
Episode #47
Michael tidak pernah menyangka, bahwa Melinda, gadis yang di pacarinya karena harta, akan terlilit hutang sebanyak itu, walaupun secara tidak langsung Bukan dia pelakunya, tetapi wanita itu yang akan menanggung membayarnya.
Ada sorot kasian dan iba terlihat dari bola matanya, entah kenapa, Melinda bisa menangkap itu, tapi sayangnya hatinya sudah tidak seperti dulu lagi.
Kamu tenang ya,. Aku akan berusaha menghubungi orang yang bisa kita pinjam uangnya untuk melunasi itu," ucap Michael kemudian.
Aku cape Mike, setiap hari tidur tak nyenyak, makan tak enak, kepikiran hutang terus, kalau harus cari pinjaman lagi, mau sampai kapan, harus gali lobang tutup lobang? Aku capek, Mike, udah gak kuat!" Melinda menumpahkan semua keluh kesah nya, dia terlihat rapuh.
" Iya, aku mengerti! Trus apa yang harus kita perbuat sekarang? Mendapatkan uang lima milyar dalam waktu satu Minggu bukan hal yang gampang, itu jumlah yang besar," ucap Michael sambil mengusap pucuk kepala Melinda, agar wanitanya itu mendapat sedikit ketenangan.
Melinda sudah sangat risih dengan kontak fisik yang Michael lakukan, usapan, rangkulan, atau gerakan sekecil apapun rasanya membuatnya jijik, tapi dia harus menahannya, sungguh itu bukan hal yang mudah bagi Melinda, yang tak pernah menyembunyikan perasaannya, dan cenderung apa adanya.
Aku cape hidup dalam hutang! Aku cape mimpi di kejar kejar Debt colector!" ucapnya sendu, kerapuhan yang di perlihatkan membuat Michael menjadi iba, karena selama ini, Melinda selalu tampil menjadi sosok wanita yang mandiri dan kuat, tak pernah menunjukkan, sisi kelemahan sama sekali, jadi Michael berfikir saat ini Melinda sedang sangat tertekan. dengan keadaan.
Michael tidak mengatakan apa-apa,, sekarang dia hanya jadi pendengar, seperti yang dia dengar di Podcast podcast yang mengatakan, bahwa kaum perempuan hanya butuh di dengarkan, pasti perempuan itu sudah punya solusinya, Hal ini berbeda dengan laki laki, yang jika mereka bercerita berarti mencari jalan keluar atau penyelesaian.
Melinda berdiri, seketika dia menatap sekitarnya, Dia menghela nafas panjang dan menghembuskanya, seolah olah dia sedang menenangkan hati dan pikirannya.
Kemudian dia mengambil sebotol air mineral di kulkas yang ada di pojok ruangan, kemudian dia berjalan ke sofa, dimana Michael sedang duduk dan memperhatikan setiap garak Melinda.
Melinda duduk di samping Michael, membuka tutup botol mineral dan meneguk nya, rasa dingin langsung menyegarkan dahaganya. Dia masih menatap ke depan dengan botol yang masih di genggamannya, keadaannya begitu membangkitkan rasa iba di hati orang yang mengenal wanita itu.
Dalam hati Melinda sebenarnya ingin terkekeh, namun dia harus tampil meyakinkan.
" Sepertinya aku harus jual butik ini, tidak ada jalan lain, aku juga sepertinya harus cari kerjaan sekarang, Ha, ha, ha," Melinda tertawa, tetapi Michael tau, itu tawa yang penuh rasa sakit.
" Kamu yakin dengan keputusan kamu Barbie? Bukannya kamu sayang banget sama butik ini? Inikan peninggalan dari almarhum mama kamu?" Michael tentu saja tidak setuju, dengan ide yang menurutnya gila itu, sebab, kalau butik itu di jual, dia sudah tidak ada lagi lahan basah, untuk menggelapkan uang pembelian bahan baku, " Tidak, tidak! Melinda harus selamatkan butik ini, lebih baik cari pinjaman, daripada menjual butik ini, bisa ga ada lagi pendapatan aku," pikirnya.
Melinda sebenarnya ingin tertawa, melihat ke gigihan Michael mempertahankan butik, sampai sampai membawa almarhum mamanya, " Benar benar tak punya perasaan" pikirnya.
