
Episode #52
Satu jam sebelumnya, Ferdinand dan Asyifa sama sama keluar dari apartemen, Ferdinand Sudah berencana untuk ziarah ke makam Lady Diana, sesuai dengan permintaan si Enyak, sedangkan Asyifa sedang menunggu Jasmine dan prof Wilson.
" Kamu pergi saja duluan, Nanti kamu ketinggalan bus!" ucap Asyifa pada Ferdinand.
" Tenang saja syifa, aku sudah mengatur semuanya, aku akan menemanimu menunggu profesor Wilson, semoga di sana kamu bisa bertemu dengan Amar, bukankah katamu Amar bekerja di sana?" kemudian Ferdinand mengajak Asyifa duduk di salah satu kursi di depan apartemen.
Ferdinand sudah mulai memanggil Bu Boss nya dengan sebutan syifa, Jika di luar, sekarang dia sudah terbiasa.
Sepuluh menit kemudian prof Wilson datang, dia membuka pintu mobil dan segera menghampiri Asyifa, yang saat itu sedang akrab berbincang dengan seseorang, sesekali keduanya tertawa, prof Wilson tak mengerti apa yang mereka perbincangkan, namun yang pasti satu, hatinya terasa tercubit melihat momen itu.
Langkah prof Wilson semakin dekat, Asyifa dan Ferdinand pun berdiri, menyambut pria yang berusia pertengahan tiga puluhan itu.
" Halo prof!" Asyifa menyapa ramah pada profesor itu. " Jasmine kemana? Apa dia menunggu di mobil?"Asyifa mencoba mencari keberadaan Jasmine, dengan mengangkat sedikit lehernya dan berusaha mencari keberadaan Jasmine.
" Untuk kesekian kalinya saya katakan, panggil saja saya dengan nama, tak perlu embel embel prof segala, karena saya merasa sepuluh tahun lebih tua, lihat rambut di kepala saya ini, masih ada, dan jauh dari kebotakan!" prof Wilson mencoba mencairkan suasana, " Jasmine Sudah berangkat duluan ke area pertanian itu dengan nenek dan pamannya, dia katakan, dia sudah tidak sabar menunggu, ingin melihat taman bunga pesta ulang tahunnya!" prof Wilson menjawab pertanyaan Asyifa.
Asyifa merasakan kejanggalan, tidak mungkin prof Wilson merencanakan hal seperti ini, bukankah cara ini persis seperti seorang anak yang ingin menjodohkan ayahnya, Anak itu benar benar pintar!" pikir Asyifa, sebagai tanggapannya Asyifa mengangguk tanda dia sudah mengerti.
Ferdinand Masih di sana, dia mulai mengerti apa yang Asyifa dan prof Wilson bicarakan, walaupun dia sudah memusatkan perhatiannya di bandingkan aksen Amerika yang selama ini familiar di telinganya, aksen British memang berbeda, atau memang Ferdinand yang memang belum terbiasa mendengarnya.
" Oh ya, Wilson, kenalkan ini Ferdinand, kita tinggal di apartemen yang sama, kita juga sama sama menempuh pendidikan di kampus yang sama, hanya saja kita berbeda jurusan!" Asyifa memperkenalkan Ferdinand.
" Ferdinand, ini adalah profesor pembimbing ku, yang dulu ingin menjemput kita di bandara!" Asyifa memperkenalkan Ferdinand kepada prof Wilson.
Keduanya saling berjabat tangan dan melempar senyum.
" Ferdinand!"
" Wilson, tolong jangan pakai embel prof, ya?"pinta prof Wilson.
" Baiklah, tidak masalah!" jawab Ferdinand." Saya titip Asyifa ya, Wilson!" lanjut Ferdinand kemudian.
Dari kata kata Ferdinand yang mengkhawatirkan Asyifa, di tambah lagi tadi Asyifa bilang tinggal di apartemen yang sama, sepertinya mereka mempunyai hubungan yang khusus.
" Baiklah, anda tidak perlu khawatir Ferdinand, Saya akan menjaga Asyifa untuk anda!" prof Wilson pun pamit bersama Asyifa.
Asyifa dan Ferdinand beradu pandang, entah kenapa, kata kata yang di ucapkan prof Wilson mengandung kesalahpahaman.
Asyifa dan prof Wilson menuju mobil, prof Wilson langsung membukakan pintu untuk Asyifa.
