Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Bertemu lagi


__ADS_3

Episode #60


  Keumala dan Ferdinand sudah tiba di halte Bus, sayang sekali mereka terlambat beberapa menit, Bus yang menuju ke apartemen Keumala baru saja berangkat, Bus selanjutnya akan tiba satu jam lagi, akhirnya Ferdinand mengajak Keumala menikmati secangkir coklat panas di sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari halte Bus.


  Ferdinand mengeratkan mantel Keumala yang longgar," Lain kali, kalau Keumala pake mantel, ikat yang kuat ya, biar tidak masuk angin!"


Keumala mengangguk," Tadi Mala terburu buru om, jadi Mala pakai asal saja, he he!"


  " Ayo coklat panasnya di habiskan, nanti keburu dingin!" ucap Ferdinand.


  Keumala dan Ferdinand pun bercengkrama, Keumala tertawa, jika Ferdinand sudah menampilkan wajah jeleknya, orang yang tidak mengenal mereka akan berpikir jika mereka adalah pasangan ayah dan anak yang kompak.


  Bus berhenti, seorang perempuan turun dan ingin segera menyeberang ke Camden Market, sebuah pasar malam di kota London yang terkenal dengan suvenir unik, beserta makanan dan minumannya yang lezat.


  Ketika hendak melangkahkan kakinya, perempuan itu melihat Ferdinand sedang bercanda dengan seorang gadis kecil," Eh, itu, bukankah anak itu sepertinya tidak asing! Bukankah itu Keumala? Anaknya Rashid?" perempuan itu menghampiri keduanya.


  Sosok itu semakin dekat, Keumala tidak sengaja melihat sosok itu, Diapun langsung berseru," Bibi Raya!" kemudian Keumala langsung turun dari kursinya dan berlari kearahnya.


  Raya menekuk lututnya, mensejajarkan dengan tinggi badan Keumala, dia merentangkan tangannya sehingga Keumala bisa berhambur ke pelukannya.


  " Lama sekali tidak bertemu bibi! Apa bibi sibuk akhir akhir ini?" tanya Keumala dalam pelukan Raya.


  Raya mengelus pucuk kepala Keumala, dan kemudian menggendongnya, dia membawanya kembali ke tempat Ferdinand, dia kemudian duduk dengan Keumala di pangkuannya.


  " Iya, bibi akhir akhir ini sibuk, bibi sekolah lagi, he he!"


  " Pantas, bibi sudah jarang main ke rumah, ternyata bibi sekarang sekolah lagi! Keumala menganggukkan kepalanya, " Oh ya bibi, kenalkan ini Om baik!" Keumala menunjuk kearah Ferdinand.


  Ferdinand hanya tersenyum kepada Raya, ini pertemuan ketiga mereka, tabrakan di kampus, dan setelah pertemuan tidak sengaja di taman.


  " Helo Ferdinand, kita berjumpa lagi!" entah kenapa pipi Raya bersemu merah.


  Keumala melihat Ferdinand dan Raya bergantian," Apa bibi dan Om baik saling kenal?"


Ferdinand dan Raya sama sama mengangguk.


  " Kenal, kita satu sekolah!" jawab Ferdinand.

__ADS_1


  " Satu kelas, lagi!" sambung Raya.


 " Wah, asik dong!" seru Keumala, " Mala boleh gabung gak, dengan kelasnya bibi dan Om baik? Mala malas main dengan teman sekolah, mereka gak asik, gak seru, bibi dan Om baik!"


  Mendengar itu, baik Raya maupun Ferdinand tertawa, Raya mencubit pipinya Keumala dengan gemas, sedangkan Ferdinand mengusap kepala Keumala yang terbungkus hijab.


  Keumala mulai mengantuk, beberapa kali dia menguap," Hoaam!"


Ferdinand pun mengambil Keumala," Kalau Keumala mengantuk, tidur saja ya? nanti kalau Bus nya sudah datang, kita langsung pulang!"


  Keumala mengangguk," Iya om, Mala sangat mengantuk!" gadis kecil itupun mulai memejamkan matanya dan tertidur dalam pelukan Ferdinand.


  Sekarang tinggal Raya dan Ferdinand, keduanya terlihat canggung, Mereka tidak tahu harus memulai obrolan darimana.


  " Sepertinya kalian cukup dekat ya?" tanya Raya.


" Seperti itulah, Aku baru bertemu dengannya satu kali, Cut Sari dulu teman satu almamater ku!" jelas Ferdinand, kemudian dia melanjutkan perbincangan, " Kau darimana?"


" Aku dari West End, menonton pertunjukan teater, di musim gugur ini, banyak pertunjukan berlangsung di sana, Apa kau pernah menonton pertunjukan teater di sana?"Raya pun mencoba menghidupkan pembicaraan, Dia ingin semakin dekat dengan lelaki asia ini.


Raya mengeryit," Sungguh?"Dia seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, " Kalau begitu kau harus menonton, walau sekali seumur hidup, jangan bilang kau pernah menginjakkan kaki ke London jika Belum menonton pertunjukan teater, kota ini London, terkenal sebagai kota teater didunia, aku akan mengajakmu menonton, jika kau punya waktu luang, Bagaimana?"


