
Episode #124
Dengan setengah hati, Ardi pun memenuhi permintaan Camilla, dengan bantuan beberapa orang dari pihak pengelola apartemen, akhirnya semua barang bawaan Camilla masuk kedalam mobil, koleksi tas, sepatu dan pakaian, adalah barang yang mendominasi, setelah itu Camilla menyerahkan kunci apartemennya kepada pihak pengelola, ini berarti Camilla Sudah sah pindah dari apartemen itu.
Sepanjang perjalanan, Camilla hanya mengoceh, bagaimana perasaannya, pindah dari apartemen yang menurutnya sudah sangat membosankan, dia sudah membayangkan akan tinggal di rumah mewah Ardi dan akan mempekerjakan beberapa asisten rumah tangga, sehingga dia bisa, menikmati menjadi nyonya CEO, ia juga berencana masuk kedalam geng geng sosialita ternama di negri ini, membayangkannya saja Camilla Sudah sangat bahagia.
Ardi hanya melirik, dan tidak perduli dengan tingkah istrinya, dia masih terperangkap dengan kenangan masa lalu, awal menikah dengan Asyifa, entah mengapa, tiba tiba rasa rindu itu muncul kembali setelah sekian lama, " Apakah rasa nasi goreng mampu membangkitkan semua kenangan?" pikirnya selama menyetir. akhirnya dia hanya bisa tersenyum masam.
Tak berselang lama, merekapun tiba di gerbang, Ardi menghentikan mobilnya, awalnya dia ingin turun membuka kunci, tetapi niat tersebut dia urungkan, di hadapannya, gerbang itu tidak tergembok, hanya tertutup sedikit, perasaan Ardi mendadak tidak enak.
Ardi pun segera membuka gerbangnya lebih lebar, dan kembali masuk kedalam mobil, kemudian memasuki gerbang pintu rumah Asyifa itu,
Camilla Sedang sibuk dengan pikirannya, sehingga tidak memperhatikan ekspresi Ardi yang terlihat begitu gelisah.
Kemudian dia turun dari mobil, dan membiarkan gerbang itu terbuka, dia berhenti di depan garasi, dan mengajak Camilla turun dari mobil.
Binar bahagia terlihat jelas di wajah Camilla, sudah lama dia memimpikan tinggal di rumah mewah itu, jadi nyonya di istana ini, perempuan itu mengamit tangan Ardi dan mengajak masuk kedalam.
Mendekati pintu,, Ardi sedikit curiga, melihat daun pintu terbuka sedikit, dia jelas mengingat, sebelum pergi ke labuan Bajo sudah memeriksanya beberapa kali kalau sudah mengunci pintu.
" Perasaan ku gak enak!" Ardi membatin.
Camilla juga melihat daun pintu terbuka, dia menarik tangan Ardi untuk segera masuk, " Asisten rumah tangga kamu baik juga ya? dia nungguin kita sampai jam sekarang, kamu harus kasih bonus sama dia," Camilla begitu bahagia, hingga dia tak memperhatikan wajah Ardi yang sedikit kebingungan.
Dalam hatinya Ardi mencibir, " Mana ada yang mempekerjakan asisten rumah tangga hingga jam segini, biasanya hanya datang pagi saja untuk bersih bersih,"
" Ayok, jangan bengong di depan pintu," Camilla menarik lengan Ardi untuk masuk.
Ketika masuk, semuanya berubah di ruang tamu, tak ada lagi pajangan foto, baik foto Asyifa, foto Ardi ataupun Foto pernikahan keduanya, dinding tampak polos.
Camilla mengeryit, beberapa kali dia berkunjung, dinding ini penuh dengan foto Ardi dan Asyifa, tapi kali ini, dindingnya kosong melompong, hanya ada lukisan pedesaan dan seorang penari Bali.
Camilla langsung memeluk Ardi dengan mesra, dia mengecup pipi kiri dan kanan laki laki itu secara bergantian, dan kemudian berkata," Aku gak nyangka sayang, kau sudah membersihkan rumah ini dari segala jejak peninggalannya, seharusnya setelah kecelakaan itu, hal ini kamu lakukan!"
" In,. ini..." Ardi hanya bisa menghela nafas, dia sendiri bingung, tak tahu apa yang terjadi, bagaimana mungkin dia melakukan hal ini, " jangan,.. jangan,.." Ardi mulai waspada.
__ADS_1
" Wah, akhirnya pengantin baru datang juga, kita sudah menunggu di sini selama dua hari, Sebuah suara laki-laki terdengar dari tangga, " Eh, bawa semuanya kesini!" perintahnya ke seseorang yang masih berada di lantai dua.
Reflek Camilla menoleh ke arah Ardi, alisnya berkerut, dan menatapnya tajam, seolah mencari penjelasan.
Ardi masih terbengong, untuk sepersekian detik jiwanya meninggalkan tubuhnya.
" Kalian siapa? ngapain di rumah kami?" Camilla langsung bertanya, dengan menunjuk keduanya bergantian.
