
Episode # 95
Sepeninggal Angga dan Asyifa, mansion kediaman Wijaya Kusuma, kembali ke keadaan semula, tenang, hening dan sepi.
Lusi dan Jeni, kedua anak perempuan Wijaya Kusuma sedang berdiskusi alot di salah satu kamar, mereka sedang menyusun rencana Bagaimana menggagalkan kedekatan Angga dan Asyifa.
Diskusi tersebut menemui jalan buntu.
"Aku bingung banget nih, kak Jen, sepertinya kali ini kita menemui jalan buntu, menghadapi perempuan itu begitu sulit, tidak seperti perempuan lainnya, yang di dekati Angga," Lusi mengeluh kepada kakaknya.
" Benar sekali! kalau perempuan perempuan yang dulu, kita bisa pegang kelemahannya untuk mendekati Angga, tapi untuk yang ini, sepertinya dia tidak punya kelemahan," Jeni menimpali, seraya meminum teh lemon mint yang sudah mulai dingin.
" Apa Angga Sudah tahu, kalau kita sering mengancam para wanita yang dekat dengan dia, dan menyuruh mereka menjauhinya, dengan cara, mengancam anggota keluarga, dan menyebarkan aib perempuan itu?" Lusi mulai berpikir.
Jeni menggeleng, " Tidak mungkin, seandainya juga Angga tau, dia tidak akan bertindak apa-apa, karena dia hanya sekedar iseng saja dengan mereka, Buktinya, tidak ada yang dia ajak untuk bertemu dengan papa,"
" Tante salah, tentang hal itu!" Charlie, anak laki-laki tertua Lusi, tiba tiba masuk ke ruangan dan menimpali, " Angga tidak bertindak, dan seolah olah tidak tahu menahu itu, hanyalah sebuah kedok belaka, dia pasti paham, tentang apa yang terjadi, hanya saja dia diam, sebenarnya dia membiarkan tante dengan mama, hanya karena dia tidak ingin repot repot menguji para perempuan yang mendekatinya, , Buktinya, mereka langsung menjauhi Angga, setelah menerima cek dan mengancam anggota keluarga mereka" setelah mengatakan itu, Charlie duduk di samping mamanya, Lusi.
" Apa Angga juga tahu, tentang beberapa perempuan yang kita tugasin untuk mendekatinya? Lusi melirik Jeni, seolah takut ketahuan.
" Mama, Angga itu bukan orang yang polos, dia sudah pantau gerak gerik mama dan Tante, tanpa kalian sadari, Dia juga tahu, bahwa kalian akan mengendalikan perempuan yang akan dia nikahi kelak" Charlie memberikan penjelasan.
" Jadi, kita harus bagaimana sekarang, Charlie?"Jeni sedikit kebingungan.
" Tante dan mama tenang aja, kali ini biar aku yang turun tangan," Charlie kemudian berbisik dengan keduanya, tentang rencananya.
Mendengar itu, seutas senyum pun terbit di kedua wajah kakak beradik itu
__ADS_1
" Kamu memang bisa di andalkan, Charlie," puji Jeni sepenuh hati.
" Ha ha ha ha!" Tawa ketiganya pun membahana di ruangan itu.
Charlie, merupakan cucu kedua laki laki dari, Wijaya Kusuma, dia sangat membenci Angga, karena selama ini dia selalu tersisihkan, dia hidup dalam bayang bayang kesuksesan Angga, Angga selalu di jadikan contoh teladan oleh sang kakek, kepada cucunya yang lain, terlebih lagi, ketika pesta ulang tahun tuan WIJAYA Kusuma, yang mengumumkan bahwa Angga adalah sang pewaris dari Kusuma group.
****
Sesampainya di apartemen, Asyifa langsung membersihkan dirinya.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Asyifa melirik ke bingkisan yang di berikan oleh Angga, Dia tidak tertarik sedikitpun untuk membukanya, dia membiarkan bingkisan tersebut teronggok di atas meja rias.
Kemudian Asyifa mengutak-atik ponselnya, dia penasaran, dengan apa yang di perbincangkan dengan Angga dan kakeknya.
Di ponselnya hanya ada satu klip perbincangan, Sepertinya setelah Angga pergi, sudah tidak ada lagi yang Wijaya ajak bicara, begitupun dengan nyonya Arum, entah memang tidak ada perbincangan, atau keduanya telah melepas jam tangan yang di sisipkan Mikro Recorder oleh Asyifa.
"Chandra, panggilkan Angga kemari," suara Wijaya Kusuma memecah keheningan.
