Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Molly belajar memasak


__ADS_3

Episode #59


"Molly, kenapa penampilanmu berantakan sekali?" Meghan bertanya, dia melihat Molly dari atas ke bawah kembali ke atas lagi.


  molly langsung masuk.


" Aku sedang sial nek! Tadi ada dua preman yang menggangguku di jalan, untung saja ada yang menyelamatkanku,"


  Meghan menutup pintu," Lihatlah, wajahmu sampai memar seperti itu!"


  " Bagaimana lagi nek, sekarang aku lebih mengandalkan riasan di bandingkan topeng silikon itu, wajahku sudah mulai iritasi jika sering memakai topeng itu!" Molly duduk dan langsung membersihkan wajahnya dengan Micellar water yang selalu di bawanya.


  Meghan pun berlalu ke dalam, dia mengambilkan sebaskom air es dan handuk kecil, kembali ke ruang tamu dan menyerahkannya pada Molly," Kompres dulu memarmu!"


  " Terima kasih nek!" Molly menerimanya.


" Memang kenapa kamu tidak minta di antar supir atau membawa mobil sendiri? bukankah Edmund Sudah memberimu fasilitas itu?" tanya Meghan.


  Molly mulai mengompres wajahnya, dan sesekali mengaduh kesakitan, " Apa nenek mau hubungan kita terekspos? Nenek kan tau setiap mobil di sana terpasang GPS, kalau aku bawa kesini dan Edhena menyelidikinya, bagaimana? terlebih lagi aku mau memberi kesan gadis sederhana pada kakek Edmund, bukankah nenek sendiri yang bilang kalau Lady adalah sosok sederhana yang tidak pernah memamerkan harta keluarganya dan bahkan status kebangsawanannya tidak dia tunjukkan!"


  Meghan mengangguk," Baguslah, kalau kau bisa berpikiran ke arah sana, tidak sia sia aku mendidikmu selama ini,"


  Molly hanya tersenyum saja.


Setelah kau mengompres Wajahmu, ikut aku ke dapur, Aku akan mengajarimu memasak," Meghan ke dapur dan mengambil dua buah celemek, satu di pakainya dan satu lagi di berikan kepada Molly.


  Molly hanya menghela nafas, dia sungguh tidak berbakat jika berurusan dengan masalah dapur, entah mengapa, segala sesuatu yang berada di dapur seperti mengajaknya berperang.


" Kita mau masak apa nek!" molly memperhatikan keadaan dapur, ternyata Meghan sudah mempersiapkan bahannya, " Bahannya banyak sekali!" Seru Molly, ketika melihat, Tortila jagung, daging, tepung dan berbagai bahan lainnya.


  " Aku akan mengajarimu memasak makanan khas Meksiko seperti, Tacos, burrito, guacamole, chiles rollenos dan makanan lainnya!" kata Meghan, seraya menyiapkan bahan bahannya.


  " Kenapa aku belajar memasak sebanyak itu nek?" Molly tampak keberatan, dia paling anti dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan dapur.


  " Anak Bodoh!" Meghan mengusapkan tepung ke wajah Molly," Apa kau lupa, jika sepuluh hari lagi adalah hari orang mati, dan keluarga Edmund selalu merayakannya setiap tahun? Di sana, bukankah setiap orang akan membawakan makanan kesukaan orang yang sudah mati? Jadi kau harus bisa memasak makanan kesukaan leticia istrinya Edmund dan juga Lady, semua yang aku sebutkan tadi adalah makanan kesukaan leticia!"


molly menghela nafas panjang,


, " Iya aku mengerti Nenek! Di waktu itu aku akan di perhatikan semua orang di mansion, apakah aku bisa memasak makanan itu atau tidak, terutama oleh Rebecca, dia akan mencari celah untuk menjatuhkan aku,"


  Meghan tersenyum," Kalau Begitu, tolong kau sebutkan satu persatu nama bahan bahan ini, sebutkan juga tentang bahan apa saja yang di butuhkan dalam membuat makanan tersebut!"


  Mendengar itu Molly hanya bisa terdiam, sekarang dia merasa menjadi salah satu peserta dalam acara master chef, jangankan memasak, dia bahkan sudah lupa nama bahan bahan masakan tadi.


***


  Sementara itu, Ferdinand berjalan pulang ke apartemennya, dia sudah tak sabar untuk menceritakan pertemuannya dengan Molly, dan meminta agar Bu Boss nya membatalkan rencananya untuk mendekatinya sebagai seorang jutawan, sungguh dia tidak berbakat menjadi Playboy.

__ADS_1


  Di tengah jalan Ferdinand melihat kerumunan orang orang, Diapun seketika penasaran.


" Kasihan sekali anak itu, kemana orang tuanya?"


  " Benar, masa anak sekecil itu di biarkan menunggu di sini?"


" Orang tuanya benar benar tidak punya hati!"


  " Benar, Bagaimana kalau kita laporkan saja ke pihak kepolisian, kasihan sekali gadis kecil itu!"


Ferdinand menyibak kerumunan, dia terkejut melihat seorang gadis kecil berhijab sedang menangis sesenggukan di pinggir jalan.


    " Keumala?" Ferdinand segera menghampiri gadis kecil itu, dia segera menekuk kedua kakinya dan menggendong Keumala.


Keumala mendongak, dan ketika dia melihat wajah yang tak asing, dia segera memeluk leher Ferdinand," Om baik!"panggilnya.


Kerumunan pun mulai membubarkan diri.


