Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Villa rahasia Angga


__ADS_3

Episode #128


  Seminggu kemudian.


 Semua sudah kembali ke aktivitas masing-masing, Asyifa sudah kembali bekerja di kantornya seperti biasa, Bastian yang mengerjakan semuanya, sekarang Asyifa punya hobi baru, yaitu main lato lato, sejak dia di kalahkan oleh Amar, dia giat berlatih, dia bertekad akan mengalahkan laki laki yang selalu membuat jantungnya berdebar akhir akhir ini.


  " Plak!" Sebuah lato lato mengenai tangannya, terlihat memar di kulit putihnya itu, kemudian dia mengoleskan salep.


  " Nona Boss!" Bastian menoleh ke arah Asyifa.


    " Hmmp!" Asyifa menyahut sambil terus mengoleskan salep, penghilang memar di tangannya, " Apa ada yang tidak kamu mengerti tentang laporannya?" Asyifa bertanya tanpa menoleh sedikitpun pada Bastian.


    " Bukan masalah kerjaan Nona Boss, ini masalah tugas terakhir yang Nona Boss berikan," jelas Bastian.


  Asyifa mengeryitkan dahinya.


    " Tugas tentang barang antik Nona!" Bastian mengingatkan.


    Asyifa mengangguk, dia sudah mengingatnya, ini tentang kado ulang tahun nyonya Arum Kusuma istri tuan Wijaya Pemilik Kusuma group.


  Tanpa menunggu waktu lama, Bastian segera melapor, " Salah seorang dari Kusuma group mencari informasi tentang data orang yang membeli barang yang di jual oleh Asyifa Prameswari, dari toko barang antik yang tempo hari kita ajak kerjasama,"


" Trus, Bagaimana? apa respon mereka? Asyifa bertanya lebih lanjut.


  Mereka memberikan keterangan, sesuai dengan yang kita beritahukan sebelumnya," Bastian menjawab.


     Asyifa hanya menjawab, " Bagus!"


    Asyifa Sudah menebak alur ini, tak semudah itu, untuk membuat Wijaya Kusuma percaya dengan hal remeh seperti ini, untung dia sudah mengantisipasi dengan menyuruh orang orangnya sebagai pembeli palsu dan mencocokkan keterangan mereka dengan pihak barang antik.


    Walaupun tidak mengenalnya secara langsung, dia sudah tahu kepribadian Wijaya Kusuma, dari catatan harian kakeknya, dengan tegas dia menggarisbawahi tentang watak asli sahabatnya tersebut, yang akan menyelidiki hal sekecil apapun, dengan detail, sifat perfeksionis yang di miliki oleh Wijaya Kusuma, sedikit banyaknya telah menyumbang kesuksesan dalam bisnisnya.


     " Oh, ya, Nona Boss, saya hampir melupakan sesuatu!" Setelah itu Bastian menuju meja kerja, untuk mengambil sesuatu.


  Asyifa menunggu, dia cukup penasaran.


    " Pak Rio, anak tertua dari WIJAYA Kusuma, dia mengirimkan undangan pameran lukisan, yang di adakan di kawasan taman Ismail Marzuki, lusa malam," Bastian menyerahkan undangannya, " Tadi supirnya langsung yang mengantarkannya kemari," Dia menambahkan.


    " Ok, makasih Bastian!" ucap Asyifa, seraya membuka undangan VIP yang di berikan oleh om Rio padanya, dia sedikit bingung perihal undangan ini, Asyifa bukanlah seorang penikmat lukisan, dia hanya penikmat Drakor terbaru.


   " Tidak ada salahnya juga menghadirinya, Niat baik om Rio harus di hargai!" Gumamnya dari meja kantornya.

__ADS_1


  Asyifa pun menandai kalender di meja kerjanya, dia melingkari tanggal tersebut dan membuat catatan, Pameran lukisan om Rio!"


    Asyifa melihat Bastian yang sedang sibuk bekerja menggantikan pekerjaannya, entahlah, akhir akhir ini dia malas bersentuhan dengan komputer dan dokumen, jadi, Bastian selalu menyelesaikan semuanya, tapi itu sebanding dengan upah bonus yang Bastian dapatkan.


  " Kasian juga anak ini!" pikir Asyifa.


    " Tian!" panggil Asyifa.


  Seketika Bastian menoleh," Apa ada yang bisa saya bantu, Nona Boss?"


  " Tolong buat iklan, lapangan pekerjaan, sebagai asisten pribadi CEO, cantumkan saja kriteria yang menurutmu cocok denganku, pria atau wanita tidak masalah!" Asyifa memberikan perintah.


   Bastian mengangguk, dan seketika berkata," Baik!"


   Asyifa merasa bosan, dan kemudian menghubungi Melinda dengan ponselnya.


  Begitu terhubung, Asyifa bertanya, " Calon manten, ke mall yuk? Aku bosan!"


  Setelah memutus panggilan, Asyifa bergegas untuk menjemput Melinda ke butiknya Lady's palace.


