
Episode #37
Tujuh belas jam kemudian, Asyifa dan Ferdinand tiba di bandara internasional Heathrow, wajah keduanya sungguh sangat lelah, apalagi mereka tidak bisa langsung keluar dari Bandara, keduanya harus melewati pemeriksaan Terlebih dahulu.
Keluar dari pesawat menuju garbarata, Asyifa berkata," Selanjutnya kita akan melewati bagian Immigration control untuk pemeriksaan passport, Apa kamu sudah menyiapkan surat coonfirmation of acceptance (CAS) dan dokumen lainnya?"
Ferdinand mengangguk, " Sudah Bu Boss, semua Dokumen sudah saya masukkan ke sini!"Tunjuknya pada tas selempang yang dia kenakan.
" Baiklah!" Asyifa mengangguk.
Keduanya berjalan ke Immigration control, setelah itu mereka mengklaim bagasi dan pergi ke bagian customs control, yang memantau bea cukai.
" Bu Boss," Bisik Ferdinand.
Asyifa menoleh " Kenapa? Apa kamu merasa kurang nyaman?"
Ferdinand menggeleng," Bukan itu, Aku hanya merasa kurang percaya diri, ketika berbicara dengan mereka,"
Asyifa tersenyum," Kenapa kamu merasa kurang percaya diri? skor speaking IELTS mu cukup bagus loh, jadi kenapa harus minder?"
" Bu Boss tidak mengerti, Aku tidak tahan dengan aksen mereka!" Ferdinand mengatakannya dengan suara parau, dia benar benar hampir menangis, setelah petugas imigrasi beberapa kali mengulang pertanyaannya.
" He he he!" Asyifa terkekeh, " Itu karena kamu belum terbiasa saja, kita sedari kecil sudah biasa dengan aksen Amerika di bandingkan dengan aksen British, setelah beberapa lama kamu akan terbiasa.
Ferdinand mengangguk.
Tak lama kemudian mereka tiba,. Asyifa mengarahkan Ferdinand untuk antri, Kamu antri di sini, dan aku di sana," Asyifa menunjuk antrian jalur merah.
Ferdinand Hanya mengangguk, walaupun dia heran, mengapa harus antri di jalur yang berbeda.
Asyifa sengaja mengantri di jalur merah, karena dia harus melaporkan perhiasan mamanya yang, dia bawa, hal ini hanya untuk berjaga-jaga saja kedepannya, Bagaimanapun ini perhiasan milik kerajaan, jika suatu saat nanti ada pihak yang menuduh dan menyelundupkan perhiasan tersebut, dia bisa membantahnya, karena sudah melaporkan terlebih dahulu ke bea cukai di sini, " Waspada itu penting bukan?" pikirnya.
Sekarang tibalah Asyifa untuk di periksa, dia mengeluarkan perhiasan yang nilainya berada di kisaran ribuan pound Sterling.
Petugas bea cukai memeriksa perhiasan itu, awalnya mereka cuek saja, hingga mereka menemukan ada logo di perhiasan itu, petugas itu langsung menajamkan tatapannya ke Asyifa," Apa ini perhiasan milikmu, Ms?"
" Iya, Itu Sekarang milik saya, perhiasan itu di berikan oleh ibu saya, tetapi dia sudah berpulang, dia adalah warga negara sini, ini passport nya, dan beberapa foto keluarga kami!" Kemudian Asyifa mengeluarkan passport ibunya dan beberapa foto, seperti yang Hamdan Hutapea katakan sebelumnya.
Petugas imigrasi itu nampak serius menerima passport itu, " Tunggu sebentar!" Petugas itu meninggalkan Asyifa ke sebuah ruangan, dengan membawa beberapa dokumen serta perhiasan yang di berikan Asyifa tadi.
Asyifa menunggu dengan tenang, dia sempat melambaikan tangannya dengan Ferdinand yang sudah selesai pemeriksaannya tadi.
Nampak Ferdinand gusar, melihat Asyifa masih di dalam ruang pemeriksaan, bohong jika dia tidak khawatir.
