
Episode #63
"Samperin yuk!" tanya Asyifa, sambil menarik pergelangan tangan Amar.
Tanpa menunggu persetujuan Amar perempuan itu sudah menarik tangannya, Amar hanya pasrah.
Satu tangannya menelpon Arsyad, untuk tidak usah menunggu di luar mobil, karena kemungkinan dia pulang masih lama, Arsyad hanya menunduk dan berkata"Baik Tuan muda":lalu dia masuk kedalam mobil, dan menunggu mereka di dalam mobil sesuai dengan perintah tuan muda AMAR.
Semakin Asyifa dan Amar mendekat, suara perbincangan sejoli itupun semakin samar terdengar.
" Pokoknya kamu tenang aja sayang? pemeran utama itu akan jatuh ketanganmu, proyek ini sudah lama aku rancang," Ardi berbicara lembut, sambil menggenggam tangan Camilla.
" Bener yah,.. aku jadi pemeran utamanya? akhir akhir ini Aku Belum punya job baru, jadi peran ini penting banget untuk dapetin job yang lain," Rengek Camilla, tangan kanannya langsung menyendokkan es krim ke mulutnya.
Ardi sedikit heran, dengan tingkah Camilla, yang sedari tadi menyendokkan es krim kemulut nya, setahunya Camilla paling anti dengan makanan yang memiliki kalori tinggi, ' Bikin melar kayak istrimu, si Babon bulet," ucapnya ketika dulu Ardi menyodorkan dessert atau makanan manis lainnya.
Ketika asik menikmati momen bersama, pasangan tersebut di kagetkan dengan sebuah sapaan hangat, " Wah, ada pak Ardi, suatu kebetulan sekali bertemu di sini,"
Ardi dan Camilla menoleh, Mereka berdua kaget melihat Humaira dan Amar sudah berada dekat meja mereka.
" Kita gabung aja ya? Sudah lama kita tidak mengobrol, benarkan pak Ardi?" ujar Humaira, sambil menarik kursi di samping Camilla.
Ardi dan Camilla masih terbengong.
Amar juga sama, dia menarik kursi yang ada du dekat Ardi, dan langsung menjatuhkan bobot tubuhnya, Dia penasaran dengan Drama hari ini, jadi dia memutuskan untuk menonton pertunjukan sejenak.
Setelah menyadari, dua makhluk yang menghancurkan kencannya, Ardi hanya tersenyum pahit, tidak mungkin dia mengusir keduanya.
Sementara Camilla, ingin sekali mencakar dan menjambak perempuan yang ada di sebelahnya ini," Iih, sok Deket banget," rutuknya dalam hati.
Asyifa cukup puas, menikmati wajah kesal Dari para mantannya ini, mantan sahabat juga mantan suami.
Sepertinya pak Ardi dan Camilla cukup dekat ya?" tanya Asyifa, sambil melihat mereka masih terus berpegangan tangan.
Keduanya buru buru melepaskan tautan tangan tersebut, sayangnya semua sudah terlambat, baik Asyifa maupun Amar, sudah menyaksikannya.
" Jangan salah paham Nona May, saya hanya menawarkan pekerjaan pada Camilla, di acara televisi yang akan segera tayang, Camilla adalah sahabat dekat almarhum istri saya, makanya kita terbilang cukup dekat!" jelas Ardi dengan detail.
Camilla yang mendengar hanya tersenyum pahit, dia sudah menduga, kalau Ardi, laki laki yang tidak dapat di percaya, " Apanya go publik,.. go publik, ngakuin ke relasi sendiri aja susah!" batin Camilla.
" Oh, begitu" Asyifa mengangguk, tanda dia mengerti, tak lama dia melanjutkan, " Sepertinya almarhum istri anda sekarang bisa tenang ya, melihat suami dan sahabatnya, menjadi lebih dekat, untung anda dan Camilla dekatnya sekarang, Setelah beliau tidak ada, karena banyak loh, sahabat yang nikam dari belakang, he he he," kekeh Asyifa tanpa berdosa." Loh,.. kok Aku jadi julid sih? maaf,.. maaf ya!"lanjutnya cuek.
__ADS_1
pandangan Ardi dan Camilla bertemu, sindiran dari Asyifa telak sekali pada mereka.
" Anda salah faham Nona May? sebenarnya aku dan Camilla,.."
Belum sempat Ardi menyelesaikan ucapannya, tiba tiba Asyifa menyela, " Sudahlah, tak perlu di bahas, ini tidak penting, saya tidak hobi mencampuri urusan orang lain, tapi kalau es campur aku suka!" Eh kok jadi pengen es yah," Setelah mengatakan itu, Asyifa melambaikan tangannya, memanggil pelayan, " Sini"
Ketiganya melihat Asyifa tanpa ekspresi.
Pelayanpun segera datang," Iya, Nona, ada yang bisa saya bantu? ucap pelayan itu sesopan mungkin.
" Aku pesan es krim yang seperti ini," tunjuk Asyifa, pada es krim pesanan Camilla.
" Kamu mau gak? tanya Asyifa pada Amar.
Amar menggeleng, tanda dia menolak, terlebih lagi dia masih sangat kenyang.
" Oh, iya pak Ardi, sepertinya saya akan sering datang berkunjung ke PT GARUDA TV NUSANTARA deh!" infonya.
Ardi mengeryit heran, dia tidak mengerti,ada apalagi Nona Humaira kesana? Daripada menebak nebak akhirnya diapun bertanya, " Bukankah Audit sudah selesai Nona May? pelaku sudah di pecat, dan sekarang di tahan,"
Sebelum Asyifa buka mulut untuk menjawab, pesanan es krim nya datang, perempuan itu langsung menyendokkan ke mulutnya.
