
Episode #84
Siang harinya di kantor PT GARUDA TV NUSANTARA.
Camilla kemana sih? ini sudah waktunya syuting! seharusnya dia sudah di sini tiga puluh menit yang lalu, sebelum acara di mulai, mana sekarang untuk pertama kalinya ini disiarkan secara langsung!" Nathan, tangan kanan pak Aliansyah, atau penanggung jawab tim kreatif, nampak kesal sekali, karena Camilla hingga detik ini juga tidak muncul, wajahnya sudah merah seperti apel, akibat rasa marahnya, semua kru tidak ada yang berani, untuk sekedar menjawab apa yang di tanyakan nya.
" Dani;" Dani segera menghampiri Nathan dengan takut takut, dia menghampiri penanggung jawab tim kreatif tersebut, " Iya bos!" Sebutnya, para kru memang memanggil Nathan dengan panggilan bos.
" Coba telpon menejernya,! cari tahu keberadaan Camilla! menejer sama artisnya kenapa sama sama hilang tanpa pemberitahuan gini sih! Dipikirnya ini kantor dan acara nenek moyangnya apa! mentang mentang jadi kekasih sang CEO, seenak jidatnya mempermainkan kru Seperti ini!" Nathan terus mengomel, seperti emak emak yang melihat anaknya sedang main lumpur.
Dani langsung mengeluarkan ponselnya, dan mencari kontak Melinda, untuk menghubungi nya, tangannya tampak basah dan sedikit gemetar.
" Tuutt, Tuuut, Tuuut!" Suara panggilan menggema di ruangan, Dani memang sengaja menekan fitur speaker, biar yang lain bisa mendengar.
Tidak ada jawaban, Dani mencobanya lagi, tetapi tetap tidak ada jawaban.
Dani segera menatap Nathan, seolah dia memberitahu, bahwa menejer Camilla tidak mengangkat telponnya.
" Telpon sekali lagi!" perintah Nathan.
Dani mengangguk, mencoba menelpon terakhir kalinya.
__ADS_1
Akhirnya panggilan terjawab, ada suara di seberang, " Halo, maaf ini dengan siapa?"
Melinda memang tidak menyimpan semua nomor kru, jadi wajar kalau dia tidak tahu identitas si penelpon.
Nathan yang tidak sabaran segera merebut ponsel dari tangan Dani dan menjawab pertanyaan Melinda.
" Camilla di mana? kenapa hingga sekarang Batang hidungnya tidak ada? semuanya sudah menunggu, ini acara siaran langsung perdana sitkom drama ini, kalau dia tidak hadir, semuanya bisa berantakan, Semua akan berbeda, dari arahan tim kreatif dan para artis harus tampil improvisasi, ini bisa merusak acara, kalau tidak di siarkan secara langsung, hal itu masih bisa di akali!" Nathan terus mengomel.
Melinda yang berada di seberang, sedang duduk manis di apartemennya, dia sedang duduk di balkon, melihat pemandangan ibukota, segelas jus mangga dingin berada di tangan kirinya.
Semua kru dan artis berpandangan, hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Bastian sang mantan menejer Camilla, mengeryit heran, Camilla selalu bertingkah profesional, tak pernah bertingkah seperti ini, diam diam dia melirik nona Boss dengan Ekor matanya, terlihat ada sedikit lengkungan di bibirnya, walaupun sedikit dan sangat tidak kentara, dia sudah mengetahui, bahwa ini ada hubungannya dengan wanita berparas Dewi Yunani tersebut, seketika bulu kuduknya meremang, dia tidak tahu apa yang terjadi antara Nona Boss dengan Camilla, akan tetapi dia sudah menebak, bahwa Camilla sudah sangat menyinggung perasaan Nona Boss nya.
" Ya sudah!" akhirnya Nathan menutup telponnya, dan menyerahkan kembali kepada Dani.
Nathan tidak ada lagi mengomel tentang hal yang tidak perlu, waktu lima belas menit lagi sebelum tayang, segera dia mengumpulkan semua artisnya, dan langsung mengarahkan, Bagaimana mengarahkan aksi diatas panggung tanpa kehadiran Camilla.
