
Episode #87
Camilla tidak sadarkan diri selama beberapa jam, akibat luka cakaran monyet di wajahnya juga karena kelaparan, walaupun baru satu hari tidak makan, tubuhnya sudah begitu lemah, ini adalah akibat dari pil kecantikan yang di konsumsi Camilla, yang membuat nafsu makannya begitu besar, sehingga, meskipun hanya satu hari tidak memasukkan apapun kedalam perut, tubuhnya akan bereaksi sangat hebat.
cairan infus sedikit membantu Camilla, dia masih belum sadarkan diri dan mengetahui kondisi wajahnya, entah bagaimana respon dia nanti, jika dia mengetahui keadaan wajahnya sekarang.
Sepanjang perjalanan tidak ada perbincangan antara Ardi dan Melinda, suasananya begitu canggung, sebenarnya ardi ingin memulai pembicaraan, namun niat itu di urungkan, karena melihat bagaimana galaunya Melinda, memikirkan kondisi Camilla, tidak ada yang tahu, kalau Melinda sebenarnya memikirkan, Mau masak apa untuk menu sarapan besok pagi, dia ada janji dengan adiknya Arsyad, si model yang dia jumpai ketika di Bali.
Kecanggungan terasa juga dengan supir yang fokus menyetir, setelah meminta ijin kepada atasannya, pak supir segera menyalakan radio, seketika suasana berubah, sudah tidak canggung lagi.
Beberapa jam kemudian, akhirnya mereka sampai di klinik, dimana Camilla di rawat, Anak buah Ardi langsung menyambut mereka dan mengantarkannya ke ruangan, kebetulan di sana juga Dokter sedang memeriksa dan mengoleskan obat pada wajah artis tersebut.
" Tap, Tap, Tap," langkah kaki beberapa orang yang masuk ke dalam ruangan, sontak mengalihkan perhatian sang Dokter, segera dia berpaling dan melihat siapa yang datang.
Dokter begitu terkejut, ketika melihat siapa yang datang, seorang pria tampan yang memakai setelan jas, pria itu nampak tak asing di matanya, sebagai seorang CEO, salah satu stasiun televisi terkenal di negri ini, walaupun jarang terlihat di layar kaca, setiap televisi tersebut mengadakan acara, wajah Ardi pasti terpampang, jadi tidak heran, kalau banyak masyarakat luas yang mengenalnya, ditambah lagi kasus kecelakaan Asyifa yang sangat viral waktu itu, sosoknya sebagai lelaki yang mencintai istrinya dan betapa linglung dan depresinya dia ketika istrinya tidak dapat di ketemukan dan kemungkinan besar sudah tidak ada, masyarakat semakin mengenali wajahnya, banyak orang yang mengelu elu kan dan banyak juga memiliki suami seperti dia.
Ardi sudah terbiasa dengan respon seperti itu, apalagi dari seorang perempuan, ya, akting Ardi kala itu memang bisa di bilang sukses, menipu masyarakat negeri ini.
" Bagaimana keadaannya Dokter?" akhirnya Melinda menyadarkan sang Dokter dari keterkejutannya, Melinda Sudah beralih ke samping ranjang di seberang dokter, nampak wajah Melinda begitu khawatir, dia menatap wajah Camilla begitu prihatin.
" Pasien sudah tidak apa apa, dia masih Belum sadarkan diri akibat lemas karena kelaparan, tetapi tenang saja, sebentar lagi pasien akan sadar,.." Dokter itu berhenti sejenak, sebelum dia melanjutkan, " Untuk luka di wajahnya ini cukup serius, cakaran monyet tersebut begitu kuat, hingga membuat luka yang begitu dalam, seandainya dia sembuh, lukanya akan menimbulkan bekas, dan susah di hilangkan, kecuali dengan operasi yang kemungkinan menelan biaya yang cukup besar".
Melinda Sudah tak dapat lagi menahan air matanya, kabut yang menghalangi penglihatannya pun segera sirna, dia memandang Camilla prihatin.
__ADS_1
Tak ada yang tahu, jika di dalam hatinya, Melinda bersorak gembira, dia tidak peduli dengan keadaan si ulat bulu betina ini, jika mengingat, bagaimana dia di khianati dan di manfaatkan, ingin sekali dia mencabut nyawa sosok yang berbaring ini.
Ardi hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada ibu Dokter tersebut," Terima kasih atas penjelasannya ibu dokter!"
Ibu dokter sedikit salah tingkah dengan pesona Ardi yang tersenyum, bagaimanapun Ardi memang terlihat lebih tampan daripada yang muncul di layar kaca.