  Sementara itu di Kusuma group tower.


Angga Sedang memeriksa salah satu laporan yang di kirimkan oleh salah satu perusahaan yang di bawah naungan Kusuma group, dia merasa banyak kejanggalan dalam laporan ini, segera dia mengutus tim audit milik pribadinya sendiri untuk datang ke sana, memeriksa keuangan perusahaan itu.


Angga tersenyum, jerih payahnya akhirnya berbuah juga.


" Segera berangkat! Kita kesana sekarang!" perintah Angga, dan seketika berdiri keluar dari ruangannya.


" Di mengerti," Yuda kemudian mengadakan panggilan ke tim nya, untuk menyambut sang tuan muda.


Angga pun pergi menuju markasnya, markas yang di maksud di sini adalah sebuah villa mewah yang ada di daerah Cisarua, puncak, Bogor, villa itu adalah hak milik pribadi Angga, yang di belinya menggunakan perantara orang lain, dia tidak ingin Kusuma group tau tentang villa itu, karena hal ini sangat rahasia, di villa ini banyak urusan pribadi Angga yang tidak menggunakan embel embel Kusuma , para pengawalnya pun tidak mengetahui hal ini, hanya Yuda dan tim nya yang di bentuk secara rahasia menangani hal ini.


Arus lalu lintas yang lancar antara Jakarta dan Cisarua hanya di tempuh dua jam perjalanan.


Di sana seorang anak muda sekitar usia dua puluh, langsung membuka gerbang, dia nampak seperti penjaga villa biasa, dengan memakai kupluk di atas kepalanya, dan sarung yang tersampir di pundaknya, penduduk sekitar tidak ada yang tau, bahwa anak muda tersebut adalah pengawal khusus.


Asep, penjaga villa tersebut langsung menuntun ke gudang bawah tanah, dimana seseorang di sekap.


Langkah Angga pun menggema, Yuda mengikuti dari belakang.


Di sebuah kursi, nampak seorang laki-laki berusia sekitar empat puluhan, Sedang terikat di kursi, wajahnya sudah tak bisa di kenali lagi, penuh lebam dan biru.

__ADS_1


" Bangunkan dia!" Perintah Angga kepada Asep.


Asep sudah menyiapkan seember air yang sudah di siapkan sebelumnya, dia mengangkat ember dan melemparkan isinya kepada laki laki itu.


" BYUUR!" suara air membasahi tubuh dan pakaian laki laki tersebut, dia Sontak terbangun, karena rasa dingin yang mendera, Air es yang mengguyur tubuhnya langsung membuatnya tersadar.


Laki laki itu terbangun, dia membuka matanya mengerjap, samar samar dia melihat penampakan yang tidak asing, sosok yang sering terlihat di televisi.


Kedekatan Angga dan Humaira, selalu menjadi bahan gosip di semua infotainment, stasiun televisi, jadi tidak jarang sosok Angga di ekspos, hingga di kenal oleh masyarakat.


Angga menoleh kepada Dayat, seorang Hacker yang di tugasi dalam misi ini, seolah minta penjelasan.


" Namanya Tinro, dia dan keluarganya tinggal di Maros Sulawesi Selatan, dia sudah bekerja di bengkel Garden Car Bintaro, tempat keluarga Prameswari untuk servis mobil, beberapa hari sebelum kecelakaan, dia sudah mengundurkan diri," Dayat memberikan penjelasan.



Asep mengambil sebuah kursi, dan mempersilahkan Angga duduk.


Angga duduk dengan jarak tiga meter.


" Katakan, bagaimana kau terlibat dengan kecelakaan Umar Prameswari dan istrinya? Siapa yang menyuruhmu?" Angga menatapnya dingin.


" Kecelakaan apa? Aku tidak tahu apa-apa!" Elak Tirno lemah.


" Aku malas berbasa-basi, waktuku masih lebih berharga dari nyawamu, katakan sejujurnya, atau kau akan berakhir menjadi makanan anjing," Angga masih berusaha negosiasi.


" Sepertinya dia tidak mengindahkan perkataan ku!" Angga melirik Dayat.


Dayat mengerti, dan segera melakukan video call kepada seseorang, rekannya di Maros.


Panggilan video pun tersambung.


Di sana terlihat wajah Jaka yang sedang menerima panggilan di sebuah warung, lelaki itu menggunakan earphone.


Jaka mengarahkan kamera kepada pemilik warung, dan sekumpulan anak-anak yang bermain di sana.


Melihat itu Tirno semakin panas dingin, itu adalah warung di rumahnya, dan di sana adalah anak-anak dan istrinya.


Dayat pun mematikan panggilan video.


" Orangku ada di sana, Apa kau ingin membahayakan anak dan istrimu, hanya karena ingin melindungi orang yang menyuruhmu?" nada suara Angga dingin, tatapannya tajam menusuk kedalam jantung lawan bicaranya.

__ADS_1


Tirno pun akhirnya menyerah, dan mengungkap kebenarannya.


****


__ADS_2