Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan

Pembalasan Istri Gendut Yang Di Sia-sia Kan
Ferdinand kena sasaran


__ADS_3

Episode #82


  Mood Camilla Sudah begitu hancur, ketika dia kembali ke studio untuk melanjutkan syuting, dengan suasana hati yang tidak baik, dia harus memperlihatkan sikap yang profesional, Dengan ogah-ogahan, beberapa scene yang melibatkannya Akhirnya selesai juga.


   Melinda yang menyaksikan mood Camilla hancur, tetapi harus menyelesaikan setiap scene nya, hanya bisa tersenyum gembira, perempuan itu terlihat menikmati Bagaimana sengsaranya, artis terkenal itu, dalam hatinya mencibir.


   Asyifa juga menikmati permainan ini, sebagai seorang sahabat, dia sangat mengenal watak serta kepribadian Camilla, jika mood nya hancur, dia akan susah berkonsentrasi dan ingin langsung melampiaskannya dengan berbagai cara, seperti, melemparkan barang barang, menyetir ugal-ugalan, bahkan meneriaki orang sekitar, yang membuatnya tersinggung.


  Jadi Asyifa memperlama syuting, kadang dia lupa dialog, terkadang dia lupa harus melakukan apa, tingkahnya yang seperti ini harus membuat scene di ulang terus menerus, Camilla yang mood nya hancur harus tetap menjaga image atau citranya, yang selama ini di bangun sebagai artis yang penyabar dan lemah lembut, jadi dengan menekan di dalam hati, dia terlihat biasa'saja, bersikap seolah olah tidak terjadi apa-apa.


     Bastian, Asyifa dan Melinda, yang tahu betapa kuatnya Camilla menahan diri, hanya bisa tertawa di dalam hati, hanya mereka bertiga yang memperhatikan bagaimana scene harus di ulang, perempuan itu harus menghela nafas panjang dan mengepalkan tangannya, hal itu membuahkan hasil, dengan terlihatnya Camilla bersikap biasa saja.


     Syuting yang seharusnya selesai dalam waktu satu jam, akhirnya selesai dalam waktu dua jam, walaupun Asyifa membuat kesalahan sepanjang syuting, tidak ada yang keberatan dalam hal itu, Asyifa mengakui bahwa dia kurang enak badan, dan sebagai permintaan maaf, semua kru dan artis yang ada di lokasi syuting, di traktir makan malam olehnya, itu adalah caranya, Bagaimana mengambil hati banyak orang.


   Hanya Camilla yang menolak, dan ingin segera berlalu dari sana, dia ingin segera menemui Ardi dan menceritakan segalanya.


     " Mel, kalau kamu mau ikut mereka ikut saja, aku ada hal yang harus aku urus!" kata Camilla, sambil menunjuk gerombolan orang yang akan berangkat ke restoran, yang sebelumnya sudah di pesan oleh Bastian.


   " Baiklah!" ucap Melinda, tidak membantah, dia segera bergabung dengan gerombolan orang yang akan berangkat ke restoran.


  Camilla hanya mengangguk dan memandang punggung Melinda hingga menjauh, kemudian dia berbalik dan segera berlalu menuju ruangan CEO, ruangan sang kekasih.


   Sesampainya di sana, dia tak melihat keberadaan Ardi, segera dia mengeluarkan ponselnya, dan segera menanyakan keberadaan Ardi sekarang, tetapi beberapa kali di hubungi ponselnya, tetap tidak di jawab.


    " Aarrgh!" Camilla berteriak melampiaskan kekesalannya.

__ADS_1


     Ferdinand yang baru saja masuk ke ruangan bosnya, terperangah, ketika mendengar suara teriakkan Camilla, di benaknya, Camilla adalah sosok yang lembut tetapi kejam, Setelah melihat sendiri, Bagaimana si artis itu berteriak, dia harus menghapus kata lembut, dan menyisakan kata kejam.


    Camilla menyadari keberadaan Ferdinand yang baru saja masuk, dia langsung bertanya, lebih tepatnya meneriaki, " Dimana Boss mu?"


   Ferdinand sedikit tersentak dengan perlakuan Camilla, Setelah sepersekian detik dia memulihkan kesadarannya, dengan ketus dia menjawab, "Meeting!"


   Camilla yang mendapatkan respon ketus itu, langsung naik darah, " Kamu ya! tidak punya sopan santun, ditanya malah jawabnya ketus! kamu pikir kamu siapa? kamu sok sekali, padahal cuma jadi kacung saja! awas kamu ya! aku laporin ke atasanmu!" Hardik Camilla, kekesalan yang sedari tadi tertunda, akhirnya menemukan jalan keluar, Ferdinand jadi pelampiasan kemarahan Camilla.


