
Episode #35
Ketika Asyifa dan anggota kelompoknya sedang membahas tentang rencana mencari keadilan untuk Asyifa, Ardi sedang merasa begitu ketakutan, banyak beban pikiran jika pak HAMDAN bisa mengungkap kasus ini, dia tidak ingin ikut terjerat, tetapi bagaimana bisa? apakah ada bukti yang kuat jika dirinya tidak terlibat? dia benar benar pusing sekarang.
Sore ini dia sempatkan untuk datang ke kantor, sudah hampir seminggu, sejak dia bertemu dengan adik bungsu perempuannya Tia, yang membongkar kebenaran, bahwa sebenarnya Asyifa pernah hamil dan keguguran, dia shock dan kaget, seminggu dia menghilang dari, pekerjaan, keluarga, pertemanan bahkan percintaannya untuk menenangkan diri, tak di sangka, ketika perjalanan pulang di salah'satu angkringan, dia menjumpai titik terang tentang keberadaan Asyifa, karena terlalu gegabah dan bersemangat, tanpa pikir panjang, Ardi langsung menemui pengacara kondang keluarga PRAMESWARI, pak HAMDAN, namun sekarang tiba tiba dia mendadak menyesalinya.
" Aaargh," Ardi berteriak dan memukul setir mobilnya, dia frustasi sekarang.
Selama lima belas menit perjalanan, kemudian Ardi tiba di kantor, para karyawan yang sedang asik fokus menyelesaikan pekerjaannya, sejenak teralihkan dengan kedatangannya, karena CEO baru mereka telah lama menghilang Dan tidak bisa di hubungi, walau bagaimanapun mereka hanya bisa menatap saja, tanpa bisa berkomentar.
Ardi mengerti arti tatapan itu, dan memilih untuk mengabaikannya, Dia sekarang mencoba mengalihkan pikirannya pada pekerjaan agar tidak mengingat pertemuan tadi dengan pak HAMDAN.
Ferdinand sang asisten pribadi CEO PT GARUDA TV NUSANTARA, langsung berlari, membukakan pintu, wajahnya sumringah, ada kelegaan terpancar dari raut wajahnya.
"Syukurlah, bapak sudah kembali, ada beberapa hal yang tidak bisa saya tangani," Ferdinand langsung mengadu, ingin sekali dia menyampaikan seluruh uneg-unegnya, tapi dia masih waras untuk mengontrol emosinya.
" Oh ya,. apa itu? Sepertinya penting sekali? Ardi berbicara sambil menuju meja kerjanya, sedangkan Ferdinand mengikuti dari belakang.
" Ini tentang proyek yang di bahas beberapa bulan lalu, pak Aliansyah, penanggung jawab acara ini memberikan berkas yang harus di tanda tangani oleh bapak, agar proyek tersebut bisa langsung dimulai," jelas Ferdinand sambil langsung menyerahkan dokumen tersebut untuk di tandatangani.
Ardi memeriksa dokumen tersebut, kemudian dia membubuhkan tandatangannya di sana, setelah itu lelaki itu memberikannya kepada asistennya untuk di serahkan kepada bapak Aliansyah.
" Bagaimana perkembangan proyek itu? Kapan bisa release? tanya Ardi menatap Ferdinand.
" Setahu saya semua persiapan sudah selesai, hanya tinggal pemilihan bintang utamanya saja kekurangan dua bintang hingga saat ini, sutradara mengatakan, bahwa Belum ada kandidat yang cocok," jawab Ferdinand lugas, " Jika sudah menemukan kandidat yang tepat, syuting bisa langsung di lanjutkan," sambungnya.
" Baiklah, saya mengerti," ucap Ardi seraya memeriksa berkas berkas yang sudah bertumpuk di meja kerjanya.
" Oh ya pak, saya hampir lupa," ucap Ferdinand sambil melangkah ke rak dokumen dan mengambil sesuatu.
" Ini ada undangan ulang tahun dari pak Wijaya, salah satu kepala keluarga terkaya di negri ini," Ferdinand langsung menyerahkannya pada Ardi.