Asyifa masih sabar menunggu, sudah lima belas menit berlalu, dia sudah mulai bosan, dia menguap beberapa kali," Hoaam!"
__ADS_1
Lima belas menit kemudian, petugas bea cukai itupun kembali dengan membawa barang-barang milik Asyifa," Ini besaran pajak bea cukai yang perlu Ms Bayar," petugas itu pun memberikan kertas pada Asyifa.
Mata Asyifa berkedut, jumlah itu termasuk tinggi, tapi itu sebanding dengan harga perhiasan yang dia bawa
Baru setelah semuanya selesai, keduanya bisa keluar dari bandara, untung sebelumnya Asyifa sudah menelpon pihak kampus untuk menjemputnya dan mengantarkan ke apartemen yang sudah di pesan Bastian sebelumnya.
keluar dari pintu keluar bandara, Ferdinand menatap sekeliling dan kemudian menemukan seseorang berkulit hitam keturunan Afrika, dia memegang kertas yang bertuliskan Ms Asyifa dan Mr Ferdinand."
"Bu Boss!" Ferdinand menyikut lengan Asyifa.
Asyifa menoleh kepadanya seolah bertanya,"Ada apa?"
" Apa itu orang yang menjemput kita, Bu Boss!" Ferdinand menunjuk seseorang keturunan Afrika.
" Sepertinya benar!" Asyifa langsung beranjak menyeret kopernya menuju orang itu, Ferdinand mengikutinya dari belakang.
" Hai, saya Asyifa dan ini Ferdinand!" Asyifa menyapa terlebih dahulu.
" Halo Ms Asyifa dan Mr Ferdinand, saya Chaga, Mari kita langsung ke mobil, saya tahu, Anda berdua sudah sangat kelelahan setelah menempuh perjalanan yang sangat melelahkan," Chaga menyapa keduanya dengan ramah.
" Terima kasih Chaga! Tolong panggil saja aku dengan panggilan syifa dan ini ferdi, tidak usah terlalu formal dengan memanggil Ms dan juga Sir!" pinta Asyifa..
" Baiklah Syifa!" balas Chaga.
Ketiganya langsung masuk ke mobil penjemput, Chaga membantu keduanya mengangkat koper.
Keduanya mengangguk.
Mobil pun melaju menuju apartemen yang Asyifa sewa.
" Sebenarnya, profesional Wilson ingin ikut menjemput di bandara, tetapi dia mendadak membatalkan nya, putrinya yang berusia lima tahun merajuk, ingin bertemu dengan neneknya, jadi beliau hanya menyampaikan permintaan maaf dan mengucapkan selamat datang di kota London," Chaga memulai obrolan.
" Professor Wilson?" Asyifa tertegun, setahunya, dia yang menghubungi profesor itu dan menawarkan diri, untuk jadi mahasiswa bimbingannya, prof itu menyetujuinya, sehingga dia mudah masuk ke universitas di sini.
" Iya, Dia sangat baik, jangan mudah terpengaruh dengan gelar profesor nya ya, walaupun dia bergelar profesor, tapi dia masih sangat muda, usianya baru di pertengahan tiga puluhan!" Chaga berseru, nampak pria setinggi seratus delapan puluh lima itu begitu mengagumi profesor Wilson.
" Sepertinya aku harus menemuinya secepat mungkin," Asyifa tersenyum.
" Iya, Kau harus, Apalagi jika kau dapat bertemu dengan putri satu satunya, dia sangat lucu, sayangnya gadis itu sudah kehilangan ibunya dua tahun lalu, sungguh menyedihkan!" Chaga mendesah.
Ferdinand hanya mendengarkan saja mereka berbicara, sebenarnya dia ingin ikut bergabung, tapi dia masih sedikit malu dengan kemampuannya, ini adalah pengalaman pertama, berbicara dengan orang asing dan berbahasa asing, Hal ini sangat berbeda dengan Bu Boss nya, Asyifa yang sedari kecil sudah bilingual, berbicara dua bahasa, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Ferdinand hanya menghela nafas, " Apalah dayaku, yang sejak kecil sudah terbiasa dengan bahasa Sunda dan bahasa Betawi, seandainya itu di Eropa, aku sudah bisa menguasai bahasa Prancis dan Inggris secara bersamaan," pikir Ferdinand.
