Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Sebuah rencana


__ADS_3

Episode #57


  Asyifa baru saja selesai menyiapkan makan malam, bel unitnya berbunyi, Asyifa mengeryitkan dahinya," Siapa yang datang bertamu di jam makan malam seperti ini? perasaan aku tidak ada janji dengan siapapun?"pikir Asyifa, perempuan itu membuka celemek nya, mencuci tangannya kemudian berjalan ke arah pintu.


  Asyifa kemudian membukakan pintu, dan sedikit terkejut melihat sosok yang ada di depannya," Tumben, kamu pakai pencet bel segala, biasanya juga langsung masuk aja, ah, gara gara tingkahmu yang sopan ini, aku berpikir ada tetangga yang komplain karena bau terasi, yang menurut mereka baunya sangat tidak nyaman," Asyifa langsung berjalan kearah meja makan, dia pun duduk di sana.


  Ferdinand cengengesan," Maaf Bu Boss, saya pikir pak Amar masih di sini, saya takutnya kebablasan seperti tadi!"


  Beberapa detik kemudian Ferdinand menyadari sesuatu," Sebentar Bu Boss, Tadi Bu Boss bilang ada sambel terasi?" Ferdinand langsung berlari menyusul Asyifa ke meja makan.


  " Wuih, ada sambel terasi," Ferdinand bersorak, lidahnya masih belum bisa beradaptasi dengan makanan di sini, jadi, begitu melihat nasi hangat, ikan asin, sambel terasi, Aneka lalapan, perutnya langsung keroncongan minta di isi," Wah, ada petai juga!" Ferdinand berseru, dia mengambil satu papan petai dan langsung mengupasnya.


  " PLAK!" Asyifa menampar tangan Ferdinand," Jorok ih, Sana cuci tangan dulu baru makan!" Asyifa mengomel.


  " Siap Bu Boss, perintah di laksanakan!" Ferdinand langsung berdiri tegap, dengan mengangkat lengan kanannya, dan langsung membentuk sikap hormat, yang umumnya di lakukan oleh anggota berseragam, dia menurunkan tangannya, dan berbalik menuju wastafel.


  Asyifa Hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, beberapa kali melihat tingkah kocak Ferdinand, semua tingkahnya, benar benar menurun dari sang Enyak.


  Selesai mencuci tangan, Ferdinand kembali ke meja makan, kelenjar Saliva nya sedari tadi sudah bekerja, hampir saja, ludahnya menetes, karena dia sangat merindukan makanan khas ibu Pertiwi ini.


  " Jadi Bu Boss Sudah bertemu pak Amar, maaf banget ya Bu, Saya tidak tahu jika saat itu pak Amar sedang bertamu!" Ferdinand sebenarnya merasa malu untuk mengakuinya, jadi dia langsung menyuapi ikan asin dengan nasi panas tersebut kedalam mulutnya.


  Asyifa hanya bisa mendesah pelan," Aku pikir semuanya akan terasa mudah, tetapi semuanya akan semakin sulit kedepannya!" Jawab Asyifa, tangan kanannya sudah mulai mengaduk aduk nasi di depannya.


  Kunyahan Ferdinand terhenti, begitupun dengan tangannya yang sedari tadi sibuk dengan mencampurkan nasi, sambel terasi dan ikan asin, dalam satu suapan.


" Maksud Bu Boss apa? Saya benar-benar tidak mengerti!"


  Asyifa menelan makanannya Terlebih dahulu sebelum dia melanjutkan," Kita akan berusaha lebih keras lagi di sini Ferdinand, sepertinya tujuan awal kita yang sebenarnya untuk melanjutkan pendidikan akan menjadi sebuah kedok saja, alias penyamaran!"


  Ferdinand terlihat bingung, tanpa di ungkapkan saja terlihat jelas dari ekspresinya, yang begitu jelas.


  " Kali ini kita akan menemui seorang musuh yang sepuluh atau bahkan seratus kali lipat lebih kuat dan berkuasa dari Angga Kusuma dan Camilla, terlebih lagi ini bukan wilayah kita!" Asyifa pun menjelaskan tentang identitasnya dan permasalahan yang sedang di hadapi saat ini, perempuan itu bahkan tak menutupi apapun dari si jago silat Cimande ini.


  Ferdinand cukup tercengang dengan identitas asli Asyifa, awalnya, Ferdinand sudah curiga ketika dia mengantri di garis yang berbeda, ketika hendak melapor pada pihak imigrasi dan bea cukai, di bandara Heathrow ketika mereka mendarat pertama kali di London, namun dia tidak menyangka bahwa keadaannya akan serumit ini.