    Di hardik seperti itu Ferdinand hanya tersenyum saja, dengan santainya dia berujar, " Jadi kacung lebih terhormat, di bandingkan dengan perampok berwajah malaikat, terlebih lagi, perampok itu merampok suami sahabatnya, dan berusaha menyingkirkan sang sahabat dengan berbagai cara, sah,.. jadi kacung lebih terhormat, daripada situ, yang tidak punya kehormatan, Ooops!" dengan cepat dia menutup mulutnya, " Keceplosan deh! ha ha ha!" suara tawa Ferdinand bergema di telinga Camilla.


  Camilla Sudah tidak bisa berkutik dengan apa yang dikatakan oleh Ferdinand, dia tau laki laki itu adalah tangan kanan Asyifa sebelumnya, dan sekarang juga tangan kanannya Ardi, menghitung untung rugi jika berdekatan dengan laki laki tersebut, Camilla hanya bisa menghentakan kaki dan langsung keluar, dia bahkan tidak mendapat jawaban apapun tentang keberadaan Ardi.


    Camilla pun keluar dari gedung kantor PT GARUDA TV NUSANTARA, dengan amarah yang semakin tak tertahankan, tidak ada cara lain, selain menyetir ugal-ugalan, untuk meredakan emosinya, segera dia menuju lokasi yang lumayan sepi, untuk menyalurkan emosinya tersebut, tidak mungkin dia akan ugal-ugalan di jalan raya, yang ada dia akan masuk jeruji besi karena melanggar lalu lintas, karir yang mulai meredup pasti sukses hancur, jika media tau.


  Sementara itu, di salah satu restoran mewah, yang ada di ibukota, yang letaknya tidak jauh dari gedung kantor PT GARUDA TV NUSANTARA, Asyifa beserta artis dan kru lainnya, sedang menikmati suasana yang penuh canda tawa, beberapa kameraman dan wartawan infotainment juga, mengambil gambar dan merekam kejadian ini, besok pagi kejadian ini akan nongkrong di acara gosip.


   Asyifa, yang menjadi pusat perhatian, begitu nampak elegan, apalagi setelah ia tersenyum, Setelah menerima pesan baru.


     Acara itu berlangsung hingga dua jam, berbagai canda tawa begitu menggelegar, Rasa lelah dan letih hilang seketika, kebersamaan beberapa bulan ini di lokasi syuting telah membuat mereka semakin akrab.


  Pukul sembilan malam semuanya pun langsung bubar dari restoran, Asyifa meminta Bastian untuk mengantar Melinda dengan mobilnya, dan langsung mengantarkannya ke apartemennya, Bastian hanya mengangguk dan menyetujuinya tanpa berkata apa-apa.


   Melinda menunggu Bastian Depan lobi, karena laki laki itu harus mengambil mobil dari parkiran, di saat seperti ini entah kenapa dia teringat dengan Arsyad, biasanya dulu dia yang di antar jemput laki laki bertubuh atletis itu, entah kenapa dia merindukan sosok lelaki tersebut.


" Melinda,.. " Sebuah suara yang terdengar familiar terasa begitu dekat, " Seperti suara Arsyad, pasti aku sedang berhalusinasi mendengar suaranya" pikirnya dalam hati, dia pun tetap berdiri dan mengindahkan suara itu.

__ADS_1


" Hei, Melinda!" Suara itu muncul lagi.


" Apa aku terlalu merindukannya, hingga suara itu muncul lagi?" tanyanya dalam hati.


Melinda tersadar ketika ada yang menepuk bahunya dari belakang.


" Melinda, kamu ngelamunin apa sih?" suara itu lagi.



Melinda terkejut, ketika berbalik, ternyata suara itu asli dan nyata, di hadapannya telah berdiri Arsyad.


" Ars,." Ada jeda sedikit, Melinda berusaha menenangkan jantungnya yang sudah berdetak tidak karuan, " kok kamu disini?" tanyanya penasaran, " Gak mungkin jemput aku kan?" pikirnya, tidak mau di bilang GR.


" Aku mau jemput nona May, tuan amar ada janji dengan beliau" ucap Arsyad datar, Dia bersikap biasa saja, seolah tidak ada yang tau bahwa saat ini jantungnya berdegup tidak karuan.


mereka pun berbincang tak lama, karena Bastian telah datang dengan mobil Asyifa, akhirnya mereka pun berpisah, dengan sangat tidak rela, itu terlihat jelas di wajah keduanya.


Arsyad pun masuk kedalam dan menjemput Asyifa, disana sudah tidak ada seorangpun yang tersisa, hanya tinggal Asyifa sendiri.


Arsyad, berjalan mendekati dan berbisik, " Nona May, semuanya sudah beres, tuan muda AMAR sudah ada di lokasi, saya di tugaskan untuk menjemput Nona!"


"'Ayo kita bergegas, jangan biarkan mereka menunggu!" perintah Asyifa yang segera beranjak.


Arsyad mengikutinya dari belakang, dia bergidik, merasakan aura Asyifa yang sangat mencekam.

__ADS_1


****


__ADS_2