" Bukan masalah itu pak Ardi! itu sudah berlalu! itu sudah tidak penting!" satu suapan es krim lagi mendarat di mulutnya, Setelah itu dia melanjutkan, " Aku Sudah tanda tangan kontrak dengan pak Aliansyah, Aku di tunjuk jadi peran utama pada acara yang akan tayang, katanya syuting perdananya itu Minggu depan, itu artinya, aku akan sering main ke kantor anda pak Ardi!"
Ardi tidak dapat berbuat apa-apa, dia menatap Camilla, wajahnya sudah merah menahan kesal, Ardi juga melihat tangan Camilla mengepal marah.
Amar yang memperhatikan ketiganya itu hanya bisa tertawa dalam hati, " Lihatlah, wajah Camilla yang sudah merah menahan rasa kekesalannya, wajah Ardi yang merasa bersalah pada Camilla, dan wajah Humaira yang dengan polosnya terus memakan es krim, seperti wajah, tanpa dosa, padahal dia yang membuat kedua orang tersebut terlihat seperti itu.
" Yaaah, es krim nya sudah habis! Baiklah pak Ardi, aku ke kasir dulu, untuk membayar es krim," ucap Asyifa hendak berdiri dari duduknya.
" Tidak usah Nona May, biar saya saja yang bayar,," ucap Ardi lembut.
Camilla tidak berkomentar apapun, matanya memandang keduanya dengan tatapan mencemooh.
" Waah, anda baik sekali pak Ardi, lain waktu biar saya yang traktir anda! Mari Amar, kita pulang, kasian Arsyad sudah menunggu lama, pak Ardi, permisi dulu ya" ucap Asyifa dan menarik tangan Amar, dia sudah tak ingin berlama-lama dan dekat dengan si ulat bulu.
Mereka berjalan ke luar cafe, Asyifa Sudah menebak, bahwa akan ada perang dunia ketiga, dari duo mantannya tersebut, mengingat watak Camilla yang tak mau kalah, dan maunya menang sendiri.
*****
Sementara itu di lapas tempat Ami ditahan.
__ADS_1
Setelah kepergian Asyifa, Ami yang awalnya agresif melawan, tiba tiba, pikirannya kosong, bahkan ketika petugas sipir mengantarnya dia hanya menurut saja.
Ami tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.
Di dalam sel dengan baju yang bertuliskan, TAHANAN, dia duduk di pojokan, sorot matanya kosong, dia tidak sadar bahwa dia sudah masuk dalam perangkap hipnotisnya Asyifa.
Selang dua jam, tahanan yang lain masuk kedalam sel, Sel itu berukuran 3×3 m, dan di huni oleh enam tahanan, termasuk Hanya ada beberapa tikar lusuh di sana.
Tengah malam, Ami di bangunkan oleh seorang napi senior di sana, Namanya Suparti, mantan asisten rumah tangga yang membunuh majikannya karena berusaha melecehkannya, dia di hukum dua puluh tahun penjara, akibat kasus pembunuhan berencana, tahun ini adalah tahun ke sembilan pasca penangkapannya.
" Hei,..Hei,..Anak baru,.. sini pijetin gua!" dia membangunkan Ami dengan kakinya.
Ami pun terbangun, semenjak hari pertama masuk sel, Suparti yang memang senior di situ, selalu menyuruhnya ini dan itu.
Tetapi kali ini, ada yang berbeda, tatapan Ami begitu dingin padanya, nyali Suparti sedikit ciut, karena dia tahu, tatapan itu adalah tatapan membunuh, sama ketika dia membunuh majikannya waktu itu.
Dalam kesadarannya, yang Ami lihat saat ini bukanlah Suparti, tetapi Ovan, selingkuhannya yang tampan keturunan Turki.
Ami langsung berdiri, sekuat tenaga dia menarik rambut Suparti lalu menghentakannya ke dinding sel, Suparti mencoba melawan, tetapi kekuatannya tidak cukup kuat, entah darimana kekuatan yang Ami peroleh.
" Dasar laki laki keparat! Bajingan! mokondo! gara gara kau aku di ceraikan oleh mas Arif! laknat, jahanam!" sambil terus membenturkan kepala Suparti ke tembok.
teriakkan tersebut sontak membangunkan keempat tahanan lain yang sedang tertidur, melihat perseteruan tersebut, dua tahanan lain berusaha menengahi, dan dua tahanan lainnya berteriak memanggil sipir penjara.
Ami, yang melihat ada tahanan yang memeluknya, agar tidak menyerang Suparti lagi, sontak memeluk dan menangis sesenggukan, dalam pandangannya, sosok itu adalah Arif, suaminya.
" Mas, Aku tahu kamu di sini, kita rujuk ya mas! aku janji gak akan bermain api lagi, lihat mas! dia sudah mati, ayok mas kita rujuk, aku gak mau bercerai, aku cinta kamu mas!" isak Ami pilu.
semua tahanan di sana terpaku melihat keadaan Ami, " Apakah anak ini sudah tidak waras?" pikir mereka.
Karena keributan yang terjadi, sipir penjara akhirnya datang, dia membawa Suparti untuk di obati luka lukanya, karena beberapa kali terbentur tembok, sementara Ami, di tempatkan di dalam sel khusus yang tidak berpenghuni.
__ADS_1
\*\*\*\*