  " Saya,.. Saya tidak dapat berkata apa-apa lagi Bu Boss, saya merasa terjebak di sebuah novel atau film sebagai pemeran pendukung!"Ferdinand tidak tahu harus berkomentar apa lagi.


  " Namun, setidaknya kehidupan Bu Boss lebih berwarna, di bandingkan dengan ke banyak orang, he he!"Ferdinand melanjutkan makannya kembali.

__ADS_1


  Asyifa mencebikkan bibirnya," Sudah, Selesaikan makanmu, setelah itu, kamu bawa laptop mu kesini, kau punya pekerjaan tambahan!" setelah mengatakan itu Asyifa melanjutkan makannya.


  " Bu Boss, boleh minta petenya ga, satu papan lagi?" Mata Ferdinand memelas.


  Asyifa langsung menyembunyikan semua petai yang tersisa," Tidak boleh, Kalau pekerjaanmu beres, baru di upah pete!"


  " Ya ampun Bu Boss, timbang pete doang!" Ferdinand masih berusaha membujuk Asyifa.


  " Eh, anak lakinya si Enyak, elu kate ini kampung halaman engkong elu, sepapan pete dapet tiga ribu doang! Di sini, nih Pete harganya mahal, udah gitu langka lagi! sono buruan abisin, entar kalo kerjaan elu kelar, baru aye hadiahin sepapan pete lagi!" Asyifa menirukan cara bicaranya Enyak nya Ferdinand.


  " Iye!" Ferdinand pun menghabiskan makanannya, bibirnya mengerucut.


  Asyifa tertawa sendiri melihat tingkah Ferdinand, Diapun melanjutkan makannya.


  Tiga puluh menit kemudian, acara makan selesai, seperti sudah ada kesepakatan tidak tertulis, jika Asyifa yang memasak, jadi Ferdinand yang membereskannya, begitupun sebaliknya.


Setelah selesai mencuci piring dan membereskan dapur serta meja makan, Ferdinand kembali ke unitnya di sebelah kamar Asyifa, dia membersihkan diri dahulu, memakai piyama dan langsung membawa laptop andalannya ke apartemen Asyifa.


  Asyifa Sudah menyediakan beberapa cemilan dan seteko wedang jahe.


  " Bu Boss, sekarang kita lakuin apa dulu nih?"Ferdinand sudah membuka laptopnya dan menekan tombol power, tak lama kemudian, musik pembuka pun terdengar, laptop Ferdinand siap untuk di pakai.


  Asyifa menuangkan segelas wedang jahe dan memberikannya kepada Ferdinand, tak lupa ketika suhu wedang itu berubah, dari panas menjadi hangat, Asyifa menambahkan sesendok madu.


  Asyifa mengangguk," Saat ini kita belum bisa melakukan tindakan apa apa, satu satunya cara yang bisa kita lakukan sekarang adalah, menyelidiki dan mengetahui, siapa saja musuh atau lawan kita yang sebenarnya, jadi aku akan menunjukkan sosok yang berpura-pura jadi Aku, anak perempuan Lady, entah siapa dalang di balik itu semua, tapi aku yakin, itu pasti masih berhubungan dengan mamaku, jadi coba kamu telusuri rekaman kamera pengawas seminggu yang lalu di hotel Five season di Park Lane Mayfair!"


  Ferdinand mengangguk, Asyifa kemudian meninggalkan Ferdinand yang mulai bermain dengan berbagai kode di laptopnya, Asyifa lebih memilih mengerjakan beberapa esai kuliahnya, seraya menunggu hasil kerja Ferdinand.


  Ferdinand mulai bekerja, dia mulai menebak user dan password dengan perhitungannya sendiri untuk mendapatkan nomor seri kamera, setelah mendapatkan nomor seri kamera tersebut, Ferdinand dengan mudah dapat dengan mudah mengakses rekaman video dan audio dari kamera pengawas, hal ini pasti tidak terlalu sulit bagi Ferdinand, karena sistem dari kamera pengawas tersebut memang terbukti rentan, terlebih lagi Ferdinand sudah sering kali melakukan hal ini, jadi dia sudah sangat berpengalaman.


  " Bu Boss, rekamannya sudah dapat!"teriak Ferdinand.


  " Hah?" Asyifa sedikit terkejut, dia kira waktunya akan lama, sehingga dia memutuskan untuk menunggu, seraya mengerjakan essainya, Asyifa baru saja membaca beberapa sumber, dan baru mulai mengetik, tapi sudah di kagetkan dengan teriakkan Ferdinand.


  Asyifa meninggalkan laptopnya dan berjalan menuju sofa, di ruang keluarga tersebut, melihat Bu Boss sedang berjalan kearahnya, Ferdinand sudah siap untuk memutarnya.