" Eh bung, lain kali jangan biarkan anakmu menunggu sendirian di sini, kasihan dia!"


 " Lain kali, dia juga di ajak, jangan di tinggal tinggal di sini, kau tahu sendiri sekarang banyak perdagangan manusia!"


Beberapa dari kerumunan itu menasehati, Hanya bisa menunduk dan mengucapkan terima kasih.


  Setelah itu Ferdinand membawa Keumala ke sebuah mini market, di sana mereka berdua memakan mie instan, udara dingin di musim gugur Sangat cocok memakan makanan hangat seperti ini.


  Keumala membuka mulutnya dan langsung mengunyahnya." Mala mengikuti ibu om, waktu itu Mala sudah tidur, dan mendengar suara sepatu, Mala melihat ibu sedang keluar, tanpa sepengetahuan ibu, Mala keluar lebih dulu, dan ibu mengunci pintu, Mala membuntuti ibu, tapi Mala kehilangan ibu, om, Mala sedih, jadinya Mala cuma bisa menangis di pinggir jalan, untung Mala ketemu dengan om baik!"


Ferdinand menghela nafas," Dek Nong! Dek Nong!"Dia tidak tahu harus berkomentar Apalagi, atas sikap cerobohnya Cut Sari.


" Om baik, Mala takut sekali, ibu setiap malam selalu meninggalkan mala, kalau Mala Sudah Bobok, berapa kali Mala terbangun dan mencari ibu, tapi Mala tak menemukan siapapun, Mala malah sudah di kunci dari luar, jadi Mala berencana mengikuti ibu, Mala tidak mau di tinggal sendirian, Mala takut!" Keumala menceritakan itu dengan derai air mata di pipinya.


  Hati Ferdinand terenyuh, anak sekecil Keumala seharusnya tidak memikirkan hal hal seperti ini, Diapun langsung memeluk Keumala dan menaikkannya kepangkatannya," Sudah, jangan nangis lagi ya, nanti kalau Mala kesepian, Mala bisa menelpon om, nanti om temanin, ya? Bagaimana?"


  Keumala membalikkan badannya dan menatap Ferdinand," Om baik, serius?"


Ferdinand menjawil hidung Keumala," Tentu dong!"


" Trey, Hore!" Keumala langsung memeluk Ferdinand lagi," Om baik memang yang terbaik!"


" Untuk gadis baik seperti Keumala, semua Om kasih!" ucap Ferdinand tulus.


  " Mala sayang sekali sana Om!" Keumala mencium pipi kiri Ferdinand.


" Kalau begitu, Mala cepat habisin makanannya, setelah itu kita pulang, Om akan menemani Keumala sampai ibu kembali, bagaimana?" tanya Ferdinand lembut.


Keumala mengangguk dan langsung menghabiskan makanannya.

__ADS_1


***


  Sementara itu, Asyifa mendapat panggilan dari nomor baru, awalnya dia ragu mengangkat, namun setelah tiga kali panggilan akhirnya dia pun mengangkatnya.


  " Halo sweetie!" Sapa suara di seberang sana, yang tak asing di telinganya.


" Amar? Ini kamu? Kamu pakai nomor siapa?" Asyifa berseru senang.


  "Ssstt! Aku menyewa ponsel salah satu pelayan di sini!" Amar berterus terang.


" Menyewa?" Asyifa mengeryitkan dahinya.


" Benar! Aku masih sangat merindukanmu!"


 Mendengar itu , pipi Asyifa bersemu merah.


  " Aku,. Aku juga masih merindukanmu," ucapnya malu malu.


  " Ha ha!" Amar terkekeh, " Oh ya, Aku Hanya ingin mengabari, lusa aku akan pergi ke Manchester, aku akan menyuruh Arsyad dan Melinda menjemputmu, Bagaimana?"


" Lusa?" Asyifa sedikit kaget.


" Iya, Aku Sudah periksa, kamu tidak ada jadwal selama beberapa hari kedepannya!"


  " Aku bahkan belum memeriksanya, Amar! Kau bahkan sudah tahu semuanya!" serunya.


  " Percayalah sweet heart, bahkan aku yang membuat Arsyad dan Melinda sekarang berada di Manchester, aku melakukannya agar kita bisa punya tempat bebas untuk bertemu di sana, Aku tidak tahan jika berjauhan denganmu!" Amar mengutarakan perasaannya.


  "Kau sudah pintar ngegombal Amar, apakah kau sudah membaca buku yang tadi kau bawakan untuk Ferdinand?" Asyifa terkekeh.


  " Kau terlalu mengenalku! bahkan aku tak bisa menyembunyikan apapun padamu!"


  Asyifa dapat menebak, jika saat ini Amar sedang mengerucutkan bibirnya.


  " Usahamu berhasil, aku tersipu mendengarnya!"Asyifa akhirnya mengakuinya.


" Ha ha ha!" Baiklah kalau begitu, Arsyad dan Melinda akan segera ketempat mu, aku akan mengajakmu liburan, menggantikan janjiku padamu yang ingin mengajakmu ke Macau!"


Asyifa hanya tersenyum mendengarnya.


" Sudah dulu ya sayang, Aku tak bisa lama lama menghubungimu, Aku tak ingin pelayan itu curiga, jika nanti ada telepon dari nomor ini lagi, suruh Ferdinand yang mengangkatnya, oke?"


" Baiklah aku mengerti!"


Amar pun menutup telponnya.


Asyifa memegang dadanya, jantungnya berdetak tak karuan.

__ADS_1


****


__ADS_2