Sementara itu di mansion keluarga Jhonson.
__ADS_1
" Edhena,.. Edhena!" Edmund Jhonson berteriak, dia mencari sahabat mendiang istrinya tersebut.
Edhena yang sedang mengawasi pekerja lain di ruang kerja Daren anak laki laki Satu satunya Edmund, tiba tiba menggerutu," Apalagi yang di inginkan si tua Bangka itu?" cebiknya kesal.
" Silvia, tolong kau awasi pekerjaan mereka sebentar, tuan Jhonson memanggilku, aku akan kembali sebentar lagi!"Edhena langsung meninggalkan ruangan kerja tersebut, tanpa mendengar persetujuan dari Silvia.
Edhena tau keberadaan tuan Jhonson itu, semenjak dia pensiun dia lebih banyak menghabiskan waktu di taman dan ruang kerjanya, oleh karena cuaca semakin dingin Edmund menghabiskan waktu di ruang kerjanya.
Edhena semakin dekat, langkah kakinya semakin terdengar, dengan jelas, Tak sabar Edmund Langsung membukakan pintu dan menarik tangan edhena agar masuk kedalam ruangan dan segera menutup pintunya kembali.
Edhena tidak bisa menyembunyikan rasa pop penasarannya.
" Apa yang terjadi padamu Edmund? Apa kau bermimpi lagi bertemu dengan leticia?" edhena mengerutkan keningnya, tingkah Edmund sama persis dengan seorang anak kecil yang ingin memberitahukan sebuah rahasia.
" Aku baru mendapatkan telpon edhena?"seru Edmund bahagia.
" Lalu?" alis edhena mengkerut, dia menanti sebuah penjelasan.
"Telepon itu dari pihak Bandara, pihak imigrasi, Dia menginformasikan tentang perhiasan, setelah mengirimkan foto perhiasan itu, untuk aku lihat, aku bisa menyimpulkan, bahwa itu adalah perhiasan milik Lady!" Edmund berbicara dengan binar matanya yang bahagia.
" Apa?" edhena cukup terkejut.
" Dia juga menunjukkan passport lama milik Lady, dan beberapa foto pernikahannya!" Edmund mengeluarkan ponselnya dan melihat email dari pihak bea cukai, " Coba kamu lihat sendiri!"
Edhena tak punya pilihan lain, dia juga penasaran, dia meraih ponsel Edmund.
" Benar Edmund, ini adalah passport lama milik Lady!" edhena juga histeris.
" Apa kau tahu, siapa yang membawa perhiasan, passport dan foto foto itu? apa kau tahu siapa namanya?"Edhena tak sadar mengajukan beberapa pertanyaan sekaligus.
Senyum Edmund menghilang, wajah tuanya kembali dalam mode awal, " Aku lupa menanyakan siapa yang membawanya, menurutku itu adalah cucuku dari Lady,"
Edhena hanya bisa memijit kepalanya yang mendadak pening, " Oke! Tidak masalah, kita bisa mencarinya nanti, hal terpenting adalah, sekarang kita tahu, bahwa dia berada di kota London!"
Edmund mengangguk, semangat hidupnya yang sempat hilang kini sudah kembali lagi.
***
Sementara itu di peternakan milik keluarga Stewart.
Glenn Yaw melambaikan tangannya dari jauh, ketika dia melihat keberadaan Amar dia berteriak.
" Amar, Aku baru saja mendapat berita, bahwa Asyifa Sudah meninggalkan Indonesia, dan sekarang pasti sudah sampai di kota London!"
Amar yang sedang membersihkan kandang kuda kesayangannya mendadak berhenti," Apa katamu?" Dia seperti meragukan pendengarannya.
__ADS_1
Glenn Yaw hanya terkekeh, melihat tingkah Amar yang seperti ini.
****