Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Kehancuran Ami


__ADS_3

Episode #49


      Malam ini, setelah makan malam, keluarga ARDIANSYAH, sudah berkumpul, termasuk suami dari Ami, yang langsung pulang dan meninggalkan pekerjaannya pada temannya, setelah di telpon oleh Ardi, Abang iparnya, sementara itu Mira sang asisten rumah tangga sudah di ungsikan dan di beri uang jajan untuk nongkrong bersama teman temannya, mengingat bagaimana uniknya tingkah Mira, Ardi tak ingin terjadi hal-hal di luar jangkauan akal mereka, tapi sebelum itu, Mira sudah menyediakan makan malam serta minum dan cemilan di ruang tamu.


  Semua anggota keluarga ARDIANSYAH sudah berkumpul.


   " Ada apa Ardi? kenapa kita berkumpul seperti ini, Apa ada yang penting?" Ani sang mama menatap Ardi heran.


    Ardi melirik ke arah Ami yang duduk di sebelah suaminya, wanita itu menunduk, tak sadar dia sudah meremas ujung bajunya.


      Andreas sang papa, dan adik bungsunya Tia, hanya menatap mereka, menunggu drama apa yang akan mereka suguhkan.


      " Ami," Panggil Ardi kepada adik perempuannya.


    Ami yang di panggil, Hanya menatap sekilas, kemudian tertunduk kembali, karena belum berani menatap mata kakak laki-lakinya.


   Semua mata tertuju pada Ardi.


      Suami Ami menatap istrinya dengan tatapan kebingungan, dia memegang tangan sang istri yang terasa sangat dingin.


    " Ada apa ini sih? Ayo katakan dengan jelas, jangan membuat mama penasaran," ungkap Ani kesal, karena pertemuan ini dia tidak bisa menonton acara kesayangannya di tv, mau tidak mau dia harus melihat tayangan ulang di akun YouTube nya, " Menghabiskan kuota saja,"


    " Baiklah, karena Ami tidak mau menceritakan Duduk permasalahannya, aku akan menceritakannya sendiri," ucap Ardi yang melihat Ami masih menundukkan kepalanya.


       " Beberapa hari yang lalu, pihak PRAMESWARI group, mengirimkan Auditor ke kantor, karena mereka mencurigai adanya penggelapan Dividen oleh pihak PT GARUDA TV NUSANTARA, sebagai salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan, mereka berusaha mencari dalang penggelapan tersebut," Ardi berhenti sejenak, dan melihat raut wajah semua yang hadir, semuanya masih sama, tidak menunjukkan emosi apapun.


  Ardi melanjutkan," Dan tadi siang, dalang penggelapan tersebut menemui aku, dan mengakui semua perbuatannya, dia menggelapkan dana sekitar tiga milyar, dan kira kira, apa yang harus kita lakukan sekarang?"


   Andreas, sang ayah, yang sedikit sudah paham titik permasalahannya bertanya, " Kamu tidak bilang, bahwa dalangnya adalah adik kamu sendiri, Ami?"


   Semua mata sontak tertuju pada Ami, Suami Ami pun terkejut," Bagaimana mungkin?" pikirnya.


     " Ami adalah dalangnya, dia menggelapkan uang itu, menurut kalian bagaimana sekarang Kita harus menyelesaikan permasalahan ini?" ucap Ardi lugas, tidak ingin berbasa-basi lagi.


    Ani, sang mama shock sekali, dia memegang dadanya, jantungnya terasa sakit, tetapi dia masih bisa menahan diri.


    " PLAK!" suara tamparan mengagetkan semuanya.


  Andreas langsung berdiri, dan menampar wajah Ami.


    " Dasar tidak tahu malu," umpatnya.


   Ami hanya memegang pipinya, bekas tamparan ayahnya terasa sangat panas dan perih, suaminya hanya terdiam, dia terlihat kecewa dengan istrinya tersebut.


    "Anak bodoh, tak pernah mikir dulu, serakah! sekarang mesti bagaimana? kenapa tidak pernah belajar dari pengalaman?" Hardik Andreas, kepada Ami, ingin sekali dia mencekik putrinya itu.


    Ani bangkit, dan berusaha menenangkan suaminya.

__ADS_1


    Sedangkan, Tia masih menonton.


    Suami Ami, kemudian mulai bicara, setelah melihat situasi yang mulai kondusif, " Begini bang Ardi, biar kita gak masuk jalur hukum, uangnya kita kembalikan pada pihak PRAMESWARI group, kita lebihkan sedikit, sebagai permintaan maaf dan telah merepotkan mereka dalam penyelidikan kasus ini, Abang sebagai CEO bisa bantu dalam menyembunyikan identitas dalang penggelapan Dividen yang tak lain adalah Ami, mumpung mereka belum mengumumkan dalangnya, Bagaimana?"


   Andreas mengangguk setuju dengan usulan menantunya, begitupun dengan Ani istrinya.


    Ardi tersenyum, mengiyakan usulan dari adik iparnya tersebut, " Sepemikiran, Awalnya aku berpikiran seperti itu, tetapi, permasalahannya adalah, uang yang tiga milyar itu, harus kita cari kemana?" ungkap Ardi.