Asyifa mengenal Chandra, dia adalah kepala pelayan yang khusus melayani kebutuhan tuan Wijaya Kusuma.
Beberapa saat hening, tak ada suara, hingga kemudian langkah kaki terdengar.
" Iya, Kakek, Ada apa?" suara Angga terdengar menyapa kakeknya.
" Bagaimana, apa dia senang, kamu ajak berkeliling?" suara datar tuan Wijaya Kusuma terdengar begitu jelas.
" Sepertinya dia senang," Angga menjawab lugas.
" Bagus,.. Buat dia merasa nyaman dan merasa di terima di sini, ini adalah kesan pertama dia berkunjung, dan itu sangat penting! Wijaya Kusuma member peringatan, " ,Oh ya, berikan ini padanya, katakan, ini hadiah perkenalan dariku, itu akan membuat dia berpikir, bahwa dia diterima dengan tangan terbuka,"
__ADS_1
" Ini apa?" Terdengar suara Angga, menanyakan isi bingkisan tersebut.
" Ini hanya satu set perhiasan terbaru, sebagai perempuan, dia pasti suka," terdengar Wijaya Kusuma tidak bermaksud untuk menyembunyikan apapun.
" Pergilah! temui Dia lagi, jangan biarkan dia menunggu terlalu lama!" lanjutnya.
Setelah mengiyakan, Angga bergegas keluar, terdengar suara langkah kaki.
Tidak ada lagi perbincangan setelahnya, klip suara pun berhenti.
Asyifa mengarahkan pandangannya kearah bingkisan tersebut, perlahan dia mendekati dan membukanya, memang benar, Satu set perhiasan mutiara ada di sana, sebagai seorang perempuan, tentu saja dia senang.
***
Keesokan paginya, Asyifa terkejut luar biasa, ketika dia bangun tidur, di meja makan, sudah terhidang, berbagai menu untuk sarapan pagi, terlihat Amar memakai celemek, sedang mencuci piring, sepertinya dia baru selesai memasak.
" Waah, tuan putri sudah bangun! Ayo, sarapan dulu!"Amar menuntut Asyifa, dan menarik kursi untuknya.
" Hei, bagaimana caramu bisa masuk kesini?"tanya Asyifa serius, tangannya terlipat di dadanya.
" Kamu lupa? sidik jari ku juga terdaftar pada unit ini, tentu saja aku bisa masuk, kamu sih, sibuk terus sama Angga, hingga tak ada waktu untuk aku lagi" Sedih tau!" Amar mengerucutkan bibirnya, tanda dia merajuk.
Melihat tingkah Amar yang seperti itu, Asyifa langsung menimpuknya dengan kotak tisu.
Dengan sigap Amar menghindar, dia bernafas lega, " Udah di masakin sarapan, bukannya berterima kasih, malah di timpuk pake kontak tisu, gak asik ah, Air susu di balas air tuba,"
Asyifa hanya tersenyum dingin, dan mengatakan," Baru tau yah, kalau Sekarang lagi trend nya air susu di balas air tuba, Helo.., kemana saja pak!" ledek Asyifa.
Amar hanya tersenyum pahit, dia tau betul siapa yang di maksud dengan Asyifa, siapa lagi, kalau bukan keluarga mantan suaminya dan Camilla, sahabat laknatnya.
" Bagaimana keadaan di sana? kamu sudah dapat bukti?" Amar bertanya tentang mansion kediaman Wijaya Kusuma.
Untuk satu ini belum, Sepertinya susah mencari bukti, kita harus bekerjasama dengan Angga atau Rio, jika ingin menjebaknya" Asyifa berpendapat.
Amar memberikan mangkuk berisikan potongan buah segar, kepada Asyifa, seraya berujar, " Itu hal yang sangat sulit di lakukan, ada alasan apa hingga mereka balik menyerang Wijaya Kusuma?"
Asyifa tersenyum manis penuh makna, " Kamu kenal Gu Yan? Taipan kaya asal Hongkong?"
Ada sedikit keterkejutan di mata Amar," Kenapa lari kesana! Aku tak terlalu dekat, hanya sekedar tau aja, kenapa?"
" Tidak ada apa apa, yuk sarapan!" ajak Asyifa.
Amar hanya menggelengkan kepalanya tidak jelas, dia semakin tidak mengerti Asyifa, tetapi dia sudah bisa menduga, jika perempuan itu akan menyangkutkan pada taipan Hongkong tersebut.
__ADS_1
****