__ADS_1
Setelah masuk dan memakai sabuk pengaman, Asyifa menurunkan kaca mobilnya dan melambaikan tangannya ke arah Ferdinand, lelaki itu pun balas melambaikan tangannya.
" Semoga Bu Boss benar benar bertemu dengan Amar!"gumamnya, kemudian dia berjalan menuju stasiun bus terdekat. di sini, bus akan berhenti setiap duapuluh sampai tiga puluh menit sekali, jadi dia tidak perlu terburu-buru.
" Dia sepertinya laki laki yang baik!" prof Wilson membuka percakapan, setelah mesin mobil terdengar.
Asyifa mengangguk," Dia memang sangat baik, Di jaman sekarang, susah sekali menemukan hati yang bersih, Jujur dan tulus," Asyifa mengatakan yang sebenarnya, lima tahun mengenal Ferdinand, belum Pernah anak buahnya itu, sekalipun mengecewakannya, bahkan, di saat dia tidak ada, dia masih berusaha menjaga apa yang di tinggalkan oleh Asyifa, mengingat itu, Asyifa pasti merasa terharu.
Ada getaran suara ketika Asyifa mengatakan hal itu, prof Wilson semakin yakin akan hubungan keduanya.
" Syifa, Aku minta maaf, jika Jasmine memperlakukan kamu seperti mommy nya, percaya atau tidak, wajah kalian sangat mirip, Jasmine sebelum tidur selalu menggenggam foto mommy nya, dan bercerita tentang hari yang di lewatinya!" kemudian prof Wilson membuka laci mobil dan mengeluarkan sebuah bingkai foto.
" Ini adalah Rose, mommy nya Jasmine!" Dengan satu tangan prof Wilson menyerahkan bingkai itu.
Asyifa menerimanya, dia menatap foto itu dan tidak begitu terkejut melihat betapa mirip keduanya, hal yang membedakannya adalah iris matanya, Rose memiliki mata biru, sedangkan dia memiliki iris mata hitam, " Pantas saja jika Jasmine menganggap aku sebagai mommy nya!" Asyifa menyerahkan kembali bingkai foto itu.
Prof Wilson menerimanya, ada keterkejutan di matanya, melihat reaksi Asyifa, " Aku heran, kenapa kau tidak terkejut sama sekali, Reaksimu begitu berbeda!"
Asyifa hanya tersenyum, dia memandang keluar jendela, kali ini mereka sudah sepenuhnya keluar kota London, ini sudah sampai pinggiran kota London, " Jika itu orang lain, mereka akan berteriak histeris, sayangnya wajah ini bukan wajah asliku, Aku melakukan operasi plastik total sekitar dua tahun lalu!"
Prof Wilson terkejut," Operasi plastik total?"
Asyifa mengangguk, " Benar, enam bulan aku habiskan waktu di ranjang rumah sakit, di Seoul Korea Selatan,"
" Ha ha!" Asyifa tertawa.
Tawa Asyifa benar benar menghanyutkan prof Wilson ke kejadian beberapa tahun lalu, tawa Asyifa benar benar mirip dengan Rose, buru buru prof Wilson mengusir kenangan itu, bagaimanapun yang di sebelahnya ini Asyifa, bukan mendiang istrinya, Rose.
Anda tidak perlu sungkan seperti itu Wilson!"Asyifa sudah mulai terbiasa menghilangkan embel prof dalam kalimatnya.
" Aku senang, orang lain dapat memetik pelajaran dari kisah ku, percaya atau tidak, suamiku, adik ipar ku, dan sahabatku sendiri bersekongkol untuk menghabisi ku, mereka membuat skema seolah olah Aku kecelakaan sendiri dengan menabrak pembatas tebing, mobilku meluncur masuk kedalam jurang, aku yang tidak sadarkan diri, karena sebelumnya sudah meminum air mineral yang sudah di bubuhi oleh obat tidur, Aku terseret oleh aliran sungai, tidak ku sangka, sahabatku yang sudah lama menghilang menyelamatkan aku, katanya aku koma selama dua Minggu, dan ketika aku sadar, Aku sudah tak punya wajah, bekas lukanya begitu mengerikan!"