" Setelah itu, Ferdinand segera pamit undur diri dan melangkah ke ruangan pak Aliansyah, untuk menyerahkan berkas yang sudah di tandatangani oleh Ardi, sepanjang perjalanan, pria itu begitu senang, beban yang di pikulnya serasa berkurang.
Setelah menerima dan membuka undangan tersebut, mata ardi terbelalak, pestanya di adakan di salah satu hotel bintang lima terkenal di Jakarta, dan tamu yang di undang juga bukan main-main, seandainya dia bukan CEO pasti kesempatan seperti ini tidak datang, untung saja dia kembali hari ini, dan pestanya besok malam, jadi dia punya cukup waktu untuk bersiap-siap.
Setelah semua berkas di tandatangani oleh Ardi, lelaki itu memutuskan pulang ke rumah, dia begitu lelah dan ingin beristirahat.
Jam kantor Belum usai, tapi Ardi terlihat mau kembali, para karyawan hanya bisa menatapnya saja, tidak ada dari mereka yang berani melontarkan sedikitpun komentar apalagi protes.
__ADS_1
Ardi menikmatinya, dan mengabaikan tatapan para karyawan, dia tetap melangkah kearah parkiran, lagian juga para karyawan tidak akan berani mengomentarinya.
Selang tiga puluh menit, kemudian Ardi tiba di rumahnya, lebih tepat rumah Asyifa, ketika hendak memasuki gerbang, ada rasa heran, karena melihat pintu gerbang terbuka, pada saat dia mendekati garasi mobil rumahnya, dia melihat ada mobil yang sangat di kenalnya, mobil pemberian hadiah ulang tahun dari istrinya, kepada sahabat karibnya, terparkir dekat dengan garasi, segera dia turun dan bergegas berjalan ke arah rumahnya.
Benar dugaannya, di teras sudah ada Camilla, duduk dengan santai, seolah olah wanita itu tahu bahwa Ardi datang hari ini.
Camilla melihat ardi, tetapi dia tetap duduk dan memainkan ponselnya, dia bahkan tetap diam tidak menyapa laki laki yang sudah seminggu ini di carinya.
Ardi menatapnya, tangannya merogoh saku celananya untuk mengambil kunci rumah, setelah pintu terbuka, Ardi menyuruhnya masuk.
Memasuki rumah, tetap dalam keadaan bersih, tanpa ada debu sedikitpun, Ardi merasa puas dengan kinerja ART part time yang dia pekerjakan, ART itu hanya bertugas membersihkan rumah.
Camilla duduk di sofa, begitupun Ardi, tidak ada perbincangan di antara keduanya.
Ardi kemudian melangkah ke dapur, dia membuka kulkas dan mengambil dua botol softdrink dari sana, kemudian dia melangkahkan kakinya, ke ruang tamu, tempat Camilla menunggu.
Ardi meletakkan softdrink tersebut di atas meja, diapun duduk, sementara itu Camilla masih sibuk memainkan ponsel sambil sesekali menatapnya.
Mereka sama-sama diam, suasana canggung mulai terasa.
"Ada apa kamu kemarin, Camilla?" Ardi akhirnya memulai perbincangan.
Untuk beberapa saat Camilla larut dengan tangisnya sendiri, Ardi hanya memperhatikan, dia belum mengatakan apapun.
Setelah isak tangisnya reda, dan Camilla sudah bisa mengendalikan dirinya, dia mengambil tissue, untuk menghapus air matanya.
Untung saja Camilla memakai brand make-up terkenal dan ternama, kalau tidak, riasannya akan luntur terkena air matanya sendiri.
"Apakah kau benar-benar mencintaiku, Camilla?" Ardi bertanya serius, tatapannya tajamnya langsung menghunus ke bagian hati terdalam Camilla.
Tatapan Camilla mencelos, mendengar pertanyaan Ardi, awalnya dia berpikir, Ardi akan meminta maaf dan menenangkannya, seperti biasa, tapi ini berbeda, dia malah menanyakan hal seperti itu.