Bu dokter hanya mengangguk dan permisi untuk memeriksa pasien yang lain. melihat Camilla yang seperti ini, entah kenapa hatinya tidak merasakan apa-apa
Ardi tidak bisa berkomentar apapun, melihat keadaan Camilla yang seperti ini, entah kenapa Ardi tidak merasakan apa-apa, Dia Hanya melihat itu seperti orang lain, yang tidak ada hubungan apapun dengannya, entah sejak kapan hatinya berubah.
Dengan picingan Ekor matanya, Melinda melihat bahwa Ardi bersikap biasa saja bahkan tidak ada kekhawatiran sama sekali, tidak seperti yang di ceritakan Camilla sebelumnya, ketika Bu Asyifa masih ada, Melinda masih mengingat, betapa bahagianya Camilla, ketika sakit sedikit saja Ardi sudah begitu khawatir, melihat apa yang terjadi sekarang, Melinda hanya mencibir dalam hatinya.
Tak lama kemudian, Camilla pun tersadar, perih di wajahnya masih terasa, walaupun sudah di suntik obat anti nyeri, perlahan dia membuka matanya, mulutnya mengeluarkan erangan kesakitan.
" Syukurlah kamu sudah sadar, aku sangat khawatir sekali, kamu membuatku takut!" Isak tangis Melinda pecah, air matanya sudah menganak sungai.
" Aku,.. Aku di mana? erang Camilla, dia menahan perih di wajahnya, dia masih belum mengingat apapun.
" Kamu di klinik, ini di Sukabumi, kamu harus menjalani perawatan!" jelas Ardi, pria itu masih bersikap acuh tak acuh, tak ada kepedulian samasekali di matanya.
Kepala Camilla sakit, samar samar dia mengingat adegan, dimana sekumpulan monyet, dengan wajah yang marah mendatangi dan menyerangnya dengan buas, kemudian dia pingsan.
Camilla kemudian mengalihkan pandangannya kepada Melinda " Pinjam cerminmu!" ucapnya lemah.
__ADS_1
Melinda menggeleng.
" Pinjam cerminmu!" Camilla memintanya sekali lagi,kali ini lebih tegas, walaupun dengan nada yang masih lemah.
Dengan wajah yang tidak rela, Melinda merogoh tasnya dan mengeluarkan cermin rias yang berukuran kecil, melihat Melinda yang ragu rsgu menyerahkannya, Camilla segera merampas cermin itu dari tangan Melinda.
Melinda terkejut dan ingin merampas balik, namun sudah terlambat, Camilla Sudah mengambilnya.
" Aaakh! wajahku!" pekik Camilla, pekiknya tiba tiba, suaranya mengagetkan pasien dan pengunjung di ruangan itu, akan tetapi setelah melihat kondisi Camilla, semua memakluminya, siapapun, terlebih kaum hawa, pasti akan bereaksi sama jika mengalami hal seperti itu, kerusakan wajah, mereka hanya ada rasa simpati di hati mereka.
" Tidak,. Tidak mungkin, wajahku... wa,..jah, ku?" jeritan Camilla membahana seisi ruangan yang kemudian di selingi isak tangis, mereka yang tidak mengetahui, pasti beranggapan bahwa Camilla kehilangan orang yang di cintai.
Ya, Camilla memang kehilangan yang di cintai, wajahnya.
Mendengar jeritan Camilla, perawat segera datang dan menyuntikkan obat penenang, tak lama kemudian Camilla merasa lemas dan tertidur.
Melinda dan Ardi segera menemui Dokter yang menangani Camilla, mereka berniat ingin membawa Camilla ke ibukota, agar mendapatkan perawatan yang lebih intensif, Dokter menyetujuinya dan memberikan surat jalan, untuk segera memindahkan Camilla ke rumah sakit, yang lebih baik di ibukota.
Dalam keadaan yang masih tidak sadar karena Obat penenang, Camilla pun di masukan ke dalam ambulans, ditemani Melinda di dalamnya, untuk berjaga-jaga, mereka segera meluncur ke ibukota, dengan di ikuti Ardi di belakangnya, sedangkan anak buah Ardi kembali melanjutkan kegiatan mereka di daerah itu.
Melinda Sudah mengirimkan beberapa gambar, kondisi Camilla, kepada Asyifa, ada juga video Camilla, yang menjerit histeris penuh kepiluan, yang di ambil secara diam-diam oleh Melinda.
__ADS_1
****