Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Bertemu pengantin baru


__ADS_3

Episode #47


    Sementara itu, saat semua sedang menikmati pesta, Asyifa sedang berada di stasiun, dia berkeliling kota London, dia mencoba mencari alamat yang dulu pernah ia kunjungi bersama lady, alias flora, ibunya.


  Dia terlihat lelah sekali, Dia tidak mendapatkan apapun, alamat yang dulu pernah dia datangi, sekarang sudah berganti penghuni, menurut pengakuan dari penghuni baru, sejak suami dari edhena meninggal beberapa tahun lalu, dia sudah tidak tinggal di apartemen itu lagi, penghuni baru itupun tidak tahu keberadaan Edhena sekarang.


  Di stasiun, Asyifa berjalan lunglai, awalnya dia berpikir, akan mudah menemukan keluarga ibunya dengan bantuan Edhena.


  Asyifa bahkan memakai sebuah kalung warisan dari mamanya, untuk meyakinkan Edhena bahwa dia adalah anak perempuan Lady, yang sempat berjumpa beberapa tahun lalu.


  Buk!" Asyifa menabrak seseorang, dia tidak berkonsentrasi sehingga tak sengaja menabrak seseorang di depannya.


  Asyifa langsung meminta maaf," Maafkan saya, saya tidak sengaja menabrak anda!"


    " Nona syifa, Apa ini beneran anda?"suara familiar segera membuat Asyifa mengangkat wajahnya.


    " Arsyad! Melinda!"Dia melihat pasangan itu sedang bergandengan tangan.


    Melinda langsung memeluk Asyifa" Aku sangat merindukanmu Nona syifa!"


  Asyifa tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya, Dia tak pernah membayangkan sebelumnya, bahwa dirinya akan bertemu dengan Arsyad dan Melinda di stasiun Euston ini.


  " Apa yang kalian lakukan di sini, oh ya, selamat atas pernikahan kalian, maaf, Aku tak bisa datang, Aku sudah terlanjur berangkat ke sini!" ucap Asyifa seraya tersenyum.


    " Tidak apa-apa Nona syifa, kami mengerti, terima kasih atas kadonya yang sungguh super!" Melinda tertawa.


    Asyifa memang menitipkan kadonya pada Bastian, tak tanggung tanggung, Asyifa menghadiahkan satu set perhiasan dari brand ternama.


 " Eh, Bagaimana kalau ngobrolnya kita lanjutkan di coffe shop terdekat!" Asyifa menunggu persetujuan pengantin baru itu.


    " Baiklah, kita juga belum istirahat sampai sekarang, mungkin meminum secangkir kopi bisa membuat kita lebih segar, Benarkan, Misua?" Melinda menatap Arsyad dengan penuh harapan.


  Asyifa terkikik geli, mendengar panggilan Melinda pada Arsyad," Misua!" Kelakarnya.


  Arsyad mengangguk," Terserah sama nyonya, aku sih ikut saja!"


  Ketiganya berlalu menuju coffe shop terdekat, Asyifa memesan Espresso, Arsyad memesan Latte, sedangkan Melinda memesan capuccino.


  Tak lama kemudian pesanan mereka sampai.


  " Apa kalian berdua di sini dalam rangka bulan madu?" Asyifa bertanya dan tersenyum penuh arti, Dia menggoda pasangan pengantin baru itu dengan menaik turunkan alisnya.


  Baik wajah Arsyad maupun Melinda sama sama bersemu merah, Asyifa makin semangat menggodanya.

__ADS_1


    " Sebenarnya tujuan kita adalah kota Manchester, Arsyad mendapat beasiswa dari kantor untuk kuliah di Manchester university!" Melinda menjelaskan, karena sifat kaku Arsyad kambuh lagi.


  Asyifa melihat ke arah Arsyad untuk memastikan.


  " Itu semua benar nona syifa, Sebenarnya perusahaan tidak tahu, mau menempatkan saya di divisi mana, karena semua posisi sudah penuh, sepeninggal tuan muda Amar, saya bisa di bilang makan gaji buta, jadi perusahaan memutuskan, saya untuk melanjutkan pendidikan lagi!" Arsyad menjelaskan.


    Asyifa mendesah kecewa," Apa tidak bisa pindah ke London saja? kenapa Melinda sama sekali tidak menghubungi ku, jika kalian akan kesini?"


  " Tidak bisa, Nona syifa, perusahaan yang menentukan kampusnya sendiri!"Arsyad menggelengkan kepalanya.


  " Maaf sebelumnya nona syifa, Bukannya kami tidak ingin memberitahu tentang keberangkatan kami, hanya saja,. nomor nona sudah tidak aktif, saya sudah berusaha menghubungi lewat email, tapi tidak dapat balasan hingga sekarang!" Melinda menjawab dengan wajah yang cukup lelah.


    " Benarkah?" Asyifa sedikit kaget, sejenak kemudian dia menepuk jidatnya," Astaga, Aku baru ingat, kalau aku mengganti nomor telepon dengan nomor telepon di sini," Asyifa memandang Melinda dengan wajah bersalah." Lihatlah, Aku terlalu fokus di sini, sampai aku tidak pernah membuka email ku sejauh ini!"


  " It's ok, Nona syifa, kami sangat mengerti!" Melinda tersenyum lembut.


    " Lantas, apakah sejauh ini Nona syifa sudah mendapatkan titik terang tentang keberadaan tuan muda AMAR?" Arsyad langsung membahas tentang Amar, di akui atau tidak dia merindukan sosok bosnya tersebut.


    Asyifa menghela nafas.


