Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Pesta perkenalan cucu Jhonson


__ADS_3

Episode #45


  Sementara itu Asyifa Sudah sampai di apartemen miliknya, Diapun melangkah ke apartemen sebelahnya, dimana Ferdinand tinggal.


  Tanpa mengetuk pintu Asyifa langsung saja masuk ke dalam apartemen Ferdinand, dia melihat bagaimana seriusnya Ferdinand yang sedang mengotak-atik laptopnya, dia serius di depan layar laptopnya dan tidak menyadari Asyifa yang sudah berada di belakangnya.


  Dalam diam, Asyifa memperhatikan apa yang ingin Ferdinand lakukan, setelah beberapa waktu, sebuah video dari kamera pengawas pun muncul.


  Ferdinand kemudian memutar videonya, laki laki itu belum menyadari sepenuhnya, jika sang Bu Boss Sudah ada di belakangnya.


  Video pun kemudian berputar, setelah Ferdinand mengklik tanda segitiga miring di tengah video.


  Video rekaman Rashid dengan perempuan berambut blonde pun di tampilkan.


    Rekaman pun kemudian terhenti.


  " Setelah mendapat video ini dengan susah payah, selanjutnya apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan mengirimkannya kepada Cut Sari? tujuannya apa? Menghancurkan rumah tangganya?" Asyifa melipat kedua tangannya kedepan.


  " Bu Boss,..Eh, Maksudku Syifa!" Ferdinand sedikit kikuk.


  " Aku sarankan dirimu, jangan terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain!" Setelah mengatakan itu Asyifa kembali ke apartemennya.


  Ferdinand hanya terdiam membisu di tempatnya.


  ***


  Rebecca berlari ke kamar ibunya, Nora, Segera dia menghamburkan dirinya ke dalam pelukan ibunya, Nora yang sedang membaca majalah Vogue, pun cukup terkejut.


  " Mama!" Dia terisak, tak bisa menyembunyikan air matanya.


 Nora mengeryitkan dahinya, selama ini Rebecca tak pernah datang padanya dengan keadaan seperti ini, sebagai seorang ibu dia merasa sangat khawatir.


Nora kemudian memeluk Rebecca lembut dan menenangkannya, walaupun usia Rebecca sudah masuk kepala dua, tingkah manjanya itu sangat sulit untuk di hilangkan. dia selalu mengadu hal apapun kepada Nora, dan tak bisa menyelesaikannya sendiri, sifat seperti ini yang membuat Edmund Jhonson begitu muak dengan cucu bungsunya tersebut.


  Setelah tenang, Rebecca melepaskan pelukannya, Nora membelai rambut anak perempuan itu dengan penuh cinta.


  " Kenapa Sayang? Siapa sih yang membuat seorang Rebecca Jhonson bertingkah seperti ini, apa ada yang menindas mu? Hmmp!" Nora berkata lembut, Dia memperbaiki rambut Rebecca yang sedikit berantakan.


  Rebecca mencebiy," Ini semua gara gara gadis rakyat jelata itu, Molly Jones!"


  Nora mengeryitkan dahinya" Maksudmu?"


  Rebecca langsung memutar arah duduknya, dan dia lebih mendekat kepada Nora, " Jadi begini ma!" Rebecca menceritakan semua yang Molly katakan padanya.


  Mendengar itu raut wajah Nora langsung berubah, sifat lembutnya seketika menghilang begitu saja, ada kekejaman melintas di matanya. " Sepertinya anak itu mempunyai nyali juga, kita lihat saja, pihak siapa yang sudah dia singgung!" lontarnya kesal.


  " Rebecca!" panggil Nora tegas.


Sosok yang di panggil pun melihat kearahnya, dia melengkungkan alisnya seolah bertanya" Ada apa ma?"


" Untuk saat ini kau tidak usah mengusik gadis jelata itu, Biarkan saja dia menikmati indahnya jadi tuan putri terlebih dahulu, sekarang kita tunggu saja di perjamuan pesta penyambutannya, Apakah dia masih bisa bertingkah selayaknya kaum bangsawan? ataukah dia akan menunjukkan warna aslinya yang hanya seorang rakyat jelata?" Nora menyesap teh yang sudah dingin itu, Seringainya muncul di bibir tipisnya, banyak ide jahil sudah terencana di dalam pikirannya.


  " Maksud mama? Mama akan bertindak? Mama akan mempermalukan Dia?" Rebecca Nampak sangat bersemangat.


    " Gadis pintar!" puji Nora kepada Rebecca," Sayang, dengarkan mama!"Nora menyangkutkan kedua tangannya di wajah Rebecca" Tidak semua masalah harus di selesaikan dengan kekerasan dan intimidasi, hal ini akan membuat sang musuh waspada dan mempersiapkan diri, dalam hal apapun kelembutan adalah kunci untuk menghancurkan semuanya, kau hanya perlu berpura-pura penuh kasih dan mencari kelemahan lawan, ketika kau merasa si Lawan lengah, baru kau bertindak, ingat, rasa sakit yang dia rasakan akan menjadi ganda, terlebih lagi rasa sakit akibat pengkhianatan akan jauh lebih dalam dari rasa sakit lainnya, akan ada rasa, penyesalan, dendam, sakit hati bercampur jadi satu!"