"Iya, Aku tahu," Melinda menatap seisi butik dengan mata sendu dan ada kabut tipis di sana, kemudian Melinda melanjutkan," Tidak ada jalan lain Make, walaupun aku sangat sayang dengan keadaan butik ini, meski ini kenangan satu satunya dari almarhum mama, tapi aku tak berdaya kali ini, demi melunasi hutang hutang mama juga, aku juga ingin mama tenang di alam sana, karena sudah tidak terjerat hutang lagi!" Melinda memberikan pembelaan, dalam hatinya Melinda meminta maaf pada almarhum mamanya," Maafkan Cici mah, jika bawa bawa nama mama.
Michael hanya menghela nafas pelan, tampak sekali dia kecewa, karena sudah tidak ada kesempatan lagi, untuk menggelapkan dana butik.
Melinda melihat raut kekecewaan dari Michael, diapun puas sekali, dalam hatinya dia mencibir," Rasakan Keong racun, ga ada pemasukan lagi dari butik, Ha, ha, ha,!
Melinda menoleh ke arah Michael dan bertanya," Apa kamu ada cara lain?"
" Aku akan berusaha cari pinjaman, menjual butik juga bukan perkara mudah, butuh waktu yang lama, dan mungkin tidak terkejar dalam waktu satu Minggu, kalau memang tidak dapat pinjaman, baru kita jual, atau setidaknya kita gadaikan sementara, Bagaimana menurutmu?" Michael memberikan solusi.
__ADS_1
Melinda nampak berfikir, dia menopang dagunya dengan tangannya, " Benar juga, bagaimanapun kita harus berusaha dulu untuk mencari pinjaman, kalau dalam tiga hari kita tidak dapat, kita bisa gadai, atau lelang butik ini sekalian,"
Baiklah, Aku akan bantu cari pinjaman, kamu yang sabar yah,? Yuk kita cari makan dulu, sekalian nenangin diri," ajak Michael.
Melinda mengangguk dan segera mengambil tasnya, mereka berdua berjalan bergandengan, menuju parkiran dan melesat pergi.
Sementara itu, Nany yang melihat mereka pergi, hanya diam terpaku, pegawai itu tidak sengaja mencuri dengar pembicaraan antara Melinda yang dia panggil Cici dengan Michael.
Awalnya dia ingin memberikan laporan, terkait barang yang di kembalikan customer, karena tidak mau membayar sistem COD, Akan tetapi hal tersebut sangat mengejutkan, dia tidak menyangka, keempat laki laki yang datang adalah Debt colector, dan dia tidak pernah membayangkan bahwa butik ini, akan di jual atau di lelang, hatinya langsung gundah dan gelisah, galau menyergap harinya.
Dengan langkah lunglai dia keluar menuju butik, tampak sekali dia tidak bersemangat, para pegawai lainpun heran dengan sikap Nany, " Tadi perasaan Nany masih semangat, trus kenapa sekarang jadi lesu? pikir mereka.
Hany, pegawai seangkatan Nany pun tidak bisa menahan penasarannya, Dia langsung menarik tangan Nany ku e toilet dan kemudian memberondong nya dengan berbagai pertanyaan.
" Ada apa? Apa ada masalah?" jiwa kepo Hany langsung meronta minta di keluarkan.
Nany melihat sekitar, untuk memastikan bahwa tidak ada yang menguping, pembicaraan mereka, bagaimanapun juga ini adalah hal yang sensitif.
Nany mengangguk, mengiyakan pertanyaan dari Hany," Aku tadi tidak sengaja mencuri dengar, kalau butik ini akan di jual atau di lelang, oleh Cici!"
Hany begitu terkejut, mulutnya terbuka, satu butir telur bisa langsung di masukkan kesana.
Hany, mengangguk dua kali seperti anak ayam yang sedang mematuk makanannya, ya, tadi dia memang melihat, ada empat orang laki laki masuk ke ruangan kerja Melinda, ketika dia sedang menyusun baju di rak.
Nah, mereka itu Debt colector" tegas Nany.
Hany mulai panik, dia takut kehilangan pekerjaannya, bagaimanapun dia seorang janda, tulang punggung keluarga, dengan satu anak dan ibu yang harus di berinya makan, kalau dia kehilangan pekerjaan ini, akan susah hidupnya.
Menyadari kepanikan dari Hany, Nany menepuk bahunya, " Jangan panik dulu, bagaimanapun Cici Sangat sayang sama kita, para pegawainya dan sudah menganggap kita sebagai keluarganya, dia tidak akan membiarkan kita,, seperti ini, Doakan saja, biar masalah cepat kelar, dan jangan sampai ada yang tau masalah ini, takut nanti ada kesalah pahaman".
Hany mengangguk.
"Ya sudah, ayok, kembali bekerja, ingat, bersikap yang normal saja ya? jangan buat orang lain curiga!" Nany memberikan peringatan kepada Hany, dan berlalu untuk kembali bekerja.