  Melinda dan Arsyad, saling beradu pandang, tidak usah di jelaskan mereka sudah paham, bahwa Asyifa masih terus mencari.


  " Di kota seluas ini, sulit sekali untuk menemukannya, namun Aku baru menemukan sebuah petunjuk dari Glenn Yaw, sebelum berangkat ke sini, menurut informasi yang dia berikan, selama di sini Amar bertanggung jawab pada salah satu area pertanian di pinggiran kota London, kebetulan sekali aku di undang oleh anak Professor ku untuk merayakan ulang tahunnya di sana, Aku berharap, aku bisa menemukan Amar di sana!" Mata Asyifa berbinar, membayangkan bertemu dengan Amar.


  Melinda mengangguk, berharap hal yang sama.


  " Jadi, kapan kalian akan berangkat ke Manchester?" Asyifa mengalihkan pembicaraan.


  " Sebenarnya kita melewati kereta terakhir, mungkin besok kita akan ke kota Manchester!"Melinda menjawab" Bisa di katakan, untuk pertama kali Aku merasa senang ketinggalan kereta, kalau tidak, kita tidak akan bertemu, Benarkan Misua?" Melinda menyenggol lengan Arsyad.


  Arsyad mengangguk" Benar sekali, Nona syifa!"


  " Baiklah, malam ini kalian menginap saja di apartemenku, kalian istirahat, pasti melelahkan bukan,, penerbangan belasan jam dari Jakarta?" Asyifa menawarkan mereka menginap di apartemennya.


  Apartemen Asyifa memiliki dua kamar, jadi itu tak akan jadi masalah.


  " Terima kasih banyak, Nona syifa!" Melinda mengucapkan dengan tulus.


  Setelah menghabiskan kopi mereka, Asyifa pun memesan Uber, menuju apartemennya.


***


  Beberapa hari kemudian.

__ADS_1


Setelah selesai kelas, Asyifa harus menemuimu prof Wilson, untuk mendiskusikan tesisnya saat ini, Dia duduk di sebuah kursi taman yang tak jauh dari sana,.


  Menunggu sekitar lima menit lagi, di tangannya, dia sudah menyiapkan beberapa bahan yang perlu di diskusikan.


  Lima menit tidak terasa untuk Asyifa, niatnya makan burrito, yang sudah dia siapkan dari apartemennya harus di tunda, dia segera beranjak menemui prof Wilson.


  " Tok! Tok! Tok!" terdengar suara ketukan pintu.


  " Masuk!" Suara prof Wilson terdengar jelas.


    Kemudian Asyifa menekan gagang pintu dan segera menutupnya, " Permisi prof, selamat siang!" Asyifa menyapa ramah.


  " Selamat siang Asyifa, silahkan duduk, oh ya, panggil Wilson saja jangan pakai embel prof, sepertinya semua profesor di kelasnu juga mengatakan hal yang sama, untuk memanggil mereka langsung ke nama saja, bukan?"


Asyifa tersenyum canggung, Apa yang di katakan prof Wilson adalah suatu kebenaran.


  " Baiklah Wilson!" Asyifa akhirnya mengalah, Diapun duduk dengan tenang.


  " Apa semuanya sudah kamu persiapkan? Boleh saya lihat?"prof Wilson bertanya.


   Bu" Tentu saja Wilson, semua sudah saya kerjakan di sini!"Asyifa kemudian menyerahkan Draft tesis yang sudah ia siapkan, ada juga beberapa jurnal.


  Prof Wilson akhirnya membuka, dan mendiskusikannya dengan Asyifa.


  " Bagaimana menurut prof,..eh maksud saya Wilson!" Asyifa langsung meralat panggilannya," Apakah ada yang perlu saya perbaiki?"


 Prof Wilson menggeleng, " Ini Sudah cukup bagus Asyifa, kamu hanya tinggal menambahkan beberapa jurnal sebagai landasan teori kamu!"


  Asyifa tersenyum, tidak sia sia dia begadang di apartemennya, hingga kantung matanya menghitam.


  " Oh ya Asyifa, Saya perlu mengingat kembali tentang deadline tesis ini!" prof Wilson menatap Asyifa serius.


  Prof Wilson kemudian melanjutkan" Kamu mungkin belum tahu, jika deadline pengerjaan tesis ini hanya berlangsung rata rata tiga bulan, jika kamu terlambat menyerahkan beberapa jam saja, kamu harus menanggung resikonya, konsekuensi, keterlambatan ini bisa jadi pemotongan nilai, atau yang paling buruk adalah, pengulangan di tahun berikutnya, kamu tahu sendiri, program Magister di UK ini hanya berkisar sekitar satu tahun, jika tesis kamu di ulang, itu berarti kamu harus membayar biaya kuliah lagi untuk satu tahun berikutnya,"


 Asyifa mengerjakan matanya beberapa kali, Dia sedikit kaget dengan informasi ini, " Bukankah sangat rugi, untuk membayar biaya satu tahun lagi hanya karena terlambat menyerahkan tesis?" pikirnya.


    " Baik Wilson, saya mengerti, saya akan berusaha yang terbaik!" Asyifa merespon dengan penuh semangat.


  " Oh ya, omong omong, Jasmine ingin sekali menelpon dan bertemu denganmu, Dia berulang kali mengingatkan saya agar memastikan kamu ikut ke ulang tahunnya Besok, di areal pertanian di pinggir kota London," prof Wilson sudah mengalihkan pembicaraan.


  "Saya akan menjemput kamu, atau kita bisa berangkat bertiga dengan Jasmine!" usul prof Wilson.


****

__ADS_1


__ADS_2