Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Pulau Thames


__ADS_3

Episode #61


  Asyifa merasa kecepatan lift nya sangat lambat, beberapa kali dia melihat jumlah angka yang di lewatinya, beberapa kali dia juga mengecek arlojinya, dia sudah tidak sabar ingin bertemu Amar.


Lift pun terbuka, dia menengok kekiri dan kekanan, namun tak jua melihat batang hidung Amar.


Ponsel Asyifa berbunyi, nomor tadi memanggil lagi, Asyifa langsung menjawab panggilan tersebut," Kau Dimana? Aku tidak melihatmu sedari tadi!" cecar Asyifa.


  " Aku di depan lobi, coba lihat kesini!" suara Amar terdengar jelas.


Asyifa membalikan badannya dan berjalan kearah luar lobi.


  " Aku di sini, Aku memakai topeng silikon, jadi mirip oppa oppa Korea,!" dia melambaikan tangannya ke Asyifa.


  Asyifa kemudian mematikan telepon nya dan berjalan menghampirinya.


Amar sudah merentangkan tangannya berharap Asyifa memeluknya.


  " Pletak!"Asyifa malah menjitak kepalanya.


" Aduh, Sakit beb!" Amar mendesis.


  " Kenapa penampilanmu seperti ini, kau sama sekali tidak cocok menjadi oppa oppa Korea, malah jadi aneh kalau di perankan olehmu!" sebagai seorang pecinta Drakor, Asyifa merasa Amar memperburuk citra Oppa Korea yang ada di benaknya.


  "Lain kali jangan pakai topeng silikon yang menyerupai Oppa Oppa Korea, sesekali coba jadi orang timur tengah, atau orang India, itu lebih cocok dengan badanku yang kekar!" Asyifa mengomel.


  Amar terdiam, dalam beberapa detik dia terdiam, Dengan gerakan lembut Amar berbisik," Bodo amat!" kemudian dia terkekeh.


  Asyifa membuang muka," Dasar menyebalkan!"kemudian dia berbalik badan menuju lift, dia akan kembali ke unit apartemen nya.


  Amar langsung menarik tangannya, seketika Asyifa terhambur ke pelukannya, " Ayolah cantik, Aku akan mengajakmu ke suatu tempat!"sebuah kecupan singkat mendarat di kening Asyifa.


jantung Asyifa terasa mau berhenti, dia terdiam di tempatnya.


  Uber yang di pesan Amar pun datang, Amar segera menuntun Asyifa masuk kedalam taksi, Amar bisa saja mengendarai mobilnya, tapi dia tidak ingin orang lain tahu jika dia sedang bersama kekasih hatinya.


   " Kita mau kemana?" tanya Asyifa.


  Tangan mereka bergenggaman seolah tidak ingin terlepas satu sama lain.


  " Aku akan membawamu ke suatu tempat, agar kau tak bosan selalu berdiam diri di unit apartemen mu!"Amar berkata seraya mengikat rambut Asyifa," Disana anginnya kencang, jadi rambutmu harus di ikat!"ucap Amar.


  Seperti terhipnotis, Asyifa hanya mengangguk saja.


  Supir taksi hanya tersenyum saja melihat tingkah Amar dan Asyifa," Dasar anak muda!" benaknya.


  Tak berapa lama Amar dan Asyifa Sampai di tempat tujuan.

__ADS_1


  " Kita mau kemana Mar!" tanya Asyifa, yang melihat hamparan sungai Thames di depannya.


" Malam ini aku akan mengajakmu menelusuri sungai Thames!" setelah mengatakan itu Amar menarik tangan Asyifa, menuju kapal pesiar dengan dek terbuka.


  Kapalpun akhirnya berlayar, Asyifa takjub dengan pemandangan kota London, yang memukau di sekitar pulau Thames, cahaya dari gedung pencakar langit di pandu dengan lampu di sepanjang jalan, menjadi pemandangan indah tersendiri, bagi siapapun yang sedang berada di kapal yang sedang berlayar.