Hany hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia keluar dari kamar mandi, seraya bergumam," Perasaan tadi dia deh, yang bersikap mencurigakan dan tidak normal?"
****
Tiga hari kemudian.
Empat hari sebelum kedatangan Bayu dan para antek anteknya.
__ADS_1
" Bagaimana? Dapat, pinjamannya?" tanya Melinda kepada Michael, yang sedang menuju tempat duduk di depan meja kerja Melinda.
Melinda tetap fokus pada komputer di depannya, dan tidak melihat ke arah Michael, karena dia sedang memperbarui toko online nya.
Michael duduk dan bergumam, Hmmp" Pria tersebut tidak suka berbicara, jika Melinda masih sibuk dengan komputer nya.
Melinda mengalihkan fokus nya kepada Michael dan tersenyum, senyum yang sangat indah, yang sudah hilang beberapa hari ini.
Michael terkesima, entah mengapa, denyut jantungnya bertambah cepat, untung Melinda tidak di dekatnya, jika tidak mungkin Melinda bisa merasakannya.
Michael mendesah pelan, dengan lesu dia menjawab," Maaf Barbie, Aku sudah berusaha mencari pinjaman, tapi tidak dapat, aku sudah hubungi Koh Erik, tapi dia tidak punya uang sebanyak itu sekarang, Dia lagi butuh modal, untuk proyek barunya, walaupun dia bisa bantu itu hanya sekitar dua ratus juta saja, selebihnya gak bisa membantu,"
Mendengar nama koh Erik Melinda langsung mendelik, masih teringat jelas di ingatannya, tatapan mesum pria bermata sipit itu.
Aku juga tidak dapat pinjaman, aku berusaha menghubungi Camilla, tetap tidak bisa, mau ke apartemennya takut mengusik, Kamu tahu sendiri, sejak dia Viral dan kontraknya di tangguhkan sementara, Baik dia maupun Bastian susah sekali di hubungi, Aku juga sudah menghubungi komunitas pengusaha muda yang ada di kota ini, tetap aja tidak dapat pinjaman, malah dapat brosur, nih, coba liat!' Jelas Melinda, sambil menyerahkan selebaran brosur yang sudah di persiapkan sebelumnya kepada Michael.
Michael menjulurkan tangannya, lalu membaca informasi yang tertera di brosur tersebut," Acara pelelangan?" tanyanya memastikan.
Melinda mengangguk, Ita, acara pelelangan itu akan di adakan lusa dan sekarang pendaftaran terakhir untuk menawarkan lelang, Aku Sudah memutuskan untuk melelang butik ini, jika menjual, kita tidak bisa mengejar waktu yang tinggal empat hari lagi," jelas Melinda pasrah dan tidak berdaya.
Michael hanya bisa mendengarkan, walaupun dia tidak setuju, dia tidak bisa berbuat apa-apa, dengan wajah lesu dan tidak berdaya, dia berucap," Maafkan Aku ya Barbie, aku tidak bisa membantu apa apa, seandainya aku ada, Aku tidak akan membiarkan kamu dalam keadaan seperti ini, Aku merasa tidak berguna jadi pacar kamu"
" Dadar, Keong racun, jelas jelas, kamu sudah mengantongi banyak, uang dari butik ini, malah pura pura tidak berdaya," Cibirnya dalam hati.
Mendengar rayuan tersebut Melinda merasa mual dan jijik.
Melinda kemudian beranjak dari kursi kerjanya, dia menghampiri Michael, dan menggenggam tangan laki laki itu lembut," Ssstt! Jangan ucapkan kata kata seperti itu, kamu sekarang ada di sisi aku, menemani aku, dalam keadaan tersulitku, itu sudah sangat, sangat cukup. kamu sudah membuktikan, bahwa kamu benar benar perduli sama aku, terima kasih ya sayang" Ucap Melinda sambil memandang manik mata laki laki yang masih sah berstatus sebagai kekasihnya.
Michael sedikit terpana dengan kata kata Melinda, sejauh mereka berhubungan, baru kali ini Melinda menunjukkan ketulusan dalam sisi lemah dan kuat sekaligus, entah mengapa ada sisi hatinya yang tersentuh.
Lebih baik sekarang kita fokus dengan pelelangan yang akan di adakan lusa, yuk, bantu aku memotret, beberapa bagian butik, untuk di tampilkan di acara lelang," Melinda akhirnya mengajak Michael untuk mendaftar lelang.
Michael mengiyakan, dan segera mengambil kamera DSLR nya, dia mengikuti Melinda dan mengambil beberapa gambar.
****
__ADS_1