Dalam waktu sepuluh menit, Semuanya sudah jelas akan perubahan rencana tersebut, kru menghela nafas lega, karena dalam waktu mepet, Nathan masih bisa mengatasi permasalahan, tak heran pak Aliansyah mengangkat laki laki tersebut jadi tangan kanannya, dan menjadi penanggung jawab dari Tim kreatif, kemampuan problem solving nya, memang bisa di andalkan.
__ADS_1
Asyifa pun mengagumi kemampuan Nathan seperti sebelumnya, " Pak Aliansyah memang tak pernah salah menilai orang!"
Sementara itu, Melinda menyesap kembali jus mangga di tangannya, cuaca panas ibukota seketika menjadi sejuk, karena ketidak hadiran Camilla.
Melinda pun beranjak ke ruang tidurnya, dia akan bersiap, mengunjungi butiknya Lady's palace, yang beberapa bulan ini tidak pernah di kunjunginya, kapan lagi dia ada waktu, tanpa mengurus Camilla.
Pagi tadi dia sudah mendapat pesan dari Arsyad, tentang apa yang terjadi dengan Camilla, Melinda tidak bisa menahan tawa, membayangkan Camilla yang harus berjalan jauh di tengah hutan, tanpa uang tunai dan ponsel yang rusak, membayangkannya saja dia sudah bahagia, ya, Melinda memang sudah tidak punya empati pada si ulat bulu betina.
***
Matahari mulai meninggi, sinarnya sudah menembus beberapa dahan pohon dan daun daun di hutan, Camilla masih tidak tahu keberadaannya hingga sekarang, ponselnya sudah di rusak, dan uang tunai di tasnya sudah raib entah kemana, sungguh dia sangat kebingungan kali ini.
Camilla terus berjalan di tengah hutan, untung masih ada jejak ban mobil, jadi dia berjalan menyusuri jejak ban mobil agar dia bisa segera keluar dari dalam hutan tersebut.
Dia tidak menyangka, akan nasib sialnya hari ini, Dia berpikir keras, siapa yang menjebak? Namun dia tidak menemukan apa-apa dalam benaknya, dia tidak menemukan petunjuk sedikitpun tentang siapa yang menjebak dan membakar mobilnya, karena terlalu banyak pihak yang dia singgung.
Akhirnya Camilla bisa keluar dari hutan, berkat jejak dari ban mobil yang masih tercetak di tanah, sekarang dia sudah berada di jalan besar, Dia tidak tahu, wilayah tempat dia berada sekarang, dia melihat sekeliling, tidak ada satupun kendaraan yang lewat.
Camilla terus berjalan, sepanjang jalan dia terus memegangi perutnya, yang sudah minta di isi, sudah berbunyi dari tadi, dia sudah kelaparan, tetapi dia tidak menemukan makanan apapun di sepanjang jalan.
Setelah berjalan cukup jauh, dia melihat ada pohon mangga, dan berbuah cukup lebat, dia berusaha mencari, apakah ada buah mangga yang jatuh, tetapi, setelah mencari sekitar setengah jam, dia tidak menemukan apapun, perutnya semakin keroncongan, dia terus memegangi perutnya, efek obat penggemuk yang tanpa sadar Camilla minum, membuat rasa laparnya semakin menjadi.
Camilla mendongak, melihat, seberapa jauh buah mangga yang bisa di gapainya, diapun berusaha mencari dahan atau ranting pohon tetapi tidak ada yang cukup tinggi, untuk mencapai buah mangga tersebut, dia hanya menghela nafas berat, tidak ada pilihan lain selain memanjat.
Camilla kemudian memanjat pohon mangga tersebut, walaupun belum pernah memanjat pohon sebelumnya, rasa lapar di perutnya sudah tidak tertahankan lagi, dengan lihai, akhirnya dia sudah bisa mendapatkan beberapa buah mangga,.
__ADS_1
Ketika dia memutuskan untuk turun, segerombolan monyet tiba tiba datang, dan menyerang Camilla, monyet monyet tersebut, nampak marah, karena Camilla mencuri makanan mereka, Camilla pun terjatuh ke tanah, dengan luka cakaran di wajahnya, dia tidak sadarkan diri.
****