" Apa kau meragukanku? Apakah yang aku lakukan selama ini tidak menjelaskan tentang perasaanku?" Camilla berteriak histeris.
Untung rumah itu kedap suara, karena kebiasaan ardi yang selalu marah'marah dengan, Asyifa merenovasi semua ruangan kedap suara, jadi tidak ada yang tahu akan perlakukan dan teriakkan Ardi, untuk sekali ini Ardi berterimakasih dengan Asyifa.
" Apa kau menerimaku apa adanya? Kembali Ardi mengajukan pertanyaan.
Camilla mendengus.
__ADS_1
" Baiklah, aku akan terus terang padamu!" Ardi memilih jujur.
Camilla memusatkan perhatiannya pada Ardi.
" Aku baru tahu jika Asyifa hamil, dan keguguran, Apa kau tahu itu?" tanya Ardi tajam.
" Aku tahu, bahkan aku menjenguknya di rumah sakit!" jawab Camilla.
" KENAPA WAKTU ITU, KAU TIDAK MEMBERI TAHU AKU?" Ardi tiba tiba marah dan berteriak.
Camilla kaget, kemudian berdiri dan berteriak,. " KENAPA BERTERIAK PADAKU? BUKANKAH WAKTU ITU AKU MEMINTAMU MENJENGUKNYA KE RUMAH SAKIT?" nampak nafas Camilla terengah-engah setelah berteriak.
Ardi terduduk lemas, Ya, itu memang benar sekali, waktu itu, Tia adik perempuannya yang menjaga Asyifa di rumah sakit juga kerap memintanya untuk datang ke rumah sakit, Camilla juga begitu, ini memang salahnya, dia yang terlalu abai dan terlihat cuek dengan Asyifa.
" Maafkan aku," Ardi akhirnya bersuara lembut.
Camilla mendekati, dan mengusap pelan bahu lelaki tersebut.
Setelah tenang sejenak, Ardi pun menggenggam tangan Camilla, dia memeluk perempuan itu dan berbisik lirih, " Terima kasih, setelah ini kita akan go public sesuai permintaanmu,"
Awalnya Ardi ingin berterus-terang tentang warisannya Asyifa kepada Camilla, tetapi dia urungkan, karena dia begitu yakin Camilla mencintainya dengan tulus dan tidak akan pernah meninggalkannya, Dia semakin mencintai wanita itu.
Camilla begitu bahagia, dan membalas pelukan Ardi dengan jauh lebih hangat, jika hubungan mereka sudah di ketahui oleh publik itu akan memuluskan karirnya.
Malam itu mereka menghabiskan waktu bersama, dengan berbagi kehangatan di ranjang.
***
Pagi itu, Asyifa masih sibuk bergelung di dalam selimut hotel, Dia iseng membuka email pribadinya, dan mendapatkan notifikasi dari cctv yang di pasang di rumahnya, cctv itu berkualitas tertinggi, sehingga gambar dan suaranya terlihat jernih.
Gadis itu menonton adegan pertunjukan dari layar ponselnya, sesekali dia tertawa, melihat dua penghianat itu bertengkar dan berbaikan lagi di ruang tamu.
Kemudian dia beralih melihat cctv yang di pasang di kamarnya, terlihat dua manusia itu sedang bergumul mesra dalam pergulatan panas di ranjangnya, dia menutup adegan menjijikkan itu.
Setelah berbaring cukup lama, kemudian dia bangkit berdiri menuju wastafel dan menggosok giginya.
Dia tersenyum menatap bayangannya di cermin, " Ardi, Camilla, Aku memang belum dapat pengakuan, bahwa kalian terlibat dalam kecelakaan dan pembunuhan itu, namun Aku tidak akan terburu buru, karena aku akan membuat hidup kalian sedikit demi sedikit tidak akan tenang, malam ini kita bertemu lagi, suami dan sahabat karibku," gemeretuk giginya begitu jelas terdengar, ketika Asyifa mengatakan kalimat itu, kemudian dia membasuh wajahnya.
*****
__ADS_1