     " Maksud Abang"


      " Tanyakan pada istrimu," respon Ardi cuek.


     Diapun menoleh kepada istrinya, Ami yang duduk di sebelahnya.


    Tanpa di tanya, Ami pun mengeluarkan suaranya, " Uang tiga milyar sudah tidak ada, uang itu di bawa kabur temanku, aku ikut investasi bodong, Tari namanya, sekarang dia menjadi buronan polisi !"


    " Astaga,.. kok kamu bodoh sekali sih Ami? umpat Ani, dia juga ingin menampar Ami, namun tangannya di hentikan oleh Andreas, suaminya.


    " Sudah, jangan di buat ribut lagi, jangan menjadikan ke kepoan tetangga, sekarang coba pikirkan jalan keluarnya, cari solusinya, karena itu kan kita di kumpulkan di sini?' peringat Tia kepada semuanya.


     Ami semakin menunduk, air matanya berjatuhan, dia semakin terisak, bahunya terguncang, dia semakin sedih melihat sikap suaminya yang tidak menenangkan nya kali ini.


      Semuanya terdiam, mereka tidak ingin memancing keributan.


     " Jadi, Bagaimana kita mengumpulkan uang tiga milyar rupiah, dalam waktu dekat ini?"


   " Aku sebagai suaminya, meminta maaf, karena belum mampu untuk mendidik istri, jujur, uang segitu aku tidak punya, walaupun aku harus pinjam ke kantor, tidak mungkin dalam jumlah yang banyak, dan aset yang aku miliki juga, harganya tidak kurang dari lima ratus juta," Ucap suami Ami.


     " Bagaimana dengan papa, apa papa punya tabungan?" Tanya Ardi,lugas.


   " Papa memang punya tabungan, tapi untuk jumlah sebesar itu, sangat jauh, lagi pula, itu untuk biaya, jika papa pensiun sebentar lagi, itu juga untuk kebutuhan rumah tangga ini, rumah ini memang bisa mencapai tiga milyar rupiah, tetapi tidak mungkin menjualnya, karena ini adalah warisan dari kakekmu, dan juga kalau di jual, kemana anggota rumah ini akan tinggal, Intinya, walaupun papa bisa membantu, itu hanya jumlah kecil, sekitar seratus atau dua ratus juta rupiah saja, udah itu aja," ungkap Andreas.


    " Bagaimana dengan mama? bukannya mama punya koleksi perhiasan yang harganya ratusan juta rupiah?" tanya Ardi.


     " Gak,.. Gak,." walaupun mama punya perhiasan, mama gak mau korbanin itu, apa kata teman teman mama, jika nanti jika mama arisan tidak memakai perhiasan,? trus belum lagi kalau ketemu teman di kondangan gak pake Perhiasan, apa kata mereka, Gak,.. pokoknya mama gak mau, perhiasan mama gak bisa di ganggu, titik, gak pake koma," ketus Ani jengkel.


        " Emang mama gak malu, kalau Ami masuk penjara, trus di omongin sama tetangga?" Ardi masih berusaha membujuk mamanya.


   Ani berfikir sejenak, tetapi ketika melihat dan mengingat perhiasannya itu, dia tetap berkeyakinan untuk mempertahankan koleksi perhiasannya.


   "Gak, Pokoknya mama ga mau ngorbanin perhiasan mama, enak aja," ketus Ani.


     Semuanya hanya menghela nafas mendengar itu, mereka tau, bahwa Ani sangat bucin pada perhiasannya.


     Ami semakin sakit hati dengan mamanya, yang lebih mempertahankan perhiasannya ketimbang dia, Ami mengepalkan tangannya erat.


     " Bagaimana menurutmu Tia, dia meminta pendapat adik bungsunya itu, karena menurutnya Adiknya yang satu ini cukup asyik jika di ajak berdiskusi

__ADS_1


    " Kalau mengumpulkan uang tiga milyar rupiah dalam waktu dekat itu termasuk mustahil, lebih baik di bicarakan baik baik dengan pihak PRAMESWARI group, tentang jalan keluarnya, tapi, sebelum di bicarakan, kita sudah harus memastikan punya cadangan dana untuk menggantinya, sebagai tanda niat baik kita, jika dari suami kak Ami, sebesar lima ratus juta, papa, dua ratus juta, dan kak Ardi sendiri tiga ratus juta, berarti dana yang terkumpul sudah satu milyar, itu sudah jadi tanda akan niat baik kita untuk berdamai, tentang mbak Ami, yang akan masuk hotel prodeo, itu mutlak hak Prameswari group, poin paling penting yang harus kakak yakinkan adalah, pihak Prameswari group, tidak menarik sahamnya, karena merasa di tipu atau di bohongi, kalau itu terjadi, posisi Kakak sebagai CEO sedang terancam,"


jelas Tia lugas.


    " Papa setuju dengan Tia, hal terpenting adalah, selamatkan karirmu dulu," ucap Andreas.


    " Apa ada hal yang ingin kamu sampaikan Ami?" tanya Ardi.


