ketika dia sedang memasak dan Ardi masih tertidur, jika sedang tidak terburu-buru, dia akan membangunkan suaminya dengan penuh kasih sayang.
Ardi menarik nafasnya, entah bagaimana bisa, rasa masakan nasi goreng mamanya Ferdinand, bisa sama dengan masakan nasi goreng Asyifa, hal ini mengingatkannya, pada sosok istri sempurna tersebut, seseorang yang selalu menjadikan suaminya sebagai prioritasnya.
Membandingkannya dengan Camilla, yang ogah-ogahan bangun menyiapkan sarapan paginya, Ardi hanya tersenyum masam
Tidak ada yang tahu, jika kado pernikahan Camilla dan Ardi, sudah di terima oleh Ardi, rasa membandingkan dan menyesal itu, begitu tidak nyaman.
Asyifa meminta Ferdinand untuk menyiapkan sarapan nasi goreng, sesuai dengan resep yang ia berikan, karena Ardi tidak dapat di pastikan, kapan dia masuk ke kantor lagi, jadi Ferdinand setiap hari, membawa dua bekal kotak makanan, dan, lagi lagi ibunya di jadikan alasan.
Tidak terasa jam pun berganti, sudah saatnya jam menunjukkan waktu untuk pulang kantor, Ardi mengambil kunci mobil dari pak Karim, sang supir kantor.
Lelaki itu akan memakai mobil kantor untuk pulang ke rumah mewahnya.
Ardi berkendara menuju apartemen Camilla, entah kenapa, semakin mengingat rumah mewahnya, semakin gak nyaman perasaannya.
Perjalanan tidak lama, hanya satu jam dengan kemacetan, Ardi sudah tiba di apartemen Camilla.
setelah sampai pintu apartemen, dia membuka pintu dan menyapa sang istri.
" Sayang,.. Aku pu,.." belum selesai Ardi mengeluarkan suara, dia terhenyak dengan pemandangan di depan matanya.
Camilla Sedang mengemasi barangnya tanpa terkecuali.
" In,..ini,.." Ardi seketika kehilangan kemampuan bicaranya.
" Tenang sayangku, Aku Sudah selesai berkemas, Aku Sudah memberitahu pihak pengelola apartemen bahwa aku akan keluar hari ini, mulai malam ini, kita akan terus bersama," Camilla langsung menghambur ke dalam pelukan Ardi.
" Ayo, kita turun ke bawah, Aku Sudah tidak sabar mau pindah ke rumah kita," Ajak Camilla seraya menyeret kopernya ke arah parkiran.
__ADS_1
Ardi kehilangan kata kata.
****