__ADS_1


  Rebecca mengangguk, dia sependapat dengan ibunya" Sayangnya hingga saat ini, tak ada tuh, yang namanya obat penyesalan!"


Nora melepaskan tangannya dari wajah Rebecca, " Jadi, Bersikaplah lembut padanya, Satu hal yang perlu kau pastikan,.." Nora belum menyelesaikan ucapannya tapi Rebecca Sudah langsung menyela" Apa ma?"


  " Jaga, Jangan sampai Amar terpikat dengan Molly, jangan biarkan dia bermimpi jad Cinderella, kau yang harus bisa mendapatkan Amar!" Nora berkata tegas.


  Pipi Rebecca bersemu merah jika sudah membahas soal Amar, dia langsung berlari keluar tanpa memperdulikan ibunya sendiri, Dia tak ingin di goda lebih jauh oleh ibunya.


  " Ha ha!" Nora terkekeh melihat tingkah putrinya tersebut.


Waktu berlalu begitu cepat, pesta penyambutan untuk Molly Jones pun di gelar, di hotel bintang lima, salah satu aset dari keluarga Jhonson, para tamu undangan terus berdatangan.


  Berbagai kalangan bangsawan pun datang, selain beberapa anggota kerajaan, perjamuan tersebut juga di hadiri oleh Marquez, Earl, Viscount, dan Baron lainnya, sementara itu para pengusaha papan atas juga datang dengan berbagai hadiah untuk sang cucu Marquez Molly Jones.


  Edmund menyambut para tamu dengan sumringah, beberapa kali dia bersulang dari meja satu ke meja lainnya, wajah bahagia tidak bisa dia sembunyikan, dia seperti baru saja menemukan sesuatu yang selama ini dia cari.


  Edhena yang memperhatikan tingkah Edmund hanya bisa mencibir" Leticia, bisakah kau melihat tingkah suamimu dari surga sana? Sepertinya kau tidak menikah dengan seorang tentara, tetapi dengan seorang aktor, lihatlah aktingnya, begitu natural!"


  Barney Griffin, Kepala keluarga Griffin yang fokus pada industri hiburan, datang menyalami Edmund, keduanyapun berjabat tangan dengan ramah.


    " Aku tidak melihat cucu laki lakimu Walt, Apa dia masih bertugas?" tanyanya ramah


  Walt adalah anak pertama Selena dan Darren, kelak dialah yang akan mewarisi gelar bangsawan Marquez dari Darren.


  " Iya, Dia sekarang menjadi kapten di angkatan laut, Aku bersyukur dia mengikuti jejakku menjadi seorang tentara," Kekeh Edmund terlihat bangga.


  " Aku melihat karirnya semakin cemerlang," Barney melanjutkan.


  " Benar!" Edmund mengangguk.


  Kedatangan keluarga Stewart berbarengan dengan Moana dan Raya.


Keduanya tampil dengan sangat memukau malam ini, Aura kebangsawanan mereka menyeruak dalam balutan gaun dan perhiasan yang super indah, Dalam hal materi dan kasih sayang Edmund tidak pernah pilih kasih, dia bahkan masih memberikan tunjangan bulanan kepada Selena, mantan menantunya tersebut, hal ini yang membuat Nora semakin meradang.


  " Bibi Moana!" Jasmine berseru, dia langsung turun dari gendongan Wilson, dan berlari ke arah Moana.


" Jasmine?" Moana sedikit terkejut melihat Wilson dan Jasmine berada di tempat ini, Dia tak menyangka, bahwa rekan kerjanya tersebut juga datang.


  Jasmine berlari dan menghamburkan dirinya ke arah Moana, Moana pun langsung memeluk ku dan menangkapnya.


  " Bibi cantik sekali!" puji Jasmine" Aku nyaris tak mengenali bibi lagi!"


  " Kau juga sangat cantik sayang?" puji Moana balas memuji.


  " Hai Moana, Hai Raya, Apa Selena tidak ikut?" Elysa ibunya Amar sedang mencari perempuan paruh baya itu.


  Sementara Amar memperhatikan keduanya Moana dan Raya, Salah satu Dari mereka berpotensi jadi tunangannya, Amar hanya bisa menghela nafas.


Raya menggeleng," Mami tidak ikut bibi, Dia malas melihat seorang penyihir wanita di sini!"


  Moana langsung menyikut lengan adiknya, Raya.


  " Ha ha!" Elysa tertawa, " Kau lucu sekali Raya!"ungkap Elysa, dia menyukai Raya yang selalu bertingkah apa adanya, Kemudian dia melirik Amar, dan mengenalkan kepada kakak beradik itu, " Perkenalkan, ini anak bibi yang selama ini di Indonesia, namanya Amar!"