   Ami hanya bergeming, dia kehilangan kata kata, dia sudah pasrah.


    " Baiklah kalau begitu, besok aku akan bicara dengan pihak PRAMESWARI group, dan mudah mudahan mereka akan memberikan kemudahan serta keringanan untuk kasus ini, pertemuan kita malam ini aku tutup!" ucap Ardi sambil menyeruput teh yang sudah dingin.


    Satu persatu sudah meninggalkan ruangan, Tia, kembali ke kamarnya, Andreas ke teras, untuk menghisap rokok, Ani, kembali ke televisi, untuk menonton acara kesukaannya, dan Ardi, pamit pulang.


    Sementara Ami dan suaminya kembali ke kamar mereka, terlihat jelas wajah suaminya Ami itu sangat merah, seperti kepiting rebus, dia begitu marah sekali.


   Begitu membuka pintu kamar, Ami di hempasan ke ranjang dengan kasar, Ami semakin menangis, air matanya membanjiri pipi mulusnya.


    " Jelaskan padaku Ami? Apa kamu anggap aku suamimu?" teriaknya, untung kamar itu kedap suara, jadi dia tidak mengganggu keluarga istrinya.


   Diam, hening, hanya isak tangis yang terdengar.


   "Aku merasa, akhir akhir ini tingkahmu sudah melampaui batas, Aku merasa, tidak pernah menghargai keberadaan ku sebagai suamimu, aku mengenalmu Ami, sangat mengenalmu dengan baik, jujurlah, Uang tiga milyar itu tidak kamu investasikan, yang kamu bilang bodong itu kan? tapi kamu hambur hamburkan dan berfoya-foya dengan pacarmu itu kan? Kau pikir aku tidak tahu kau punya lelaki simpanan?" Pekiknya, dia sudah mengangkat tangannya ke arah wajahnya Ami, yang Hanya berjarak sekitar lima sentimeter lagi, diapun menahannya,"


    " DUAR," Bagaikan petir di siang hari, Ami sudah mati matian menutupi hubungannya dengan Ovan, seorang mahasiswa tingkat akhir, yang satu kampus dengan Tia, adik bungsunya.


   Raut kepanikan seketika terpancar di wajahnya.


   " A, a, aku tidak se, selingkuh mas," ucap Ami terbata bata membela diri.


   " Sudah Mi, aku sudah tau semuanya, aku banyak diam selama ini, bukan berarti aku akan membiarkan semuanya terjadi, aku hanya ingin mengumpulkan bukti, sebelum aku bertindak, tapi tak aku sangka, kebodohan dan keserakahanmu bertemu di saat yang tepat," Dia mencibir sinis sambil bertepuk tangan.


    " MAS!" Teriak Ami histeris, dadanya penuh sesak, dia tidak percaya jika suaminya telah mengetahui semuanya.


    " Setelah persidangan mu dengan pihak PRAMESWARI group, selesai, persiapkan persidangan perceraian kita, dan anggaplah uang yang tadi akan aku berikan untuk memperingan hukumanmu kedepannya, sebagai bagian dariharta goni gini, selama ini aku menerima kekuranganmu apapun itu, bahkan aku di ejek oleh orang sekantor, karena kasusmu yang viral dengan mama, aku masih bisa bertahan, tetapi, jika kepercayaan dan kesetiaanku di khianati, jika janji suci pernikahan sudah tidak di hargai, lebih baik aku pergi, tak ada gunanya aku bertahan jika aku sudah tak di inginkan, jika kasusmu dengan mereka selesai, aku akan memulangkan mu baik baik pada keluargamu!"


   Setelah menenangkan itu dia berdiri, mengambil koper dan mengemas beberapa pakaiannya, dia butuh menenangkan diri.


   Ami berusaha menahan kaki suaminya, bahkan dia bersimpuh, memeluk kaki lelaki yang masih sah menjadi suaminya tersebut.


    " Jangan mas, jangan pergi, Hiks, Hiks, Hiks," rengek nya.


     Suaminya tak memperdulikan rengekan Ami, dia tetap berkemas, dan setelah itu dia melangkah keluar kamar.


   Ami ingin mencegahnya, tetapi dia tidak ingin keluarganya tau tentang permasalahan rumah tangganya. dia hanya memandangnya dari jauh, Ami paham bagaimana perasaan laki laki tersebut.


        Ketika sampai di teras, terlihat bapak mertuanya sedang duduk, diapun mencium tangan bapak mertuanya tersebut, dan berpamitan, untuk kembali bekerja di luar kota, dengan alasan, pekerjaannya sudah tidak bisa dia tinggalkan lagi, dia harus segera kesana

__ADS_1


  Andreas hanya menganggukkan kepalanya, walaupun dalam hati dia sedikit curiga.


   Ami hanya bisa menangis memeluk guling, sungguh dia sangat menyesal, beberapa kali menelpon suaminya tapi sudah tidak terhubung, kenangan indahpun seketika berputar di memori otaknya, sungguh dia tak ingin kehilangan suaminya, karena terlalu letih menangis, akhirnya Ami tertidur.


__ADS_2