" Apa? Bisa di ulangi? Aku tidak dengar!" ucap laki laki pertama, yang tadi menuruni tangga, dia bersikap seperti sedang mengorek kupingnya.
" Sedang apa kalian di rumah kami" ucap Camilla sekali lagi, kali ini dia melipat tangannya di dada, Dia sangat jengkel,"
" Ini rumah kalian?" tanya laki laki itu sambil menghempaskan bokongnya ke sofa.
Sifat laki laki itu begitu menyebalkan, Camilla langsung menyikut lengan Ardi, rasa sakit yang tiba tiba menjalar membuat Ardi tersadar.
" Silahkan duduk dulu Nona, ups,. maksud saya nyonya," Seringai muncul di wajah laki laki paruh baya tersebut.senyumannya begitu menyeramkan.
" Sudah Belum? Cepat, tuan dan nyonya ARDIANSYAH, sudah lama menunggu!" pekik Laki laki itu kearah lantai dua, suaranya begitu keras.
Camilla masih keheranan, melihat Ardi yang masih terdiam, membuat dia semakin tidak paham dengan apa yang terjadi.
Laki laki yang satunya pun turun dari lantai dua dengan menyeret sebuah koper besar dan sekalian mengangkat sebuah kardus besar juga, dengan langkah mudah dia menuruni tangga, sambil memikul kardus dan menyeret koper.
Dengan langkah santai dia mendekati kerumunan, " Semuanya sudah selesai bos, tak ada yang tertinggal," ucapnya, lalu kemudian menghempaskan kardus dan koper tersebut.
" Pak Ardi, silahkan, semua barang barang anda sudah kami kemas dengan rapih, tak perlu berterima kasih begitu, kami ikhlas melakukannya, karena itu memang sudah pekerjaan kami!" yang di panggil bos itu segera menyerahkan koper ke tangan Ardi.
Melihat adegan itu, wajah Camilla Sudah berubah warna, wajahnya memerah seperti hati babi," Siapa kamu, berani mengusir tuan rumah, dari rumahnya sendiri?"jari telunjuk Camilla menuding kepada laki laki sangar yang di panggil bos tadi.
__ADS_1
Laki laki itu hanya tersenyum," jangan marah marah nyonya ARDIANSYAH, simpan energi nyonya untuk hal yang lainnya, saya sependapat dengan nyonya, bahwa tuan rumah tak bisa di usir,"
" Kalau anda mengatakan hal itu, kenapa Anda mengusir tuan rumah? Saya akan menelpon polisi, dan menuntut anda dan rekan anda!" ketus Camilla, dia segera mengeluarkan ponselnya.
" Silahkan nyonya!" laki laki itu mempersilahkan dengan senyum ramahnya, atau keramahannya lebih mendekati kata seram.
Ardi segera merampas ponsel Camilla, yang ingin menelpon pihak yang berwajib, panggilan laki laki itu pada Camilla yang memanggilnya nyonya, sudah cukup jadi bukti, bahwa mereka dari pihak Prameswari group, sesuai dengan surat wasiat, dia harus meninggalkan semua fasilitas dari perusahaan,. termasuk rumah dan mobil yang biasa dia kendarai, Ardi sudah pasrah, apa yang dia khawatirkan sudah terjadi.
" Apa yang kamu lakukan!" Camilla melihat ardi penuh keheranan dan minta penjelasan.
Sampai detik ini Ardi tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
" Nyonya, sepertinya suami anda tidak memberitahu kepada anda, bahwa setelah ia menikah kembali, semua fasilitas yang di sediakan oleh pihak Prameswari group akan di tarik kembali, semuanya, ya, termasuk rumah dan mobil!" laki laki itu menjelaskan.
Camilla tercengang, rahangnya hampir jatuh.
" Selama ini aset yang di kelola oleh istri suami anda sebelumnya adalah hak milik atas nama papanya, Umar Prameswari, dan akan jatuh pada sang putri, Asyifa Prameswari, pada saat dia berusia tiga puluh lima tahun, dan sebelum menginjak usia itu, jika Asyifa sudah tidak ada, dan tidak meninggalkan ahli waris, maka seluruh aset akan di kelola oleh Prameswari group, dan keuntungannya akan di sumbangkan pada yayasan amal, dan di awasi oleh badan hukum yang telah di percaya sebelumnya,"
Mendengar itu, Camilla kehilangan kestabilan, dia limbung, dengan sigap Ardi menangkapnya sehingga dia tidak terjatuh.
" Tidak ada pembagian harta gono-gini, karena selama pernikahan, baik Ardi ataupun Asyifa tidak pernah membeli aset atas nama Ardi, sehingga tidak ada harta yang harus di bagi, lagi pula, semua aset yang ada pada Asyifa semua masih atas nama sang papa, Umar Prameswari," jelas laki laki itu.
" Apa?" Camilla terkejut, awalnya dia ingin membantah dengan argumen harta gono-gini, Camilla pun akhirnya jatuh pingsan, akibat tidak bisa menerima keadaan.
****
wkwkwkwkw,..cian deh luh, Camilla, hehehe.
__ADS_1