  Ketika Amar hendak berjabat tangan dengan kakak beradik itu, sebuah suara terdengar jelas," Sayang, kau sudah sampai?" Rebecca datang dan langsung mencium pipi kiri Amar, dia langsung bergelayut di tangan Amar,.

__ADS_1


Semua yang datang mengeryitkan dahi, tawa Moana dan Raya hampir meledak, sementara Adam Stewart memilih pergi duluan dan berbaur dengan tamu undangan lainnya.


  Amar merasa tidak nyaman dengan tingkah Rebecca, dia merasa risih, beberapa kali dia mencoba melepaskan tangannya tetapi selalu gagal.


  " Ayo, kau aku perkenalkan dengan mamaku, dia pasti senang bertemu denganmu!" tanpa menunggu persetujuan dari Amar, Rebecca sudah menarik paksa lengan Amar, terpaksa Amar mengikuti kemana Rebecca membawanya.


  Sepeninggal mereka, si cantik Jasmine merasa heran, ' Granny!" panggilnya seraya menarik gaun Elysa, Elysa pun menoleh.


  " Bibi itu siapa Granny? Dia terlihat seperti penyihir, paman Amar terlihat seperti sangat tertekan dan sedih ketika di seret, kita harus segera menyelamatkannya! Kasihan paman Amar!" Celetuk Jasmine dengan polosnya.


  Tawa yang sedari tadi di tahan Moana dan Raya pun pecah," Ha ha ha!"


  Sementara itu mata prof Wilson dan Elysa berkedut mendengar celotehan si cantik Jasmine.


  Wilson kemudian menggendong Jasmine," Ayuk, kita masuk saja, kita selamatkan paman Amar di dalam!"


  Jasmine mengangguk, semuanya pun masuk kedalam gedung.


  Pandangan Moana terkadang melirik prof Wilson diam diam, Raya berbisik," Jangan nunggu terlalu lama, mumpung dia belum dekat dengan siapapun, jangan sampai kau menyesal di kemudian hari jika ada orang baru!"


  Moana menghempaskan tangannya, seolah dia tidak mendengar apapun, Raya hanya menggeleng gelengkan kepalanya.


  Setelah semua tamu undangan hadir, rangkaian acara pun di gelar, musisi ternama pun khusus di undang dalam acara ini.


    Sementara itu Molly sedang kewalahan, entah bagaimana bisa gaun yang akan dia kenakan koyak dan rusak di banyak sisi.


Molly marah sekali, dia membentak semua asisten yang ada di ruangan itu," Kalian bagaimana sih, kenapa gaunnya bisa robek seperti ini?"


Para asisten terdiam, semuanya menunduk, Mereka tidak berani mengangkat wajahnya.


" Aku akan melaporkan kejadian hari ini pada kakek! Kalian akan merasakan akibatnya!" Bentak Molly, tatapannya sungguh tajam.


Diana, salah satu asisten tersebut mengangkat wajahnya, " Maafkan kami Nona Molly, kami bersumpah kami tidak menyentuh sedikitpun gaun itu, Nona lihat sendiri, Nona yang membuka segel pembungkus itu!"


Molly sebenarnya tahu hal itu, nenek angkatnya, Meghan, sudah memprediksi hal ini sebelumnya.


" Kalian semua keluar!" molly menunjukan ke pintu yang ada di ruangannya.


Semua asisten yang di sana menatap satu sama lain.


" Apakah kalian sudah tuli? Apakah telinga Kalian sudah tidak berfungsi lagi? Aku bilang keluar!" sekali lagi Molly menunjuk ke pintu keluar.


Semua asisten pun keluar dengan terburu-buru, mereka tidak ingin di amuk oleh Molly.


Brak!" suara pintu di banting.


Semua adegan itu terkirim dengan jelas di ponsel Nora, ya, Nora yang telah merencanakan ini semuanya, dia telah menyuap salah satu pegawai toko, untuk merobek gaun tersebut, dia juga memberikan tambahan uang kepada penata rias untuk merusak riasan Molly, jadi, molly yang tampil memukau, lama kelamaan riasannya akan rusak sendiri jika terlalu banyak menggerakkan otot wajah.


Nora tersenyum bahagia," Bocah ingusan itu berani menindas putriku? pembalasan ini belum seberapa!" Nora kembali menyesap minumannya.


Lamunan Nora terhenti, ketika suara yang familiar terdengar di telinganya," Mama kenalkan ini Amar, dia adalah putrinya bibi Elysa cucunya kakek Adam Stewart!" Rebecca mengenalkan.


" Halo bibi, Salam kenal!" Amar mengulurkan tangannya.


Nora sedikit tertegun, perpaduan Asia dan Eropa membuat Amar tampak sangat maskulin, apalagi kulitnya yang eksotis, menambah kesan ketampanannya" Halo Amar, Aku Nora, mamanya Rebecca!" ucap Nora setelah mampu menguasai dirinya sendiri.

__ADS_1


****


__ADS_2