  Asyifa duduk, Ferdinand pun langsung menekan tombol enter, rekaman pun di mulai.


  Dalam rekaman tersebut, terlihat beberapa tamu undangan, Asyifa banyak melewatkannya, dan langsung memutar, ketika melihat Molly keluar.

__ADS_1


  Dalam video tersebut, baik Asyifa maupun Ferdinand, menonton dengan seksama, di situ pulalah akhirnya Asyifa mengenal siapa kakeknya sendiri, Edmund Jhonson dan pamannya Darren Jhonson, terlihat Edmund menggandeng tangan Molly dan memperkenalkannya ke semua tamu undangan.


  Asyifa terdiam, rasa sesak mendera dadanya, dia bukannya cemburu, karena tempatnya sebagai bangsawan di rebut, dia cemburu melihat bagaimana Edmund menggandeng tangan Molly.


  Satu menit berlalu, tidak ada percakapan diantara mereka, rekaman kamera pengawas tersebut sudah berhenti.


  " Bu Boss, kalau boleh saya berbicara jujur, perempuan bernama Molly itu sangat mirip dengan Bu Boss dulu, ketika belum menikah! Jika melihat kalian berdua, pasti banyak yang mengira jika kalian ada hubungan keluarga," akhirnya Ferdinand mengeluarkan pendapatnya, kesan pertama melihat Molly sama dengan kesan Amar.


    " Iya, Aku tahu," Asyifa mendesah pelan," Bahkan Aku Sudah bertemu dengannya, dia bersikap anggun dan elegan, sebagaimana keluarga bangsawan,"


  " Jadi nyawa Bu Boss kini terancam!" Belum selesai Ferdinand menyelesaikan ucapannya, Asyifa langsung mendelik padanya.


  " Maksud saya, jika mereka mengetahui identitas Bu Boss yang sebenarnya, saya tak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi di masa depan!"


  Asyifa mengerti, bukankah Amar mengatakan hal yang sama dengan sebelumnya.


  " Iya kamu benar fer, sekarang dia terobsesi dengan perjodohan dengan Amar, oleh sebab itu, aku dan Amar akan berpura-pura tidak dekat, dan hanya mengenal sebatas sesama warga negara saja, " Jadi,.. Jadi setelah berdiskusi dengan Amar, kita sepakat akan mengandalkan kamu, untuk membongkar kedok dari Molly Jones tersebut!"Asyifa menyesap wedang jahe yang sudah mulai dingin.


  " Bagaimana caranya?" Ferdinand menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia memang cerdas dalam hal teknologi, dan hal lainnya, tapi tidak dengan drama kehidupan dan percintaan, tidak heran hingga sekarang dia masih jomblo.


    " Untuk detailnya, Amar akan menghubungimu, namun, Aku akan memberikan garis besarnya saja dulu!" Asyifa bersiap untuk menjelaskan," Kau akan berpura pura menjadi sahabat Amar, yang menjabat sebagai salah satu pemilik perusahaan, yang sedang di bangun di wilayah London timur, Amar akan memperkenalkanmu dengan Molly Jones di sana,.."


  " Molly Jones?"tanya Ferdinand.


  " Nama perempuan itu!" jawab Asyifa.


  Ferdinand mengangguk.


Kau akan mendekati perempuan itu, dan memperlihatkan bahwa kau tertarik padanya, pelan pelan kau cari informasi apapun yang terkait tentang dia," Asyifa melanjutkan.


  " Tapi,..Tapi Bu Boss,.. Saya belum pernah berinteraksi dengan urusan Asmara, Bu Boss kan tau sendiri, setelah putus dengan Cut Sari saya menjomblo hingga saat ini," Ferdinand Nampak mengeluh.


  " Sebentar!" kemudian Asyifa beranjak ke kamarnya, sesaat kemudian dia keluar dari kamar dan membawa bingkisan.


  " Ini, kau pelajari sendiri!" Asyifa meletakkan bingkisan tersebut di atas meja.


  Tak menunggu lama, Ferdinand langsung membukanya,dia terdiam ketika mengintip kedalam bingkisan tersebut, sekilas dia membaca beberapa judul.


  " Buku ini adalah, buku cara mendekati cewek, agar mudah di taklukkan, kau harus berubah menjadi sosok yang memuliakan perempuan dan membuat mereka Baper, sehingga kau bisa dengan mudah mendapatkan info yang kita butuhkan!" Asyifa menjelaskan lebih jauh.

__ADS_1


  Ferdinand terbengong, dia seperti kehilangan kemampuan bicaranya.


****


__ADS_2