  Kapal pesiar itu terus berlayar, melewati tempat tempat populer, yang sering di lihat di internet ataupun media massa, Amar berdiri di belakang Asyifa yang masih terpana dengan keindahan London eya, the Shard, the 02, dan tower Bridge di malam hari, Laki laki itu hanya menatap wajah Asyifa yang takjub dengan pemandangan indah di sekitar pulau Thames.


  " Amar, pemandangannya sungguh indah sekali!"Seru Asyifa yang tidak dapat menahan kegembiraannya.


  Amar mengangguk, tapi dia hanya fokus pada wajah Asyifa, " Ya, Indah sekali!"


Kata indah yang di maksud oleh Amar, memiliki makna yang berbeda dengan kata indah, yang di maksud oleh Asyifa.


Asyifa mengangguk tanda dia setuju, perempuan itu kemudian melihat ke arah belakang, dan sontak mata keduanya bertemu, dengan jarak wajah yang sangat dekat, bahkan keduanya merasakan hembusan nafas masing masing.


***


Keesokan paginya.


Asyifa Sudah di hubungi Melinda, jika hari ini, pasangan baru itu akan menjemput dirinya ke London, ketiganya akan langsung berangkat ke Manchester bersama, sementara itu Amar akan menyusul dengan mobilnya.


Ketika sedang berkemas, bel unit apartemen Asyifa berbunyi, dia segera meraih ponselnya dan menelpon Ferdinand.


Ferdinand mengangkat telpon Bu Boss nya tersebut, dan tanpa mengucapkan sepatah katapun telpon nya sudah di matikan, ketika Asyifa selesai, mengatakan," Masuk saja!"


Ferdinand kemudian masuk ke dalam unit apartemen Asyifa dengan menggunakan kata kunci di pintu apartemen, semenjak dia melihat kejadian Amar dan Asyifa, dia sudah tidak masuk sembarangan lagi.


" Di kamar!" Sahut Asyifa.


Ferdinand langsung menuju kamar Asyifa, dia berdiri di depan pintu sambil melihat Asyifa berkemas.


" Bu Boss, mau kemana?" tanyanya, seraya mengeryitkan dahinya.


" Ke Manchester!" jawab Asyifa lugas.


" Ke Manchester?" tanya Ferdinand memastikan.


Asyifa mengangguk, " Iya, Aku mau nonton bola di sana!"


Mendengar alasan itu, Ferdinand langsung merengek," Ikut, Bu Boss, Aku mau nonton bola! pokoknya Aku mau ikuuut!"


Ferdinand adalah fans garis keras dari group sepak bola Manchester United (MU) alasan terbesarnya ikut Asyifa ke London, ingin menonton pertandingan sepakbola secara langsung di stadion terkenal di Manchester.


Asyifa diam, dia mengabaikan rengekan Ferdinand.


" Bu Boss!" Ferdinand merengek, wajahnya sangat kasihan.

__ADS_1


Asyifa tidak menolehkan pandangannya sedetikpun.


" Bu Boss, Aku ikut ya,..ya,..!" Ferdinand masih merengek.


Asyifa menghela nafasnya," Aku baru tahu titik kelemahan mu, fer, ternyata jika menyangkut grup bola favoritmu, kau bisa melupakan semua kecerdasan mu!"


Dahi Ferdinand mengerut," Aku tidak mengerti, Apa yang Bu Boss bicarakan!" kemudian dia menggaruk kepalanya.


" Mana sifat ketelitianmu, bukankah kau tidak pernah percaya pada orang lain, dan segera mencari tahu kebenaran tersebut, bisa bisanya kau menyebut dirimu sebagai Red Devils atau United Fans, jika jadwal pertandingan mereka saja kau tidak tahu! perlu di pertanyakan, apakah kau benar-benar penggemar club sepakbola tersebut!" Asyifa mulai mengoceh, seraya tangannya mulai mengemas segala jenis skincare dan perawatan makeup, kedalam tas mini, yang di khususkan untuk itu.