Prof Wilson terkejut luar biasa, mulutnya menganga, persekian detik, Setelah meraih kesadarannya kembali, dia berkomentar," Aku tidak menyangka Asyifa, kisahmu begitu tragis, kisahmu sudah sangat cocok untuk di jadikan film ataupun novel, aku turut berdukacita atas semuanya, sekarang, bagaimana nasib ketiganya?"
" Itu hanya masa lalu Wilson, aku sudah belajar menerima semuanya, kalau tidak, aku yang akan selalu merasakan sakit, jadi, ketika semua bukti sudah terkumpul, aku melaporkan Mereka pada pihak yang berwajib, pengadilan Sudah menjatuhkan hukuman seumur hidup pada ketiganya, jadi wajar bukan, jika Jasmine mengira aku mommy nya, karena wajah kita sangat mirip," Asyifa menaikkan sebelah alisnya.
" Aku hanya takut kamu merasa tidak nyaman dengan perlakuan dari Jasmine!" ungkap prof Wilson.
" Tidak apa-apa, jika anakku masih ada, mungkin dia sudah seumuran dengan Jasmine!" Asyifa sungguh tidak keberatan.
Prof Wilson mengangguk, mereka sudah memasuki areal pertanian.
__ADS_1
" Kita sudah sampai Asyifa!" prof Wilson langsung membukakan pintu mobil untuk Asyifa.
Setelah mengucapkan terima kasih, Asyifa mengikuti Wilson ke area taman bunga, yang di sulap menjadi panggung pesta ulang tahun Jasmine.
Keduanya berjalan beriringan, sampai suara teriakkan Jasmine menyadarkan mereka.
" Lihat, Daddy dan Calon mommy ku sudah datang!" kemudian Jasmine berlari dan menghamburkan dirinya kedalam pelukan prof Wilson.
Prof Wilson menekuk kakinya dan langsung memeluk Jasmine, sebuah kecupan penuh cinta langsung menempel di kening Jasmine, prof Wilson kemudian menggendong Jasmine.
Sementara itu, di momen tersebut, Amar dan Asyifa saling bertatapan, awalnya Asyifa ingin berhambur memeluk Amar, tetapi dia melihat ada tangan yang bergelayut di lengan Amar, Asyifa mengurungkan niatnya.
Amar yang tersadar seketika menarik tangannya dari pegangan Rebecca secara halus, terlihat sekali, penerus kerajaan Stewart itu begitu gugup dan salah tingkah.
" Ayok, aku kenalkan dengan keluarga besarku!" Ajak prof Wilson membuyarkan lamunan Asyifa.
Asyifa hanya menganggukkan kepalanya, dia berjalan ke arah Elysa.
" Ini ibuku, namanya Elysa Stewart!"
Elysa masih tercengang dengan penampilan Asyifa, dia berpikir bahwa perempuan ini sangat mirip dengan Rose, ibunya Jasmine, hal yang membedakannya hanya iris matanya saja.
" Mommy!" prof Wilson menggoyangkan tubuh Elysa.
Elysa tersadar, " Maaf, kamu sangat mirip sekali dengan Rose, perkenalkan
namaku Elysa mommy nya Wilson!"
Keduanya berjabat tangan.
Asyifa cukup terkejut melihat penampilan seorang perempuan di samping Elysa, dia benar-benar mirip dirinya yang dulu, sebelum dia melakukan operasi, " Siapa dia sebenarnya? Kenapa wajahnya sangat mirip denganku dulu? apakah dia salah satu kerabatnya mama?" pikir Asyifa.
Prof Wilson segera mengenalkan anggota keluarga yang lain, hingga kini mereka sudah ada di depan Amar," Kenalkan, ini adikku, Amar syaputra!"
" Kita sudah kenal kok!" jawab Asyifa datar.
Amar mengangguk,' Iya, kita sudah saling kenal!"
Mata keduanya begitu tajam, keduanya sama-sama cemburu.
" Baiklah, karena Daddy nya Jasmine sudah tiba, kita lanjutkan kembali acaranya, Mari kita sama sama menyanyikan lagu ulang tahun!"Pembawa acara berseru, Jasmine yang berada dalam gendongan Daddy nya di bawa ke depan kue, bersiap untuk meniup lilin ulang tahunnya, semua orang mengelilingi Jasmine dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
__ADS_1
Mata Amar dan Asyifa sesekali bertemu, keduanya ingin meminta penjelasan masing-masing, namun keduanya menahan diri hingga pesta usai.
****