" Wah, sepertinya itu ide yang bagus, maaf kalau aku terlalu merepotkan Nona!" Ferdinand sedikit merasa sungkan, namun dalam hatinya merasa senang karena sudah mendapatkan seorang teman baru.


" Jangan terlalu sungkan, cukup panggil aku dengan panggilan Raya saja, tidak perlu embel Nona!" pinta Raya," itu terdengar terlalu formal!"


" Baik!" Ferdinand langsung menjawab.


" Omong omong, bagaimana Keumala bisa bersamamu? Mana Cut Sari dan Rashid, apa mereka menitipkannya kepadamu?" Raya akhirnya menanyakan apa yang mengganjal di hatinya.


" Aku mengenal keduanya, Rashid adalah rekan sekantorku sekaligus teman kuliahku waktu ambil sarjana, Aku juga cukup dekat dengan istrinya!" Raya menjelaskan tanpa di minta.


" Aku tidak tahu kemana kedua orang tuanya, Aku menemukannya di kerumunan banyak orang, ketika Aku berjalan di pasar malam Camden Market," Ferdinand berterus terang, tapi dia tak bilang bertemu Cut Sari sebelumnya.


Raya menghembuskan nafasnya," Aku kasihan sekali pada Keumala, sepertinya dia korban dari keegoisan kedua orang tuanya, Rashid yang selalu bermain perempuan, dan Cut Sari yang terlalu cemburuan dan posesif, Aku tak bisa berkomentar tentang rumah tangga mereka, tapi aku kasihan dengan Keumala yang seperti terlantarkan!"


Ferdinand hanya diam, dia tidak berkomentar apapun.

__ADS_1


Raya mengeluarkan telepon genggamnya, dia terlihat sedang mengetik sesuatu, setelah itu dia menyimpan kembali telepon genggamnya.


" Aku sudah menghubungi Cut Sari, dia sangat terkejut ketika aku bilang menemukan Keumala di Camden Market, dia sedang dalam perjalanan pulang ke apartemennya, sebaiknya kita langsung ke halte, Bus akan tiba sekitar sepuluh menit lagi!"Raya kemudian membereskan barang bawaannya.


Ferdinand pun menggendong Keumala yang sudah pulas di pelukannya, ketiganya nampak seperti keluarga yang begitu harmonis.


" Sepertinya kau sangat dekat dengan Keumala fer, kau nampak seperti ayahnya saja!" Raya berkelakar.


" Mungkin karena kami masih satu Ras, jadi cocok," Ada perasaan aneh ketika Raya mengatakan bahwa Keumala cocok menjadi anaknya, bayangan Cut Sari tiba tiba terlintas dalam benaknya, buru buru dia menggelangkan kepalanya untuk mengusir bayangan itu.


***


Sementara itu, Asyifa sedang sibuk dengan laptopnya, dia sedang menyusuri keluarga Jhonson di mesin pencarian, sayangnya informasi tentang keluarga bangsawan Sangat minim, bahkan nyaris tidak ada, setiap kunci yang di ketiknya mengarahkan hasilnya pada keluarga kerajaan Britania raya.


"'Sepertinya dia sia jika aku mencarinya di internet!" Asyifa bergumam, dia mematikan laptopnya dan berjalan kearah balkon.


" Malam ini cerah sekali, entah kemana si Ferdinand itu kabur, kalau tidak aku akan mengajaknya jalan-jalan ke West End, untuk menonton pertunjukan teater," Asyifa duduk di balkon apartemennya sambil menyesap tehnya.


" Kriiing!" teleponnya berdering, memecah lamunan Asyifa.


Dengan langkah gontai dia berjalan ke ruang tamu, dia kemudian mengambil telepon genggamnya, dan melihat identitas si penelpon," Nomor baru lagi?"alisnya melengkung.


Dia mengangkatnya.


Belum sempat Asyifa mengeluarkan sepatah kata, suara yang sangat familiar sudah terdengar," Hay sweet heart, Aku menunggumu di bawah, Ayo kita jalan jalan, Aku masih ingin menghabiskan waktu bersama mu!"


" Amar!" seru Asyifa kaget, " Bukankah kau baru menelpon ku beberapa waktu lalu?"


" Iya, tapi aku masih kangen, cepatlah, aku tunggu di lobi!"


Panggilan terputus.


Asyifa terdiam sejenak," Akh! anak itu!"


Asyifa langsung berlari ke kamarnya, dalam hitungan lima menit dia sudah selesai berdandan, dia hanya mengganti pakaiannya dan mengenakan mantelnya, riasan tipis dia sapukan di wajahnya dan menyemprotkan sedikit parfum, dalam kecepatan kilat dia sudah berada dalam lift, di sana dia berusaha menetralkan debar jantungnya, dia merasa bagai anak remaja yang di ajak kencan diam diam oleh pacarnya.


****

__ADS_1


__ADS_2