Ferdinand hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal," Anu, Bu Boss,..!" Belum sempat Ferdinand menjelaskan, telepon genggam Asyifa berdering.


Ferdinand yang jaraknya lebih dekat dengan telepon genggam tersebut, meraihnya dan memberikannya pada Asyifa.


" Bu Boss, Aku buatin kopi dulu ya!" Ferdinand kemudian berjalan ke pintu dapur, sebenarnya dia tidak ingin mendengar pembicaraan orang lain.


" Angga!" ucap Asyifa, setelah melihat identitas si penelpon.


Tanpa ragu, Asyifa mengangkatnya,"Iya Ngga, Apa kabar! Tumben nelpon!"


Tidak ada sahutan dari seberang.


" Angga!" Asyifa meninggikan suaranya.


" Halo syif, bagaimana kabarmu!" akhirnya suara dari seberang terdengar juga.


" Nenek?" Asyifa menyadari, ternyata yang menelpon bukannya Angga, melainkan neneknya, nyonya Arum, " Kabar syifa baik baik saja nek, Nenek bagaimana kabarnya?" tanya Asyifa balik.


Hening, tidak ada suara samasekali, Hanya isak tangis terdengar, " Nenek!" Asyifa memastikan kembali.


Asyifa mendengar ada suara tarikan nafas yang kuat, " Kabarku baik baik saja, Cah Ayu!"


" Syukurlah kalau nenek baik baik saja!" Asyifa tersenyum.


" Cah Ayu!"


" Iya nek!" sahut Asyifa.


Ada jeda beberapa saat, sebelum nyonya Arum kembali bicara," Cah Ayu,.." suara isak tangis terdengar.


" Nenek, . Nenek Kenapa? Nenek kok menangis?"Asyifa sedikit gusar.


" Cah Ayu,.. Nenek mohon kebesaran hatimu untuk benar benar ikhlas, memaafkan semua kesalahan kakek Wijaya ya,..Dia,..Dia,.." isakan tangis terdengar lagi.


Asyifa sedikit terkejut," Nenek,.."


" Cah Ayu,... nenek minta tolong, .. tolong ikhlasin dan maafkan segala kesalahan kakek Wijaya, nenek tahu, kesalahan kakek Wijaya sangat tidak mudah di maafkan, tolonglah Cah Ayu, nenek mohon, Seandainya jarak tidak jadi permasalahan seperti sekarang, nenek akan bersujud di kakimu, memohonkan ampun dan maaf atas kesalahan kakek Wijaya, yang sudah menghancurkan kehidupanmu, menghilangkan kedua orang tuamu, dan bahkan telah menyakiti keluarga kalian, selama beberapa puluh tahun belakangan ini!"

__ADS_1


Asyifa terdiam, semua lukanya tiba tiba terkuak kembali, bayangan kakeknya di rumah sakit, ketika menghembuskan nafas terakhirnya karena stres akibat kematian anak dan menantunya, bayangan canda papa dan mamanya yang berseliweran di benaknya, dan gambaran jasad keduanya akibat kecelakaan mobil, bayangan ijab Kabulnya dengan Ardiansyah, yang merupakan sosok yang di utus oleh Wijaya Kusuma, untuk menghancurkan dirinya melalui pernikahan, bayangan anaknya yang bahkan belum sempat melihat dirinya, bayangan dirinya, selama pemulihan dari upaya pembunuhan yang di lakukan oleh mantan suaminya, sahabatnya dan adik iparnya, serta bayangan ketika dirinya di culik dan hampir di bunuh oleh pembunuh bayaran suruhan Baskara, semua bayangan itu berkeliaran di benak Asyifa, Dalang dari seluruh penderitaannya Selama ini adalah Wijaya Kusuma, yang sekarang istrinya memohon maaf untuknya.


****


__ADS_2